
3 Bulan kemudian
Tak terasa Alias dan Alora kini sudah berumur 3 bulan. Si kembar itu semakin tumbuh besar dengan kasih sayang juga cinta yang mengelilingi mereka. Tak hanya itu semenjak ada kelahiran dua bayi imut di rumah keluarga kecil Gamma. Semua mulai berubah menjadi menyenangkan. Tak ada satu haripun yang berlalu dengan kesepian, selalu ramai dengan tangis atau tawa si kembar juga Alpha yang begitu senangnya akan kehadiran dua adiknya.
Namun disana ada satu orang yang merasa keleluasaannya dengan sang istri mulai berkurang. Siapa lagi jika bukan Gamma. Memang pria itu merasa bahagia, dengan hadirnya kembar mereka mampu mengundang tawa bahagia bagi Ailee maupun dirinya. Namun karena hal itu juga Ailee jadi selalu menomor duakan dirinya. Semua urutun seolah berganti dan tentunya yang menjadi paling utama adalah Alpha, Alias juga Alora. Bahkan mungkin Ailee-lah yang berada diurutan terakhir.
Gamma cemburu sekaligus khawatir. Ailee belum sepenuhnya sembuh dari operasi kelahiran si kembar, namun wanita itu malah tetap bandel merawat keduanya dengan tangan sendiri. Dia menolak mentah-mentah tawaran Gamma untuk menyewa babysitter. Sampai jatahnya untuk berduaan juga memenuhi kebutuhan biologisnya harus berkurang.
Dan semua terbukti dari kedua tangis si kembar yang menurut Gamma adalah bunyi kiamat kecil dirumahnya. Sebentar lagi pasti Ailee dengan tergopoh-gopoh menghampiri kamar twin dan meninggalkan suaminya sendirian bila dua bayi itu menangis.
Oek oek oek
Drap drap drap
Dugaan Gamma melesat begitu tepat. Ailee begitu sigap bahkan sekalipun ini sudah tengah malam. Ia memandang istrinya yang berlari menjauh tanpa menghiraukan Gamma yang saat itu terbangun karena suara langkah kaki sang istri. Meski mengantuk berat, Gamma tetap memaksa tubuh tegapnya untuk terbangun dari ranjang nyamannya. Ia menyusul sang istri yang mungkin sudah tiba dikamar twin.
Kriet
Ailee menoleh memandang suaminya yang berdiri mengintip didepan pintu. Dibawanya Alora, sang putri yang sedang rewel itu digendongan. Ailee menghampiri Gamma, “Maaf Al, apa aku membangunkanmu.”
“Ailee... apa tidak sebaiknya, keranjang twin dipindahkan ke kamar kita?” tanya Gamma balik.
“Jangan, bukankah kamar ini memang untuk mereka,” sembari bicara Ailee juga berusaha menidurkan Alora yang ada digendongannya, bayi itu nampak tenang namun tak kunjung menutup mata. Tak seperti kakaknya, Alias yang bahkan sudah menuju ke dunia mimpi yang begitu jauh, “Terlebih Alora suka menangis dimalam hari, itu bisa menganggu tidurmu nanti, kau bisa telat kerja...”
“Tanpa tangisan mereka pun, aku tetap terbangun karena kau tak ada Ailee,” Ailee lupa bahwa prianya itu tak terbiasa tidur tanpa dirinya. Sekali saja Ailee beranjak dari ranjang, Gamma pasti langsung menyadarinya. Tanpa Ailee tidurnya tak akan berkualitas lagi.
“Tapi a—“
“Tidurlah...” pinta Gamma memotong bantahan yang hendak keluar dari mulut istrinya. Pria itu merebut Alora dari gendongan Ailee, dengan cekatan ia mengikuti gerakan Ailee untuk menidurkan Alora. Mengoyangkan kekanan dan kekiri atau sesekali menepuk pantatnya dengan amat pelan dan lembut. Pria itu membawa putrinya dalam kehangatan dadanya, “Aku akan kembali setelah menidurkan Alora.”
“Al ak—“
__ADS_1
Gamma langsung memberikan pandangan tajam pada Ailee. Pria itu benar-benar tak mau dibantah, “Kau juga perlu tidur Ailee, ingat dokter bilang bahwa kau perlu istirahat yang cukup.”
Mau tak mau Ailee pun berbalik menuju kamarnya. Ia membaringkan dirinya dengan perasaan tak tenang. Tak tenang karena meninggalkan Alora yang takut semakin rewel dan merepotkan suaminya atau juga tak tenang karena Gamma tak ada disampingnya. Sebenarnya Ailee pun sama, ia juga sama tak bisa tidurnya bila tak memeluk pria itu. Kali ini hanya karena Alias dan Alora saja Ailee mampu merelakan jadwal tidurnya.
“Tidak bisa,” Ailee kembali bangkit, “aku harus melihat Al—“
“Dia sudah tidur.”
Suara Gamma menengahi kecemasan Ailee. Pria itu memotong dengan suara yang begitu dingin, kelihatannya pria itu marah padanya. Bahkan Gamma langsung membaringkan tubuhnya begitu saja tanpa melihat Ailee, ia memunggungi istrinya. Ailee yang diperlakukan seperti itu pun merasa tak enak hati. Ia mendekati Gamma, memeluk pinggang pria itu.
“Al... jangan marah. Maaf jika aku terlalu banyak membantahmu akhir-akhir ini, aku hanya khawatir pada twin... aku tak tenang bila langsung lepas tangan pada mereka yang masih sekecil itu...” Gamma hanya diam saja.
“Al... ayolah...”
“Bukan hanya twin saja yang perlu kau khawatirkan,” pada akhirnya Gamma luluh juga, “tapi harusnya kau juga mengkhawatirkan dirimu sendiri...”
Pria itu berbalik dan langsung memeluk Aileenya, “Aku sudah merelakan jika kau terlalu sibuk merawat twin juga Alpha, aku bahkan rela kehilangan jatahku denganmu, tapi...” netra hitam pekatnya membuat Ailee terpaku, mereka saling bertatapan, “jangan sampai kau juga melupakan kesehatanmu, aku tau kau sering telat makan, tidurmu juga belakangan ini kurang, iyakan?”
Gamma benar-benar suami yang peka membuat Ailee hanya bisa terdiam. Semua yang dikatakan suaminya itu memang benar, 3 bulan terakhir karena terlalu sibuk merawat twin Ailee belum sempat menikmati waktu istirahatnya. Semua seolah tanpa jeda, setelah memandikan Alpha yang bisa saja selesai lebih lama karena twin menangis, Ailee juga harus mempersiapkan segala kebutuhan suaminya. Seringkali bahkan dirinya merasa kewalahan, untungnya Gamma selalu mengalah. Dia menunggu dengan sabar atau jika terburu-buru pria itu akan mengambil keperluannya sendiri. Tapi...
“Ailee, babysitter-nya hanya akan membantu saat siang, saat aku tak ada,” Gamma mencoba sekali lagi membujuk istrinya.
“Hmm...” wanita itu nampak berpikir dalam dekapan Gamma, “Baiklah, tapi kau tak marah lagi denganku kan?”
Sebenarnya Gamma ingin sekali mengatakan bahwa dirinya sendiri pun tak akan sanggup marah pada Ailee. Tetapi ia memilih mengurungkannya setidaknya dia bisa mendapatkan sesuatu yang setimpal dari wanitanya, “Aku tak akan marah asal kau menuruti satu syaratku...”
Ailee menaikan alisnya, “Apa?” sepertinya syarat yang akan diminta Gamma adalah sebuah syarat buruk.
“Aku.. mau dirimu... malam ini...” ujar pria itu sembari mencari dan menggigit kecil telinga Ailee. Tangan nakal pria itu mulai bergerilya menyingkap piyama tipis istrinya.
“Bukankah kau bilang aku harus banyak istirahat?”
__ADS_1
Karena perkataan Ailee Gamma dibuat menghentikan tindakannya, “Tapi... aku sudah puasa lama sekali Ailee, apa kau tak kasihan pada suamimu ini, aku dan dia juga butuh dipuaskan...”
Ailee tersenyum manis, “Baiklah bayi besarku ini juga sedang manja dan merengek jadi harus dituruti...”
Malam itu Ailee mengambil inisiatif memulai terlebih dahulu. Wanita itu begitu indahnya membuat Gamma yang ada dibawahnya amat terangsang. Meski sudah menjadi ibu dari 3 anak, Ailee tetap menggoda dan pastinya Gamma telah tenggelam dalam kenikmatan yang dibuat istri tercintanya. Mereka sama-sama saling menyelami setelah sekian lama tak menyatukan diri.
“Al... apakah kau menginginkan anak lagi?” Ailee bertanya setelah menyelesaikan kegiatan melelahkannya. Ia menjadikan lengan Gamma sebagai bantalan dengan kedua mata menatap langit.
Gamma pun juga sama, setelah kebutuhannya tersalurkan pria itu merasa belum puas, ia seperti ingin menjamah Ailee lagi. Tetapi terhenti karena pertanyaan istrinya, “Berapa anak yang kau mau Al?”
“Twin dan Alpha sudah cukup bagiku,” jawab Gamma singkat lalu kembali bangkit untuk sekedar mengecup Ailee.
“Benarkah? biasanya pria selalu suka banyak anak.”
Pria itu mengurung Ailee dibawahnya, memenjarakan wanitanya dengan kedua tangan secara tiba-tiba. Saat ini tatapan mereka saling berpadu begitupun nafas mereka yang saling menyatu dengan udara, “Aku tak seperti itu...” Ailee menatap Gamma keheranan, mendadak pria itu terlihat menguarkan tatapan sendu yang membuat Ailee bingung, “melihatmu sakit waktu melahirkan twin itu juga menyakitiku Ailee. Jadi sudah kuputuskan untuk tidak membiarkan perutmu terisi lagi...” pria itu mengusap perut Ailee sembari menjaga keseimbangan.
“Anak itu titipan tuhan, bagaimana kau akan menghentikannya jika adik twin suatu saat akan tumbuh lagi disini?” tunjuk Ailee pada perutnya, “apalagi kau baru mengisinya tadi.”
“Aku bisa merelakan apapun, tapi tidak untuk nyawamu...”
Ailee langsung mencebikan bibirnya, ia seperti sedang meniru ucapan suaminya, "aku bisa merelakan apapun, tapi tidak nyawamu... hmmh kau saja selalu menutut jatah seperti sekarang..." wanita itu mengejek suaminya.
"Aku memang selalu menuntut tapikan baru hari ini kau memberikannya padaku..." pria itu ikut membantah.
"Pasti akan ada hari lain Al. Iya kan?"
"Tentu saja. Aku kan suamimu huh, aku tak akan puas hanya satu hari saja..." ujar Gamma sembari memunculkan senyum smirknya. Senyum yang menjadi pertanda perang bagi Ailee.
Dan benar saja, pria itu langsung menyerangnya lagi. Bahkan kali ini lebih bernafsu, Gamma sama sekali tak membiarkan Ailee tidak menikmati permainannya. Ia ingin istrinya itu ikut tenggelam bersama. Tenggelam dalam jutaan kenikmatan dan bulan juga miliaran bintang menjadi saksi mereka.
[]
__ADS_1
Segitu cintanya Gamma ma Ailee wkwkw Sampe gamau punya anak banyak.