
“Jadi sekarang kenapa kau nampak lesu seperti ini, bukankah Ailee telah memaafkanmu?” Seorang pria yang tak kalah tampan dengan Gamma duduk dihadapan pria itu. Dia adalah Aiden, ia memandang bossnya dengan tatapan heran dan penasaran.
“Dia meminta waktu untuk sendiri...” Gamma menatap jendela dibelakang tempat duduknya dengan pandangan layu. Entahlah setelah pria itu sadar bahwa ia mencintai Ailee, Gamma menjadi gila karena istrinya. Rasanya pria itu tak mau sedikitpun dipisahkan dari Ailee. Meski sang istri telah memintanya untuk menjauh hanya sementara dan berjanji akan kembali namun tetap saja itu berat bagi Gamma.
Aiden terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya yang kini benar-benar menjadi budak cinta, “Lalu apa masalahnya? lagipula selama dia masih menjadi istri sahmu dimata Agama dan Hukum, Ailee tak akan bisa kabur, terlebih dia sedang hamil...”
“Kau tak akan mengerti, kau bahkan tak pernah menikah.”
Pandangan Aiden berubah menjadi sinis, “Aku tak menikah juga karena mengabdi padamu dan perusahaanmu...” Pria itu mengingat dengan betul setiap momment dimana hidupnya harus selalu diitari oleh Gamma dan ayahnya, Adam. Jangankan untuk menikah mendapatkan wanita jika Aiden masih bekerja bersama Gamma itu hanyalah mustahil. Gamma adalah duplikat dari Adam, mereka selalu seenaknya, “Bisa jadi saat kukencan kau malah menggangguku dan membuatnya menjadi berantakan sama seperti ayahmu dulu...”
“Kau kencan?” Gamma menertawakan Aiden, “Setauku kau itu workholic makanya dad mempekerjakan mu, sejak dulu kau itu tak pernah tertarik dengan yang namanya wanita Aiden...”
“Kau salah...” kini berganti Aiden yang menertawakan Gamma, “Sebenarnya aku sedikit tertarik dengan satu wanita,” Gamma memutar kursi kebesarannya, lalu menatap Aiden dengan wajah penuh keiingin tahuan, “Sayangnya wanita itu mencintai pria lain...” Aiden memasang wajah masam yang terlihat dibuat-buat.
“Siapa?” Gamma kini benar-benar penasaran. Wanita seperti apa yang bisa membuat si penggila kerja ini tertarik? tak biasanya seorang Aiden mau berurusan dengan wanita. Bagi pria itu wanita adalah nomer dua sedangkan yang kesatunya adalah pekerjaan. Aiden bukannya tak terkenal dikalangan wanita, justru karena ketampanan dan keramahannya semua wanita ingin mendapatkan Aiden.
“Kau yakin ingin tahu?”
“Jangan berbasa-basi denganku...”
Aiden tersenyum lalu bangkit dari posisi duduknya, ia membuat Gamma heran dengan tingkah lakunya, “Untuk apa kau berdiri?” tanya Gamma sembari mengernyitkan dahinya heran.
“Hanya persiapan saja, agar kau tak merusak wajahku...” ungkapnya, “Karena wanita itu tak lain istrimu, Ailee, aku sempat berpikir ingin merebutnya...” lalu setelahnya Aiden melangkah lebar meninggalkan ruangan Gamma. Bulu kuduknya sudah berdiri dan ia yakin itu karena Gamma memelototinya.
“Sialan kau!!!” Gamma menggeram karena emosi.
“Ah ya...” Aiden muncul lagi, “Hari ini sepertinya kau kedatangan tamu penting..” pria itu tersenyum tanpa rasa bersalah lalu menghilang lagi.
__ADS_1
[]
“Jadi?” Netra Gamma melekat memperhatikan sebuah undangan bewarna hitam yang terlihat mewah untuk ukuran sebuah undangan, “Apa ini? Eizen...” Ia mengalihkan perhatian menatap Eizen dari sudut matanya. Pria itu tanpa pemberitahuan datang ke Canis Kingdom bahkan belum sempat membuat perjanjian dan setelah disambut malah menyodorkan undangan misterius yang membawa firasat buruk bagi Gamma.
“Ayah mengundangmu untuk datang ke ulang tahun perusahaan...” Eizen menyeduh kopi yang disediakan salah satu karyawan. “Kau jangan berpikir untuk tak datang hanya demi menghindari Ellisha...” pria itu seolah menebak pikiran Gamma.
“Cih,” Gamma memandang Eizen tak suka, “Aku akan datang jika adikmu itu janji tak berbuat macam-macam...”
Eizen membetulkan letak kacamatanya, hari ini pria itu benar-benar seperti seorang pekerja handal, “Tenang saja, jika dia berani melakukannya maka dia melawanku...”
“Bukankah kau penyayang adik?”
Ehem
Eizen terlihat salah tingkah karena pertanyaan Gamma yang terdengar seperti ejekan baginya, “Intinya lusa kau harus datang jangan lupa undang istrimu juga...”
“Apa ibu tirimu juga akan disana?”
“Tenang saja... dia hanya akan bergerak dibelakang layar...” Eizen sekali lagi menyeduh kopinya dengan tenang, “Ya asal kau tak pernah sedikit pun meninggalkan Ailee dari sana, aku yakin tak akan terjadi hal yang buruk...” Setelah menghabiskan satu persatu tegukan kopinya yang terakhir, Eizen pergi meninggalkan Canis Kingdom. Sama seperti Gamma ia juga berharap tak akan terjadi hal buruk, ia berharap Astoria maupun Ellisha tak mengacaukan acara kali ini...
[][]
Disisi lain Ellisha memandang ibunya yang terlihat bahagia. Wanita yang terlihat muda diusianya yang hampir berkepala 4 itu memanggil Ellisha dengan membawa ebel-ebel ‘kesempatan’ untuk memiliki Gamma, karena rencana menggoyahkan keyakinan Ailee kali ini gagal total.
“Kuharap rencanamu kali ini benar—benar berhasil...” Ellisha dengan beraninya menatap sang ibu dengan angkuh. Ia sudah terbiasa melakukan itu, terlebih selama ini Ellisha yakin dibalik kebaikan Astoria yang dulu mati-matian mendekatinya dengan sok bersikap keiibuan, ada niat terselubung didalamnya. Tapi toh Elisha tak peduli harapannya kali ini adalah rencana wanita ular yang tak lain ibunya itu tak lagi gagal. Ellisha tak mau membayangkan Gamma hidup bahagia lagi bersama selain dirinya.
“Ulang tahun perusahaan kali ini...” Keduanya saling bertatapan. Astoria baru mengalihkan pandangan ketika tangannya tengah mencari-cari sesuatu didalam sebuah dompet kecil yang membuat Ellisha penasaran. Didalam dompet itu, Astoria mengeluarkan sebuah botol kaca kecil—amat kecil yang ukurannya hanya setinggi jari kelingking dengan sebuah bubuk bewarna putih yang terlihat mencurigakan.
__ADS_1
Tak
Ia meletakan botol itu dengan tak santai sembari memandang putrinya kembali dengan tatapannya yang tajam, “adalah kesempatanmu...”
Lipatan-lipatan didahi Ellisha timbul karena pernyataan Astoria. Sebuah botol berisi bubuk yang mencurigakan dipandangnya, “Kau tak bermaksud menyuruhku untuk meracuni seseorang kan?” Ellish benci mengotori tangannya. Jika dia ingin berbuat sesuatu yang buruk, ia bisa melakukan segalanya tanpa campur tangannya hanya dengan uang. Mendadak wajah Mikaily, sahabatnya terbayang di ingatan Ellish. Ellisha pernah sekali mengotori tangannya hanya demi Gamma, dan korbannya adalah Aily.
“Ini bukan racun... tetapi obat perangsang...”
“Jadi maksudmu aku harus membuat kak Gamma meminum ini?” tanya Ellish tak yakin. Ini terlalu meanstream, “Kau taukan dia datang bersama wanita itu, mana mungkin aku ada kesempatan mendekatinya, terlebih ditengah pesta... itu gila...”
Astoria terkekeh, ia menertawakan Ellish, “Terobsesi itu selalu membuatmu gila Ellish,” ia memandang Ellish dengan tatapan yang serius, “Buatlah Gamma menghampiri dirimu sendiri dan pesta kali ini adalah kesempatan yang sangat baik untukmu jika gagal kau taulah apa yang selanjutnya harus kau lakukan..”
“Pastikan Gamma meminum ini...” ia menyodorkan botol kaca kecil itu kepada Ellish dan Ellish pun menerimanya dengan sedikit keraguan yang tersimpan didalam dadanya.
“Sebenarnya apa tujuanmu? Kau bukan sedang berakting menjadi ibu yang baik kan..?”
Astoria lagi-lagi menunjukan senyum misteriusnya yang selalu diingat Ellish, “Kau tak perlu tau, pergilah...” ia mengusir putrinya dan Ellish memilih menuruti. Sejujurnya berdua dengan Astoria benar-benar amat tak nyaman. Wanita itu benar-benar telah menunjukan wajah aslinya dengan sempurna, dulu Astoria saat baru menikah dengan sang ayah, ia selalu berjuang mati-matian meyakinkan Ellish bawa dia bisa menjadi ibu kandungnya, ia gila pengakuan. Namun kini dimatanya sama sekali tak terlihat hal itu...
“Tujuanku ya?” Astoria bergumam sendiri setelah Ellish pergi, “Tujuanku hanya satu, bertahan hidup...”
[][][]
No Word
__ADS_1