
Sebuah danau yang begitu luas dikelilingi keindahan dan kedamaian. Menjadi latar pertemuan antara Arslan dengan wanita yang sampai saat ini masih sangat berarti dihatinya—Ailee Kanedy—ditemani oleh Ivory yang Arslan yakini bahwa putrinya juga tengah menyaksikan dirinya saat ini. Keputusan bulat melepaskan Ailee, telah lama menghantui pikiran Arslan. Ada ketidaksanggupan dibilik hatinya namun hatinya yang lain memaksa. Mengingatkan bahwa saat ini senyuman Ailee adalah sesuatu yang paling penting selain cinta Arslan yang begitu terlambat.
“Ars...”
Arslan menoleh, suara yang terdengar tak asing, lembut dan selalu ia rindukan. Ia tersenyum menyambut kedatangan Ailee yang selalu terlihat mempesona dimanapun kehadirannya, “Selamat datang Ailee...” Ailee pun ikut tersenyum.
Rambut panjang nan hitam legam milik Ailee tersibak angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan. Beterbangan bersamaan dengan kecantikan yang selama ini selalu berusaha Arslan dapatkan. Jelmaan wanita sempurna yang seharusnya tak pernah ia sakiti, yang tak hanya memiliki pesona luar namun juga kecantikan hati yang mendamaikan siapapun. Gamma beruntung Ailee sampai detik ini masih mau bertahan disamping pria yang juga tak jauh brengsek seperti Arslan.
“Kau terlihat cantik Ailee... kurasa Gamma pria yang beruntung mendapatkan dirimu yang secantik ini...” Namun faktanya meski sama-sama pernah menyakiti hati wanita yang mereka cintai. Arslan tetap percaya bahwa yang Gamma alami bukan hanya sebuah keberuntungan, tetapi sebuah takdir dimana antara dirinya juga Ailee telah diatur oleh sang penguasa. Dan Arslan hanyalah sekedar yang pernah hadir saja.
Ailee sedikit merona, “Terima kasih Ars...” ia sedikit menyilipkan anak rambut yang mengganggu pandangannya sembari melangkah mendekat kearah sosok pria bernama lengkap Arslan Sirius itu, “Ars...” netra Ailee memandang Arslan penuh penasaran, “Sebenarnya kau mau kemana?” Arslan terkekeh ringan mendengar itu. Suara tawa yang sama sekali tak terdengar bahagia.
“Kemana lagi. Jika bukan menyibukan diriku dengan perusahaan,” ujarnya mengalihkan pandangannya ke arah matahari terbenam yang semakin lama semakin tenggelam dengan senja sebagai pertandanya, “Aku akan pergi ke New York dan menetap disana...”’’
Kabar yang begitu mengejutkan, “Kenapa begitu tiba-tiba Al?” pertanyaan itu ingin sekali Arslan jawab dengan jawaban yang sejujur-jujurnya, bahwa semua tujuannya untuk tinggal disini sudah usai. Ailee sudah bahagia meski bersama dengan pria selain dirinya. Arslan ikut bahagia juga, tetapi hati yang masih terukir jelas dengan nama ‘Ailee’ didalamnya mana mungkin sanggup melihat sosoknya yang bahagia dengan selain Arslan. Hanya dengan pergi merelakan Ailee dan menyembuhkan hatinya lah yang bisa Arslan lakukan.
“Ini sebenarnya tak begitu mendadak, aku hanya baru memberitahumu hari ini saja...” Arslan mengkode Ailee untuk mengikutinya menuju kearah kursi besi panjang yang tersedia disekitaran danau.
Ailee mengerucutkan bibirnya, “Aku rasa aku sudah tak penting lagi untukmu ya?” pria yang mendengar ucapan itu menoleh sembari tersenyum hangat. Kau selalu penting untukku Ailee, hati Arslan berkata pelan.
“Bukankah terbalik... kau sudah memiliki yang penting disana...” Arslan menunjuk Gamma yang sejak tadi terus mengawasi mereka berdua. Tatapannya yang penuh pertentangan jelas membuat Arslan peka, bulu kuduknya bahkan sampai meremang melihat ketidaksukaan pria itu.
Karena hal itu Ailee tertawa pelan yang dipandangan Ars saat itu benar-benar sangat cantik dan manis. Sayangnya ia tak akan melihat tawa itu lagi, “Cukup sulit meminta izinnya untuk bertemu denganmu. Dia benar-benar pria pecemburu Ars...”
“Aku cukup mengerti dengan perasaan Gamma. Jika aku menjadi suamimu pun aku tak akan rela membiarkan pria lain menemui istriku... walau sudah meminta izin hahaha, bagaimanapun aku juga lumayan pecemburu...” Mereka terbahak bersama dengan begitu ringan tanpa beban. Sedangkan Gamma yang hanya bisa memandang istrinya tertawa dengan Arslan benar-benar diambang batas, ia berulang kali menahan diri demi Ailee. Jika Gamma terlalu mengutamakan emosinya tak bisa ia bayangkan nanti, Ailee pasti akan mengajaknya perang dunia ketiga.
__ADS_1
Setelah puas tertawa. Arslan mulai kembali serius, “Ailee.. kuharap setelah aku pergi, kau bisa bahagia dengan pria pilihanmu, walau aku jauh aku tetap mengawasimu Ailee...
sebagai teman dan kakakmu...” Berat rasanya mengatakan hal seperti itu. Arslan yang sudah menyiapkan hatinya untuk tetap baik-baik saja tetap tak bisa. Sedikit sakit tetapi rasa lega yang berkepanjangan muncul setelahnya.
Ya setelah ini Arslan harap ia mampu mengubur hidup-hidup perasaannya untuk Ailee. Tak perlu dilupakan, biarlah rasa cinta itu menjadi pelajaran hidup untuknya. Agar kelak saat Arslan menemukan wanita yang sama pentingnya seperti Ailee, Arslan tak lagi terlambat menyadarinya. “Selama aku pergi... jagalah Ivory untukku, dia akan kesepian jika tak ada yang mengunjunginya.”
Ailee hanya bisa mengangguk pelan. Ada rasa sedih mendengar keputusan Arslan memilih tinggal dinegara yang berbeda, bagaimana pun Arslan selalu menemani Ailee disaat dirinya tak mempunyai siapapun dan sekarang harus berpisah jauh. Tetapi Ailee rela, ia mengerti jika Arslan tetap disini pria itu tak akan menemukan kebahagiaan miliknya. Ia hanya akan terbayang masalalu dengan hati yang hanya untuk Ailee.
“Dia putriku. Aku akan mengunjunginya setiap waktu...”
“Terima kasih Ailee... terimalah ini...” Arslan menyodorkan sebuah kotak kado bewarna biru silver ke arah Ailee. Mata wanita itu menatap penasaran dan Arslan terlihat mengerti tatapan itu, “Buka saja jika kau penasaran...”
Ailee pun membukanya dengan perlahan sebuah kotak musik bewarna baby blue yang terlihat cantik dan lucu, “Terima kasih Ars...”
“Apa.”
“Bolehkah aku menyentuh perutmu... aku ingin mmm..”
Ailee lagi dan lagi dibuat gemas sendiri oleh tingkah Arslan yang terlihat malu-malu, ia pun hendak menjawab, “Tentu—“ namun ucapannya terlebih dahulu dipotong oleh Gamma yang terlalu tak tahan mendengar semua.
“Tak boleh!”
[]
“Astaga Al... kenapa kau begitu pelit, Arslan kan hanya ingin menyentuh bayi kita...” Ailee sejak tadi tak berhenti mengomel didalam mobil. Semua karena ulah Gamma yang selalu over dan over cemburu padanya. Padahal mata Arslan benar-benar terlihat berbinar saat memandang perut Ailee saat itu, terlihat sekali bahwa pria itu benar-benar ingin menyentuhnya. Ailee pun mengizinkan, karena bagaimanapun Arslan pernah kehilangan seorang anak seperti Ailee.
__ADS_1
“Itu bukan bayi kita Ailee...” Gamma ikut kesal karena Ailee terus-terusan membela rivalnya itu, “Itu perutmu. Dia pasti ingin mengambil kesempatan untuk menyentuhmu dan aku tak suka itu. Semua milikmu adalah milikku. Tak ada yang boleh menyentuhnya...”
Ailee memutar bola matanya malas meski sebenarnya ucapan Gamma malah membuatnya melambung dengan hati yang berbunga-bunga. Meski terkadang Gamma terlihat sangat menyebalkan ketika sedang cemburu, ia paham perasaan pria itu. Itu adalah sebuah bukti nyata bahwa cintanya untuk Ailee bukan sekedar permainan semata. “Al... aku mencintaimu..” tiba-tiba saja perkataan itu keluar dari bibir Ailee.
Namun Gamma tak pernah mendengarnya. Karena setelah itu semua seolah terjadi diluar kendali. Sebuah mobil asing sengaja menabrakan mobilnya ke arah mobil Gamma. Hingga membuat rute mobil menjadi di luar kendali. Gamma yang merasa itu terlalu tiba-tiba tak mampu menghindarinya. Ia menoleh ke arah Ailee dengan wajah panik setengah mati. Ia tak mau istri dan anaknya celaka. Ia pun memilih membelokan arah dan menabrakan mobilnya ke arah pohon dipinggir jalan dengan tangan kanan terangkat untuk menghalangi Ailee terantuk dashboard mobil.
Brak!
Suara mobil yang bertabrakan dengan pohon besar mengejutkan para pengguna jalan. Rasa perih didahi Gamma membuat kepalanya memberat berkali-kali lipat. Samar-samar sembari menahan rasa sakitnya Gamma menatap Ailee, wanita itu juga menatapnya dengan wajah yang benar-benar sangat terkejut.
“Ailee... Syu—syukurlah kau baik-baik saja...” Ucapan itu adalah ucapan terakhir Gamma sebelum pria itu akhirnya benar-benar menutup matanya. Ia tersenyum dalam kelelepan dengan hati yang tenang. Tak masalah asal Aileenya baik-baik saja, ia pun rela harus kehilangan nyawa. Namun dalam hati yang paling dalam ada sedikit harapan semoga Gamma masih bisa melihat Ailee juga calon anaknya sebentar saja.
“Al hikss.... Al bangun....”
[][]
Hiks
__ADS_1