MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Kekacauan


__ADS_3

"Dad!!"


Gadis berambut bob ash blonde muncul diambang pintu yang terbuka lebar. Dia muncul dengan wajahnya yang kusut. Dia Ellisha Mahony. Ia menghampiri pria paruh baya yang terlihat membelakanginya itu.


Brak


Ellish menggebrak meja kerja sang ayah. Ditangan kanannya tergenggam sebuah kertas undangan cantik yang terlihat masih begitu rapi.


"Ini Gamma kan?! Kenapa dad tidak memberi tahuku..." bentaknya dengan marah. Namun sang ayah sama sekali tak bergerak sekedar untuk melihat Ellish.


"Dad!!!"


"Ah Ellish..." Dadnya baru mau menoleh setelah Ellish menaikan nada bicaranya lebih kencang lagi,


"Kenapa dad?! Di undangan ini bukan Ellish yang ada disana?! Wanita ini siapa?!" Gadis itu dibuat kacau. Ia marah atas apa yang baru diterima dan dilihatnya.


Ellisha Mahony. Gadis yang seharusnya menikah dengan Gamma karena perjodohan antar keluarga. Ellish memiliki rasa pada pria bernama lengkap Algamma Epsilon Canis itu. Selain rupanya yang tampan, mereka juga dekat saat kecil karena pernah menjadi tetangga.


Berbagai cara Ellish lakukan hanya demi bisa bersama dengan Gamma. Ia sabar menunggu saat tahu ternyata Gamma menikah dengan wanita lain. Hatinya memang sakit namun yang ia rasakan malah rasa sukanya pada pria itu semakin bertambah dan tak berkurang sedikitpun.


Pagi ini Ellish menerima langsung surat undangan resepsi pernikahan dari pria yang dicintainya lagi itu. Kedua kalinya Ellish dibuat seperti ini. Ia kira dengan bersabar dan tuhan memberinya kesempatan, ia bisa menikah dengan Gamma, pujaan hatinya. Namun nyatanya hanya lewat perjodohan dan alasan ingin menjadi ibu yang baik untuk Alpha tak akan cukup bagi Gamma.


Padahal Ellish sudah bersusah payah memohon pada dad-nya agar menjodohkan dengan Gamma yang statusnya memang sudah tak lajang lagi. Bagi Ellish Gamma adalah segalanya yang harus ia dapatkan, pria itu punya segalanya. Kekayaan? Ellish bahkan tak akan pernah bangkrut bila menikah dengan Gamma.


"Ellish... tenanglah..."


"Bagaimana aku bisa tenang, seharusnya kan namaku yang ada diundangan ini dad!!" ia menatap nyalang ayahnya.


"Ellish kamu sendiri tahu... Gamma memang tak ingin menikah denganmu..." Muncul seorang pria tampan yang ikut bersuara. Dia adalah Eizen Mahony, kakak dari Ellisha. Eizen sempat berteman dan berhubungan baik dengan Algamma. Ia tahu betul betapa terobsesinya sang adik akan temannya itu.


"Kakak gak usah ikut campur!" ujar Ellish kesal karena tiba-tiba kakaknya ikut masuk dan semakin membuat Ellish marah, "Dad harusnya tahu Ellish cinta sama kak Gamma. Kenapa dad gak berusaha buat Ellish sekali lagi!!! Dad gak sayang sama Ellish hah?!"


Eizen menarik tangan sang adik, "Ellish kalo emang Gamma gamau kamu jangan maksa sampe bentak dad seperti itu!!!" Pria muda itu juga ikut terpancing. Ellisha memanglah adik yang sangat keras kepala karena sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang dia mau bahkan meski harus menunggunya dua kali. Mungkin itu juga berlaku bagi Gamma.


Ellish menarik diri dari Eizen, "Kakak apa-apaan sih... kan emang dad yang salah. Kenapa dia biarin kak Gamma menikah dengan wanita lain..."


"Kamu mikir Ellish Gamma itu siapanya kamu sampai kamu bisa ngatur hidup dia seperti itu..." ujarnya tak mau kalah dengan Ellisha.


"Eizen, Ellish. Kalian tolong jangan ribut lagi didepan dad... Eizen kamu juga jangan terus membentak adikmu seperti itu..."


Cih

__ADS_1


"Dad itu terlalu memanjakan dia.." Eizen pergi meninggalkan Ellish juga ayahnya itu karena terlalu muak. Niatnya menghentikan sikap Ellish yang keterlaluan gagal karena pasti ayahnya tak akan membiarkannya menceramahi Ellish. Selalu seperti itu selalu Ellisha yang dipertamakan.


"Baiklah Ellish... sekarang tenangkan dirimu dulu..." ayah Ellish duduk diatas sofa seraya mengajak putrinya untuk ikut duduk juga namun sepertinya Ellish tak mau terlihat dari dia yang mendelik kearah dad-nya.


"Aku tak mau duduk! Kalo kak Gamma menikah aku harus menggagalkannya! Beraninya wanita lain merebut kak Gamma dariku!!" ungkapnya dengan mata berapi-api penuh kebencian.


"Ellish tunggu dulu! Ibumu akan kemari tolong kau tetap dirumah sayang..." ucap dadnya dengan nada memohon agar Ellish tak pergi. Jika ia membiarkannya maka pasti putrinya hanya akan membuat masalah bagi dirinya.


Ellish menoleh, matanya memandang tak suka, "Aku tak berniat menemui wanita murahan sepertinya.. "


[]


Ailee, wanita yang resmi menjadi istri Gamma kemarin itu menguap beberapa kali. Ia sudah terlihat cantik di pagi hari dengan gaun baru untuk resepsi. Namun tetap saja wanita itu merasa lelah karena semalam ia tak tidur dikamar Gamma, Ailee lebih memilih tidur dikamar Alpha sembari menemani bocah kecil itu tidur. Yang tak ia sangka Alpha yang pendiam menjadi banyak bicara saat mereka hanya berdua. Alhasil Ailee harus menunggu sampai Alpha benar-benar tertidur.


Ailee menghela nafas. Ia mematut dirinya didepan cermin setinggi tubuhnya dan menatap siluet cantik dihadapannya itu. Setelah menikah tentu saja ada resepsi. Resepsi yang lebih ramah dan besar terlebih bukan dirumah keluarga Canis melainkan benar-benar digedung pernikahan. Rasanya Ailee jadi lebih gugup saat resepsi dibanding ijab kabul. Ia takut melakukan kesalahan seperti terjatuh didada suaminya itu. Membayangkannya Ailee tak akan mau lagi.


"Mommy..." Ailee melirik dari cerminnya. Terdapat pantulan wajah Alpha yang mengintip diambang pintu.


Ailee terkikik geli, "Ada apa sayang?" tanyanya penuh kelembutan. Alpha menghampiri Ailee. Anak lelaki itu mengenakan jas putih yang senada dengan warna gaun Ailee. Hal itu membuat Alpha terlihat lucu dan tampan.


"Oma bilang semua sudah siap..." jawab Alpha yang tak mengerti makna ucapannya. Ia hanya mengerjap takjub pada bidadari surga dihadapannya itu. Benar-benar teramat cantik.


Ailee mengangguk mengerti. Berarti sebentar lagi Ailee akan pergi ke tempat resepsi. Dimana dirinya dan Gamma akan lebih banyak bersandiwara sebagai pasangan nan bahagia didepan para tamu nan banyak itu.


Disisi lain Gamma terlihat malas melakukan resepsi pernikahannya sendiri. Rasanya sangat lelah dan malas terlebih ini bukan acara yang dia inginkan. Pasti akan banyak tamu yang orang tuanya undang demi mengumbar pernikahan Gamma dan Ailee. Tentu saja membuat pria itu tak suka.


Namun bagaimana lagi. Dengan sangat terpaksa ia memakai jas resepsi bewarna putih tulang itu dengan malas. Mengikuti segala permintaan orang tuanya. Gamma berusaha sabar, ia meyakinkan dirinya setelah ini semua ia akan bebas. Menikah dengan Ailee hanyalah batu loncatan untuknya.


[][]


Pagi yang cerah itu. Dipenuhi dengan nuansa megah. Ada bunga baby breath sebagai lambang pernikahan Ailee dan Gamma yang menghiasi dekorasi pernikahan mereka. Semuanya direncanakan dengan begitu apik. Dua sejoli yang baru menikah itu benar-benar nampak seperti pengantin baru dengan senyum penuh kebahagiaan palsu.


Ailee terus menyapa semua tamu yang semakin ramai menghadiri pernikahannya begitu pula dengan Gamma yang berdiri dengan setia disampingnya. Ada juga Valery yang baru tiba dengan rasa bahagia yang sama dengan Ellen. Ia terlihat senang mantan kakak iparnya menikah dengan sahabatnya sendiri. Ailee tentulah wanita yang tepat untuk Gamma bagi Valery.


"Gamm!!" Suara Aiden membuat keduanya menoleh. Gamma yang merasa terpanggil menghampiri Aiden yang juga turut hadir diresepsinya. Tak ada yang terlewatkan di mata orang tua Gamma semua harus diundang.


Pria itu berbisik ke telinga Gamma. Mungkin hal yang dibicarakan adalah privasi. Gamma mengangguk meski Ailee tak tau sebab pria itu mengangguk begitu patuh.


"Biarkan saja dia masuk... aku mengundangnya.." ujar Gamma lalu Aiden pun menjauh menuju ke arah lobby gedung.


Disana ada Ellish. Gadis itu berdiri dengan kekesalan dan kemarahannya terlihat dari wajahnya yang masam. Ia tak terima ketika bodyguard diresepsi pernikahan Gamma melarangnya masuk hingga membuat gadis itu mencari ribut.

__ADS_1


Aiden dengan was-was menghampiri Ellish. Ia merasakan firasat buruk dan tak suka Gamma membiarkan gadis seperti Ellisha masuk dan malah memberi Ellish undangan. Ia tebak wanita itu pasti akan mengacau.


"Biarkan dia masuk.." Aiden meminta para pria berpakaian hitam itu menyingkir dari jalan Ellish.


Gadis itu berjalan angkuh memasuki gedung. Ia menahan kesal akan keluarga Algamma. Seharusnya gedung pernikahan ini adalah untuk pernikahannya namun nyatanya wanita lain yang menikah dengan Gamma.


Ia mencari-cari siluet yang ia cari. Siapa lagi jika bukan Algamma dan mempelainya itu. Ellish ingin segara menghampiri wanita tak tau diri yang beraninya menikahi Gamma disaat pria itu dijodohkan dengannya. Dan disanalah ia memandang dua sejoli yang nampak lebih menonjol dari yang lainnya.


Ellish diam-diam mengepalkan kedua tangannya saat melihat Ailee dan Gamma yang benar-benar seperti pasangan pengantin baru. Begitu pula dengan gaun yang dikenakan Ailee yang paling membuatnya geram. Karena gaun itu adalah pilihan mama Ellen untuknya saat menikah nanti. Seharusnya begitu. Ellish tanpa ragu-ragu lagi menghampiri dua pasangan itu.


Tanpa ia sadari sejak tadi Aiden terus mengekori Ellish. Ia mulai curiga saat gadis itu memaksa masuk dan kini hendak berjalan menghampiri Gamma dan Ailee, ditambah kini ditangan Ellish ada sebuah gelas kaca berisi wine yang tak ia minum. Entah apa kegunaannya dimata Ellish.


"Kak Gamma..." Ellisha Mahony berdiri tepat didepan Gamma. Ia menatap Gamma dengan rasa sedihnya. Rasanya ia benar-benar ingin menangis. Untuk kedua kalinya ia gagal mendapatkan pria yang ia kagumi sejak lama.


Lalu pandangannya beralih ke arah Ailee. Ailee dengan santainya memberi Ellisha senyuman menyambut seperti kepada tamu lainnya. Bagaimanapun Ailee tak tahu siapa Ellisha yang menatap suaminya penuh dengan rasa sedih itu. Ailee tak ambil pusing toh semua itu tak ada hubungan dengannya.


"Jadi ini Ailee..." Ellish kini berdiri dihadapan Ailee. Ia terus memutar wine merah ditangannya dengan angkuh. Ailee tak mengerti makna dari perbuatan dan tatapan penuh benci itu, "Tak jauh dari wanita murahan..." bisiknya ditelinga Ailee.


Ailee membelalak terkejut dan tak terima tiba-tiba dikatai begitu. Ia menatap Gamma yang bahkan tak peduli dengannya ia hanya menatap lurus kedepan.


Curr


Hingga tindakan yang selanjutnya Ellish lalukan mengundang banyak perhatian begitu pula dengan Ailee yang tak kalah terkejut. Wajahnya di aliri air bewarna merah cerah alias wine yang langsung mengenai gaunnya. Ellish menumpahkan wine yang ia bawa kekepala Ailee.


"Tak seharusnya kau berada disini..." ungkapnya menatap benci Ailee. Ia tak peduli akan tatapan orang lain yang memandangnya penuh keiingintahuan.


Ailee memandang Gamma yang masih tetap tak bergeming dia hanya menatap istrinya sendiri disiram wine tanpa peduli, hal itu membuat Ailee geram dan tak berharap banyak, ia maju dengan berani, "Lalu siapa yang seharusnya berada disini?"


"Tentu saja diriku..."


Ailee memperhatikan Ellish dari atas kebawah penuh cemohan, "Wanita tak tau adat yang mengacaukan resepsi orang lain apa pantas berada disini..." sindirnya.


"Kau!!" Ellish menunjuk Ailee dengan jari telunjuknya. Ia terlihat bergetar karena emosi. Tangannya hendak menampar Ailee. Bahkan Ailee sendiri sudah siap menerimanya. Takut bila tangan Ailee tak sempat menghentikan tamparan wanita emosi didepannya.


Plak


Ia menutup matanya. Ia kira rasanya akan perih namun Ailee tak merasakan itu. Ia membuka matanya ketika tak mendapati tangan Ellish yang hendak mendarat mulus dipipinya. Yang ia dapati adalah pria tinggi dengan jas hitamnya berdiri didepan Ailee seolah menjadi tameng untuk Ailee. Pria itu tentu bukan Gamma.


"Ars..."


[][][]

__ADS_1


Aku up lagi.... semoga suka. Selamat malam semua. Aku cinta kalian semua. :*


__ADS_2