
Malam hari yang sunyi dan begitu tenteram untuk seorang Algamma. Dari deket ia begitu betah memandangi pemandangan indah yang terpampang didepan matanya, siapa lagi jika bukan Ailee yang menjadi karya indah tuhan yang paling Gamma syukuri. Wanita itu terlihat kelelahan karena malam panjang yang ia habiskan untuk melayani suaminya. Tiada hari bagi Gamma untuk tak memakan tubuh Ailee sebentar saja, Ailee pula yang merasa itu adalah tugas seorang istri merasa harus selalu menuruti kapanpun Gamma akan memintanya. Ia tak kuasa menolak akan hasrat sang suami.
“Al... kenapa kau belum tidur?” Suara Ailee yang terdengar serak mengejutkan Gamma yang tengah fokus memandangi wajah cantiknya. Pria itu menarik sudut bibirnya ke atas dan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi cubby sang istri. Gamma senang melihat Ailee yang seperti ini, dulu wanita itu terlihat amat tirus saat mereka berpisah sedangkan sekarang ia nampak berisi seolah membuktikan bahwa Gamma telah berhasil membuat istrinya bahagia.
“Aku hanya tak bisa melepaskan pandanganku dari bidadari cantik disini...” Ailee mengusap matanya lalu menguap menanggapi gombalan Gamma yang selalu keluar setiap saat dari bibirnya, “Ailee... aku tak mengerti satu hal...”
“Apa?”
“Mengapa kau mau kembali tinggal bersamaku semudah itu...?”
Ailee mengubah posisinya yang semula telentang menjadi menghadap Gamma. Tatapan mereka saling bertautan dengan sempurna, “Apa kau tak mau aku tinggal denganmu lebih cepat?”
“Bukan begitu. Yah kau memang sudah memaafkanku tapi tetap saja aku sedikit mengerti usaha ayah untuk menyulitkan kita berdua bersama lagi. Dia hanya tak ingin aku mengulang dan menyakitimu lagi. Kau pun bisa menghukumku dengan cara apapun...”
“Aku sudah mengatakan semua sudah berlalu Al. Dan saat ini aku, Alpha dan anak ini sedang membutuhkanmu... jadi bagaimana aku bisa egois...” Ailee memperlihatkan kelembutannya. Ia tahu bahwa ada rasa bersalah yang begitu besar dihati Gamma meski berapa kalipun Ailee mengatakan bahwa ia sudah memaafkan pria itu. “Terutama Alpha... aku ingin membiarkan anak itu terbiasa denganmu, jadi kau juga harus berusaha untuk Alpha Al. Ingat janjimu untuk menjadi ayah yang baik kelak..” Gamma mengangguk mengerti.
“Baiklah.” Ia membawa Ailee kedalam pelukannya membiarkan wanita itu menghirup dalam-dalam wangi maskulin Gamma yang menenangkan. Siapapun bisa tidur jika mencium tubuh suaminya ini.
Ting! ting ting!
Suara dering ponsel menganggu pelukan romantis antara Ailee dan Gamma. Sang istri bergerak menjauh dari Gamma dan langsung menyambar ponselnya yang ada diatas nakas samping ranjang. Sebuah pesan dari sosok Arslan Sirius menyebabkan dahi Ailee mengkerut hingga membentuk lipatan-lipatan kecil.
“Siapa?”
“Arslan...” Takut-takut Ailee mengatakannya pada Gamma dan benar saja. Baru menyebut nama panggilan pria itu sebentar mimik wajah Gamma berubah menjadi datar, kentara sekali bahwa pria itu tak menyukai Ailee menyebutkan nama itu apalagi pria itu menghubungi istrinya.
“Untuk apa dia menghubungimu?” Ailee menjawab pertanyaan Gamma hanya dengan gelengan. Ia tak tahu, bagaimana mau tahu jika dirinya sendiripun masih mempertimbangkan untuk membuka pesan dari mantan suaminya atau tidak. Sedangkan disampingnya, juga ada Gamma yang memandang ponsel Ailee seperti ingin menghancurkannya didetik itu.
__ADS_1
“Lihat pesannya Ailee...” perintah Gamma yang begitu tak sabar. Tangan Ailee pun bergerak membuka pesan dari mantan suaminya itu.
Selamat malam Ailee.
Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja.
Maaf sebelumnya jika aku mengganggumu malam ini, aku hanya ingin menanyakan apakah besok kau bisa meluangkan waktumu? Tentu saja dengan izin suamimu.
Ada hal yang ingin kusampaikan padamu.
Kuharap kau bisa datang karena mungkin esok hari adalah hari terakhir kita berjumpa lagi...
Pesan yang terlihat panjang berisi harapan seorang Arslan agar Ailee mau menemuinya. Semua terbaca jelas oleh kedua mata Gamma. Semakin membuat hatinya panas dan panas. Pria yang berharap bisa bertemu dengan istri pria lain? apakah itu bisa ditoleransi olehnya. Walaupun kata-katanya terlihat sopan tetap saja Gamma tak menyukai itu, terang-terangan mengajak Ailee untuk bertemu.
“Aku tak akan mengizinkanmu bertemu dengannya. Jawab saja seperti itu.”
Ailee yang melihat tingkah Gamma hanya bisa mengeluarkan helaan nafasnya pelan. Ia meletakan terlebih dahulu ponselnya ke tempat semula. Lalu bergeser mendekatkan dirinya pada tubuh sang suami yang membelakanginya. Ia memeluk bahu Gamma, bermanja disana, “Al... kau tidak seharusnya marah hanya karena Ars memintaku bertemu...” Ailee berusaha membujuk Gamma tetapi semua ucapannya seolah hanya didengar angin. Gamma enggan menggubris Ailee, bahkan menutup matanya berpura-pura tertidur.
“Al...” sekali lagi Ailee memanggil Gamma dengan lembut, “Al... tolong jangan pura-pura terlelap begitu...”
Niatnya ingin berusaha membujuk suaminya sampai tak marah lagi. Ailee malah ikut terbawa kesal, ia dengan mudah melepaskan pelukannya membuat Gamma sedikit melirik dari sudut matanya. Ailee ikut memunggungi Gamma juga dengan diikuti suara sesenggukan. Wanitanya menangis, dan saat itu Gamma baru mengingat ulah hormon Ailee yang labil membuat Ailee sedikit mellow. Ia mudah dibujuk namun sangat mudah juga marah. Saking kesalnya Gamma sampai melupakan hal itu.
Pria itupun dengan terpaksa berusaha mendinginkan kepalanya dan lebih berlapang dada. Ailee yang marah pada Gamma, adalah bencana terbesar yang tak sanggup dihadapi seorang Gamma. Apalagi mendengar suara tangis Ailee. Seperti ada jutaan rasa bersalah yang langsung menhujamnya.
“Sayang maafkan aku...” Kini berganti Gamma yang memeluk Ailee dan Ailee yang membelakanginya.
“hiks... Al... perutku sakit... hiks...” Gamma seketika itu langsung bangkit karena panik. Ia dengan lembut membuat Aileenya merubah posisi menjadi telentang.
__ADS_1
“Mana yang sakit?” Wajah tampannya dipenuhi kerutan-kerutan. Mata hitam kilamnya yang biasanya damai kini tenggelam dengan rasa khawatir dan takut memandang Ailee. Hanya karena kata itu degup jantung Gamma seolah terpompa, ia takut terjadi sesuatu pada Ailee juga calon buah hatinya, “Katakan Ailee...”
“Disini.” Ailee menunjuk perutnya yang kini kentara membuncit. Terbukti bahwa buah hati Gamma dan Ailee tumbuh dengan baik disana. Tangan Gamma pun terulur mengusap pelan perut istrinya, berharap rasa sakitnya menghilang dan tangis Ailee berhenti, namun sepertinya itu tak manjur terlihat dari air mata Ailee yang masih mengalir deras. Dan itu tentunya semakin membuat Gamma kelabakan.
“Apa kita harus ke rumah sakit hmm? Ayo kita periksa ke dokter...” Ailee menggeleng-gelengkan kepala. “Ailee aku takut... lebih baik kita ke rumah sakit sekarang...”
“Dia tak akan sakit lagi jika dadnya mengizinkannya bertemu dengan paman Arslan...” Wanita itu membuka suaranya. Semua sesuai dengan dugaan Ailee, ide konyol yang mendadak muncul agar Gamma tak marah dan mengizinkannya menemui Arslan.
“Jadi kau berbohong...” Wajah Gamma mulai berubah menjadi amat dingin. Padahal Ailee tau ia benci dibohongi, apalagi ini menyangkut nyawa Ailee. Gamma yang diliputi emosi hendak menyingkirkan tangannya dari perut Ailee dan bangkit. Rasa kantuknya sirna karena kejahilan Ailee. Tetapi Ailee tak dengan mudah melepaskan Gamma.
“Al... jangan terus marah padaku... kau taukan aku hanya menemui Ars sebentar. Bagaimanapun juga dia kuanggap sebagai kakakku, dialah yang selalu ada untukku sebelum aku bertemu denganmu Al. Aku ingin bertemu dengannya karena ini adalah pertemuan terakhir kami... kumohon...”
“Kau juga tak tau Ailee. Aku mati-matian menahan rasa cemburuku saat ini...”
“Ars hanyalah masalaluku sama seperti kak Aily yang menjadi masalalumu... sedangkan kau adalah suamiku Al. Mengapa kau harus cemburu pada hal-hal yang tak pasti?”
Itu bukan hal-hal yang tak pasti Ailee. Tapi aku benar-benar cemburu sampai rasanya aku ingin mengurungmu disini saja. Ujar Gamma diam-diam didalam hati.
[]
Hei ada yang ngerasa gak kalo alur melambat wkwkw. Sengaja hehe.
__ADS_1