
Ditengah kebahagian dan kehangatan dua orang yang kini sadar bahwa mereka saling membutuhkan dan saling mencintai. Ada suatu kehancuran yang bagi Ellish adalah kegagalannya untuk yang kedua kalinya. Di suatu kegelapan dengan sinar yang remang-remang, Ellish memandang nyalang sekelilingnya. Bayang-bayang keromantismean Gamma dan Ailee berputar seperti kaset rusak yang membuat Ellish semakin menggila.
Prank!!!
Gadis yang rupanya cantik dan kini berubah mengenaskan itu terlihat memporak-porandakan seluruh barang yang ditatap matanya. Seolah semuanya memang harus merasakan kehancuran yang dirasakan Ellish ketika sekali lagi ia harus gagal mendapatkan Gamma dan membiarkan wanita lain menyentuh prianya. Gadis itu berjalan dengan langkahnya yang tertatih, pecahan beling yang berserakan menarik pandangan matanya. Tangan Ellish bergerak mengambil salah satu diantaranya sedangkan tangannya yang lain menutupi sebelah matanya.
Brak!!
Suara gaduh bantingan pintu yang terbuka sama sekali tak digubris Ellisha, “Apa yang mau kau lakukan dengan pecahan itu Ellish!” Teriakan melengking Astoria terdengar dipenuhi kejutan. Wanita itu seolah menunjukan wajah panik disaat dirinya pun tahu apa yang membuat putrinya ini bisa semarah ini. Apalagi jika bukan karena satu pria bodoh.
Ellish memandang tajam sang ibu, tatapannya berkilat dengan tangan yang terus menggenggam pecahan kaca itu sampai benar-benar menancap dan melukai tangan kanannya, “Aku pasti akan membunuhnya... aku tak akan membiarkan kak Gamma dimiliki orang lain lagi...” perlahan cairan merah pekat mengalir deras melewati pergelangan tangan Ellish Mahony. Tetapi gadis itu sama sekali tak merasakannya, rasa sakitnya ia buat seolah mati rasa. Karena yang tersisa kini hanyalah rasa benci dan ingin menghancurkan Ailee dimata Ellisha. Dan diantara kebencian itu, Astoria memandang siluet putrinya dengan senyuman terpatri dibibir.
“Singkirkan dia yang menghalangimu jika itu bisa membuatmu lega... Ellish, putriku...”
Tanpa dua sejoli itu sadari ada sepasang mata dan telinga yang sejak tadi memperhatikan mereka. Eizen mengepalkan kedua tangannya yang terlihat memerah karena aliran darah yang terkumpul. Niatnya ingin menenangkan Ellisha gagal dan malah mendengarkan rencana buruk yang lagi-lagi tak berhenti direncanakan ibu dan anak satu itu.
Pria itu menyisir rambutnya karena frustasi. Ia tak pernah menyangka kembalinya Astoria didalam keluarga mereka, malah semakin memperburuk segala keadaan. Sudah ikhlas Eizen soal kematian ibunya, wanita itu kembali datang dengan niat yang Eizen sendiri tak mengetahuinya. Semua tingkahnya seolah mencurigakan. Awalnya memang Eizen yakin, wanita itu akan menjadi pusat kebahagiaan bagi sang ayah. Eizen tak masalah, mungkin ayahnya memang membutuhkan sandaran baru untuk meringankan sedikit bebannya. Dan mungkin saja Ellish mau berubah tak keras kepala dengan kehadiran ibu kandungnya. Semua orang akan selalu lemah dengan kasih sayang.
Tetapi sepertinya semua hanyalah imajinasi yang sebenarnya sangat Eizen inginkan. Padahal ia tahu hidupnya tak akan pernah damai dengan adanya Astoria Kanedy, tetapi dengan mudahnya ia membiarkan wanita ular itu masuk lagi kedalam keluarganya, “Wanita psikopat.” gumamnya dengan menggeretakan gigi. Sudah cukup ia menyaksikan orang yang ia sayangi perlahan menghilang dari jangkauannya. Ia tak mau lagi melihat ada orang lain yang menjadi korban seperti ibu kandungnya.
[]
Plak!!
__ADS_1
Malam itu entah mengapa suara petir yang bergemuruh tapi tak disertai air hujan itu terdengar bersamaan dengan suara tamparan yang begitu memilukan. Jangankan orang yang mendengarnya merasa ngilu, Eizen yang saat itu berumur 17 tahun menyaksikan sang ayah menampar ibunya merasa jiwanya luluh lantah. Dihadapan matanya ia melihat ibunya menangis diiringi dengan suara petir yang semakin besar hingga hanya ayahnya saja yang mendengar bahwa ibunya saat itu menangis. Tetapi Eizen mampu melihat bahwa bulir-bulir air di mata ibunya saat itu semakin menderas seolah mewakili hujan yang tak turun saat itu. Ibunya menderita sendirian.
“Kenapa kau mengusir Astoria dan anakku hah?! Dia itu juga istriku Maira!!”
“Aku tak peduli!! Aku tak peduli dengan wanita jahat itu!! Apakah kau buta? Dia ingin menghancurkan semua yang kita miliki!! Tapi kenapa kau tetap jatuh cinta padanya!!” Sembari menangis ibunya meneriaki sang ayah.
“Ap—apakah tak cukup aku dan Eizen saja yang berhak atas dirimu Mas...”
“Itu tidak cukup.”
Deg
Jawaban ayahnya lebih menghancurkan hati Gamma. Untuk terakhir kalinya ia mengingat keharmonisan keluarganya yang kini perlahan menghilang. Dan setelah malam itu ibunya, Almaira menyimpan lukanya dengan senyum dan membawanya hingga akhir. Senyuman yang membuat Eizen tak sanggup untuk menyimpan dendam pada siapapun termasuk sang ayah kandung.
[][]
Suara burung camar yang bergelantung diatas dahan pohon menghiasi kediaman Gamma dan Ailee. Kedua sejoli yang jatuh cinta itu masih begitu nyaman dengan posisi berbaringnya. Sinar mentari pagi yang terlihat hangat menerpa wajah Gamma yang kini terlihat bersinar, pria itu perlahan membuka kedua bola matanya. Senyum indah menghiasi bibir Gamma. Kini ia tak lagi sendiri, dulu setelah Aily meninggal Gamma harus bersusah payah membiasakan dirinya untuk terbangun dalam kondisi kesepian. Tak ada lagi nafas hangat yang menerpanya ataupun wajah cantik wanita yang ia cintai. Namun sekarang semua telah berubah menjadi lebih baik, Wanita yang memang bukan Aily tapi tetap sangat Gamma cintai itu menyambut pagi harinya.
Ailee terlihat nyenyak dipandangan Gamma. Bahkan saat kedua tangan Gamma tanpa disadari terulur dan menyingkirkan lembut anak rambut Ailee, wanita itu tetap tak terusik dengan tidurnya. Alhasil yang bisa Gamma lakukan hanyalah semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Ailee. Ia tak tega menganggu tidur bidadari cantiknya dan memilih memberikan pelukan nyaman untuk Ailee. Menunggu sebentar sampai Ailee terbangun bukan masalah untuknya.
Pria itu termenung. Antara Ailee dan Aily banyak perbedaan dalam diri mereka. Aily yang selalu bersifat kekanakan dan manja padanya, Aily yang selalu tak menurut dengan apa yang Gamma perintahkan dan keributan-keributan kecil yang entah mengapa menambah rasa cintanya. Sedangkan Ailee, wanita yang memiliki banyak beban namun begitu murah senyum, Ailee tau bagaimana caranya menempatkan sifatnya kapan dia harus manja kapan dia harus berpikir dewasa dan terlalu baik untuk seorang seperti Gamma. Tapi karena itulah Gamma tak bisa melepaskannya. Melepaskan seorang Ailee Kanedy dengan segala keunikannya.
“Emmh...” Gamma terusik mendengar lenguhan Ailee. Ia menunduk untuk memandang wajah sang istri. Wanita itu terlihat mengusap kedua matanya dan itu terlihat menggemaskan dimata Gamma. “Selamat pagi istriku...”
__ADS_1
Ailee tersenyum begitu manis, terlihat sekali bahwa dia bahagia dengan ini semua. Pria yang didambanya kini benar-benar menjadi miliknya. Tetapi senyuman itu langsung luntur berganti dengan wajah yang terlihat amat tak nyaman. Gejolak morning Sickness yang lagi-lagi menganggunya, membuat Ailee yang baru bangun terpaksa langsung bangkit dengan tangan menggenggam selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, meninggalkan Gamma dan langsung berlari menuju kamar mandi. Sekilas Ailee melihat jelas ekspresi suaminya yang terkejut karena ulah Ailee.
Huek huek huek
Gamma ikut menyusul Ailee terlihat kepanikan diwajah tampannya. Pria itu memijat pelan tengkuk Ailee, setidaknya dengan pijatan itu Ailee akan sedikit merasa lega, “Apa ini sudah biasa terjadi Ailee....?” tanya Gamma saat Ailee tengah mencuci bibirnya dengan air.
Ailee berbalik menghadap Gamma, ia mengangguk pelan, “Itu sudah biasa Al... bukankah wajar untukku mengalami morning sickness seperti ini.”
“Ailee jika kau merasa tak nyaman katakan padaku...” Dengan kedua tangannya, Gamma menangkup wajah Ailee.
“Aku baik-baik saja Al...” Ailee menunjukan senyum lembut seolah mengerti kepanikan Gamma.
Gamma membawa Ailee kedalam pelukannya tanpa aba-aba, ia menyentuh dengan lembut puncak kepala istrinya, “Aku tau... aku tau kau baik-baik saja tapi Ailee... aku hanya takut akan sesuatu..” Dulu Gamma juga pernah mengalami ini semua, dimana setiap paginya ia harus mendengar dan melihat bagaimana Aily menderita dengan masa kehamilannya, wanita yang tadinya baik-baik saja itu terlihat lemah dimata Gamma, “Aku takut kau menderita seperti Mikaily... aku takut wanita yang kucintai pergi lagi, aku senang dengan kehadiran calon anak kita tapi maafkan aku, aku tak bisa harus kehilangan lagi.” Suara pria itu terdengar melantur entah kemana sama dengan pikirannya.
Melihat Ailee yang tiba-tiba berlari dan mengeluarkan isi diperutnya jelas mengingatkan Gamma pada sosok Mikaly. Hal yang seharusnya membuat pria itu bahagia malah menjadi trauma sendiri baginya. Dan karena itu Ailee mengelus pelan punggung sang suami, “Aku tak akan pergi Al... jadi lebih sayangilah dia...” Ailee membawa tangan besar Gamma menuju perutnya. Dengan senyumnya yang hangat yang mampu menenangkan siapapun Ailee menggerakan perlahan tangan Gamma, “Aku tak akan membiarkan kau membenci dan menyalahkan siapapun lagi...”
Ailee kembali memeluk suaminya, “Ailee.. maukah kau menemaniku berkunjung ke makam Mikaily?”
[][]
Aim Back yuhuu
__ADS_1