MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Jangan Membencinya


__ADS_3

“Jadi?” Seorang wanita dengan dress seksi yang paling menawan duduk bagai ratu didunia dongeng. Wanita itu memandang angkuh semua dengan segelas wine ditangan seolah menggegam sebuah bumi, “Berita apa yang kau bawa yang bisa menarik perhatianku?” suaranya terdengar sangat lembut namun terasa begitu mematikan. Ia bertanya pada seorang pria yang berdiri diam dihadapannya.


“Kedua pasangan suami istri yang kau minta kuawasi itu saat ini terlihat mengalami pertengkaran hebat, mungkin ditambah sedikit bumbu saja pernikahan itu bisa hancur kapanpun...” wanita itu tersenyum puas akan berita yang dibawa pria yang tak lain, seorang mata-mata yang dibayarnya.


“Bagus, selidiki terus mereka.” ia menegak minuman berwarna merah pekat itu dengan sangat nikmat. Sambil tersenyum seolah puas akan sesuatu.


“Aku tak bisa melanjutkannya,” tetapi karena ucapan sang pria, senyuman wanita angkuh itu berubah menjadi tatapan dingin menusuk, “Semakin jauh aku terlibat, semakin besar resiko yang kuterima...”


“Aku akan menambah 2 kali lipat. Jadi lakukan untukku..”


“Seperti yang kau harapkan nyonya Astoria...” pria itu menunduk dengan hormat, “Aku senang bisa bekerja sama denganmu...” setelah mengucapkan itu ia pergi meninggalkan Astoria Kanedy sendiri ditengah gelapnya malam.


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, terlihat kesal, “Jika bukan karena ingin mendapatkan hati gadis keras kepala itu. Aku tak akan melangkah sejauh ini.”


[]


Sepanjang hari yang bisa Ailee lakukan hanyalah menangis. Membuat kedua kelopak matanya semakin memerah dan bengkak. Hatinya tak bisa lagi memaksa tegar, ia tak bisa harus menyembunyikan tangisnya dan berganti menjadi senyuman. Ini benar-benar batas akhir seorang Ailee, segala perkataan Gamma yang dimaksud untuk menghinanya masih terasa basah dalam ingatan. Semakin Ailee mengingat semakin sakit dirinya.


“Kumohon berhentilah menangis Ai... seharian ini kau terus menangis hanya karena pria brengsek itu...” itu adalah suara Arslan yang meghardik Gamma. Pria memang benar-benar keterlaluan hingga membuat Ailee-nya sampai sesakit ini. Rasanya saat itu ingin sekali Arslan menghancurkan mulut pedas Gamma yang dengan mudahnya meluncurkan bisa mematikan bagi Ailee. Melihat Ailee menangis membuat dirinya juga tersiksa.


“Apa kau tak kasihan dengan anakmu, kau belum makan kan?” Ailee baru merespon dengan gelengan pelan ketika Arslan membahas janin kecilnya.


Arslan berdiri dari posisi duduknya, ia menggapai nampan berisi makanan khas rumah sakit yang menurutnya sama sekali tak menarik selera. Ingin membelikan Ailee makanan kesukaan tetapi itu hanya membuang waktunya, tangan kirinya membawa bubur dimangkuk yang terlihat mulai dingin karena tak disentuh lama, “Kau harus makan demi dia...” pria itu berkata lembut dan menenangkan.


Ailee pun mulai memandang Arslan dan mulai membuka kedua mulutnya, ia menerima satu persatu suapan bubur dan mencernanya meski dalam renungan. Sungguh selera makannya sama sekali tak ada, tetapi ketika Arslan membahas anaknya Ailee tak bisa diam, ia pernah sekali kehilangan seorang putri ia tak mau lagi harus kehilangan yang lainnya.


“Terima kasih Ars...” ujar Ailee setelah bubur dalam mangkuk itu terlihat habis tak bersisa.


Arslan tersenyum, ia menyentuh pucuk rambut Ailee. Andai Arslan masihlah suami wanita dihadapannya itu, Arslan yakin ia akan menjaga sepenuh hati karena ia menyadari betapa berharganya Ailee. Ia akan menjadi pria yang siaga 24 jam, tak ada yang lebih beruntung dari mendengar kabar bahwa wanita tercintanya tengah mengandung hanya saja sayang semua itu hanyalah khayalan. Meski Ars senang Ailee akan dikarunia seorang anak, tetapi itu bukan anaknya, itu adalah buah cinta Ailee bersama Gamma.


“Dia adalah anak Al... Ars..” Ailee tiba-tiba bergumam sembari mengelus perutnya yang masih terlihat datar. Sungguh sangat tak disangka kejadian malam itu yang bahkan menjadi trauma besar bagi Ailee terhadap Gamma, menghasilkan sebuah kebahagiaan baru. Ailee tak tahu harus senang atau sedih dengan kehadiran bayinya sekarang. Karena meskipun itu terdengar membahagiakan bagi setiap pasangan, tapi tidak bagi pasangan Ailee dan Gamma. Baru diberitahu Ailee hamil saja, Gamma sudah menyakitinya sekejam ini.


Arslan kembali mengusap pelan puncak kepala Ailee menyadarkan wanita itu dari lamunannya, “Ya aku tau, aku sangat bahagia mendengarnya...”

__ADS_1


“Ivory juga pasti bahagia, sebentar lagi ia akan punya seorang adik...”


Ailee tersenyum. Mengingat Ivory membuatnya semakin ingin melindungi janin kecilnya ini, “Aku pasti akan menjaganya...”


Cklek


“Ailee!!” Suara melengking seorang gadis membuat Arslan dan Ailee menoleh. Valery dengan wajah memerah bercampur panik menghambur ke arah Ailee yang benar-benar terlihat sakit. Wajah sahabatnya begitu pucat terlebih berbaring diranjang rumah sakit. Entah sudah berapa kali Valery melihat Ailee seperti ini semenjak tinggal dengan kakak iparnya itu.


“Val...” Ailee menerima pelukan tiba-tiba Valery, ia mengusap lembut punggung gadis itu berusaha menenangkan Valery.


“Sebenarnya apa yang kakak lakukan padamu, sampai kau berulang kali jatuh sakit... hah?” Velery bertanya dengan tergesa sembari menuntut penjelasan. Wanita itu langsung berangkat dari rumahnya saat nomor asing yang tak dikenalnya menghubungi dan mengatakan bahwa Ailee pingsan dan dibawa kerumah sakit, orang asing itu tak lain Arslan.


“Aku tak sakit Val...”


Valery melihat seluruh tubuh Ailee dari atas sampai bawah, “Apanya yang tak sakit? lihat wajahmu sangat putih seperti mayat, badanmu benar-benar kurus sekarang, apakah kau sangat tersiksa menikah dengan kak Gamma?” Valery memberondongi Ailee dengan seluruh pertanyaannya.


Ia hendak menjawab pertanyaan Valery, namun didahului oleh Arslan, “Kau bisa melihat sendiri, Ailee dulu benar-benar sangat jarang terbaring diranjang rumah sakit dan karena kakak berngsekmu itu dia jadi seperti ini...”


“Kau Arslan... apa yang kau lakukan disini?” hardik Valery, seolah tak suka dengan pria yang tak lain mantan suami sahabatnya itu. Ditambah lagi rasa tak suka Valery semakin bertambah karena Ars menyerobot jawaban yang seharusnya dikeluarkan dari mulut Ailee.


“Benarkah begitu?” Valery memandang Arslan dengan angkuhnya, “Terima kasih kau sudah menjaga sahabatku... sekarang tugasmu sudah selesai, kau bisa pergi sekarang...”


Ailee memandang keduanya. Ia pernah merasakan hawa seperti ini sebelumnya, hawa dimana keberadaan Arslan selalu tak disukai oleh orang-orang terdekatnya, waktu itu Gamma sekarang Valery, “Val... aku tak mengundangmu untuk bertengkar dengan Arslan...”


“Huhh.. aku terlalu kesal melihat wajahnya sangat menjengkelkan...” Ailee hanya bisa tersenyum melihat jawaban Valery, ia merajuk bagai anak kecil yang tak suka dengan sesuatu. Namun hal itu dengan mudahnya terganti kembali dengan tatapan kasihan melihat wajah Ailee, “Jadi sebenarnya apa yang bisa membuatmu terbaring disini?”


Ailee melengkungkan bibirnya menimbulkan rasa bingung bagi Valery, “Itu hanya gejala untuk seorang ibu hamil...”


“Ibu hamil?” Valery makin kebingungan. Ia begitu lambat menangkap maksud dari ucapan Ailee yang terlihat begitu mudah dipahami itu.


“Ailee sedang hamil, apa kau bodoh... berpikir begitu lama...”


Valery baru mengerti setelah Arslan berinisiatif memberi tahu gadis itu. Ia langsung berbinar senang dengan senyuman antusia terpatri diwajahnya, ia menggenggam kedua tangan Valery, “Kau sungguh hamil?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan hal itu. Ailee pun mengangguk sebagai jawaban, sekali lagi mereka berpelukan, “Oh tuhan selamat Lee... akhirnya aku akan punya dua keponakan...” ia menunjukan dua jarinya membuat Ailee terkekeh pelan.

__ADS_1


“Apa kau sudah memberitahu semuanya...” Ailee menggeleng lalu menunduk dalam.


“Aku sudah memberitahu Al...”


Valery semakin antusias, “Oh iya lalu lalu bagaimana tanggapan kakak hmm? aku tak percaya hubungan kalian sampai sejauh ini...”


“Jangan terlalu berharap kakak iparmu itu menanggapi dengan senang, dia bahkan mengira Ailee hamil karena diriku...”


“Apa!!”


[][]


Setelah 1 hari dirawat dirumah sakit akhirnya Ailee bisa pulang. Baru sehari saja Ailee meninggalkan rumah, ia sudah begitu merindukannya seolah Ailee sangat lama pergi. Ia mengusap pelan perutnya yang masih begitu datar, ia juga merindukan sosok Gamma. Rasa rindunya benar-benar begitu besar pada pria itu namun mungkin pria itu sama sekali tak peduli dengannya. Terbukti semenjak pria itu membentak Ailee, Gamma sama sekali tak pernah muncul bahkan menjemput Ailee. Hanya Valery lah yang bisa ia andalkan kini.


Ailee melangkah menatap pintu kamar Gamma yang terlihat amat sunyi, entah pria itu ada didalam sana atau tidak. Ailee tak tahu, ia memilih untuk tak terlalu penasaran terkait Gamma, hubungan mereka benar-benar sudah diambang kehancuran. Ailee sudah tak lagi percaya bahwa ia bisa memperjuangkan pernikahan yang hanya kontrak ini.


Cklek


“Emhh...” Saat wanita itu memasuki kamarnya, mendadak perutnya mulai bergejolak seperti ingin memuntahkan segala isinya. Wanita itu segera berlari ke arah kamar mandi yang ada didalam kamarnya dan menuju kloset.


Huek huek


Setelah perlahan rasa mualnya mulai menghilang dan wajahnya yang memucat mulai kembali seperti sedia kala. Ailee tersenyum, ia sama sekali tak terlihat tersiksa, “Kau harus baik-baik saja didalam sana sayang... meskipun alasanmu terlahir mungkin hanya dimanfaatkan oleh dadmu agar mendapatkan apa yang dia inginkan. Mom tetap menyayangimu...” dalam senyumnya ia menangis sendu. Percuma saja ia berjuang meyakinkan Gamma bahwa Ailee hamil anaknya, toh setelah Gamma yakin dia hanya akan memanfaatkan anaknya sendiri demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Tetapi kembali kepada janjinya, Ailee hanya akan menyerah ketika Gamma memintanya menyerah...


"Maaf. Jangan membenci dadmu karena ini... "


[][][]


Hi... maaf kalau aku up setiap hari tapi lama. Soalnya aku pagi tugas dan baru bisa UP malamnya. Maaf ya semoga kalian bisa mengerti hehe...


////


 

__ADS_1


 


__ADS_2