
*Bayangkan ketika kalian tiba-tiba saja ada di hamparan padang bunga edelweiss yang luas tanpa ujung?
Ketika mata Gamma terbuka dia mendapati dirinya tertidur diantara bunga lambang negara swiss itu. Dia menatap langit biru yang nampak tak terhingga itu bersamaan sosok wanita yang berdiri dengan jarak sekitar 5 meter darinya.
Wanita itu mengenakan dress putih dengan rambut menjutai tersibak angin. Dia hendak berbalik ke arah Gamma yang juga penasaran dengan wanita itu. Siluetnya nampak tak asing.
"Apakah dia Aily?"
Dia bertanya pada dirinya sendiri tanpa sadar. Kakinya melangkah untuk segera berlari ke arah wanita itu namun ia tetap ditempat semula, ada sesuatu yang menahannya untuk menghampiri dia.
"Aily!!" Gamma mengeluarkan suaranya lebih dari sekedar satu oktaf.
Wanita itu sempurna menoleh namun terlihat tak berniat menghampirinya. Dia sungguh Aily. Gamma memaksa kakinya untuk melangkah tetapi tetap saja ada sesuatu yang menahannya begitu berat. Rasa marah, sedih dan rindu ingin segera merengkuh tubuh wanitanya membuat Gamma mengeluarkan segala emosinya terus berjuang membebaskan kakinya.
"Aily!!! Itu kau kan? Kemarilah Aily aku ingin memelukmu!! Maafkan aku Aily yang meninggalkanmu! " ungkapnya penuh kegelisahan takut-takut istri yang sempurna ada jauh didepan matanya itu pergi semakin menjauh.
Aily masih dengan senyumannya dia berjalan menghampiri Gamma sesuai kemauan pria itu. Namun saat jarak mereka sekitar 1 meter Ailee menghentikan tubuhnya. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu pada Gamma, samar Gamma bisa melihat bahwa Aily mengucapkan kalimat, 'Aku mencintaimu mas'
Setelah itu wanitanya pergi berbalik semakin menyisakan jarak yang besar. Ia melangkah jauh dari jangkauan Gamma dan menghilang tertelan cahaya. Gamma menangis, hamparan bunga edelweiss menghilang bersamaan dengan Aily yang pergi. Meskipun Aily mengatakan cinta padanya Gamma tetap merasa ada yang hilang darinya, dia terus menggelengkan kepalanya dengan bersimpuh menatap tanah.
Bulir air matanya semakin jelas, "Aily bukan itu yang ingin kudengar darimu..." gumamnya sangat lirih hingga hanya dialah yang mendengarnya*.
Lalu Gamma terbangun ketika sinar matahari berpendar melalui celah korden mengusik matanya. Ia terbangun dengan rasa hampa dan kelopak mata basah. Ini mimpi pertamanya tentang sang istri, sebelumnya ia tak pernah bermimpi, kenangan Aily hanya terus terlintas dipikirannya itupun bukan dalam bentuk bunga tidur.
Dia memijit pelipisnya lalu menoleh mencari ponsel yang kemarin ia letakan di atas nakas. Dia membuka ponselnya dan melihat pesan melayang dilayarnya. Nomor tak dikenal yang baru Gamma lihat.
'Jadi kapan mau menemui ayahku Al?'
Pesan itu dari Ailee Kanedy. Gadis yang baru-baru ini Gamma kenal dan entah kebetulan apa dia menawari pernikahan kontrak pada Ailee. Pernikahan yang hanya akan membawa keuntungan pada mereka berdua namun tidak dengan cinta. Itulan perjanjiannya.
Gamma mengetikan balasan untuk Ailee baru setelah itu ia beranjak bangun dari ranjang king size nya. Ia berjalan menuju kamar mandi, berniat melakukan ritual paginya.
[]
Ailee benar-benar mengatakan pada Alferd setelah ia dan Gamma mengambil keputusan bersama. Dia mengatakan pada sang ayah bahwa pria yang bisa menjaga Ailee dan mampu menjadi suaminya selain ars masih bisa ia dapatkan. Itulah yang dia katakan.
Meski sebenarnya Ailee ragu dan tentu saja dia lebih mengetahui, jika bukan karena kesepakatan tak akan mungkin seorang Gamma mau membuang tenaga untuk wanita asing seperti dirinya. Ia pikir dipikiran pria itu hanya ada cinta Aily.
__ADS_1
Ia memandang Gamma dari sudut matanya dengan penasaran. Pria itu benar-benar tampan dan rupawan, rahangnya begitu tegas. Mungkin saat ini semua yang ada diposisi Ailee akan langsung jatuh cinta pada Gamma. Namun sepertinya ketampanan bukanlah poin penting, Ailee tak tertarik dengan Gamma dia hanya merasa kasihan. Pria semapam Gamma jadi duda dan harus menghabiskan waktunya hanya untuk membenci putranya sendiri.
"Sudah puas melihatku terus?"
Gadis itu berdehem pelan, malu dan canggung menyerang Ailee. Kepergok ditengah dirinya yang terpaku pada wajah serupa malaikat itu, entah sekarang apa yang ada dipikiran Gamma.
"Ailee." Gamma memanggil gadis yang masih tetap duduk itu, "Ayo cepat turun, aku tak punya banyak waktu." ucapnya sembari melirik jam tangan yang melingkar.
Ailee yang baru sadar melamun. Ia segera turun dari mobil milik Gamma. Dia menuntun pria itu untuk memasuki sebuah rumah besar. Apa lagi jika bukan rumah keluarga Kanedy tempat Alferd menghabiskan waktunya sendiri.
"Ayahku sudah menunggumu..." saut Ailee, "Dia pasti akan mengajakmu bicara empat mata dan kau pasti taukan cara menanggapinya Al?"
"Mengarang itu mudah nona Ailee..." Dia menjawab pertanyaan Ailee sambil berjalan lurus kedepan. Dapat ia lihat disana ada pria paruh baya yang tak terlihat begitu tua. Dia masih segar bugar dan penuh wibawa. Tuan Alferd Kanedy.
Algamma kenal pria itu. Siapa yang tak kenal dengan pria workholic yang perusahaannya terus meroket kelangit, dia bijaksana dan adil pada setiap pekerjanya. Gamma tahu semua hal tentang rekan bisnis maupun saingan bisnis ayahnya itu termasuk Alferd. Namun satuhal pria itu misterius. Tak ada satupun berita yang mengulik tentang kisah hidupnya bahkan bila Gamma tak mencari tahu, ia tak akan mungkin tahu bahwa Alferd punya seorang putri. Dan putri itu Ailee, calon ibu sementara Alpha.
Mereka berdua terus berjalan menuju tempat Alferd berada. Jangan lupakan tangan mereka yang saling bertautan. Ailee yang memintanya pada Gamma karena takut ayahnya tak akan percaya. Gamma enggan sebenarnya namun jika ia tak menjalankan permintaan Ailee maka semua rencananya akan hancur.
"Ayah ini calon suamiku..." ucap Ailee sembari menundukan kepalanya.
Alferd menoleh memandang dua sejoli didepannya dengan tatapan tajam yang menusuk. Dia membaca antara mereka berdua, "Benar-benar bukan Ars rupanya..." gumamnya yang masih mampu Gamma dengar. Ars? Siapa? Gamma bertanya dalam hati. Namun tak mau ambil pusing semua tentang Ailee bukanlah urusannya.
"Algamma Epsilon Canis..."
"Putra keluarga Canis rupanya..." Alferd tersenyum misterius, "Baiklah Gamma ikutlah denganku aku ingin bicara empat mata..."
"Tapi yah..." takut Ailee. Ia sudah menebak bahwa ayahnya akan mengajak Gamma untuk bicara berdua saja. Namun Ailee belum mempersiapkan hatinya. Ia takut ayahnya malah tak setuju ia menikah dengan Gamma dan tetap akan menghancurkan SA juga memaksanya menikah dengan Ars. Mengingat waktu perjodohan dulu Ailee tak diperbolehkan untuk menolak.
"Ailee tenang saja..." suara Gamma yang baru kali ini terdengar lembut meyakinkan Ailee. Sejenak pria itu menggenggam tangan Ailee seolah berusaha membuat Ailee percaya pada dirinya. Ailee tentu terkejut baru pertama kali ia melakukan kontak sentuhan dengan Gamma dan baru pertama kali pula pria itu bersuara lembut seperti itu. Biasanya Gamma selalu mengeluarkan suara dinginnya seolah menutup diri.
Kedua pria itu pergi meninggalkan Ailee sendiri. Gamma terus mengekori Alferd yang entah mau membawanya kemana. Pria itu terus melangkah hingga tubuh tegapnya berhenti didepan sebuah pintu beraksen kayu jati dengan banyak ukiran. Bisa Gamma tebak itu adalah ruang pribadi Alferd Kanedy.
Ketika memasuki ruangan Gamma disambut dengan banyak rak buku yang berjejer rapi dengan dua sofa dan satu meja ditengahnya. Sedangkan diantara rak rak yang berjejer itu terdapat pintu misterius. Ruangan itu tanpa jendela membuat penerangannya pun remang-remang baru setelah Alferd menekan salah satu saklar, lampu diruangan itu menyala terang. Tercium bau aroma kayu jati dan kertas buku yang begitu kental.
"Kau suka ruangan ini...?" saut Alferd ketika melihat Gamma menelanjangi ruangannya dengan pandangan mata. Dia terlihat menyukainya.
"Aku suka baunya Tuan..." jawabnya dengan santai dengan ebel-ebel tuan. Lalu mengikuti Alferd yang juga duduk diatas sofa.
__ADS_1
Alferd yang merasa aneh mendengar panggilan Gamma terkekeh pelan, "Jangan terlalu formal nak, panggil paman saja. Bagaimanapun aku juga kenal ayahmu, jadi apa kabar dengan Adam?"
"Dia baik-baik saja Tu─paman..."
"Syukurlah jika begitu, aku sudah lama tak jumpa dengan sahabatku itu..." Alferd mulai bernostalgia sedangkan Gamma tak biasa dengan pernyataan yang diungkapkan Alferd barusan, dia cukup tergugah mendengar Alferd mengenal Dad-nya, "Yah Namun sayangnya kami memilih jalan masing-masing dan malah jadi saingan bisnis..."
"Oh iya... aku lupa," Alferd memandang Gamma dengan tatapan jenaka, "Jadi apa yang sudah putriku tawarkan padamu?" tetapi lontaran pertanyaannya pada Gamma terdengar begitu serius.
"Maaf Paman?"
Alferd yang memahami bahwa Gamma tak mengerti akan maksudnya menjawab dengan lengkungan bibir khasnya, "Iya apa yang Ailee tawarkan padamu hingga kau mau menjadi suaminya?"
Gamma diam membisu. Dia bingung mau menjawab apa pertanyaan Alferd yang sejak awal memang tak pernah percaya akan sandiwara mereka. Ya Gamma juga tak terlalu yakin bahwa itu mampu membodohi seorang Alferd, pria itu memang sudah berumur namun tentu saja tak mudah dibodohi. Hanya berpegangan tangan dengan putrinya tak akan mampu membuat Alferd percaya bahwa mereka seperti pasangan.
"Jujurlah. Toh lagipula aku tak akan menghentikan kalian. Ailee tak akan berhenti meski aku tau bahwa kalian sedang bersandiwara. Dia cukup pembangkang..."
"Yaa.." Gamma memberi jeda sebelum menjelaskan pada Alferd. Tak ada ruginya membocorkan pada pria didepannya itu bila dia sudah berkata begitu tapi mungkin resikonya adalah bila Ailee mengetahui bahwa Gamma tak menepati janjinya, "Aku dan Ailee bersepakat melakukan pernikahan dengan kontrak..." bila Ailee tahu pasti dia juga akan memberi tahu pada dua orang tua Gamma dan pernikahan terancam batal.
"Jadi begitu... pantas saja sejak awal aku melihatmu aku tak merasa kau mencintai putriku..." ungkapnya, "Namun Gamma bolehkah kulihat surat kontrakmu itu? apa kau membawanya?"
Gamma menggeleng. Jujur saja dia baru akan mengambil perjanjian kontraknya setelah ia dan Ailee resmi menikah. Toh nantinya juga akan ditanda tangani oleh kedua belah pihak. Kontrak itu juga sudah ia diskusikan dengan Ailee kala gadis itu menyetujui penawarannya mengajak menikah.
"Kalau begitu tambahkan dalam kontrak itu... 'Kau harus menjaga Ailee sampai dia mau pergi dengan sendirinya' aku yakin kau hanya menganggap putriku sebagai pihak B, kalian pasti tak berencana menjalani pernikahan pada umumnya."
"Aku tak akan menghalangi kalian jika kau memenuhi permintaan ku itu. Jagalah putriku jangan pernah berencana meninggalkannya sebelum Ailee sendiri yang pergi darimu..."
Kedua netra Alferd dan Gamma saling berpaku, "Aku percaya padamu nak Gamma..."
Sebenarnya Gamma sendiri malah tak yakin pada dirinya sendiri. Karena sejak awal yang ada dipikirannya hanyalah terbebas dari tuntutan menikah dan mengetahui tempat istri tercintanya bersemayam. Juga sejak awal dia hanya memikirkan untuk segara meninggalkan Ailee lalu dia akan meraih kebebasannya. Tanpa Alpha, tanpa dua orang tuanya dan hanya Aily yang tetap Gamma bawa dalam hatinya.
[][]
No Comment wkwkw
Gak tau thor juga mau ngomong apa.
Jangan lupa jempol aja deh
__ADS_1
See You 🐣