
Sudah hampir 10 jam berlalu begitu cepat. Detik demi detik Gamma lalui dengan ketegangan yang tak pernah hilang, semakin lama semakin mecekam sama seperti langit yang mulai menggelap. Pria itu berulang kali bangkit lalu duduk kembali, matanya tak berhenti mengawasi lampu operasi yang tak kunjung mati menandakan bahwa operasi belum juga berakhir.
Dalam hati ia berharap bahwa malam ini hujan tak turun atau semua itu hanya akan semakin menambah kegelisahan dan kegundahan dihatinya. Bagi seorang Gamma yang pernah mengalami kejadian serupa, ia takut pada fenomena hujan, rintik-rintik air itu baginya adalah sebuah pertanda buruk. Air itu seperti membawa duka dan kesedihan yang akan segera melandanya. Sama seperti ketika Mikaily melahirkan buah hati mereka dan nyawanya telah dibawa pergi.
“Gam... istirahatlah dulu. Kau terlihat lelah nak,” suara lembut Ellen menyaut, dia terlihat khawatir pada kondisi putranya. Gurat-gurat kelelahan mulai nampak menghiasi tampang rupawan Gamma, dan Ellen mampu melihat itu semua.
“Mom, aku tak lelah, lebih baik mom pulanglah aku akan tetap menunggu Ailee sampai operasinya selesai. Aku tak bisa tenang bila kondisi istriku belum bisa dipastikan.”
Ellen menghela nafas. Ia pun sama sekali tak berniat untuk pulang, rasa khawatirnya pada menantunya sungguh tak bisa hilang barang sejenak. Wanita paruh baya itu juga sama seperti Gamma. Ellen menoleh ke arah Valery yang masih dengan setia memangku Alpha yang terlihat mengantuk dipangkuannya.
“Valery... pulanglah bersama Alpha,” wanita itu menoleh mendengar saran Ellen yang terdengar seperti perintah. Ia ingin menolak karena sama khawatirnya dengan Ellen dan yang lain. Namun mengingat ada Alpha yang terkantuk-kantuk di pangkuannya, membuat dirinya tak tega dan memilih menyanggupi saran Ellen.
“Baiklah mom, tolong kabari aku tentang kondisi Ailee,” Valery bangkit dari duduknya dengan hati-hati menjaga agar Alpha tak terbangun. Tetapi karena memang Alpha yang belum sepenuhnya terlelap, karena gerakan Valery bocah bermata bulat itu kembali terjaga. Ia melihat ruang operasi yang sejak tadi di tungguinya tak kunjung terbuka dan segera membawa keluar momnya.
“Aunty...” Alpha menarik-narik dress yang dikenakan Valery, “Aunty... mau kemana?” anak itu mengeluarkan suara serak khas bangun tidur.
“Alpha... ah maaf sayang apakah aunty membangunkanmu?”
Bukan itu yang ingin diketahui Alpha, “Aunty Val, mommy mana? adik bayi mana? Alpha kangen sama mommy...” lirihnya.
Valery kembali duduk dengan senyum yang sudah terpatri dibibirnya dengan setia. Wanita itu mengusap wajah keponakannya dengan sayang, “Alpha... kita pulang dulu ya... kita ganti baju, makan terus kerumah sakit lagi lihat mommy.”
Anak itu menggeleng keras menolak mentah bujukan pertama kali Valery, “Alpha mau nunggu disini aja,” ia melirik sekilas sang ayah yang duduk dengan gelisah sembari menopang dagunya dengan kedua tangan yang menyatu, “dad juga nunggu mommy, Alpha bisa nunggu juga kok aunty....”
“Alpha... alpha harus ganti baju dulu, lihat Alpha masih pakai seragam, nanti kalau mommy bangun dia pasti marah ngelihat Alpha belum mandi...” Valery mencoba membujuk Alpha.
“Aunty mommya gak akan marah kalo Alpha gak mandi... mommy kan sayang Alpha... mommy juga gak akan ninggalin Alpha...” ucap Alpha begitu polosnya membuat perhatian Gamma yang saat itu hanya tertuju pada lantai marmer putih beralih pada bocah kecil itu. Dengan sigap ia memberanikan diri menghampiri Alpha.
__ADS_1
“Alpha...” anak itu menoleh, terlihat sekali dia terkejut karena sang ayah baru saja mulai memanggilnya. Biasanya Gamma hanya akan memulai pembicaraan bila Alpha yang memancing atau ada Ailee ditengah meraka. Namun kini pria itu benar-benar memiliki inisitif sendiri mendekati anak itu, “Pulang ya... tenang saja, ada dad yang menjaga mommy dan adik bayi, nanti kalau adik bayi sudah lahir, Alpha bisa kembali kesini..”
Tanpa sadar Alpha mengangguk menuruti perkataan Gamma. Karena begitu mudahnya meyakinkan Alpha, Gamma tersenyum tipis hendak meninggalkan anak itu lagi namun dengan satu tarikan dikemejanya ia membatalkan langkah dan melihat Alpha yang juga sedang menatapnya, “Dad... mommy pernah bilang ke Alpha, kata mommy dia gak akan tinggalin dad...” kembali Gamma menyunggingkan bibirnya lalu dengan lembut mengusap kepala Alpha dan melangkah kembali ketempat duduknya semula.
“Aiden... antar Valery pulang.”
Ya Gamma juga yakin bahwa wanitanya itu selalu menepati janji. Tak akan Gamma izinkan Ailee pergi meninggalkannya.
Ctak
Kriet
Setelah Alpha dan Valery pergi. Lampu ruang operasi terlihat mati bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar. Nampak dokter Alfina yang telah ditunggu Gamma sejak tadi keluar dari sana. Wanita itu terlihat berwajah sendu sedangkan Gamma berusaha mati-matian menahan senyum. Ia berharap wanita yang menjanjikan istrinya akan baik-baik saja itu mampu membawa kabar baik.
“Dok... bagaimana? bagaimana istri dan anak saya? mereka selamatkan?” bertubi-tubi pertanyaan langsung melayang ketika dokter itu sudah tepat dihadapan mata seorang Algamma.
Namun sekali lagi dokter itu malah hanya terdiam dengan wajah yang sendu, sesekali ia menghela nafas dengan mulut yang kaku untuk terbuka. Tetapi keadaan kini memaksa dokter itu, “Maaf...” bagaikan sebuah pertanda buruk, satu kata ‘maaf’ yang dokter Alfina ucapkan membuat bahu Gamma turun seketika.
“Saya sudah berusaha... namun tuhan berkehendak lain... kedua anak tuan selamat tapi..” Ah Gamma bahkan sudah menebak perkataan apa yang akan terucap dari bibir dokter itu. Rasanya sebelum terucap pun Gamma sudah menemukan dirinya hancur berkeping-keping, “nona Ailee... nona Ailee menghembuskan nafas terakhirnya pukul 21.00”
Brugh
Tubuh tegap Gamma lunglai. Kakinya tak lagi kuat menumpu berat tubuhnya, semua kekuatan seolah hilang ketika dengan teganya dokter Alfina mengatakan detik terakhir wanita tercintanya pergi. Gamma kembali mengalami itu lagi. Hidupnya seperti menjadi terkutuk karena kedua kalinya dia harus kehilangan kekasih hatinya. Semua puncak kebahagiannya yang hampir terbentuk dihancurkan seketika oleh tuhan.
Gamma kembali menangis, memukul-mukul lantai karena ketidakadilan yang dia rasakan, “Hiks... itu tidak mungkin hiks... Aileeku tak mungkin pergi... dia telah berjanji padaku.... hiks kenapa? kenapa?! kenapa Ailee kenapa kau pergi meninggalkanku?!!”
“Ini tidak mungkin!!! Ailee tak mungkin pergi.... hiks...”
__ADS_1
“Gam...”
“Gam...”
Di sela tangisnya, samar-samar Gamma mendengar suara Ellen yang memanggilnya. Ia yang semula menunduk sembari bersimpuh dilantai, mendongak dan seberkas cahaya menerangi penglihatan Gamma, membuat kedua matanya sepenuhnya tertutup. Itu mimpi yang buruk.
“Mom... hiks...” ia langsung memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dengan begitu erat, “Ak—aku bermimpi... aku mimpi Ailee pergi meninggalkanku...” mimpi yang sangat nyata. Bahkan ucapan dan perkataan dokter Alfina masih terngiang ditelinga dan otak Gamma. Ia sedikit bersyukur bahwa itu hanyalah bunga tidur.
“Gam... tenanglah, sudah kubilang kau lelah sejak tadi, seharusnya kau pulang saat Alpha dan Velary juga pulang...” ujar Ellen dengan tangan yang sibuk mengusap-usap lembut surai Gamma. Putranya itu benar-benar dihantui trauma dan ketakutannya akan kehilangan sosok sang istri.
“Tidak mom, aku tak akan pulang... aku akan tetap menunggu Ailee...” Gamma tetap keras kepala. Dia bukan hanya takut tapi dia juga cemas bahwa mimpi yang hanya sekelebat itu bisa menjadi kenyataan yang menyakitkan nantinya. Ia takut Ailee benar akan diambil darinya.
“Sudahlah Ellen... biarkan dia menunggui istrinya...” Adam menengahi.
“Baik—“
Kriet
Ucapan Ellen terpotong dengan pintu ruang operasi yang terbuka lebar. Disana dokter Alfina dan beberapa suster mendorong hospital bed yang diatasnya Ailee berbaring dengan tenang disana. Wajahnya terlihat damai dengan mata yang masih tertutup dengan sempurna. Gamma langsung menghampiri wanitanya dan menggenggam tangan wanita itu.
Ia menatap dokter Alfina dengan tanda tanya, mempertanyakan keadaan sang istri. Dokter Alfina yang mengerti pun tersenyum simpul, “Nona Ailee baik-baik saja begitupun dengan kedua anak anda... mereka semua dalam kondisi stabil, sehat walafiat...” ujarnya memberi kabar gembira. Dan kabar itu adalah kabar yang menghanguskan segala pikiran buruk yang sejak tadi menghantui Gamma.
[]
Halo lohaa hehehe....
Happy reading ya
__ADS_1