
“Ailee, sayangku... bangun, kau tak mau menemui Dad dan Mom, mereka menunggumu dibawah...” si empu yang merasa pipinya ditepuk pelan hanya mengerang dan mengeliatkan tubuhnya. Ia tak berniat membuka mata barang sebentar untuk melihat suami tampannya yang menungguinya dengan sabar.
Pria tampan itu nampak menjadikan pemandangan yang tersaji dihadapannya sebagai hiburan. Hiburan yang lebih menyenangkan dibanding apapun. Yaitu melihat dan menatap intens setiap inci wajah cantik belahan jiwanya. Gamma seolah dibuat terbuai dan lupa akan tujuannya, membangunkan Ailee. Ia menyentuh wajah itu begitu lembut seperti menyentuh kapas yang kapanpun bisa rusak bila tak berhati-hati. Menyibakan rambut yang menutup sebagian pipi putih Ailee. Kedua netranya bergerak nakal memperhatikan bibir ranum istrinya yang terlihat menggoda seolah mengatakan ‘Kemarilah’
Gamma mendekatkan wajahnya, hanya tinggal sesenti saja pria itu hampir mendapatkan bibir merah merekah Ailee namun wanitanya itu malah terbangun. Ia terganggu oleh helaan nafas Gamma yang menerpa wajahnya dan berakhir terkejut. Melihat wajah Gamma yang begitu dekat membuat akal sehatnya tak bekerja. Meski sudah berulang kali Gamma melakukan hal yang lebih dari sekedar hampir mengecup namun Ailee tetap gugup jika pria itu tiba-tiba ada dihadapannya.
Dugh
Tanpa aba-aba Ailee mengangkat kepalanya dan karena kecerobohannya itu, bibir penuh suaminya menjadi korban. Dengan bunyi benturan disertai ringisan yang Ailee yakini dari sosok Gamma, ia memandang pria itu dengan rasa bersalah. Bibir Gamma yang penuh dan merah itu nampak mengeluarkan darah segar karena berbenturan dengan dahi Ailee.
“Oh tuhan... maafkan aku Al...” tangan Ailee terjulur begitu saja menyentuh bibir Gamma. Ia ikut meringis simpatik karena Gamma yang juga tengah menahan rasa perih yang menjalari. Pria itu pikir, tuhan telah memberinya balasan karena hendak main sosor pada istrinya diam-diam.
“Ssshhh... Ailee... kau mau membuat bibirku tak bisa menciummu lagi kan?”
“B—bukan begitu. Aku hanya terkejut, kau tiba-tiba begitu dekat dengan wajahku Al... apakah sakit?”
Pria itu mengangguk menjawab pertanyaan istrinya dengan yakin. Tentu saja ini sakit dan perih, namun tak sebanding dengan perasaan Gamma yang hancur saat mengetahui Ailee pergi darinya dulu, luka ini tak seberapa. Gamma hanya tiba-tiba memikirkan ide jahil yang muncul di otak jeniusnya itu, “Kau harus bertanggung jawab. Bagaimana jika bibirku sobek? haruskah ini dijahit?”
Dimata Ailee, Gamma bisa melihat ketakutan dan kekhawatiran yang amat begitu jelas terlihat. Wanita itu terlihat panik, “Apakah benar-benar harus dijahit? pasti itu sakit, apa tak ada cara lain?” Ailee balik bertanya pada suaminya.
“Mungkin ada,” Ailee terlihat penasaran, “cara simpel tanpa harus dijahit dan sakit...”
“Apa Al?”
“Cukup dengan kecupan dari istri cantikku, mungkin bibirku ini akan sembuh.”
Ailee menatap mata Gamma yang terlihat tak meyakinkan, ia merasa pria itu tengah mempermainkannya. Namun mau curiga pun Ailee tak bisa, sudah ada bukti nyata, bibir pria dihadapannya itu benar-benar terluka.
“Cukup itu saja? aku pikir kecupan hanya membuat bibirmu semakin sakit Al, lebih baik minum susu saja. Dulu saat bibirku berdarah pengasuh dirumahku menyembuhkannya dengan minum susu, sakitnya pasti akan hilang...”
“Ck. Aku hanya ingin dikecup, aku tak mau susu Ailee... aku bukan anak kecil...” justru Gamma yang sekarang malah terlihat persis seperti bocah kecil yang memaksa dituruti keiinginannya. Ia tak mau Ailee memberinya yang lain.
__ADS_1
Cup
Disela kecupan Ailee yang tanpa penolakan itu Gamma sedikit meringis pelan, amat pelan. Ia tak mau Ailee sampai mendengar dan menghentikan apa yang Gamma inginkan sejak tadi hanya karena rasa sakitnya yang tak seberapa ini.
Krieet...
Ehem!
Suara deheman membuat keduanya tersentak. Ailee menjauhkan bibirnya dari bibir suaminya lalu menatap malu ke arah pintu. Disana terlihat Aiden sang ajudan dari sang suami tengah menatap keduanya, “Katanya mau panggil istri tercinta, taunya malah mau bikin anak.. kasian tuh yang lain pada nunggu,” Aiden menyindir. Wajahnya terlihat kesal akan sesuatu, apa lagi jika bukan karena permintaan Adam yang memintanya untuk memanggil Gamma dan Ailee dan sesampainya dikamar mereka. Bukannya disuguhkan dengan keduanya yang bersiap keluar malah disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya merasa entahlah...
“Iri?” Skak. Tebakan sahabatnya itu menghujam dadanya, tapi Aiden gengsi mengakui. Mana mau dia mengaku iri didepan pria berwajah datar yang bahkan mengejek sahabatnya sendiri dengan tampang yang sangat-sangat flat.
“Siapa yang iri bos, masih single banyak yang ngejar, terserah milih yang mana gak kayak situ cuma satu...”
Gamma menuntun Ailee untuk turun dari ranjangnya, wanita itu terlihat menunduk menyembunyikan rona pipinya. Sepertinya Ailee masih malu sedangkan disini Gamma sendiri merasa sebal karena si pengganggu yang merusak momment langkannya.
“Satu doang juga betah, ada yang urusin, ada yang masakin, ada yang nungguin dirumah. Jomblo mana ada yang gituiin...” Gamma berjalan melewati Aiden begitu saja. Pria itu terlihat termenung, gengsinya jatuh karena sindiran Gamma.
“Lihat saja aku akan buat kesebelasan sepak bola dengan istriku Gamm hahaha....” Aiden tertawa gila. Dengan mudahnya ia mengatakan itu padahal ia sendiri bingung, ia tak punya pasangan. Semua wanita memang tergoda pada wajah tampan dan mapannya, namun itu hanya sebelum mengenal Aiden dengan baik. Baru mengenal sisi workholic Aiden saja, semua wanita langsung kabur. Ditambah para majikannya itu pasti tak akan membiarkan Aiden memiliki momment pendekatan.
[]
“Kau ini Gamm, membangunkan Ailee saja sampai selama ini. Sebenarnya kau memanggil Ailee atau pergi bersemedi dikutub utara..” Ellen mengomel panjang lebar. Dengan lembut ia mengajak Ailee duduk di sofa ruang keluarga.
“Tante mereka ini bukan bersemedi diKutub Utara, tapi dikamar sedang membuat anak...” celetuk Aiden tanpa malu-malu yang langsung menerima tatapan menusuk dari Gamma.
“Anak yang satu saja belum lahir sudah mau buat anak lagi...”
Mendengar semua kalimat yang Ailee rasa ambigu itu benar-benar membuatnya malu. Jika bukan karena menuruti keinginan Gamma, Ailee tak akan kepergok oleh Aiden. Mereka tak akan semalu ini. Rasanya Ailee ingin secepat mungkin menghilang dan meneluspkan dirinya entah kemanapun asal tak disini.
“Mommyyy!!!!”
__ADS_1
Hingga derap langkah kaki yang berdecit dengan lantai marmer itu membuang semua rasa malu Ailee. Ia mengangkan wajahnya kembali dan melihat Alpha, anak itu berlari-lari kecil dengan wajah yang begitu senang melihat sang ibu yang sudah sejak lama ditunggunya kini ada didepan mata.
“Alpha... mommy kangen kamu sayang...” Ailee langsung memeluk Alpha dengan eratnya. Menyalurkan rasa rindu yang sejak beberapa bulan yang lalu menghantuinya. Pertanyaan demi pertanyaan tentang kondisi Alpha yang jauh darinya kini terjawab, anak itu terlihat sehat sampai membuat Ailee menangis. Disanalah tercipta suasana haru. Gamma tak menyangka melihat Ailee menangis hanya karena terpisah jauh dari Alpha yang bahkan bukan putra kandungnya, ia kira perkataan rindu yang Ailee ucapkan terakhir di jet hanyalah alasan semata agar bisa pulang. Namun sepertinya tidak begitu.
“Aduh mommy... perutnya ngalangin, Alpha pengen peluk mommy lagi, tapi perut mommy ngalangin Alpha... perut mommy seperti badut...” padahal Ailee sedang sedih-sedihnya saat itu. Tetapi dengan mudah Alpha melepas pelukan yang dirasa tak nyaman dan malah melontarkan kata-kata yang bagi seluruh orang yang berkumpul disitu terdengar lucu begitupun dengan Adam yang baru terlihat dari taman belakang.
Ellen berjongkok mensejajarkan tingginya dengan sang cucu, “Alpha... mommy bukan badut, didalam perut mommy ada adek bayi, adek bayi untuk nemenin Alpha main...”
“Iya sayang kamu mau peggang?” Ailee menawari Alpha, bocah itu terlihat menimbang sembari menatap lama perut bundanya dengan tatapan aneh. Lalu mengangguk pelan. Tanpa dituntun Ailee, Alpha seolah mengerti, ia mengelus pelan perut bundanya dengan sayang meski tak mengerti dengan maksud orang-orang.
Selanjutnya ia terlihat terlonjak kaget, menatap Ailee dengan dua bola mata kecil yang membesar, “Mommy... ada yang gerak mommy, ada dua mereka nendang-nendang tangan Alpha...” Alpha terlihat antusias. Hal itu justru menjadi momment yang tak terlewatkan bagi Ailee, Gamma, Adam, Ellen dan Aiden yang saat itu ada disana.
“Sayang itu artinya dua adek bayi ingin segera bertemu kakak tampannya...”
“Dua?” Ellen mencerna ucapan menantunya. Ia tak mengerti, karena memang tak pernah ada kabar tentang Ailee mengenai kandungannya. Ellen selalu bertanya saat mereka ada di Perancis namun berulang kali pula Gamma mengatakan bahwa mereka tak berniat mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Ellen pun memaklumi karena mungkin akan jadi hadiah nanti. Terlebih Ailee yang baru tiba dari Indonesia langsung jatuh tertidur begitu pulas yang membuat Ellen tak bisa langsung menanyakan keadaan sang menantu itu.
“Iya mom, twin...” Gamma menjelaskan kepada ibu dan ayahnya singkat tanpan panjang dan lebar.
“Oh tuhan!! Aku akan mendapatkan dua cucu sekaligus...” Adam terlihat melonjak kegirangan tak menyadari umurnya. Bahkan ia tak peduli tatapan Aiden dan putranya yang terlihat seperti sedang menatap sesuatu yang ‘langka’
“Mas... jaga wibawamu...”
“Ehem!!”
[][]
Yeyy Twin bentar lagi lahir hehehe. Bentar lagi Alpha dapet dua dede bayi.
__ADS_1