MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Harus baik-baik saja


__ADS_3

Pagi itu semua kembali seperti biasanya. Gamma yang kembali memulai kesibukannya setelah sekian lama tak lagi menyentuh ruang kerjanya. Ailee yang memulai kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri, bermain dan menemani Alpha juga melayani suaminya. Wanita itu terlihat menikmati perannya dengan bahagia seolah semua telah ada ditempatnya. Bahkan meski itu hanya hal kecil seperti memakaikan dasi untuk Gamma, memandikan Alpha atau membacakan anak itu buku cerita. Ailee senang melihat kedua prianya baik-baik saja.


“Alpha... sekolah yang benar ya sayang...” kecupan sayang mendarat begitu saja dipuncak kepala Alpha yang menerimanya tanpa sungkan. Anak itu malah terlihat senang dengan deretan gigi yang membentuk senyum kotak sebagai bukti.


“Alpha akan jadi anak pintar mom. Supaya nanti pas gede Alpha bisa mengajari dede bayi...” bocah yang begitu polos dengan kata-katanya yang terdengar tulus sedikit menghibur kegelisahan Ailee menjelang proses kelahiran anaknya. Gurat senyum terlukis kembali diwajah cantik Ailee, senyum yang menjadi favorit kedua anak dan bapak itu.


“Ya... dede bayi pasti akan menunggu kak Alpha sampai jadi pintar...”


“Mom juga harus menunggu Alpha ya!!” setelah itu Alpha berlari menjauhi Ailee dengan kedua kaki kecilnya sembari melambaikan tangannya seolah sedang ‘bersay hai’ hari ini Alpha untuk pertama kalinya sangat senang bisa berangkat sekolah. Dalam hati anak polos itu, ia benar-benar akan menjadi kakak yang baik bagi kedua adiknya suatu saat nanti.


Sedangkan Ailee memilih melanjutkan kegiatannya yang tertunda, memasak makan siang yang nanti akan ia bawa kekantor sang suami. Namun sebelum wanita itu sempurna mengubah arahnya menuju dapur dering ponsel yang ada ditangannya bergetar hebat. Menggetarkan kulit telapak tangan Ailee. Ia sedikit melirik dan menemukan nomer asing yang melayang dilayar. Karena penasaran tanpa pikir panjang Ailee membuka pesan itu.


Ini bunda,


Ailee mom berharap kau bisa meluangkan sedikit waktu. Temui  aku dialamat ini xxxx pukul 10.00


Pesan singkat yang menjadi penyebab pasti Ailee mengernyit heran dengan beberapa lipatan terbentuk didahinya. Sepertinya perasaan tak enaknya yang sejak tadi muncul adalah ini. Ailee benar-benar belum mempersiapkan diri untuk melihat dan menatap wajah ibu kandungnya. Ingatan buruk tentang perlakuan Astoria pada sang ayah dan dirinya masih menumpuk dan belum terhapus dengan sempurna.


Butuh waktu. Namun sepertinya tuhan tak mengizinkan Ailee mengulur waktu lagi. Bagaimanapun darah yang mengalir dalam dirinya juga ada darah Astoria, kemanapun Ailee pergi ia pasti akan bertemu dengan ibu kandungnya kecuali wanita itu memang tak pernah lagi ada. Tetapi Ailee tak berani membayangkan hal itu. Ia hanya bisa berharap bahwa pertemuannya kali ini, ia bisa mendengarkan setidaknya satu kali saja permintaan maaf Astoria terserah untuk siapa, bukan untuk dirinya melainkan untuk ayahnya pun Ailee tak masalah.


Ailee melanjutkan langkahnya yang tertunda tanpa membalas pesan  ibunya, ia memilih abai. Toh dia juga akan menemui wanita itu.


“Aiden.”


Sedangkan di Kantor, Gamma yang duduk di atas kursi kebesarannya sama sekali tak nampak sibuk. Ia mengabaikan tumpukan berkas yang menunggu terjamah sedangkan sang tuan tengah menatap layar laptop yang terlihat lebih menarik dari tumpukan kertas itu. Aiden sang asisten setia menemani bos semena-menanya itu. Ia sedikit melirik menggunakan sudut matanya. Masih sama, pria itu masih sibuk menatap laptop yang sejak tiba dikantor selalu ditatapnya.


Dan yang paling memuakkan pria itu menatap laptop lama-lama bukan karena sedang mengerjakan pekerjaan kantornya, melainkan mengawasi sang istri yang bahkan sejak tadi melakukan rutinitas yang menurut Aiden sendiri tak mencurigakan. Sama sekali biasa, biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga macam Ailee.


“Ada apa bos?” ia sedikit menundukan bahunya agar kepalanya bisa mendekat dan mendengarkan suara yang pasti akan mengeluarkan perintah itu.


“Berdiri saja, kau seperti sedang menciumku jika begitu,” Gamma salah paham dan membuat rasa kesal Aiden meningkat namun ia urungkan untuk mengomel, “Menurutmu, pesan apa yang Ailee terima tadi? kulihat wajahnya berubah jadi tak nyaman...”


Mana ku tahu bodoh, cctv walaupun canggih juga tak bisa di zoom sampai bisa melihat isi dalam ponsel istrimu itu...

__ADS_1


“Gamm, kau bisa menanyakan hal itu pada Ailee, mungkin dia akan berkata jujur padamu...” Aiden mencoba memberi saran namun sepertinya saran itu terdengar tak cocok untuk seorang Gamma.


“Kau ini bodoh ya? jika Ailee mau mengatakannya dia sudah menelponku sejak tadi. Tapi mana ponselku bahkan tak berdering,” pria itu menunjuk-nunjuk benda pipih yang ada di sampingnya, kini berganti dirinya yang kesal, “satu lagi  jangan panggil Aileeku seperti itu! panggil dia bu boss!” Aiden memutar bola matanya muak. Gamma semakin tengil saja semenjak menikah. Pria itu selalu mengejeknya baik itu secara frontal maupun secara diam-diam. Menyebalkan.


“Jika begitu apakah kita harus pulang dan menemui istrimu itu?”


Gamma mengangguk-ngangguk dengan kedua tangan menopang dagunya, entah pria itu setuju atau tidak, “Baiklah itu cukup bagus,” mendadak ada firasat burut di hati Aiden, “Aku akan pulang dan kau mengerjakan tumpukan berkas ini. Sore tiba kau harus membereskannya jangan sampai saat aku datang berkas ini masih disini dan merusak pandanganku, ck menganggu saja...”  Ingin sekali Aiden menyobek mulut pria itu lalu membuangnya kelaut.   


“Emm, tapi lebih baik kau ikut saja... Ailee sepertinya hendak pergi, jam berapa sekarang?”


“Pukul 10.00 tuang bos...”


“Cepat kita harus mengikuti Ailee, mau kemana dia tanpa meminta izin dariku.”


Sambil berjalan Aiden memaki Gamma, kuharap Ailee berselingkuh sekarang aku akan jadi yang paling senang jika pria ini menduda lagi.


“Apa lagi yang kau tunggu Aiden?! lambat sekali! kau boleh memakiku, tapi jalanlah dengan cepat...” Gamma menebak semua  pikiran jahat sahabatnya dengan baik seolah dia seorang cenayang.


[]


“Bunda...” Ah sudah lama Ailee tak menyebut kata sakral itu. Ia rasa kata itu tak akan lagi digunakan, karena mungkin memang ia tak akan lagi berurusan dengan Astoria.


“Baguslah kau datang. Kukira kau tak datang setelah seenaknya menghancurkan seluruh kehidupanku,” ucapannya benar-benar terdengar angkuh dan Ailee mengerti wanita itu tak ada sedikitpun niatan untuk meminta maaf. Dasarnya Ailee saja yang terlalu naif. Namun Ailee tak mengerti ‘menghancurkan kehidupanku?’ kapan? bukankah sesuai keiinginan wanita itu agar Ailee menjauhinya.


“Sebenarnya tujuan apa Bunda memanggilku? Jika bukan untuk minta maaf pada mendiang ayah, aku lebih baik pergi..”


Sudut bibir Astoria terangkat, dengan terang-terangan wanita itu seperti menertawakan ucapan Ailee, “Aku tak akan mau dan tak akan pernah mau meminta maaf. Memangnya apa kesalahanku? Ayahmu lah yang salah, dia menghancurkan segala impianku dan membuatku melahirkan anak yang sama sekali bukan atas kehendakku,” dan yang pasti Ailee merasa bahwa anak yang tak diinginkan itu adalah dirinya.


Astoria bangkit dari duduknya yang sangat angkuh itu, ia majukan tubuhnya condong ke arah Ailee, “Melahirkanmu hanyalah awal mula sebuah bencana Ailee. Aku harus terjebak dalam cinta pria yang bahkan tak aku cintai dan harus merelakan segalanya. Karena cinta ayahmu aku hancur, aku hanya bisa berkelana menghancurkan hidup orang lain demi mendapatkan kesenangan yang kuinginkan. Dan kaulah penyebab itu semua!” dengan teganya ia menunjuk-nunjuk dada putrinya sendiri hingga Ailee secara perlahan-lahan memundurkan langkahnya, “Gara-gara dirimu aku harus kehilangan semua, bahkan Elgar pun membuangku seperti sampah! Benar-benar anak tak tau diri!”


Ditengah itu semua Ailee hanya bisa memandang ibu yang melahirkannya itu, pandangannya terlihat menyimpan murka. Ailee sendiri tak tau dimana letak kesalahannya, bahkan seharusnya yang harusnya disalahkan adalah Astoria. Ailee sudah menjauh meski ia tahu bahwa keiinginannya untuk setidaknya melihat Bundanya sedikit peduli padanya begitu besar, ia tetap menjauh. Pada hari pernikahan Astoria dengan mempelai pria selain ayahnya itu Ailee pun tetap berusaha tegar, ia tetap mendoakan kebahagiaan meski ia sendiri sedih ditengah duka yang ia rasakan saat kehilangan sosok ayah, ibunya malah sedang bahagianya.


Harapannya untuk memiliki keluarga bahagia pupus. Sudahlah, ia pikir dirinya sendiripun cukup hanya mengkhayalkannya saja tak perlu mengharap itu semua akan terjadi. Mungkin sudah jalan hidupnya untuk lahir dikeluarga yang tak pernah terlihat harmonis. Toh dia sebentar lagi akan membangun keluarga itu sendiri dengan Gamma, dengan Alpha dan dua anak yang masih didalam kandungannya itu. Itulah pikiran Ailee dan hatinya yang telah ikhlas.

__ADS_1


Namun semua malah melayang ketika Astoria mendorong tubuhnya dengan sengaja. Entah apa yang wanita itu teriakan tetapi Ailee tak bisa mendengarnya, tubuhnya yang berat sebelah karena tengah mengandung hilang keseimbangan dan melayang-layang. Satu-satunya yang bisa ia dengar adalah harapannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Harapan itu berteriak direlung hatinya, harapan agar tuhan membiarkan kedua bayi kembar yang ada didalam rahimnya ini tetap baik-baik saja.


Brugh


“Aku tak pernah menyesal! tak menganggapmu anak Ailee bahkan sampai akhir sekalipun!” Astoria berjalan pergi tanpa berbalik dan mempedulikan Ailee yang saat itu tengah berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk diarea perutnya.


Drap drap drap


“Ailee!!!” hingga teriakan tak asing itu membuat Ailee sedikit menoleh. Ia menatap pria yang berjalan dengan raut yang tak terbaca perlahan mendekatinya. Dia Gamma. Pria yang menjadi bagian terpenting dalam rencananya untuk membentuk keluarga harmonisnya sendiri. Pria itu berlari kencang seolah sebentar lagi dirinya akan menghilang.


“Al... sa—sakit...” hanya ringisan kecil itulah yang bisa Ailee keluarkan. Dia tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya dengan senyuman seperti biasa didepan prianya itu.


Gamma memandang istrinya. Amarah, ketakutan, kekhawatiran, kepanikan memuncak menjadi satu.  Melihat Ailee yang terduduk diatas dinginnya tanah, dengan wajah meringis dan pucat juga darah yang kini mengalir deras dari pangkal pahanya. Membuat Gamma seolah mati. Ia mengingat bagaimana Mikaily juga meninggalkannya disaat kebahagiaan mereka hampir terbentuk.


“Ailee!! Kumohon bertahanlah, kau harus baik-baik saja sayang...” meski berat Gamma menggedong Ailee. Ia tak peduli jika kemeja putih bersih bahkan tercemari noda darah, ia tak peduli meski tangannya harus menangung beban tubuh Ailee yang bertambah berkali-kali lipat, yang paling penting sekarang adalah Aileenya harus baik-baik saja.


“Al... sakit...”


Gamma menundukan pandangannya, “Bertahanlah Ailee... aku pasti akan menyelamatkan kalian bertiga! percayalah padaku!!”


“Aiden!! Cepat ke rumah sakit!!!” teriakan Gamma terlihat nyaring dipenuhi murka. Aiden sendiri dengan kelabakan menjalankan kemudi mobil, ia sedikit melirik dari kaca mobil dan melihat Gamma bersimbah darah dengan Ailee berada dipangkuannya.


“Cepat Aiden!!”


“Sayang... kau harus baik-baik saja...” Gamma menyadari bahwa ia tak lagi bisa membendung air matanya. Air mata yang jatuh begitu saja mengenai wajah Ailee, wanita itu masih berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia sedikit menyadari, raut wajah Gamma nampak bersedih dengan ketakutan yang membanjiri manik matanya.


“Ja—jangan menangis Al... kita tak akan pergi...” itulah ucapan terakhir Ailee sebelum kegelapan merebut sepenuhnya cahaya yang tersisa. Namun apalah daya ucapan yang memang bermaksud ingin menenangkan itu malah semakin membuat Gamma panik.


“Ailee!! Ailee bangun...”


[][]


Hiks doain ya Ailee baik-baik aja sama anaknya huhu :(

__ADS_1


Selamat malam kalian semua. Makasih untuk semua dukungan yang kalian berikan ke aku. Thank you very much. Luv u 20000 hehe


                                                                                                                                                        


__ADS_2