MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Cincin Untukmu


__ADS_3

“Sekarang kondisi anak Tuan dan Nona, bisa dibilang baik-baik saja...” Ailee menghela nafas lega. Ia terus memeluk Alias penuh kasih sayang, “Dia hanya mengalami demam yang bisa saja disebabkan pertumbuhan gigi pada bayi, anda bisa memeriksa mulutnya jika ingin memastikan.” Dokter Givali suami dari dokter kandungan Ailee dulu, bicara penuh dengan keprofesionalan sebagai seorang dokter anak.


Gamma pun mengulurkan tangan kanannya untuk sejenak membuka mulut putra kecilnya yang saat itu memang terbuka karena menangis, Alias masih terlihat rewel sepertinya. Namun Gamma tak terganggu, ia justru tersenyum senang karena melihat satu gigi susu mungil yang menyempil di gusi tengah Alias, “Sayang... Alias benar-benar tumbuh gigi, giginya sangat imut.”


Bagi Gamma ini adalah moment untuk pertama kalinya melihat sikecil yang perlahan setahap demi setahap mulai memasuki masa batita. Ia biasanya selalu melewatkan segala moment saat Alpha memasuki masa-masa itu. Bagaimanapun sebagai pria yang masih dalam tahap belajar menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarga kecilnya Gamma tak mau melewatkan segala momment ini.


Pria itu mengambil ponselnya dan langsung membuka fitur kamera, menjepret gigi kecil Alpha untuk disimpan dan dijadikan sebagai poto profil sosial medianya. Sungguh jika dibilang dia menjadi alay, biarlah. Toh ia juga menyukai hal ini. Rasa bencinya terhadap anak-anak sepenuhnya menghilang, yang tinggal hanyalah sebuah perasaan ingin mengayomi dan melindungi.


“Dok, lalu kapan demamnya bisa turun? apakah demamnya tak akan jadi semakin tinggi nanti?”


Dokter Givali menggeleng dengan senyuman menenangkan, “Tenang saja saya sudah merekomendasikan resep vitamin untuk menurunkan demamnya. Jika bisa jangan memakaikan baju terlalu tebal, agar dia tidak kegerahan kalau-kalau hari ini demamnya belum turun... anda cukup menemaninya saja. Mungkin esok hari demamnya bisa turun...” Ailee mengangguk-anggukan kepalanya. Dia membiarkan Gamma bermain-main dengan Alias yang mulai berhenti menangis dan berganti tawa karena kejahilan sang ayah yang mengusap-usap hidung kecilnya—mungkin geli.


Namun Ailee tak tau bahwa selain jahil, Gamma juga sedang memperhatikan Ailee. Ia sedikit menahan cemburu saat Dokter Givali berusaha terlihat menenangkan Ailee dengan senyuman manis, ya tapi tetap saja manisan diriku.


“Baiklah dok terima kasih atas bantuannya...” Ailee mengkode Gamma untuk ikut juga mengucapkan ‘terima kasih’


“Terima kasih. Dok.” sisa-sisa kekesalan yang masih ada mau tak mau membuat Gamma tak bisa ramah meski tau bahwa dokter pria didepannya ini sudah memiliki istri. Ia teringat sekarang banyak seorang pria yang sudah beristri pun masih mau merebut istri orang lain. Terlebih Aileenya yang cantik ini. Rasanya Gamma ingin mengurung Ailee saja dirumah.


“Sama-sama... ini sudah menjadi tugas saya.”

__ADS_1


[]


Malam itu nampak begitu sunyi. Udara yang tadinya nampak semilir dan meninggalkan jejak dingin menjadi begitu hangat. Ailee mengulas senyum hingga tanpa sadar sweeter coklat berbahan rajut tebal hanya tergantung di lekukan sikunya. Matanya yang hitam kecoklatan memandang pemandangan bulan berbentuk setengah tandan yang menerangi malam bersama dengan milyaran bintang.


Ia sedikit tak percaya bahwa sudah selama ini bulan juga semuanya menjadi saksi akan perjuangan Ailee untuk menggapai semua. Ia yang mulanya berputus asa dan malas untuk berharap lagi akan cinta yang selalu menggores luka. Kini mulai terbuka. Dengan harapan yang baru dan kebahagiaan yang nyata. Ada Alpha, Alias dan Alora. Tentunya yang paling penting untuknya dialah Algamma.


Pria yang ia temui tanpa kesengajaan. Pada sebuah bar, tempat yang sama sekali tak disangka menjadi awal mula baginya juga pria itu untuk terikat takdir. Menikah dengan alasan untuk menghindar dari masalah dengan hati yang sama-sama membutuhkan obat. Obat untuk segala luka yang pernah ada juga kesepian yang tertinggal sejak lama.


Mungkin ya, Ailee paling banyak berjuang disana. Dia yang paling banyak terluka. Namun wanita itu bersyukur, atas segala luka yang semakin membuatnya kuat dan tegar. Meski sempat lelah dan menyerah tetapi pada akhirnya Gamma mau mengejarnya. Ucapan kata cinta yang sejak lama menjadi penantian panjang, muncul dibibir merahnya yang selalu berucap dingin. Ucapan pria itu yang biasanya membuat hati Ailee terluka kini berubah menjadi kehangatan saja yang selalu dikeluarkan.


Dan inilah, dua anak kecil lucu menjadi bukti dan hasil dari bersatunya cinta Ailee juga Gamma. Dengan banyak ujian yang mereka lewati.


“Kau mau demam juga seperti Alias?” suara yang bagai harmoni berat mengalun syahdu. Gamma dengan penuh perhatian menaikan sweeter Ailee dan menutupi kedua bahu putih sang istri yang saat itu hanya mengenakan piyama bertali pita. Untung saja ini ada dirumah, jika ia lihat Ailee mengenakan pakaian ini di hotel dan dengan seenaknya ke balkon. Gamma tak bisa membayangkan ada berapa banyak mata pria yang melihatnya.


“Tidak Al...” Ailee menoleh sedikit dengan tatapan lembut, “Aku hanya merasa hari ini terasa hangat dan menenangkan saja... rasanya aku bahagia sekarang.”


Gamma memeluk dari belakang sang istri dengan begitu erat, “Istriku harus selalu bahagia...” ujarnya dengan tangan yang memasangkan sesuatu di jari tengah Ailee. Ailee pun terlihat keheranan. Ia menunduk penasaran apa sebenarnya yang dipasangkan suaminya ke jemarinya?


“Al... i—ini...” Ailee tergugu. Sebuah cincin dengan bentuk hati kecil sebagai hiasan tersemat indah dijarinya. Sungguh amat cantik. Apalagi saat Ailee melihat Gamma juga mengenakannya, bedanya cincin itu lebih besar dengan lubang berbentuk hati kecil yang terlihat sepasang dengan cincin Ailee.

__ADS_1


“Bagaimana? apakah indah?”


Ailee mengangguk, ia menyentuh dagu suaminya yang mendekapnya hangat, “Ini sangat cantik, dalam rangka apa kau memberikan ini?”


“Ini memang seharusnya sudah sejak lama kuberikan kepadamu sayang, saat pertama kali aku melihat dua cincin ini. Aku langsung tertarik...” Gamma memandang bulan yang sempat dipandang istrinya, ternyata benar-benar indah dan bercahaya meski hanya memunculkan penampakannya setengah saja, “Dua cincin ini seperti saling melengkapi dan mengisi. Sama seperti kita Ailee... hatiku yang sudah sejak lama hanya untuk Mikaily yang sudah pergi terasa kosong, namun kau sanggup mengisinya. Persis bukan seperti cincin ini...”


Ailee mengangguk, filosofi sederhana namun benar adanya, “Aku tau meski banyak luka yang telah kau alami Ailee, dan meskipun ini semua tak cukup untuk menyembuhkan segala luka itu. Namun aku tetap ingin berusaha... aku ingin kau bahagia... aku ingin kau mencintaiku lebih lagi... dengan janji aku tak akan pernah melukaimu...”


“Cincin ini mungkin tak seberapa, tapi percayalah sampai kapanpun aku tetap men—“


Ailee berbalik tiba-tiba, “Ssst...” satu jari menutup rapat mulut Gamma, membisukan pria itu, “Aku tak mengharapkan apapun Al... sungguh... sudah cukup untukku dirimu, tiga anak kita, mom, dad juga Valery... kau telah memberiku banyak kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya... bahkan meski tanpa cincin ini sekalipun aku akan selalu percaya dan akan selalu mencintaimu Al...”


“Terima kasih untuk menyembuhkanku dari luka..”


Gamma tersenyum hangat, “dan terima kasih telah mengobati rasa sepiku Ailee... I Luv u...” kecupan hangat mendarat di dahi Ailee.


[][]


Anyeong. Gimana kabar kalian pagi ini? Pada kemana ini? Kok sepi... hehehe

__ADS_1


Ayo dong Like dan tinggalkan jejak.


__ADS_2