MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Kesanggupan


__ADS_3

“Jalankan rencana, aku tak mau tau bunuh wanita itu untukku!” Suara yang penuh kebencian terdengar bising. Ellish terlihat menyunggingkan senyum setelah memberikan perintahnya pada seseorang diseberang sana. Matanya berkilat jahat dengan harapan bahwa kali ini segala usahanya untuk mendapatkan Gamma berhasil.


Tap tap tap


Kakinya yang jenjang melangkah lebar menuju sofa panjang dimana ibu kandungnya—Astoria—juga duduk disana dengan senyum yang sama tetapi tujuan yang berbeda. Ellisha yang yakin setelah ini ia mampu memiliki Gamma seutuhnya sedangkan Astoria yang begitu bahagia berhasil menjebak putrinya. Obsesi membutakan gadis itu sehingga ia tak sadar bahwa monster yang sebenarnya ada disampingnya sendiri.


Manusia hanya bisa mengandalkan otak untuk bertahan hidup Ellish, jangan salahkan aku jika menjadi kejam. Karena aku tak pernah bermaksud menjadi istri atau ibu yang baik, Astoria melirik Ellisha dari sudut matanya masih dengan senyuman yang sama. Pikirannya bila rencana ini berhasil maka Astoria akan menjalankan rencana lainnya, menjatuhkan keluarga Mahony dan memiliki segalanya.


[]


“Jadi kau masih tetap berencana pergi tanpa izinku?” Gamma yang duduk diatas kursi meja makan memandang jauh Ailee yang sibuk berkutat dengan hidangan makan siang, memindahkan satu persatu piring ke atas meja makan dan menghidangkannya untuk mereka berdua.


Siang itu Ailee sudah lengkap dengan pakaian nonformalnya. Dress putih santai selutut yang memang khusus untuk ibu hamil sepertinya. Ia sudah begitu siap untuk menemui Arslan meski belum mendapatkan izin dari Gamma. Karena sejak semalam mereka berdua perang dingin hanya karena satu masalah bahkan sampai pagi ini. Gamma yang benar-benar tak ingin Ailee berurusan lagi dengan Arslan sedangkan Ailee sendiri merasa tak enak menolak bertemu Arslan. Bagaimanapun pria itu pernah menjadi paling penting dalam hidup Ailee.


“Sayur yang mana?” Ailee tak menggubris pertanyaan Gamma. Ia lebih memilih untuk segera mengambil lauk untuk suaminya. Namun karena hal itu ia malah membuat Gamma mood buruk Gamma semakin meningkat. Pria itu tak berhenti menatap penuh intimidasi pada Ailee, tatapan yang terlihat tajam dan dingin.


“Jawab aku Ailee...”


Ailee mengeluarkan helaan nafas panjang baru menatap balik Gamma, “Jika aku tak pergi. Aku tak akan pernah bisa bertemu Arslan lagi Al.” Ia meletakan dengan pelan makan siang Gamma dihadapan pria itu lalu bergantian mengambil nasi untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Apa kau percaya perkataannya? Bagaimana jika pria itu berbohong?” Berapa kalipun Ailee mengatakan ada alasan yang baik dibalik pertemuannya dengan mantan suaminya. Gamma tetap tak ingin membiarkan Ailee pergi begitu saja. Gamma takut pria itu sengaja mengambil kesempatan pada Aileenya. Meski berulang kali Gamma mendengar bahwa Arslan hanyalah masalalu bagi Ailee sedangkan dirinya lebih berhak atas dirinya. Tetapi sejak Ailee tahu bahwa Gamma sangat mencintai wanita itu seharusnya wanita itu juga bisa mengerti bahwa seiring berjalannya waktu keprotektifan Gamma padanya juga semakin bertambah.


“Dan bagaimana jika Ars tak berbohong? kenapa kau selalu berpikiran buruk tentang dia Al... aku sudah bilang ini hanyalah pertemuan biasa antar teman. Dia bukan siapa-siapa lagi bagiku...”


“Kenapa kau terus membelanya sejak semalam?”


Prak


Ailee membanting sendok makannya hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Wanita itu amat kesal melihat tingkah sang suami yang tiada habisnya memojokan Arslan. Padahal Gamma tak tau apapun. Sama seperti Ailee yang mengerti sifat Gamma, Ailee juga tau seperti apa Arslan itu. Dia tak mungkin membuat kebohongan hanya demi mengambil kesempatan pada Ailee yang notebenenya istri pria lain.


Nafsu makannya seolah hilang didetik itu karena Gamma. Ia pun bangkit hendak pergi, biarlah Ailee datang lebih awal sebelum jam yang ditentukan. Saat ini ia hanya ingin pergi mencari udara segar dan menyendiri sementara. Bersama dan melihat wajah Gamma yang membuatnya kesal sama sekali tak membuat baik hatinya yang panas.


“Mau kemana kau Ailee?” Gemaan suara Gamma yang begitu terdengar ketegasannya mampu menghentikan langkah Ailee. Pria itu menyusul istrinya lalu berdiri tepat dihadapannya, “Duduk dan makan.” Gamma memerintah Ailee dengan tegas tanpa boleh dibantah. Tetapi Ailee yang saat itu juga sedang kesal tak bergeming dari keterdiamannya.


Ailee malah semakin menutup rapat mulutnya, “Ailee. Aku sedang tak dalam kondisi bisa menoleransi perbuatanmu sekarang...” Gamma terlihat marah. Mungkin pria itu harus sesekali menunjukan ketegasannya agar Ailee mengerti, “Buka mulutmu dan makan ini... jangan bertindak egois hanya karena emosi semata. Kau sedang membawa dua nyawa sekarang.” dan perkataan itu berhasil membuka bibir Ailee yang mulanya tertutup rapat-rapat. Ia mengunyah makanan dan menghabiskan suapan demi suapan dari Gamma meski masih meninggalkan wajah masam yang kentara.


Setelah selesai menyuapi Ailee. Gamma berinisiatif membuatkan segelas susu untuk sang istri, “Duduk diam disini. Aku akan membuat susu untukmu.” Ailee hanya diam membiarkan pria pencemburu itu melakukan hal sesukanya.


Beberapa menit kemudian Gamma kembali dari dapur dengan membawa segelas susu coklat yang ia janjikan. Ia sedikit bersyukur dan rasa kesalnya seolah berkurang melihat Ailee ternyata masih mau menurutinya untuk tetap duduk diam diatas meja seperti perintah Gamma. Ia pun menyodorkan gelas kaca berisi susu pada Ailee dan membiarkan sang istri meneguknya hingga habis tak bersisa.

__ADS_1


“Sudahkan?” Ailee memberikan gelas kosong bekas susunya pada Gamma sembari menjilat bibirnya yang sepertinya belepotan karena susu yang bersisa.


Melihat hal itu tangan Gamma terulur mengelap bibir Ailee pelan, “Dasar menyebalkan. Aku selalu kalah darimu Ailee.”  Ia memandang Ailee dengan tatapan yang lebih lembut.  Gamma sudah kalah, terlalu sulit mengajak wanita itu perang dingin dengan kondisi Gamma yang selalu menginginkan dan membutuhkan Ailee. “Aku mengizinkanmu pergi... tapi...”


“Tapi?” Ailee mengernyitkan dahinya.


“Aku yang akan mengantarmu dan ingat tak ada kontak fisik sedikitpun. Aku mengawasimu Ailee...”


Senyum terbit dibibir Ailee setelah beberapa jam tak terlihat diakibatkan Gamma, “Baiklah. Terima kasih mau mengerti diriku Al...” Ailee beranjak dan tanpa sepengetahuan Gamma tanpa aba-aba wanita nakal itu memberinya kecupan di pipi Gamma.


Cup


“Aku hampir tak tahan perang dingin denganmu...” ujar Ailee yang ternyata sama dengan yang Gamma alami.


Sedangkan ditempat yang lain. Seorang pria mematut dirinya didepan cermin. Dengan sweeter nonformal juga jeans hitam, dia Arslan. Pria itu terlihat tampan dengan pakaian santainya. Ia terlihat puas dengan penampilannya setelah semalaman harus kebingungan memilih pakaian apa yang tepat untuk menemui Ailee. Wanita yang meski sudah menjadi milik orang lain pun tetap menjadi pemilik hatinya.


Huft


“Bukankah aku juga harus terlihat bahagia saat mengucapkan salam perpisahan nanti, Ailee?” Pandangannya berubah menjadi sendu. Perpisahan ya? sanggupkah Arslan berpisah dari Ailee Kanedy.

__ADS_1


[][]


🙋Halo. Maaf ya sebelumnya kalo semisal ada komentar yang tidak sempat aku bales nih. Soalnya komentar barunya tenggelam sama komentar lama jadi aku susah nyarinya hehehe. Author ga berubah kok wkwkw


__ADS_2