
1 Bulan kemudian
Semua terjadi begitu cepat. Keluarga Mahony yang tak seperti dulu menjadi amat kesepian. Semenjak Sang kepala keluarga, Elgar Mahony, menceraikan istri barunya pria itu menjadi pria yang amat sibuk. Butuh waktu lama bagi Elgar untuk bisa melupakan semua kejahatan yang dilakukan wanita yang ia percayai itu. Sedangkan Eizen, ia tetap berada disamping ayahnya, diam-diam ia terus mengkhawatirkan Elgar. Namun tak banyak yang bisa pria itu lakukan. Eizen telah menyerahkan segala keputusan pada sang ayah, ia tak berhak mempertanyakan keputusan Elgar. Bahkan jika itu adalah keputusan terberat untuk merelakan ibu tirinya.
Yah setidaknya Eizen tahu, kini ayahnya lebih mementingkan anak-anak mereka dibandingkan egonya. Jika itu Elgar yang dulu, mungkin pria itu akan lebih memilih bersama Astoria dibanding memilih Eizen dan Ellisha. Buah kesabaran Eizen yang begitu besar pada akhirnya mendapatkan balasannya, meski harus terpecah belah dengan Ellish yang pergi juga Elgar yang membutuhkan waktu lama untuk melupa. Eizen bisa menunggu.
“Terima kasih dan maaf aku membuatmu ... harus kehilangan wanita itu.”
Membungkuk hormat didepan sang ayah adalah bukti ketulusan Eizen untuk meminta maaf. Jika bukan karena dirinya yang memberi tahu seberapa besar rencana jahat yang Astoria buat demi memecah belah keluarga mereka. Elgar tak akan pernah mengambil keputusan besar seperti ini. Bagaimanapun pria itu juga tahu seberapa besar cinta Elgar pada Astoria.
Elgar tersenyum kecil menikmati pemandangan Eizen di atas kursi kebesarannya. Sampai akhir pun Eizen tak pernah membenci dirinya, “Eizen,” pria itu bangkit dan menghampiri sang putra dengan sebuah foto berukuran 5 x 4, didalam foto itu terdapat gambar seorang wanita yang tersenyum cantik dengan satu anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun dan seorang bayi digendongannya, “Sepertinya kita harus mengunjungi makam Maira... aku merindukannya...”
Pada saat itu setiap kalimat yang keluar dari mulut Elgar didengar dengan amat baik oleh pendengaran seorang Eizen. Tetapi entah mengapa otak dan pikirannya sulit menerima. Ia memandang ayahnya tak percaya, namun disana ia melihat bulir air mata penyesalan yang dikeluarkan Elgar dari mata sayunya. Eizen tersenyum lebar.
“Baik dad.... mom pasti juga merindukanmu...”
Dan begitulah semuanya berakhir dengan membahagiakan meski tak begitu memuaskan karena tak hadirnya Ellisha juga kepergian ibu kandung Eizen. Ia tetap senang. Ayahnya menyesal, baginya itu sudah cukup.
Disisi yang lain. Algamma sedang mengalami masalah yang begitu besar dan fatal. Ailee, wanita yang menjadi puncak kebahagiaannya itu sedang marah padanya. Bahkan beberapa minggu ini setelah kepulangan Gamma, wanita itu sama sekali tak mau menatap matanya. Ailee memang merawatnya, ikut bersamanya untuk terapi, membantunya setiap kali membutuhkan sesuatu, tetapi Gamma tetap melihat tatapan kecewa dari matanya.
Wanita itu begitu marah dan kecewa ketika mengetahui fakta bahwa cedera kaki Gamma selama ini bukanlah cedera biasa. Entah bagaimana Ailee mengetahui semuanya, namun setelah mengetahui itu Ailee marah besar. Ia menangis dihadapan Gamma dengan rasa bersalah yang kembali menderanya. Keyakinan bahwa sang suami dalam waktu dekat bisa berjalan telah hancur berjatuhan, bersamaan dengan itu timbul kekecewaan yang begitu besar dihatinya. Pria itu sama sekali tak berniat memberi tahu, jika bukan dari mulut orang lain Ailee tak mungkin mengetahui itu semua.
Tok tok tok
Sejak pagi bahkan sejak seminggu yang lalu Gamma tak menyerah mengetuk pintu kamar sang istri. Mereka tidur terpisah karena Ailee yang meminta. Gamma tak bisa menolak namun ia juga tak bisa menyerah untuk meleburkan segala kemarahan dan kekecewaan wanitanya itu. Semenit saja dia harus berjauhan dari Ailee-nya, Gamma merasa semangat hidupnya semakin lama semakin habis. Ailee bagaikan baterai kehidupan untuknya, sedikit saja wanita itu bersedih dan menjauhinya maka didetik itu juga Gamma akan kehabisan daya. Senyum Ailee yang menghilang juga menghilangkan segala keceriaan didalam wajah Gamma.
Tok tok tok
“Ailee... sayang, buka pintunya... kumohon, aku membawa biskuit dan susu untukmu...”
__ADS_1
Ailee yang ada didalam mendengar suara pria yang sangat ia rindukan itu. Berhari-hari tak tidur bersama Gamma sungguh membuat dirinya tersiksa. Tak bisa menghirup wangi tubuhnya yang menenangkan, tak bisa merasakan elusan sayangnya pada perut Ailee ketika tertidur, dan tak bisa melihat wajah damainya yang selalu menyambut pagi hari Ailee. Ailee merindukan semua itu hingga membuatnya frustasi namun ia tetap kecewa pada pria itu. Air matanya yang mulai mengering karena berulang kali menangis tak cukup untuk menghapus amarahnya pada Gamma.
“Kalian merindukan ayah kalian ya...” Ailee mengusap pelan perut buncitnya yang semakin hari semakin membesar. Disana kedua bayinya menendang perutnya begitu kencang seolah menjawab dan mengatakan padanya bahwa mereka juga merindukan ayah mereka. Ailee dibuat menangis akan respond kecil itu, ia juga merindukan Gamma namun ia masih tetap marah dengan suaminya. Ia terjebak dalam kebingungan, antara harus menghilangkan egonya dan memilih memaafkan Gamma yang mati-matian membujuknya atau tetap mengutamakan egonya dan memilih menyiksa dirinya sendiri.
“Ailee... aku merindukanmu...” air mata semakin menderas membasahi pipi Ailee, ia menunggu ucapan Gamma selanjutnya yang seperti terjeda, “Aku tau... aku tau kau juga merindukanku kan? twin juga merindukan ayahnya, mereka bilang padaku bahwa ibunya menangis karena rindu kehangatan ayahnya... kumohon buka... buka pintunya Ailee..” hingga kalimat-kalimat itu mampu meyakinkan Ailee untuk bangkit dan melangkah membuka pintu kamarnya.
Disana Gamma melihat mata istrinya yang begitu sembap dipenuhi kerinduan. Rambutnya yang biasa tertata rapi terlihat berantakan dengan wajah pusat pasi. Sungguh membuat Gamma khawatir. Ailee terlebih dahulu berbalik dan duduk diatas ranjangnya, Gamma menyusul sang istri menjalankan kursi rodanya tepat didepan wanitanya.
Tangan kanannya terangkat, ia begitu gatal ingin mengusap sisa-sisa air mata Ailee yang terlihat disana. Sungguh menyesal Gamma menyembunyikan kondisinya, padahal Adam telah mengingatkannya untuk segera memberi tahu Ailee sebelum wanita itu tahu dari mulut orang lain. Namun Gamma kesulitan, ia merasa belum ada waktu yang tepat untuk memberi kabar buruk dan membongkar kebohongan keluarga demi menyembunyikan kondisinya dari Ailee. Sayangnya nasi telah menjadi bubur, Ailee terlanjur tau.
“Ailee...” pelan-pelan Gamma memanggil Ailee yang tak mau menatapnya, “Maaf ya... maafkan aku atas semua kebohongan yang aku lakukan, ak—aku berniat memberi tahumu tapi aku menunggu waktu yang tepat saat itu... kumohon jangan jauhi aku seperti ini... aku sungguh tersiksa...”
Ailee baru menoleh, air matanya kembali mengalir, “Bukan hanya kau yang tersiksa Al... hiks.. aku juga tersiksa! aku juga tersiksa...” Ailee memukul dadanya, saat mengetahui bahwa kemungkinan Gamma bisa lumpuh permanen membuat hati Ailee hancur, “Kau mengatakan bahwa kau baik-baik saja... tapi hiks.. nyatanya kakimu—“
“Ssst, kumohon jangan tunjukan air matamu didepanku Ailee... dan jangan mengatakan hal yang belum terjadi... kau tau itu hanyalah kemungkinan... aku masih bisa sembuh sayang...” tercetak senyuman dibibir penuh prianya. Senyuman yang meyakinkan.
“Waktu itu... usia kandunganmu masih muda... aku tak bisa begitu saja mengatakan itu, aku menunggu, aku menunggu mereka tumbuh lebih besar lagi...” Gamma menyentuh perut istrinya, “baru aku akan mengatakannya dan mengajak kalian untuk menemaniku... terapi di luar negeri, bagaimanapun aku tak mau membahayakanmu dan twin...”
“Aku belum memberitahumu pun kau sudah semarah ini, banyak ketakutan yang aku pikirkan Ailee dan jika aku jujur kau bisa menyalahkan dirimu lagi... aku tak mau melihat itu...” Gamma menatap Ailee sedih, disana terletak kekhawatiran yang tergambar jelas, “lihatlah dirimu yang kacau. Kau bahkan selalu telat minum susu setelah kau mengetahuinya... kau memang merawatku tapi kau tak bisa merawat dirimu sendiri dengan baik....”
“Ingat kata dokter twin tak boleh kekurangan nutrisi dan vitamin. mereka makan jika ibunya juga makan dan mereka belajar berbagi, bila kau makan sedikit salah satunya bisa mengalah dan memilih kelaparan... kau tak mau itu terjadikan?” kata-kata Gamma malah menambah rasa bersalah Ailee, ia menundukan wajahnya. Seharusnya dia yang marah namun malah Gamma yang memberinya wejangan dan semua wejangan itu tak bisa dielaknya, “Hei tatap aku...” Gamma mengangkat dagu Ailee.
“Maaf membuatmu sedih dan kecewa sayang... aku tau semua terjadi karena kesalahanku... jangan sedih lagi ya... twin bisa merasakan rasa sedihmu jika kau terus marah padaku...”
“Tapi kau benar akan mengajakku ikut terapi kan? kau tak membohongiku dan mau melakukan terapi diluar negeri sendirian kan?”
Gamma terkekeh lucu. Syukurlah Ailee akhirnya mau mengurangi amarah dan kecewanya, “Suamimu ini berjanji atas besarnya rasa cinta yang ia miliki pada sang istri...” Ailee tersipu malu, ahh sudah lama ia tak melihat rona kemerahan itu. Seminggu benar-benar waktu yang lama. Gamma harus terus melihat Ailee yang murung dan menjauhinya.
“Kapan kau akan melakukan terapi itu? dan apakah Alpha juga ikut?”
__ADS_1
Sebelum menjawab masing-masing pertanyaan Ailee, Gamma terlebih dahulu meminta wanita itu membantunya untuk duduk diranjang.
“Kita mungkin akan berangkat besok menggunakan jet milikku dan Alpha tak ikut.”
“Kenapa dia tidak ikut Al, itu bisa jadi liburan untuknya dan selain itu mengapa aku tak tahu bahwa kau punya jet pribadi?”
Gamma kembali dibuat terkekeh, “Bertanyalah sepuasmu... aku akan menjawab semuanya.. pertama aku memang sekaya itu dan mengenai Alpha, dia masih kecil... kita tak bisa menjaganya setiap saat terlebih kau sedang hamil si kembar, aku tak mau ambil resiko kau kelelahan...”
“Tap—“
“Tidak ada tapi-tapian istriku...” Gamma menyodorkan gelas susu yang mulai dingin, “Habiskan susunya. aku tak mau ada sisa sedikitpun!”
“Hmm, iya dadnya twin...” Ailee langsung meneguk habis susu buatan suaminya meski dengan susah payah menutup hidung. Masih ingat kalau Ailee benci sekali dengan bau susu bubuk. Ia menjilati sisa susu yang menempel di bibirnya sambil menyerahkan gelasnya pada Gamma.
Cup
“Bibirmu manis Ailee... manis sekali....”
[]
Mengenai Ailee yang benci susu bubuk sebenernya aku sih yang gak suka bau susu bubuk wkwk. ngasih tau aja walau kalian nggak mau tau hihihi.
Selamat menikmati. Enjoy Reading
__ADS_1