
"Atau berteman pun tak masalah...." Ailee menunjukan wajah muramnya, "Aku tak ingin bermusuhan denganmu..." Ia mengeluarkan binar permohonan dengan menunjukan wajahnya yang begitu lucu.
"Lihat..." Ailee menunjukan lukanya yang belum mengering, "Aku menentangmu saja sudah terluka seperti ini..."
Gamma diam-diam dibuat tersenyum karena tingkah Ailee yang baginya cukup menggemaskan. Jarang-jarang wanita didepannya ini terlihat kekanakan. Menurut Gamma dia adalah wanita yang penurut meski banyak menentang namun Ailee tetap melakukan apapun yang Gamma minta.
Pria itu masih menunjukan wajah dinginnya meski tengah menahan tawa. Gamma tak ingin Ailee merasa bahwa dia telah berhasil mendekatinya. Walau banyak yang Ailee tawarkan, seperti menjalin hubungan suami istri selayaknya tapi Gamma tetap pada pendirian. Baginya Ailee hanyalah sarana untuknya agar tak menikah dengan Ellish, agar dia juga bisa mendapatkan pusara istri tercintanya.
"Kau yang menantangku tadi. Jadi itu adalah resikonya..."
Ailee semakin mengerucutkan bibirnya, "Ah sudahlah. Kau memang selamanya hanyalah pria kaku yang menyebalkan, aku bingung bagaimana istrimu begitu mencintai dirimu yang seperti ini?" ia bicara sembari duduk menyamping menatap matahari yang semakin terik namun udaranya masih sejuk dinikmati.
"Aku bahkan bingung bagaimana cara seseorang mendapatkan kebahagian dari cinta." Ailee merenung sembari terus memandang langit biru, ia seperti terbayang akan sesuatu, "Aku yang bahkan berusaha dan berharap mendapatkannya tak pernah seberuntung dirimu..."
Gamma tak lagi duduk didepan Ailee, ia duduk disamping istrinya bersama memandang langit biru dihadapan mata, "Mungkin kau belum sepenuhnya berusaha mendapatkannya..."
"Mungkin saja..." Ailee mengangguk pelan, ia pernah mencintai saja tidak, mungkin pernah namun Ailee tak berhasil mengingatnya. "Tapi aku bersyukur tak begitu tau mencintai itu seperti apa." Dia beralih memandang wajah Gamma yang menyamping, Rahang pria itu begitu tegas dan kokoh, "Contohnya kau Al demi Aily kau mengorbankan apapun bahkan sampai membenci Alpha. Apa kau tak lelah menghindar dari bocah yang masih berusia 5 tahun itu?"
"Kau tau apa Ailee..." Gamma tetap memandang lurus kedepan, ingatan tentang bagaimana Aily meninggal masih seperti basah. Disaat-saat terakhir pun Gamma tak lagi bisa melihat wajah istrinya, "Seandainya saat itu aku memaksanya untuk tak mempertahankan anak itu mungkin dia masih ada disampingku... dia masih ada disini..."
Ailee tahu bahwa semenjengkelkan apapun Gamma dia juga rapuh seperti dirinya. Dia kehilangan cinta sedangkan Ailee tak pernah mendapatkannya. Dia bisa membaca bagaimana Gamma kini merubah pandangannya menjadi sendu. Ada begitu banyak luka dalam dirinya karena kehilangan Aily.
'Kau juga tak tau Al, faktanya saat Aily mengandung Alpha dia jugalah seorang ibu. Bagaimana mungkin ia menjadi egois disaat ada nyawa kecil yang ingin hidup dirahimnya...' ujar Ailee dalam hati. Ia tak kuasa mengatakannya karena ia juga tau betul temperamen Gamma. Mau disuruh mengerti pun pria itu tak akan mengerti. Dia hanyalah seorang suami yang kehilangan istrinya dan seorang ayah yang tak menyadari betapa putranya amatlah berharga. Sangat malang membuat Ailee ingin sedikit menjadi sandaran untuk pria takut gelap itu.
"Ya lagipula kau mana mengerti. Tugasmu kan hanya menjadi ibu pengganti untuk anak itu..." Gamma bangkit dari posisi duduknya. Pria itu sudah puas menyelami kenangan yang menurutnya amat menyedihkan untuk diingat.
"Kau mau kemana?" Ailee mendongak menatap Gamma yang sudah bangkit. Ia juga ingin berdiri namun kakinya sakit, ingin meminta bantuan Gamma Ailee jelas tahu pria itu mana mungkin baik hati mau membantunya.
"Apalagi kalau bukan pulang."
Tapi apa salahnya mencoba, "Al... aku juga ingin pulang jadi..." Ailee menunjukan deretan giginya yang rapi.
"Jadi?"
"Bisakah kau membantuku untuk berdiri?"
Gamma melirik kaki Ailee, pria itu menghela nafas pelan seperti terlihat enggan membantu wanita yang duduk menyengir dihadapannya itu. "Kau yang ceroboh aku yang repot."
Ailee tersenyum tipis. Mendengar protesan Gamma membuatnya terus mengucap sabar dibanding harus terpancing dengan pria jahat yang adalah suaminya sendiri. Ia menyesal waktu itu membantu Gamma saat pria itu demam, itu bahkan tak sepadan dengan membantu Ailee berdiri dan berjalan pulang.
Gamma memapah Ailee yang terlihat kesulitan berjalan. Dia menghela nafas sekali lagi dan kali ini begitu besar membuat Ailee merasa Gamma benar-benar tak ikhlas membantunya. Melihat hal itu membuat Ailee terbawa emosi, "Jika kau terlihat ogah-ogahan begitu. Tak perlu membantuku..." Ailee berujar sinis, ia melepaskan diri dari papahan Gamma dan memaksakan kakinya untuk berdiri dan berjalan.
Sedangkan Gamma hanya melihat Ailee yang berjalan pincang. Wajahnya terlihat menahan perih namun tetap memaksakan berjalan. Membuat Gamma mau tak mau menyusul wanita itu dan kini jongkok dihadapannya.
__ADS_1
"Naiklah."
"Tak perlu aku bisa berjalan sendiri..."
Gamma melirik Ailee dari sudut matanya, "Naik! aku tak menawarkannya dua kali."
Akhirnya sepasang suami istri itu pulang bersama. Gamma menggendong Ailee dipunggungnya sedangkan Ailee. Wanita itu tanpa sadar menyukai punggung dan bahu Algamma, terasa hangat dan kokoh terlihat mampu melindungi siapapun yang sepatutnya ia jaga.
"Seandainya ada satu lagi pria sepertimu Al..." gumam Ailee yang masih terdengar samar ditelinga Gamma. Pria itu menoleh karena gumaman Ailee.
"Apa yang kau katakan?
" Tidak ada. Apakah aku berat?"
"Kau baru bertanya. Tentu saja kau sangat berat aku seperti membawa berton ton karung beras..." Ailee mendelik dibuatnya.
"Al!!!" Ia memukul-mukul bahu Gamma.
"Diam. Atau kau mau kutinggalkan disini?" Ailee terdiam sebagai jawaban. Dia menjadi penurut saat Gamma mengancamnya. Walau Ailee tak tahu ancaman Gamma benar akan dilakukan atau tidak tapi mengingat pria itu yang selalu tega padanya. Pasti ada kemungkinan Gamma akan meninggalkannya disini.
"Lihat Al banyak burung disana..." Ailee mencoba mengalihkan perhatian. Ia menunjuk-nunjuk burung-burung yang berterbangan dihadapan mereka.
"Diam Ailee. Kau bawel sekali!"
[]
Setelah selesai dengan jogging paginya. Ailee ingin sekali mandi tetapi mengingat kakinya yang terluka dan terkilir pasti akan membuatnya kesusahan. Wanita itu sungguh berterima kasih pada Gamma yang meski terlihat enggan menolongnya, dia tetap berbaik hati membawanya pulang sampai apart. Ada sedikit rasa tak enak hati namun juga Ailee merasa puas, sesekali pria itu juga harus berbuat baik padanya.
Wanita itu kini berjalan dengan tertatih mencari-cari obat P3K. Tapi ia tak kunjung menemukannya. Bahkan membuat Ailee frustasi.
"Yaampun hanya P3K sudah membuatku sekesal ini," gumamnya. Ingin sekali Ailee mengeluh. Dia juga belum sempat sarapan dikala tubuhnya merasa gerah karena keringat.
"P3K dimana kamu?"
Tanpa disadari Gamma terus memperhatikan Ailee yang sejak tadi mondar-mandir diruang keluarga. Pria itu terlihat geram dan merasa Ailee merusak pemandangannya ditengah Gamma yang sibuk mengurusi pekerjaannya yang terbengkalai. Ia meletakan tab diatas meja kayu dan menekan tombol navigasi matikan daya.
"Kau mencari apa?
" P3K," Ailee menjawab tanpa menoleh. Ia terlihat sibuk mengobrak-abrik kesana kemari. Ditengah cara jalannya yang tak enak dipandang.
"Bukankah ada dilemari putih didepanmu itu..."
"Diam Al... kau hanya membuatku semakin kesal karena tak menemukannya..." Ia menggaruk-garuk rambutnya saking frustasi.
__ADS_1
Gamma menggeleng. Ia berjalan menghampiri Ailee lebih tepatnya kearah lemari putih dihadapan wanita itu. Ia membuka lemari itu dan mengambil kotak P3K disana.
"Ini apa?" Ia menarik tangan Ailee dan membawanya duduk diatas sofa ruang keluarga. "Kau hanya membuatku pusing sejak tadi." Gamma mengambil betadine didalam kotak putih besar diatas meja, ia mengoleskan dengan pelan pada kedua lutut Ailee.
"Aww sakit Al..."
"Jangan manja Ailee..." Gamma menutup luka Ailee dengan hansaplast. "Manalagi?"
"Kakiku ter--"
Tring Tring Tring
Pandangan Gamma teralih pada ponsel yang bergetar disaku celananya. Ia mengalihkan pengobatannya pada Ailee dan segera mengangkat panggilan diponselnya itu. Panggilan yang ternyata dari Ellen, ibunya.
"Hallo mom..." Gamma menyapa ibunya disebrang sana. Sembari memandang Ailee yang juga ikut memandangnya.
"....."
"Apa mom? Bagaimana bisa?" entah apa yang dibicarakan antara mertua dengan suaminya itu bahkan Gamma sampai mengubah mimik wajahnya seolah terkejut akan sesuatu.
"...."
"Baiklah mom. Tunggu kami..."
Gamma mematikan ponselnya dan meletakannya sembarang arah, ia bangkit dari posisi jongkoknya dan memasukan kembali semua isi kotak P3K dengan terburu-buru. "Kita harus pulang sekarang..."
"Pulang?" Ailee terlihat tak percaya. Baru 2 hari mereka di Maldive bahkan Ailee belum sempat mengelingi dan menikmati bulan madunya, "Kenapa tiba-tiba?"
"Jangan banyak bertanya Ailee. Cepat siapkan semua pakaianmu. Kita harus terbang hari ini juga..." Gamma berjalan hendak meletakan kotak P3K kembali ketempatnya yang semula.
"Tapi kenapa Al? apa yang terjadi?" Ailee tak berhenti penasaran. Dia bahkan mengikuti Gamma dengan berjalan tertatih mengingat kakinya juga ada yang terkilir.
"Sudah kubilang siapkan saja pakaianmu."
"Aku tak mau Al sebelum kau jelaskan alasannya. Ada apa sebenarnya? apa yang terjadi pada mom?"
"Mom baik-baik saja Ailee...." Jelas Gamma.
"Lalu kenapa kita harus pulang? Apa Alpha terluka?"
"Putramu baik-baik saja. Tapi ayahmu tak baik-baik saja. Barusan dia dilarikan ke UGD...."
[][]
__ADS_1
Anyeong aku up hehehe. Untuk part ini aku gak ada comment sih. Jangan lupa jempolnya ya :*