MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Kilas Balik


__ADS_3

Setelah puas menangis hingga kedua mata Ailee membengkak. Alfred memaksa Ailee untuk bicara dan menjelaskan semua kepada pria itu. Ia mengajak putrinya itu untuk naik kelantai dua dan berbicara di kamar Ailee. Kamar yang terlihat begitu rapi dan masih sangat terawat walau penghuninya tak pernah lagi mampir didalamnya. Ailee duduk di ranjangnya diikuti Alferd, ia menyerahkan segelas air putih pada Ailee.


“Ceritakan semuanya pada ayah...”


“Tunggulah didepan Bunda akan kesana...” Ailee menuruti perkataan Astoria. Ia menunggu didekat kedua pintu bar sembari matanya mencari-cari wajah tak asing Bunda-nya.


“Nona Ailee?”


Dahi Ailee mengerut, ia berpikir keras ketika ia tak mendapati Astoria melainkan seorang pria berjas hitam yang malah mengetahui namanya, Ailee bahkan tak mengenal pria tersebut. Ia memundurkan langkahnya dengan waspada.


Tring!


Ponselnya bergetar didalam tas selempang Ailee. Ia merogoh tasnya mencari benda pipih yang masih tetap bergetar itu, sebuah panggilan dari Bunda-nya sedikit membuat Ailee lega. Ia dengan segera memencet tombol dial hijau dan mengangkat panggilan itu.


“Bunda... dimana?” Ailee bertanya tanpa basa-basi. Sesekali matanya melirik pria berjas hitam yang masih saja berdiri didepannya.


“Ailee pria itu akan mengantarmu ke Bunda... percayalah...” Astoria tak tau sesungguhnya untuk percaya pada ibu yang bertahun-tahun tak pernah menghubunginya adalah hal yang mustahil bagi Ailee. Bahkan setelah Ailee mendengar suara Astoria, sepertinya wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. Namun ada satu hal yang harus Ailee pastikan sebelum itu, meskipun entah apa yang akan dilakukan Bunda-nya kepada Ailee. Meskipun ia harus melanggar perjanjiannya dengan sang ayah untuk tak lagi menemui Astoria.


Ailee memutuskan mengikuti pria berjas itu. Tangan kanannya menggenggam tali tas selempang yang tersampir dibahunya dengan kencang, seolah menyalurkan rasa takutnya akan tempat yang dipenuhi hal-hal berbau sex bebas itu. Baru pertama kalinya Ailee masuk kedalam sebuah bar besar, ia sudah disuguhi pemandangan dimana setiap orang bebas bercumbu dan menyalurkan hasratnya tanpa malu, sesekali meliuk-liukan tubuh mereka mengikuti alunan musik yang membangkitkan urat-urat gairah. Ternyata beginikah dunia malam yang gelap itu?


Pria berjas hitam yang menuntun Ailee menghentikan langkahnya didepan sebuah pintu besar. Seorang wanita keluar dari ruangan itu, ia sedikit melirik Ailee memperhatikan wanita itu dari atas kebawah lalu mulutnya berkata ‘lumayan’ setelah itu Ailee tak tau lagi apa yang mereka bicarakan. Pria itu meminta Ailee mengikuti wanita betubuh ramping dengan rambut yang Ailee tebak adalah wig dan mengatakan bahwa wanita itu akan membawanya kepada Astoria.


Namun sepertinya sejak tadi Ailee hanya dioper-oper saja dengan alasan Astoria. Bahkan ia dipaksa mengenakan dress merah maroon ketat yang sangat tak nyaman ditubuhnya. Ia terlihat seperti wanita penggoda di bar ini sekarang.


“Nona Mia... sebenarnya dimana Bunda ku...?”Ailee berpura-pura panik, sejak awal Ailee diserahkan pada wanita yang ia yakini bernama ‘Mia’ itu Ailee tau mereka sedang menipunya. Tetapi Ailee masih penasaran, dimanakah Bunda-nya berada? Dan apakah alasan wanita itu meminta Ailee kemari? Ailee semakin yakin Astoria memang sedang tidak membutuhkan pertolongannya. Justru malah Ailee yang terjebak dilubang harimau sekarang.


Mia terlihat tersenyum. “Maksudmu... Astoria itu? Kau terlihat begitu percaya sekali dengannya... bahkan masuk kemari tanpa takut apapun...” Mia menghampiri Ailee, ia akan membisikan sesuatu ke telinga Ailee, “Ailee... itukah namamu... Astoria tidaklah sesederhana yang kau kira... tidakkah Tuan Alferd memberi tahumu?”


Ailee terkejut kala Mia menyebutkan nama ayahnya. Ia bingung bagaimanakah wanita dari bar ini bahkan juga tahu nama ayahnya, “Ka-kau tau ayahku?”

__ADS_1


“Tentu saja tahu dia kan yang membel—ups...” Mia menutup mulutnya dengan satu jari dengan sengaja, “Hampir saja aku keceplosan... dengar Ailee sekarang ini kau ada ditanganku... Bundamu yang baik itu telah menggadaikan putrinya sendiri demi hidupnya... Jadi jangan banyak berharap kau bisa bertemu Astoria sebaliknya kau harus melayani pelangganku dengan baik ya...”


“Maksudmu apa hah? Dimana Bundaku?”


“Aku kan sudah bilang Bundamu itu tak akan datang... sejak awal dia tidak ada disini dia hanya ingin menukarmu dengan uang ingat itu...”


Ailee menatap Alferd dengan mata sembabnya. Ada banyak pertanyaan di benak Ailee yang menuntut berbagai jawaban. Kembali ia ingin mengetahui alasan apa yang sebenarnya membuat Alferd mengusir Astoria dan bercerai dengan wanita itu. Ailee hanya tahu bahwa memang sejak dulu hubungan antar keluarga kecilnya sudah amat berantakan mereka bahkan sampai tak peduli akan kondisi mental Ailee yang seharusnya tak melihat itu semua.


“Ayah... sebenarnya apa alasan ayah pisah sama Bunda? Siapa Bunda yah?” Ailee bertanya dengan keputus asaan. Bingung rasanya memutar adegan demi adegan ketika Mia, wanita yang bahkan tak pernah Ailee lihat mengetahui siapa ayah dan ibunya. Juga kondisi Ailee yang terlalu kecewa akan Astoria, Ia menukar Ailee dengan uang? bolehkan Ailee percaya akan hal itu.


“Kami hanya tak cocok saja Ailee... sudahlah sekarang kau istirahat dikamar ini dulu...” Alferd menolak memberi Ailee jawaban. Ia menghindari tatapan mata putrinya.


Namun Ailee engan menyerah, rasa penasaran menggerogotinya, bagaimanapun Ailee harus tau penyebab Astoria tak pernah bersikap selayaknya ibu bagi Ailee pasti itu ada hubungannya dengan sang ayah, “Ayah... jawab pertanyaanku... mengapa kalian berpisah?”


Alferd mengusap rambut Ailee, ia menyelipkan sisa-sisa anak rambut ke belakang telinga putrinya itu dengan sayang, “Ailee... tidurlah. Saat ini belum saatnya kau mengetahui tentang kami.”


“Tapi kenapa yah? Kenapa? Apa yang kalian sembunyikan dari Ailee?”


“Mengapa harus Ars lagi... Ailee sudah bilang tak akan pernah rujuk dengan Ars...” Ailee berucap lirih dengan nada penekanan disana.


Alferd meninggalkan Ailee. Membiarkan putrinya termenung diatas ranjang dengan banyak jawaban yang tak akan pernah Ailee temukan. Diam diam dalam hati Ailee menjawab pertanyaan Ailee mengapa wanita itu harus kembali pada Ars? ‘Karena jika tidak begitu kamu tak akan pernah menemukan tempat bersandar, Ailee. Di saat kamu mengetahui semuanya. Kamu hanya akan terluka. Jadi biarkanlah ayahmu ini egois sebentar untukmu...’


Pria itu merogoh saku celananya, mengambil benda pipih bewarna hitam. Ia menyalakan ponselnya dan mencari-cari nomer seseorang. Alferd menelpon orang tersebut sembari menjauh dari kamar Ailee yang sudah tertutup.


“Temukan Astoria.”


[]


Satu-satunya yang paling membuat Aiden marah dan kesal adalah ketika seseorang meminta bantuannya disaat pria itu diambang memasuki dunia mimpi. Sedikit lagi Aiden akan tertidur dengan nyenyaknya lalu tiba-tiba saja sebuah suara bel Apartemennya berbunyi nyaring, suaranya begitu menuntut dan bising membuat telinga Aiden muak mendengarnya.

__ADS_1


Ia bangkit dari posisi telungkupnya dengan kesal sembari menghentak-hentakan kakinya seperti anak perempuan yang kesal sesuatu direbut darinya. Dengan semangat 45 Aiden bersumpah sarapah dalam hati setelah ia membuka pintu, ia akan menendang wajah seseorang yang beraninya menekan bel Apartnya ditengah malam.


Nit


Ia hendak berancang-ancang. Satu tangannya membuka pintu Apart yang kokoh. Muncul sosok yang amat dikenalnya, Algamma. Bocah brengsek yang tak lain adalah sahabat sekaligus anak dari bosnya itu. Aiden gagal minta menendang Gamma dengan kakinya yang sudah gatal, menendang bocah itu hanya akan membuat Aiden lebih babak belur belum ancaman gaji dipotong.


Gamma masuk begitu saja sebelum sang tuan rumah mempersilahkan masuk. Hal itu merupakan kebiasaannya saat bertamu dengan Aiden namun Gamma malah tak suka bila Aiden masuk kerumahnya dengan serampangan.


“Aku tidur disini saja...” sautnya dengan santai. Gamma berjalan dengan begitu ringan ke kamar Aiden dan hendak menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang empuk yang ia rindukan itu. Namun Aiden menghentikannya dengan suara kesal.


“Tidak boleh!! Kau punya rumah pulang saja sana!!” Gamma tak menggubrisnya. Ia langsung berbaring dengan enak di ranjang tersebut, menutup kelopak matanya yang lelah seharian ini ia begitu frustasi menjalani hari-harinya.


“Emmh.. jika tidak boleh... kau tidurlah dirumahku, aku pinjam sebentar apartmu ini...” gumam Gamma dan Aiden hanya bisa pasrah sembari menahan kekesalannya yang sudah dipuncak. Menghadapi ayah Gamma yang juga seenaknya membuat Aiden menggila ditambah kali ini putranya yang juga sama persis dengan sang ayah. Aiden merasa ia akan mati muda sekarang.


“Minggir.”


Bugh


Dia menendang Gamma dengan keras, memang berniat membuat pria itu terjatuh dari ranjangnya, “Badanmu bau alkohol, jangan berharap tidur diranjangku.” Aiden langsung menjatuhkan dirinya diranjangnya yang luas. Ia melebarkan kedua kaki dan tangannya membentuk huruf X agar Gamma tak mengambil ranjangnya. Ini adalah hak milik.


[][]


Jempolnya sayang sayang :*


I Luv U 10.000


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2