
Panik
4 Hari Kemudian...
“Lee...”
Si empu yang merasa namanya dipanggil menoleh dan menemukan Valery, sang sahabat yang kini berjalan menghampirinya. Valery langsung menyambar kursi disamping Ailee dan duduk disebelahnya, ia menatap Ailee dengan wajah khawatirnya, “Kau terlihat lelah... istirahatlah. Masih ada aku, mom, dad dan kak Gamma yang bisa menyambut para tamu...” Ailee dengan mudahnya menggeleng menolak saran Valery.
Wanita itu membenarkan letak pashima hitamnya dengan tangan kanan, “Ayah adalah keluargaku Valery, mana mungkin aku tak menyambut sahabat ayah yang juga ikut berbela sungkawa atas kepergiannya...” jawabnya lirih.
Ini adalah hari Ke-4 setelah ayah Ailee wafat dengan penyakit yang sama sekali tak diketahui Ailee. Bukan karena Ailee tak peduli tapi berulang kali ia meminta pihak rumah sakit tempat biasanya sang ayah melakukan pemeriksaan tetap saja tak ada yang mau memberi tahunya. Mereka terikat oleh janji dengan Alm Alferd.
Dan kini Ailee menyerah mencari tahu. Ia memilih menyibukan dirinya mengurus pemakaman sang ayah dibanding harus terlarut dengan kesedihan dan rasa kehilangan. Ia sudah terbiasa menjadi tegar meski banyak hal yang hilang dari sisinya namun hal itu jugalah yang mengajarkan Ailee untuk ikhlas dan lebih dewasa dalam menyikapi setiap penderitaan dihidupnya. Kini Ailee ikut menyambut para tamu yang datang kerumahnya bersama Gamma, mereka adalah sahabat dan rekan bisnis juga tetangga dari ayahnya yang ikut serta berbela sungkawa dan berharap mendoakan ayah Ailee itu.
“Tapi... kau terlihat pucat Ailee, beberapa hari ini juga kau jarang makan. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu,” Seperti biasanya Ailee memandang Valery dan memberikan senyuman hangatnya. Berharap senyuman itu mampu menyembunyikan rasa lelah dan rasa sedihnya, Ailee seolah memberikan tanda bahwa sampai sekarang ia sangat terlihat baik-baik saja.
“Aku tak perlu kau khawatirkan Val... aku jarang makan itupun karena aku sedang tak nafsu saja.” Valery hanya bisa mengiyakan dalam hatinya. Semua orang pun tahu bahwa Ailee saat ini sedang tak sehat, ada kesedihan mendalam dimatanya namun ia masih mau terlihat tegar didepan semua orang. Valery memutuskan untuk pamit meninggalkan Ailee dan menyusul Gamma yang ada disudut lain.
“Kak...”
Gamma yang sedang bersalaman dengan tamu menoleh dan melihat adik iparnya sudah berdiri disampingnya, “Ada apa?”
“Bujuklah Ailee kak...”
Pria itu mengangkat alisnya, tak mengerti dengan kata-kata Valery yang tiba-tiba, “Bujuk apa?”
“Bujuklah dia untuk istirahat. Dia terlihat lelah dan kulihat wajahnya juga pucat...” Gamma menghela nafas menanggapi pernyataan Valery.
__ADS_1
“Percuma saja kau peduli padanya. Dia juga tak mempedulikan rasa khawatirmu kan. Jika aku jadi dirimu aku tak mau harus lelah mengkhawatirkannya...” Karena Gamma sendiri merasa hanya membuang waktunya mengkhawatirkan Ailee yang bahkan kini terlihat tegar dihadapannya. Bahkan Gamma sendiri tak mengerti kemana hilangnya Ailee yang kemarin sempat menangis dan meraung-raung didekapannya.
Mata Gamma menatap istrinya yang jauh disana. Wanita itu bahkan bisa tersenyum begitu tulus disaat orang-orang terlihat iba padanya, “Kau lihat dia sangat terlihat baik-baik saja....” Mata Gamma mengkode pada Valery agar melihat Ailee dengan baik.
“Tapi kak—
“Sudahlah Val, lebih baik kau bantu mom dibelakang...” Gamma memotong ucapan sang adik ipar lalu beranjak menjauh dari Valery. Dia terlalu malas membicarakan Ailee yang pasti ujung-ujungnya hanyalah agar ia membujuk wanita itu untuk mengistirahatkan tubuhnya. Gamma tak mau terlalu peduli pada Ailee disaat mereka berdua sendiri hanyalah sebatas pasangan kontrak.
Namun diam-diam Gamma mendekati Ailee. Ia mencuri pandang dan mengamati istrinya itu dari jauh. Hingga kemudian senyum wanita yang terus terpatri saat menyambut tamu itu luntur begitu saja. Gamma terlihat bingung melihat hal itu dan pandangannya terlalih oleh seorang wanita yang berdiri didepan Ailee. Datangnya wanita itu membuat senyuman Ailee menghilang begitu saja.
“Bunda...”
Ailee memundurkan langkahnya. Ia nampak terkejut melihat sosok yang tak terduga ada dihadapannya. Wajah yang tak asing yang sudah sangat lama tak ia lihat, “Untuk apa bunda disini?” tanyanya pada wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Astoria Kanedy.
“Bunda ikut berduka atas meninggalnya ayahmu...” Astoria menatap putrinya dengan pandangan tak biasa. Dan hanya Gamma lah yang bisa melihat pandangan penuh benci yang Astoria layangkan pada Ailee.
“Ah.. Bunda...” Jangan lupakan pada fakta bahwa sebelum Alferd meninggal, ayah mertuanya itu berpesan pada Gamma agar menjauhkan Ailee dari Astoria yang tak lain ibu kandungnya itu. Ia tak menyangka wanita yang membuatnya setengah mati penasaran kala itu kini datang sendiri seolah ikut berbela sungkawa atas meninggalnya sang ayah mertua.
Gamma menangkupkan kedua tangannya serta tak lupa tersenyum ramah, “Salam Bunda... saya Algamma, suami dari putri anda... terima kasih sudah datang dan mau ikut berduka atas meninggalnya ayah...”
Astoria sebisa mungkin menyunggingkan bibirnya dengan keadaan heran. Terlihat amat jelas bahwa dia bingung akan kehadiran Gamma yang tiba-tiba mengusik dirinya, “Dia adalah mantan suamiku dan Ailee adalah putriku... aku hanya tak menyangka Alferd dipanggil begitu cepat mendahului kita...”
“Oh iya kapan kalian menikah? Ailee kenapa kau tak mengundang Bunda kepernikahamu sayang...” Ailee memandang Bundanya dengan rasa yang tak sama seperti dulu lagi. Ia terlihat amat tak nyaman melihat wanita yang seharusnya ia rindukan itu ada dihadapannya. Ingatannya kembali terngiang pada peristiwa yang mempertemukan dirinya dengan Gamma pertama kali. Mengingat hal itu membuat hatinya kembali sakit, rasanya sangat sulit mempercayai bahwa Astoria terlihat peduli padanya sekarang. Hingga tanpa sadar elusan lembut Gamma pada bahu Ailee membuat wanita itu mendongak menatap wajah sang suami dari samping. Gamma ikut menoleh dan memberikannya tatapan meneduhkan, tatapan yang menenangkan hati Ailee dan seolah tahu bahwa Ailee terluka saat melihat Astoria.
“Maaf Bunda sepertinya istriku sangat lelah kali ini...” Gamma kembali mengelus bahu Ailee dengan lembut, “Ailee istirahatlah dikamarmu, biarkan aku yang mengurusi hal ini...” Ailee merasa keberatan namun Gamma langsung memberinya tatapan tajam seolah meminta Ailee menuruti kemauannya. Alhasil Ailee hendak berbalik pergi meninggalkan Gamma dan membiarkan Astoria bersamanya.
“Tunggu Ailee...” Namun Astoria menghentikan langkah kaki putrinya, “Ada satu hal lagi yang membuat Bunda mau datang kemari...” Ailee berbalik dan memandang Astoria yang entah ingin memberinya apa. Wanita itu terlihat merogoh sesuatu dari tasnya dan terlihatlah sebuah kertas undangan yang tergenggam ditangannya. Ia langsung menyodorkan undangan itu pada Ailee. “Bunda akan menikah lusa nanti.. Bunda berharap kau bisa datang...” Ia melirik Gamma, “Bersama suamimu...” setelah itu Astoria pamit undur diri.
__ADS_1
“Bawa kemari undangannya,” Gamma menjulurkan tangannya untuk meminta undangan yang ada ditangan Ailee itu. Pria itu terlihat menahan kesal hanya karena kedatangan Astoria. Terlihat kentara sekali bahwa ibu mertuanya itu sama sekali tak terlihat seperti seorang ibu dan seorang istri yang baik, bagaimana bisa dia tak memeluk putrinya sedikitpun dan disaat kondisi Ailee yang berduka malah memberinya sebuah undangan pernikahan. Benar-benar seperti menabur luka diatas garam.
“Untuk apa Al?”
“Berikan saja!” Paksa Gamma dan Ailee yang tak mau berdebat dengan suaminya itu memilih memberikan undangan pernikahan Astoria dengan pria yang tak Ailee kenal. Ailee sama sekali tak mood untuk mengetahui seputar kehidupan ibu kandungnya itu disaat dirinya sendiri merasa amat kehilangan akan sosok ayah. Gamma langsung membuang undangan itu kedalam tong sampah dan membuat Ailee terkejut akan tindakan pria itu.
“Al kenapa kau membuang undangan itu...?”
“Ikut aku sekarang...” Gamma menarik lengan Ailee tanpa menjawab keterkejutan Ailee atas tindakannya.
[]
“Al!” Lengan Ailee terus berontak dari genggaman erat Gamma, “Kau mau bawa aku kemana?! Aku ingin kembali ke bawah Al... bagaimana jika teman ayah datang Al... aku ingin—“ Gamma menoleh ketika menyadari bahwa Ailee menghentikan ucapannya dan tak lagi memberontak. Tubuh wanita itu limbung dan dengan sigap Gamma menjatuhkan Ailee kedalam dadanya, ia menopang tubuh Ailee yang tiba-tiba terlihat lemah itu.
“Ailee!!”
“Ailee ada apa?” Ailee dalam kesamaran bisa melihat mimik wajah Gamma yang terlihat asing dimatanya. Pria itu berwajah panik dan melihatnya penuh dengan rasa khawatir, menerbitkan senyuman di hati Ailee karena bisa dikhawatirkan oleh Gamma. Rasanya hatinya mengalami euphoria yang begitu menyenangkan disaat pandangannya perlahan mengabur. Ternyata seperti inilah rasanya dikhawatirkan oleh sosok Al-Gamma.
“A—aku hanya pusing Al...” perlahan mata Ailee yang sedikit terbuka itu benar-benar tertutup dengan sempurna. Gamma semakin panik dibuatnya. Semua rasa khawatir yang sebenarnya sudah ia rasakan ketika melihat wajah Ailee yang sejak pagi pucat menguar semuanya. Ia menepuk pelan wajah Ailee berharap wanita itu bangun namun Ailee masih tetap menutup matanya.
Gamma yang setengah mati panik dan binggung langsung membawa Ailee kedalam kamarnya sendiri. Ia tanpa sadar melanggar pantangannya sendiri yang benci bila ada orang asing yang masuk kedalam kamarnya dimana kenangan Almh Aily ada disana. Ia dengan segera meletakan tubuh lemah Ailee diatas ranjangnya dan kembali menepuk pelan pipi putih Ailee.
“Ailee bangunlah...”
[][]
Annyeonghaseyo aku balik lagi Gaes hehehe. Kalian kangen aku gak wkwkwkwk. Jangan lupa jempolnya ya
__ADS_1