
“Dokter!!! dokter!!!”
Tiba di rumah sakit Gamma tak henti-hentinya berteriak dan semakin menaikan suaranya. Ia tak mempedulikan orang-orang yang terganggu dengan teriakan atau kelakuannya yang tiba-tiba datang seenaknya. Pria itu terus berjalan tanpa tau arah, ia terus mencari seseorang yang bisa menolong istrinya, seseorang yang bisa membuat Aileenya kembali bangun dan membuka matanya lagi. Gamma ingin menemukan orang itu ditengah keramaian rumah sakit.
“Maaf tuan, sebelum memeriksa kondisi istri anda, anda harus terlebih dahulu mengikuti prosedur rumah sakit...” seorang wanita yang terlihat memakai baju serba putih dengan topi dikepalanya menghampiri Gamma yang kian panik. Gamma bisa menebak bila wanita didepannya ini adalah seorang suster/perawat.
“Tidak perlu. Cepat panggil dokter, istriku membutuhkan pertolongan!!”
“Tap—“
Gamma menatap suster itu dengan tatapan mematikan yang langsung membekukan mulutnya, “Kau tuli! dimana dokternya?! cepat panggil dia kemari! jika sesuatu terjadi pada istriku aku akan menutup rumah sakit ini!! termasuk memecat dan menghilangkan gelar perawatmu!” ia gelap mata. Membuat bukan hanya sang perawat dihadapannya yang bergidik ngeri tetapi semua orang yang melihat kemarahan Gamma. Kemarahan pria itu benar-benar nampak begitupun ancaman yang keluar dari mulutnya seolah mampu menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang mengusiknya.
Hingga seseorang dengan jas kedokteran berlari tunggang langgang dengan beberapa perawat lain yang mengekori. Mereka terlihat menghampiri Gamma dengan wajah yang ikut panik. Mereka panik karena kehadiran orang penting yang tak lain adalah Algamma Epsilon Canis beserta sang istri yang tak sadarkan diri di gendongannya.
“Tuan...”
“Dokter cepat! cepat selamatkan istriku dokter...” Dokter Alfina sedikit terkejut melihat seorang pria yang terkenal dengan keangkuhannya itu mengeluarkan nada permohonan dengan kedua mata yang sembap.
Tanpa diminta pun Dokter wanita itu dengan telaten menyuruh beberapa perawat membawa Ailee dan meletakan tubuhnya diatas brankar rumah sakit. Mereka segera membawa Ailee menuju ruang UGD tak lupa Gamma mengekori. Ia dengan erat menggenggam tangan istrinya tanpa berniat melepaskan. Kedua kelopak matanya dipenuhi bulir air mata yang terlihat menderas seiring pemandangan dimana Ailee tak kunjung membuka mata.
“Ailee...”
“Tuan silahkan tunggu disini...”
“Sus, tidak bisakah aku ikut kedalam? aku ingin menemani istriku... bagaimana jika dia membutuhkanku sus?” bodoh memang, bagaimana Ailee akan membutuhkannya jika wanita itu sendiri tak sadarkan diri. Namun kembali pada Gamma, keiinginannya memastikan Ailee baik-baik saja lebih besar dari segalanya.
“Tidak bisa tuan, silahkan anda tunggu disini dulu.”
__ADS_1
Tetapi pada akhirnya Gamma hanya bisa memandang Ailee yang tak lagi terlihat. Pria itu mau tak mau harus menunggu dengan berbagai pikiran buruk yang berkecamuk dibenaknya. Kenangan Mikaily yang juga meninggalkannya setelah melahirkan Alpha membuat ketakutan itu semakin membludak. Mungkinkah tuhan kembali ingin merebut satu-satunya kebahagiaan Gamma? mungkinkah tuhan kembali ingin membawa wanitanya pergi?
Bugh bugh bugh
Tangan pria itu terkepal erat memukul tembok rumah sakit yang terlihat keras. Dia membiarkan tangannya memar dan berdarah jika memang itu mampu menghapus semua rasa frustasinya, “Bodoh... bodoh... bodoh...” Gamma memaki dirinya sendiri sembari menjabak rambutnya. Ya ia merasa menjadi suami yang paling bodoh kini. Tak peduli seberapa besar cintanya pada Ailee, Gamma tetap tak bisa menjaga dan melindungi wanita itu dengan baik.
Semua kecelakaan yang Ailee alami hari ini semua karena ulahnya yang tak becus sebagai suami dan calon ayah. Seharusnya ia tetap dirumah dan menemani Ailee meski dirinya sudah sembuh sekalipun. Seharusnya ia menomorsatukan Ailee dan membuang semua kesibukannya.
Puk
Disaat Gamma asik menyalahkan dirinya sendiri. Aiden sudah tepat berada dibelakangnya, pria itu menepuk bahu sahabatnya dan melihat wajah sedih yang begitu kentara terlihat pada sosok Gamma. Wajah yang setelah 5 tahun terakhir tak pernah muncul lagi, bahkan semakin tak terlihat semenjak hadirnya seorang Ailee Kanedy dalam hidup pria itu. Namun kini, tak bisa Aiden bayangkan jika pria didepannya ini harus kembali merasakan kehilangan. Mungkin mati lebih baik. Aiden sungguh menyesal mendoakan Gamma kembali menduda, tuhan malah membuat Ailee diambang kematian bukannya berselingkuh.
“Minumlah,” Aiden memberikan sebotol air mineral yang sempat dibelinya sebelum menyusul bossnya itu. Ia tau Gamma saat ini sedang dalam kondisi terkejut dan frustasi, setidaknya dengan minum air mineral mampu mengembalikan ketenangan pria itu.
Tetapi kelihatannya Gamma menolak, ia mengembalikan botol itu kepada Aiden, “Aku tak bisa tenang hanya dengan minuman... aku hanya bisa tenang bila Ailee baik-baik saja dan segera membuka matanya lagi...”
“Dia pasti akan baik-baik saja Gamm,” Aiden meyakinkan Gamma, “Aku sudah mengabari orang tuamu dan Valery, mereka akan segera sampai...”
Drap drap drap
Ucapan Gamma terpotong seiring dengan perhatiannya yang teralih kepada sosok sang ibu yang berlari ke arahnya begitupun dengan sang ayah juga adik ipar yang membawa Alpha digendongannya. Gamma pun beranjak, insting manjanya keluar begitu saja sehingga membuat dirinya langsung memeluk Ellen.
“Mom... Ailee... mom...” pria itu kembali meneteskan air matanya. Sedangkan Ellen ia ikut bersedih melihat kondisi putranya yang terlihat menyedihkan dan rapuh. Gamma benar-benar terlihat kacau dengan kemeja yang dipenuhi noda darah juga rambutnya yang tak lagi tertata. Sungguh melihat hal itu juga mengacaukan hati Ellen sebagai seorang ibu. Ia juga sama-sama dilanda ketakutan mendengar berita Ailee, ia takut kehilangan sang menantu untuk kedua kalinya. Hati ibu mana yang sanggup jika harus melihat putra mereka hancur lagi.
Ellen mengusap-usap rambut putranya pelan, “Sabar Gamm, kita doakan Ailee juga anakmu, semoga mereka selamat...”
Kriet
__ADS_1
Pintu UGD terbuka mengalihkan segala pandangan dan fokus setiap orang. Gamma dengan tergesa menghampiri sang dokter yang keluar dari ruangan UGD. Dokter itupun sudah mulai bersiap dengan berbagai pertanyaan yang akan dilontarkan keluarga.
“Dok... bagaimana?”
Dokter itu terdiam sejenak, “Hmm... begini tuan, nona Ailee mengalami pendarahan hebat karena benturan yang saya bisa tebak bahwa beliau terjatuh dari sesuatu atau karena sesuatu,” Gamma mendengarkan dokter wanita itu begitu teliti seolah tak mau melewatkan sesuatu, meski itu artinya dia harus menyiapkan hati dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, “dan kita harus melakukan tindakan oprasi untuk mengeluarkan kedua bayi yang ada di rahim nona Ailee, dan saya ingin meminta persetujuan dari anda sebagai suami nona Ailee...”
“La—lakukan yang terbaik dok, selamatkan mereka...”
“Saya akan melakukan yang terbaik sebagai seorang dokter. Tapi ini juga menyangkut nyawa, apakah anda benar-benar akan menyetujui hal ini? karena bagaimanapun kedua anak anda belum waktunya untuk dilahirkan. Mereka bisa mengalami hal buruk bila dikeluarkan sebelum waktu melahirkan...”
Gamma kembali menjabak rambutnya, ia kembali frustasi. Berita itu mengejutkan bagi dirinya, seperti tuhan telah sengaja membuat pilihan yang berat untuk seorang Gamma, “Dokter.. istri saya? lalu bagaimana dengan istri saya?”
“Ya?”
“Istri saya bagaimana?! dia bisa kehilangan nyawa kapanpun... jika bayinya tak segera dikeluarkan!” pria itu kembali memakai emosinya, dengan erat ia memeggang bahu dokter wanita itu. Ellen yang melihat kemarahan putranya beralih menyentuh bahu Gamma, berharap pria itu bisa berpikir jernih.
Gamma memandang ibunya lalu kembali memandang dokter itu, “Tolong... tolong dokter hiks... tolong mereka... saya tak bisa mengorbankan apapun lagi...” semua yang mendengar tangis pilu itu merasakan kesedihan yang Gamma rasakan, “jika nyawa saya memang diperlukan... maka saya bersedia mati kapanpun... tapi tolong hiks... selamatkan ketiganya... selamatkan istri dan kedua anak saya...”
Dokter Alfina tersenyum tipis, ia juga ikut terharu, sangat terlihat sekali bahwa pria dihadapannya sangat sangat mencintai sang istri, “Baiklah, saya akan mengerahkan usaha yang terbaik untuk ketiganya...”
“Semoga doa dan permohonan tuan mampu didengar... saya yakin nona Ailee pun tak ingin meninggalkan anda...” dokter itu menepuk bahu Gamma. Ia sedikit memberikan semangat pada pria rapuh itu lalu kembali melenggang pergi untuk mempersiapkan oprasi besar-besaran bagi pasien pentingnya. Pasien yang selama beberapa hari ini menemani kesehariannya dengan menebar cerita, cerita yang membuktikan betapa besar cintanya pada Algamma.
“Saya sangat mencintai suami saya, dokter.”
[]
Hallo selamat malam reader...
__ADS_1
How are you? baik-baik aja pastinya hehe
Happy reading, semoga kalian suka ya. See you...