
Gamma POV
Ailee Kanedy, dia adalah wanita yang tak sengaja kutemui hingga tanpa terduga kami berada distatus yang berbeda. Kami menjadi sepasang suami istri dengan banyak hal yang menjadi penyebabnya. Dan salah satunya adalah banyaknya keuntungan yang kudapatkan jika menikah.
Aku melihatnya dari sudut mataku. Wanita itu duduk bersandar dikepala kursi pesawat, ia sejak tadi terus memandang jendela kecil yang menampakan langit biru disana. Entah apa yang dia pikirkan sejak tadi, mungkin dia khawatir saat mendengar kabar bahwa ayahnya masuk ke rumah sakit. Terlebih saat kami jauh dengannya.
Aku beralih menatap dua lututnya, terdapat luka disana yang sudah kututupi dengan hansaplast. Dia terjatuh saat kami jogging tadi pagi, dan itu karena kesalahannya sendiri yang menantangku padahal dia tak yakin akan bisa menang.
Namun karena Ailee aku juga sedikit terhibur. Mengingat bahkan setelah diriku menikah ayahku masih belum memberitahu pusara Aily, istriku berada. Dia bilang aku dan Ailee harus memberikannya cucu kedua baru setelah itu aku bisa mengunjungi makam istriku. Aku sendiri sudah cukup terkekang saat kedua orang tuaku memaksa untuk menikah kedua kalinya ditambah dengan memiliki anak. Aku mungkin mampu tapi apakah Ailee mampu?
Pernikahan ini bahkan hanya ralat bukan hanya tapi juga perjanjian yang berlaku setahun untuk mengikat kami berdua. Tanpa cinta, tanpa segala perasaan rumit didalamnya. Jika memang dengan membuat Ailee hamil aku bisa bertemu Aily walau hanya sekedar pusaranya aku tak masalah. Aku tak bisa memilih untuk menumbuhkan perasaan terlebih dahulu pada Ailee dan membagi cintaku dengannya. Selamanya hanya ada Aily, istriku.
Aku tahu mungkin Aily yang jauh disana juga terluka melihatku menikahi wanita lain, aku yakin seperti itu.
Huft
Aku menghela nafas kencang yang membuat pandangan Ailee teralih menoleh padaku, "Ada apa?" tanyanya dengan lirih.
"Tak ada. Kau jangan khawatir ayahmu pasti baik-baik saja." aku menyemangati Ailee. Karena jujur aku juga berutang budi padanya saat aku demam. Padahal aku sudah meminta dia agar tak mengurusi keadaanku namun Ailee tetap merawatku hingga sembuh. Aku sedikit tak suka caranya dia seperti berniat membuatku berutang budi padanya.
Ailee hanya tersenyum tipis sangat tipis bahkan hampir tak terlihat, "Siapa bilang aku khawatir. Aku baik-baik saja." alibinya padahal wajah Ailee terlihat menunjukan semua raut yang jelas menunjukan betapa dia mengkhawatirkan sang ayah. Aku bisa melihat itu, sebagai pria aku juga belajar peka.
__ADS_1
"Lagipula kenapa aku harus khawatir..." ucapan Ailee tak seperti dengan perasaannya. Dia kembali menatap jendela kecil lalu berbicara, "Dia bahkan tak pernah memberiku kasih sayang apapun. Jadi kenapa aku harus khawatir?"
Aku mengernyitkan dahi mendengar gumaman Ailee. Dia seperti memberitahuku bahwa hubungannya dengan sang ayah tak seharmonis kelihatannya namun jelas-jelas aku melihat segala raut wajahnya yang begitu masam.
"Maksudmu?" Aku mencoba bertanya karena rasa ingin tahuku. Namun Ailee hanya terdiam dan membiarkan pertanyaan ku menjadi angan-angan saja.
Ia menyandarkan belakang kepalanya dan mencari-cari posisi nyaman lalu aku melihat wanita itu perlahan memejamkan matanya setelah ia tersenyum begitu manis padaku. Aku tak mengerti maksud senyuman Ailee tapi aku juga tak mau ambil pusing. Ingatkan aku bahwa pada dasarnya kami tidak harus mengurusi hubungan kami.
Segala hal tentang Ailee bukanlah segala hal yang berhak kuketahui. Karena saat wanita itu memintaku agar menjadikan pernikahan kami sebagai pernikahan pada umumnya aku menolak. Bukan karena Ailee tak sempurna, kuakui wanita yang kini terlelap itu begitu cantik dan menawan bahkan Aily yang kucintai pun bisa kalah darinya. Namun sayangnya Ailee tak memiliki cintaku.
Tak ada yang bisa menggantikan segala rasaku pada Aily. Dia adalah sosok istri satu-satunya bagiku bahkan aku sampai membenci putraku, Alpha, karena dialah segala penyebab Ailee mau mengorbankan segalanya bahkan nyawa.
Aku termenung sembari terus-menerus menatap wajah Ailee yang terlelap. Aku diam-diam menyukai wajah damainya tak seperti Ailee yang suka membantah itu. Namun tiba-tiba kelopak mata Ailee bergerak dan kini terbuka lebar. Kami saling bertatapan dan bertubruk pandang.
Saat itu aku yakin kata-kata Ailee tak akan menjadi kenyataan. Ucapannya yang begitu lirih dan tak meyakinkan tak akan mengubah apapun diantara kami. Aku masih akan selalu dan selamanya mencintai Aily. Namun sayang nya aku tak menyadari bahwa wanita dihadapanku ini sangatlah berbahaya. Dia selayaknya malaikat yang mampu mengubah apapun menjadi kenyataan. Dan ucapan itu adalah mantranya.
[]
Ailee dan Gamma telah mendarat di Indonesia. Mereka tiba tepat pukul 07.00 malam. Saat ini mereka hendak menuju tempat dimana ayah Ailee dirawat inap. Gamma berjalan didepan Ailee sedangkan wanita itu hanya sibuk menunduk sembari mengekori suaminya.
Ada berbagai pertanyaan yang berkecamuk di hati dan pikiran Ailee. Saat ditanya Gamma apakah dia khawatir pada ayahnya, Ailee sebenarnya bingung. Ia ada diantara khawatir namun ketika mengingat ayahnya yang tak pernah mempedulikan Ailee seperti Astoria. Membuat ia menjadi tak peduli.
__ADS_1
Padahal kenyataannya wanita itu jelas dominan rasa khawatir. Karena Ailee selama belasan tahun tinggal bersama sang ayah. Tanpa Alferd, Ailee tak mungkin memiliki segala hal yang dia butuhkan termasuk menjadi wanita idaman setiap pria. Meskipun Alferd dan Astoria tak memberinya kasih sayang namun mereka mencukupi kebutuhan materialistik Ailee.
"Mom..." Ailee mengangkat wajahnya ketika Gamma bersuara dan memanggil momnya. Disanalah Ailee jumpai Ellen dan Adam yang kini berdiri menyambut kedatangannya.
Ellen memeluk Ailee erat dan menciumi pipi dan puncak kepalanya. Ia seolah sama seperti Gamma menyemangati Ailee untuk tak terlalu khawatir soal ayahnya. Ailee hanya mampu tersenyum tipis disaat dirinya sendiri bimbang. Ada sedikit rasa bersalah saat bertahun-tahun tinggal baru sekarang Alferd masuk ke rumah sakit. Bahkan ke UGD. Terkadang banyak hal yang ayahnya sembunyikan dibelakang Ailee. Yang Ailee sendiri tak mau ambil pusing untuk mengetahuinya.
Cklek
Seorang wanita berpakaian serba putih keluar dari ruangan tempat ayah Ailee dirawat. Ia menghampiri Adam sembari membuka maskernya, "Tuan Alferd sudah dipindahkan dan beliau saat ini sudah siuman. Kondisinya sudah kembali stabil saat ini..." ucapan sang dokter melegakan semua yang ada didepan ruang rawat inap Alferd. Bahkan Ellen menghela nafas begitu panjang.
"Tapi sebelum kalian mengunjungi Tuan Alferd, beliau meminta saya untuk memanggil Tuan Algamma. Ada yang ingin beliau sampaikan padanya..."
Hingga akhirnya Gamma menjadi pengunjung pertama yang bisa melihat kondisi ayah mertuanya. Dia sendiri bingung mengapa disaat Alferd pertama kali siuman, pria itu malah meminta Gamma menemui dirinya.
Gamma melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan serba putih dan berbau khas obat-obatan itu. Di tengahnya terdapat Bed dinama Alferd terbaring lemah dengan beberapa selang infus yang terpasang ditubuhnya. Alferd menoleh bahkan masih sempat menyunggingkan senyum menyadari Gamma sudah datang.
"Ayah..." lirih Gamma saat tepat berada disamping Alferd. Dia berdiri dengan canggung saat pria yang dulu sempat ia temui dalam kondisi sehat itu menatapnya serius. Kini wajah Alferd terlihat putih pucat dan benar-benar seperti sedang sakit namun bagi Gamma pria dihadapannya masih tetap sangat berwibawa.
"Gamma... aku hanya ingin mengatakan...." Gamma menelan salivanya merasa tenggorokannya menjadi kering tiba-tiba, "Waktu yang kupunya tak banyak...."
[][]
__ADS_1
Okey up up dulu wkwkw. Lanjutannya tunda dulu ya. Next--
Jangan lupa jempok okey makasih 😚