MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Kuatkan


__ADS_3

“Sudahlah kita tak perlu menghadiri acara pernikahan ibumu itu...” Gamma mengancingi kemejanya satu persatu, sesekali ia melirik Ailee yang mematut dirinya dicermin. Wanita itu terlihat tampil menawan dan berubah menjadi mempesona dimata Gamma dengan dress biru safir panjang yang kontras dengan kulitnya yang putih pucat. “Ibumu pasti mengerti karena kau juga baru saja berduka..”


Ailee meletakan peralatan kecantikannya. Ia terlihat heran dengan tingkah Gamma yang dengan seenaknya memasuki kamar Ailee bahkan masih dalam kondisi mengenakan kemejanya, ia bangkit dan menghampiri Gamma yang tengah sibuk dengan kancing-kancingnya, “ Kita tetap harus hadir Al...” Gamma terdiam ketika melihat penampakan Ailee yang dua kali lipat membuatnya terpesona, polesan diwajahnya yang tipis malah menambah kecantikan istrinya itu.


“Al..”


“Al ada apa?” Ailee memandang Gamma dengan wajah herannya, Pria itu tiba-tiba terus menatapnya dengan diam, “Al...” Dengan tiba-tiba Ailee menggelengkan kepalanya, ia mengambil alih mengancingi satu persatu kemeja suaminya itu hingga membuat Gamma sadar dari lamunannya.


“Apa yang kau lakukan?” Gamma bertanya sinis pada Ailee.


Ailee mendongak hingga mereka berdua saling bertatapan, “Kau tak lihat aku sedang membantumu...” Gamma langsung menjauh dari jangkaun Ailee.


“Aku bisa melakukannya sendiri.” Namun Ailee tetap melangkahkan kakinya terus mendekati suaminya itu. Ia kembali mengancingi kemeja Gamma bahkan dasi Gamma sudah berpindah ditangan Ailee.


“Aku hanya mengancingi kemeja ini dan memakaikan dasi saja...” gumam Ailee sedikit keras, sengaja agar Gamma mendengarnya. Ia pun kembali mendongak manautkan tatapan mata kesalnya pada netra Gamma yang begitu gelap tak berujung, “Bukan ingin mengambil hatimu Al... aku tau hatimu untuk siapa...”


“Untuk ibu dari Alpha kan...” Ailee selanjutnya tersenyum tulus. Dengan mudahnya mimik wanita itu berubah lagi yang tak Gamma sangka mampu menggetarkan hatinya. Ailee mengatakan hal itu seolah tak memiliki hati dari suaminya bukanlah hal yang mengecewakan.


“Kau tak merasa cemburu dengan hal itu?” Pertanyaan yang dilontarkan Gamma seolah keluar dengan sendirinya bahkan Gamma tak menyadari hal itu. Telinga Ailee yang mendengar pertanyaan dari Gamma itu merasa keheranan. Biasanya Gamma pasti tak pernah menanyakan bagaimana pendapat ataupun perasaannya.


“Untuk apa cemburu...” Ailee memandang Gamma, sejenak ia tersenyum puas karena berhasil memakaikan Gamma dasi, “Lagipula aku dan kau itu terikat tanpa perasaan dan kau juga selalu mengingatkanku kan, sejak pertama menikah dengan mu Al aku sudah ikhlas tak memiliki cintamu...”


“Baguslah jika kau masih mengingat perjanjian itu dengan baik, aku hanya takut kau mulai jatuh cinta denganku...” Padahal ada sisi yang lain yang Gamma rasakan dihatinya ketika Ailee mengatakan hal itu dengan begitu ringan tanpa beban. Seolah dirinya tak rela Ailee begitu mudah menyimpulkan tak akan jatuh cinta padanya.


“Tenang saja...” Meskipun Ailee sendiri tak akan yakin dengan hatinya. Ia tahu perasaan cinta dan memiliki suatu saat pasti akan hadir. Terlebih satu tahun bukanlah waktu yang sebentar.


[]


Ailee memandang jauh penampakan gedung pernikahan yang menjulang tinggi begitu megahnya. Mulai banyak tamu undangan yang berbondong-bondong memasuki gedung itu. Mereka seperti begitu ringan memasukinya sedangkan Ailee, ia merasa ada beban dihatinya. Ia takut disaat dirinya sudah mengikhlaskan dan tak lagi mengharapkan adanya kebahagian yang terulang dalam keluarganya, saat melihat senyum bundanya Ailee takut ia akan goyah.

__ADS_1


Gamma menolehkan pandangannya pada Ailee saat mendapati wanita itu melamun menatap lurus kedepan, "Ailee...” Gamma mencoba memanggil wanita dibelakangnya itu namun Ailee tak menyauti. Alhasil ia mengetuk pelan dahi wanita itu dengan jarinya.


Tak


Ailee langsung tersadar dengan rasa perih yang mencul didahi membuat dirinya meringis pelan dengan tangan mengelus dahi, “Ada apa?” nada Ailee berubah menjadi sinis memandang Gamma. Sedangkan Gamma memilih tak menjawab pertanyaan Ailee, ia malah menekuk sikutnya seolah memberi kode agar Ailee merangkul lengannya.


Ailee tak mengerti, “Cepat rangkul aku.” Gamma berucap geram.


“Untuk?”


Gamma menghembuskan nafasnya, ia berusaha menguatkan hati agar bersabar dengan sifat Ailee yang kadang menyebalkan dimatanya, “Tak bisakah kau diam dan menurut saja.” Ailee baru mengerti saat Gamma mengeluarkan suara tak mau dibantahnya, “Seperti ini mengerti.” Gamma membawa tangan Ailee untuk ia genggam dan mereka pun memasuki gedung itu bersama-sama.


“Kau yang mengajakku kemari Ailee jadi usahakan kuatkan hatimu...” Gumam Gamma tanpa memandang Ailee. Ia tetap menuntut istrinya itu dengan pandangan yang lurus.


Dan ketika mereka berdua benar-benar memasuki gedung itu. Mereka disambut dengan nuansa mewah nan megah dengan warna putih yang seolah menunjukan keharmonisan dan kebahagiaan pernikahan. Gamma menunjukan surat undangan kepada salah satu penjaga sebagai persyaratan masuk. Lalu ia membawa Ailee menuju ke tempat utama dimana Bundanya berada.


Hingga saat Ailee menemukan sosok Astoria diantara banyaknya orang yang hadir. Ia termenung sekali lagi. Disanalah wanita itu tertawa begitu ringannya dan menjadi yang paling cantik dengan gaun putihnya. Ia merangkul lengan pria yang tak Ailee kenal dengan begitu bahagia dengan tangan kirinya yang menggenggam buket bunga melati, yang pastinya Ailee tau maknanya.


“Al...” Gamma tau bahwa Ailee sedang membujuknya. Ia menoleh, “Hanya memberi selamat setelah itu kita pulang.” Wajah Gamma memberikan Ailee keyakinan bahwa mereka akan segera pergi dan tak perlu berlama-lama lagi disini.


Ailee menggeleng, “Bukan itu...” Gamma mengernyitkan dahinya seolah berkata ‘lalu?’ “Bunda terlihat bahagia disana, kedatanganku pasti akan menganggunya.”


Gamma memandang penampakan ibu mertua dan suami barunya yang sekitar 5 langkah lagi mereka akan ada dihadapannya. Hanya 5 langkah dan Ailee sudah begitu ragu, ucapan wanita itu berubah menjadi amat polos jika Gamma jadi Ailee. Ia tak akan mau hadir bahkan tak peduli apakah ibunya itu bahagia atau tidak.


“Baiklah jika kau tak mau kesana kita pulang.”


Ailee langsung menghentikan Gamma yang hendak berbalik, “Tidak Al... jangan...”


“Lalu apa maumu?!” Gamma membentak Ailee namun tak keras dan tak menarik perhatian banyak orang. Ia geram dengan tingkah Ailee yang baginya malah memperlambat kunjungan mereka, wanita itu benar-benar menguji kesabarannya.

__ADS_1


“Baiklah kita kesana...” Bagaikan anak kecil yang langsung ciut. Ailee langsung menggenggam tangan Gamma dengan sepihak kini ganti dirinya yang menuntun pria itu hingga habis 5 langkahnya.


Ia benar-benar ada dihadapan ibunya sekarang. Dan senyuman yang sempat Ailee lihat begitu bahagia itu menjadi luntur berganti dengan tatapan tak suka yang tentunya hanya Gamma yang mengetahui. Ailee tetap pada pikiran positifnya pada Astoria.


“Bunda...” Lalu seutas senyum ikhlas diberikan Ailee pada Astoria juga pada ayah tirinya, mungkin. “Selamat Ailee ikut bahagia atas pernikahannya...” Bohong. Gamma tau kalimat yang Ailee lontarkan adalah kalimat dusta, Ailee selalu memiliki banyak cara untuk menutupi rasa sedih dan kecewanya. Seperti yang ia lakukan saat ditinggalkan sang ayah untuk selamanya.


“Terima kasih.” Hanya itu yang keluar dari mulut Astoria. Tak ada pelukan, tak ada salaman. Dia hanya mengundang Ailee sebatas formalitas.


“Dia siapa?” tanya pria yang tak lain suami Astoria.


Kembali senyum Astoria terbit ketika ditatap suaminya dan itu menimbulkan perasaan lain dihati Ailee. Mengapa saat ayahnya masih ada, Astoria tak bisa tersenyum seperti itu, “Dia putriku mas...” ungkapnya tanpa menyembunyikan apapun.


“Ah dia Ailee...” Astoria mengangguk pelan.


“Hi Ailee, maaf aku tak meminta restumu saat ingin menikahi ibumu...” Ailee mengangguk seolah mengiyakan permintaan maaf pria itu. Padahal ibunya sendiri pun tak mengharap restu dari Ailee, sekedar menemuinya saja Astoria seperti amat berat.


“Tak apa paman...”


Lalu tatapan pria itu berpindah kepada Gamma, pria yang dengan setia berdiri disamping Ailee, “Kau? Kau bukankah Algamma putra Adam?” tanyanya yang diangguki oleh Gamma.


“Kalian saling mengenal..?” tanya pria itu lagi. Dan mendadak Gamma menarik pinggang Ailee, ia ingin menunjukan bahwa dirinya dan Ailee bukan hanya sekedar mengenal.


“Dia istriku paman...” ungkapnya pada pria yang amat ia kenal itu. Pria itu tak lain adalah ayah dari Ellisha, gadis yang sempat akan dijodohkan dengan Gamma. Dan alangkah buruknya hal itu bila Ailee harus bersaudara dengan Ellish.


[][]


I Comeback hihi. Hayuluh Ailee bersaudara dengan Ellish makin rumit aja ni cerita hehe.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2