
Perjalanan menjemput Alpha terasa begitu sunyi. Gamma dan Ailee sama sekali tak ada satupun yang mau memulai pembicaraan. Ailee yang masih sedikit canggung dengan Gamma sedangkan pria itu yang sibuk memfokuskan dirinya dengan pemandangan kedepan. Namun suasana tanpa pembicaraan itu terasa amat tak nyaman untuk Ailee. Alhasil ia memberanikan dirinya untuk membuka suaranya.
Ia melirik Gamma yang sejak tadi hanya fokus menyetir, “Al...”
“Hmm...” Gamma menjawab panggilan Ailee dengan gumaman pelan dengan pandangan mata yang tak teralih sedikitpun pada si pemanggil.
Ailee sedikit tak suka dengan respon Gamma, “Apa kau tadi...” Ia menjeda ucapannya membuat Gamma mengernyit heran dan baru mau menatap Ailee.
“Tadi apa?”
“Apa kau tadi cemburu dengan Ars...?”
Ckittt
Bunyi ban yang beradu dengan aspal begitu terdengar menyaringkan siang itu. Gamma menginjak pedal rem mobilnya begitu mendadak karena terkejut akan pernyataan Ailee. Ia melirik Ailee dan menatapnya begitu tajam ditengah Wanita itu yang memandang Gamma sama terkejutnya.
“Al... hati-hati...” ucapnya sembari mengelus dadanya yang belum sepenuhnya hilang karena ulah Gamma. Namun Gamma tetap diam sembari terus memandang Ailee, ia bahkan tak segera menjalankan laju mobilnya.
Gamma terus memikirkan ucapan Ailee yang begitu mengena pada dirinya. Wanita itu ternyata lebih peka dari Gamma, bahkan dirinya sendiri pun tak mengetahui penyebab gelenyar amarah yang tiba-tiba memenuhi diri Gamma saat melihat Ailee bersama Ars. Pria itu tiba-tiba berjalan menghampiri kedua sejoli yang entah membicarakan apa dan meminta Ailee untuk mengakhirinya. Gamma merasakan hatinya memanas melihat Ailee berpelukan selain dengan dirinya.
Apakah benar aku cemburu? Gamma bertanya pada dirinya sendiri lalu menggeleng pelan menampik fakta bahwa rasa panas yang sempat menghampirinya kala itu dinamakan cemburu.
“Kelihatannya beberapa hari ini aku terlalu baik padamu Ailee. Bukankah aku sudah mengingatkan jangan mensalah artikan semua sikapku...”
Ailee merinding melihat tatapan Gamma yang berkilat kelihatanya Ailee salah bertanya pada pria itu, “Maaf Al... kukira kau—“
“Aku tidak mencintaimu. Jadi tidak mungkin aku cemburu. Ingat itu.” Tegas Gamma kembali ia menginjak pedal gas mobilnya dan segera melesat ke tempat dimana Alpha berada. Ailee tak lagi mengungkit dan hanya membiarkan suaminya itu fokus menyetir namun berbeda dengan Gamma. Diam-diam pernyataan Ailee terus tengiang dalam ingatannya.
Cemburu hanyalah untuk orang yang benar-benar mencintai pasangannya. Sedangkan pada hati Algamma, ia hanya mencintai almh istrinya, Aily. Dan penyebab ia menikah lagi juga tak lain hanya demi istrinya. Mungkin saat itu Gamma merasa dirinya marah karena Ailee terlihat berduaan dengan pria lain disaat wanita itu sendiri menyandang status sebagai menantu keluarga Canis. Ia tak mau Ailee mempermalukan keluarganya. Ya itu mungkin saja.
Namun mengapa perasaan marah itu tumbuh setelah Gamma mengenal Ailee begitu baik? Mengapa ketika melihat Ailee menangis, Gamma merasakan dirinya ikut tersiksa? Gamma berhenti untuk tak mempedulikan wanita disampingnya itu disaat dirinya seharusnya tak lagi peduli tentang Ailee. Sebenarnya ada apa dengan hatinya kini?
[]
Setelah menempuh perjalanan yang menurut Ailee begitu panjang. Akhirnya mereka berdua berhenti tepat didepan sebuah rumah minimalis dengan perkarangan yang dipenuhi dengan ladang bunga. Berbagai bunga memenuhi halaman itu. Yang paling menarik perhatian Ailee adalah sebuah papan nama bertuliskan ‘Adelson’
Tok tok tok
Gamma mengetuk kaca mobil guna menyadarkan Ailee dari tatapan terpananya, “Berapa lama kau akan melamun?”
__ADS_1
Ailee menerbitkan tawa rasa bersalahnya lalu segera turun dari mobil dan mengikuti Gamma. Membiarkan dirinya mengekori pria itu bagaikan induk, “Al... apakah ini rumah orang tuanya mbak Aily?” tanya Ailee namun suaminya itu tak menjawab pertanyaan Ailee. Ia lebih dahulu menekan bel rumah keluarga Adelson itu.
Gamma baru menoleh setelah menekan belnya, “Ailee. Ingat ini sebaiknya kau jangan sembarang mengatakan apapun saat orang dikeluarga ini bertanya padamu. Bersikaplah sewajarnya.” pinta Gamma yang diangguki Ailee.
cklek
Seseorang membuka kedua pintu rumah minimalis itu. Dia tak lain adalah Valery, gadis itu menggendong Alpha dipelukannya, “Kalian...” Valery terlihat begitu senang melihat kehadiran Gamma dan Ailee, “Alpha... bangun sayang, lihat mommy kamu sudah datang...” ucapnya membangunkan bocah kecil yang rupanya terlelap itu.
“Eungh..” Alpha mengusap pelan kedua matanya yang sembab. Ailee bisa menebak bocah cilik itu jelas habis menangis. Perlahan Alpha membuka kedua matanya dengan baik, ia melihat penampakan Gamma dan Ailee yang begitu jelas, “Mommy...”
“Alpha sayang ini mommy...” Ailee tersenyum lembut menyambut Alpha, dengan inisiatif ia mengulurkan tangannya mengusap pelan rambut Alpha. Namun hal itu malah semakin membuat Alpha terisak pelan, bocah itu melanjutkan tangisnya dan memeluk Valery lebih erat lagi. Menenggelamkan wajahnya diceruk leher tantenya.
“Aunty Alpha gamau ketemu mommy.”
Ailee terkejut mendengar penuturan yang keluar dari bibir mungil Alpha. Ia menatap penuh tanya pada Valery dengan pandangan antara bingung dan cemas. Valery pun mengerti akan hal itu, “Kita masuk dulu kak, Lee...” ia mengajak pasutri itu memasuki rumah yang kelihatannya begitu sepi. Membawa mereka duduk diruang yang khusus disediakan untuk tamu.
Sebelum memulai pembicaraan. Valery terlebih dahulu menitipkan Alpha kepada seorang suster yang sudah ada semenjak Alpha dititipkan dikeluarganya, “Val dimana ibu dan ayahmu?” tanya Gamma yang bagi Ailee, pria itu tak terlihat sama sekali penasaran ataupun khawatir dengan Alpha. Bahkan hal yang paling utama keluar dari mulutnya hanyalah kabar mertuanya.
“Ibu dan ayah sedang pergi kak...” Lalu pandangannya teralih pada Ailee, “Kemarin Ellisha datang kemari?”
“Apa!” Gamma dan Ailee saling memandang. Mereka sama-sama terkejut akan kabar yang baru saja disampaikan Valery.
[][]
Ailee merenung diatas ranjang dengan punggung bersandar di kepala ranjang. Sedangkan Gamma duduk berselonjor kaki memandang jendela besar yang terpampang lebar di depan wajahnya. Mereka berdua lagi-lagi tidur diruangan yang sama dengan sedikit perbedaan. Gamma dan Ailee menginap dirumah orang tua Valery, rumah mertua Gamma. Pria itu hampir tak percaya. Tindakannya terlihat sangat tak etis, membawa istri baru menginap dirumah mertua lama.
Berbeda dengan Ailee ia merindukan Alpha dan berulang kali memikirkan anak itu. Padahal belum sempat Ailee memeluk putranya namun bocah itu malah terlihat enggan ditemui. Dan yang paling mengejutkan semua itu berkaitan dengan kunjungan Ellish. Ailee sama sekali tak mengerti mengapa gadis itu belakangan ini selalu menganggu hidupnya.
“Al...” Gamma sama sekali tak bergeming ia tetap fokus dengan pemandangan di jendela kamar yang sejak dahulu selalu ia tempati bukan dengan Ailee tapi dengan Aily.
“Waktu itu mengapa kau menolak menikah dengan Ellish? Dia terlihat amat mencintaimu...”
Barulah Gamma mau mengalihkan pandangannya saat mendengar pertanyaan Ailee, “Karena itu merepotkan...”
“Hanya itu?” Jawaban yang terdengar singkat tetapi sama sekali tak membuat Ailee menjumpai titik temu.
“Untuk apa dicintai jika hatiku saja sudah bukan miliknya,” Gamma berjalan menghampiri Ailee. Ia ikut duduk bersandar disebelah wanita itu, “Bagiku Ellish tak pernah benar-benar mencintaiku dia hanya terobsesi.”
“Tapi Al... bagaimana kau bisa tahu itu. Perasaan tak pernah bisa dibaca orang—“
__ADS_1
Gamma memotong ucapan Ailee, “Kau hanya melihat dari sisi baiknya. Kau itu masih naif Ailee, yang terpenting Ellish dia itu jauh berbahaya dari dugaanmu. Segala yang dia inginkan harus menjadi miliknya.”
“Termasuk kau?” Gamma mengangguk, “Aku tak peduli jika dia menginginkanmu. Tapi aku tak akan tinggal diam jika dia membuat Alpha menjauh dariku...” ucap Ailee yang membuat Gamma memandangnya dengan tatapan yang tak terbaca.
“Kau bukan ibunya...”
“Tapi kau juga bukan ayah yang baik untuknya...”
Malam itu mereka berdua tidur bersama. Ailee dengan mudahnya terlelap sedangkan Gamma entah sudah berapa kali ia dibuat uring-uringan oleh ucapan Ailee.
[][][]
1 Hari Kemudian
Mereka kembali pulang tanpa menjumpai Alpha. Anak itu benar-benar tak ingin bertemu dengan Ailee bahkan tak mau diajak pulang. Padahal Ailee begitu merindukan Alpha, ia sendirian dirumah menghadapi kelakuan Gamma yang selalu berubah seperti bunglon.
Sedangkan Gamma pria itu tengah menikmati tehnya di pagi hari. Ia melihat Ailee berlalu begitu saja melewati dirinya, “Ailee...” panggil Gamma, “Ada yang ingin kuberikan padamu...”
Ailee yang semula ingin menaiki tangga menuju kamarnya mengurungkan niat. Ia menghampiri Gamma dan duduk agak jauh dari pria itu, “Ada apa?”
“Tak bisakah kau duduk lebih dekat?” Gamma memprotes tindakan Ailee yang dirasa menyindir dirinya. Ailee pun menghela nafas pelan dan menuruti kemauan suaminya sebelum harimau dalam diri Gamma bangkit.
“Jadi?”
Gamma menyodorkan sebuah amplop bewarna putih yang membuat Ailee terheran-heran. Pria itu mengerti arti tatapan Ailee, “Ini adalah surat peninggalan ayahmu... kita berdua diberi satu dan ini milikmu. Bacalah suratnya...”
Ailee bangkit dengan terus menatap amplop putih yang baru diberikan Gamma, “Tunggu...” Ia menoleh, “Ayahmu, beliau menitipkan perusahaan Canis padaku tapi ki—“
“Jika ayahku mengatakan itu aku tak masalah. Itu artinya dia percaya padamu Al dan kau harus menjaga kepercayaan itu...” Gamma mengangguk pelan tanpa disadari Ailee. Ya jika hanya soal perusahaan itu adalah soal yang mudah hanya saja Ailee tak mengerti. Alferd bukan hanya menitipkan perusahaannya tapi ia juga menitipkan segala hal termasuk Ailee, putri semata wayangnya. Itu adalah beban yang sampai sekarang Gamma belum bisa menjaminnya.
[][][][]
Aku Up lagi ya hehehe karena gak ada tugas. hayo jangan lupa tinggalkan jejak oke luv u❤😘
__ADS_1