
“Ailee...” suara yang begitu segar didengar. Kedua netra Gamma seolah terkunci pada wajah Ailee yang terlihat damai dalam tidurnya. Sesekali ia tersenyum disana dengan mimpi yang Gamma yakini begitu indah dan menyenangkan, “Sayang.... bangun...”
“Emmh...” Ailee melenguh merasa terganggu dengan suara Gamma. Ia membalikan tubuhnya yang semula menghadap Gamma menjadi berbalik memunggungi pria itu. Hal itu hampir saja membuat Ailee terjatuh dari ranjang karena terlalu banyak bergeser, untungnya Gamma begitu cekatan menarik tubuh Ailee meski itu artinya akan membangunkan istri tercintanya itu.
“Aku masih mengantuk Al...”
“Bangun sayang, bukankah kemarin kau memintaku memasak. Aku sudah membuat sarapannya dibawah...” dengan gemas Gamma mengecupi seluruh wajah Ailee, setiap inci wajah Ailee tak ada yang terlewat dari kecupan Gamma. Ia seolah sengaja melakukannya agar Ailee benar-benar risih dan itu berhasil ia lakukan. Wanitanya sempurna terbangun dengan raut terganggu.
“Kau selalu saja menggangguku,” Ailee bangkit dari posisi baringnya, ia menghadap Gamma dengan bibir maju kedepan seperti anak kecil yang tengah merajuk, “Aku lelah, semalam kau meminta jatah begitu lama padahal aku sedang hamil, pinggangku sampai pegal Al...”
Pria yang mendengar keluh kesah sang istri itu bukannya merasa bersalah malah tertawa, “Hahaha.... iya maafkan aku, kau bilang ini perayaan untuk kesembuhan kakiku Ailee jadi ini tak sepenuhnya salahku, lagipula walaupun pegal desahanmu semalam begitu kencang, itu bukti bahwa istriku juga menikmatinya...”
Bugh
Ailee melempar bantal yang tepat ada disampingnya tepat mengenai wajah suaminya yang sudah terlihat segar. Rambut Gamma yang terlihat basah sehabis kramas semakin menambah ketampanannya, “Berhenti mengatakan sesuatu yang vulgar sefrontal itu!”
Gamma hanya bisa terkekeh. Istrinya terlihat tersipu malu semakin menambah keiimutannya. Dengan sekali tarikan Gamma menempelkan punggung telanjang Ailee ke dadanya, memaksa wanita itu untuk bersandar. Tanpa aba-aba ia menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh istrinya. Membiarkan seluruh inci tubuh Ailee yang menggoda menjadi pemandangan terindah yang patut dinikmati Gamma seorang.
“Apa yang kau lakukan!!” Ailee kembali menarik selimut yang sempat suaminya buang.
3 Bulan berjalan begitu cepat. Berkat kesebaran dan ketekunan Ailee, Gamma bisa sampai sembuh dari kelumpuhannya. Wanita itu seolah memberinya semangat untuk segera bangkit dengan wajah yang bahkan lebih antusias dari dirinya. Gamma yang mengira mengajak Ailee ke Perancis akan membuat wanitanya itu memiliki banyak keiinginan untuk berjalan-jalan ternyata salah besar. Sedikitpun Ailee tak pernah meminta kemanapun selain terapi dan membeli bahan makanan atau sekedar berkunjung ke restoran, itupun jika Gamma berinisiatif mengajaknya.
Gamma tak tau bahwa Ailee merasa bahagia saat tiba di Perancis bukan karena ia begitu menyukai negara berdesain klasik modern itu. Tetapi lebih tepatnya Ailee bahagia karena sebentar lagi ia bisa melihat sang suami kembali seperti sedia kala. Jika Gamma kembali bisa berjalan, jangankan negara Perancis pria itu pasti sanggup mengajaknya mengelilingi seluruh negara dibumi ini. Begitulah pikiran Ailee.
Tangan Gamma tak bisa berdiam diri. Ia kembali menyibak selimut namun kali ini hanya setengahnnya, tak sampai membuat seluruh tubuh sang istri terlihat, hanya perut dan dua gunung yang sudah sejak lama menjadi favorit Gamma.
“Selamat pagi twin dan mommynya...” kedua tangan pria itu melingkari perut Ailee. Sebentar lagi istrinya akan melahirkan dua buah hati mereka. Memikirkan hal itu sungguh membuat hati Gamma panas dingin. Disisi lain ia bahagia namun juga ada ketakutan yang masih tersisa dihatinya. Untungnya kakinya bisa pulih dengan cepat, jika tidak entah bagaiamana ia akan menolong Ailee bila sesuatu terjadi pada istrinya.
“Pagi dad...”
__ADS_1
“Ayo bangun kalian harus mencoba masakanku...”
Ailee mendongak agar bisa menatap wajah suaminya. Ia mengecup rahang Gamma tanpa pria itu memintanya, “Al... kapan kita pulang?”
“Hari ini, jika kau tak minta jalan-jalan. Tapi kita bisa pulang seminggu kemudian jika kau mengingkan waktu berdua kita lebih lama, anggap saja babymoon...”
Plak
Ailee memukul telapak tangan Gamma, “Siapa yang mau babymoon! aku tak mau, aku ingin pulang aku rindu Alpha...”
“Kenapa kau selalu saja memikirkan Alpha?”
“Kenapa? diakan putraku, lagipula twin pasti merindukan kakaknya juga...”
“Tapikan aku lebih merindukanmu...”
“Ya sebenarnya memang itu maksudku.. tapi jika istriku menginginkan pulang maka kita bisa pulang. Aku bisa membuatmu tak bisa berjalan dimanapun...” Gamma mengangkat tubuh Ailee.
“Al!! Turunkan aku!!”
“Kau harus makan. Setelah itu kita bisa melanjutkan hal yang tertunda di ranjang. Aku masih menginginkanmu sebelum kita pulang...”
[]
“Mas... apa Gamma dan Ailee akan pulang hari ini?”
Kriet
“Opah... apa mom dan dad akan pulang?!” derap langkah kaki Alpha yang memasuki ruang kerja kakeknya terdengar antusias. Bocah kecil itu berlari menuju sang kakek dan langsung memeluk kaki pria paruh baya yang begitu anak itu kagumi.
__ADS_1
Adam tersenyum melihat keantusiasan yang nampak diwajah cucu pertamanya itu, “Iya hari ini mom dan dad akan pulang, apakah Alpha senang?” tangannya mengelus puncak kepala Alpha dengan sayang. Sekarang begitu mudah melihat senyum diwajah bocah kecil ini. Tak ada lagi bekas sinar sendu yang selalu Alpha sembunyikan dibalik matanya. Kini anak itu sempurna bahagia dan Adam senang melihat itu. Kedatangan seorang Ailee selayaknya cahaya bagi keluarga Canis.
“Alpha sangat senang opah... Alpha ingin dipeluk mommy seperti dulu...”
“Ellen... aku sudah menyuruh Gamma dan Ailee untuk segera mampir kemari, jadi sepertinya kau akan disibukan dengan berbagai persiapan sayang... apakah kau bisa melakukannya sendiri?” Adam menggendong Alpha dan menghampiri istri tersayangnya itu.
“Aku tidak tua. Lagipula setelah sekian lama akhirnya Gamma bisa kembali berjalan. Aku sempat takut bila Tuhan merengut sesuatu lagi darinya, aku tak akan sanggup melihat ia kembali terpuruk lagi Mas...” mata Ellen berubah penuh kesedihan. Masih basah diingatannya bagaimana Gamma begitu tak terima akan kematian Aily sampai membenci anaknya sendiri. Sebagai seorang ibu, Ellen khawatir jika hal itu sampai terjadi lagi. Ia tak sanggup melihat Gamma yang tak ada gairah hidup.
“Ellen... tenanglah, bagaimanapun tak akan ada yang tahu kapan datangnya kematian, tuhan hanya memberikan Gamma pelajaran hidup... bukankah selama ini dia selalu bisa tersenyum tanpa sedikitpun berusaha?”
“Ya selama ini memang kita selalu memberikan apapun untuknya...”
“Kau tak perlu khawatir lagi sekarang Ailee ada disamping Gamma. Pertama kali aku melihatnya mereka berdua terlihat cocok, Gamma yang keras kepala dan menantu kita yang lemah lembut... dia benar-benar menjadi jembatan antara Alpha dan Gamma...”
“Kita sangat beruntung menikahkan Ailee dan Gamma, Ellen.”
[][]
Hi aku Update nih hehehe.
Aku sebenernya lagi PTS, tapi keinget kemarin udah libur selama beberapa hari. Akhirnya aku memutuskan untuk Up meski aku bingung mau alur yang gimana. Maaf ya kalo rada ga srek. maklum aku masih belajar didunia kepenulisan ini. Oh ya sebentar lagi ‘My Beloved Wife’ mungkin akan aku rampungin. Semangatin aku ya All
__ADS_1