
2 hari telah terlewati. Ailee tak menyangka selama hari itu ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk merawat suaminya yang demam. Meskipun Gamma kadang kala masih menolak bantuannya, ia maklum karena memang dalam kontrak Ailee tak perlu melalukan kewajibannya sebagai istri Gamma bahkan sampai harus merawat pria itu.
Dan berkat waktu panjang yang meskipun tak berarti di Maldive. Mereka berdua menjadi dekat, ada sedikit perkembangan antara keduanya. Gamma yang memang sejak meninggalnya Aily tak pernah lagi merasakan masakan rumahan selain buatan ibunya kini merasakan kehangatan itu kembali dengan masakan Ailee. Seolah Aily memang ada disini.
Sedangkan Ailee, dia sudah banyak mengerti tentang Gamma. Insiden mati lampu kemarin memang sempat mengejutkannya, pria yang berumur hampir berkepala 3 hampir pingsan hanya karena saklar listrik mendadak mati. Ailee sempat penasaran akan penyebab pria sesempurna Gamma roboh karena trauma kegelapan. Namun sepertinya sebanyak apapun ia memancing Gamma untuk menceritakan pria itu selalu membangun tembok sebanyak mungkin. Dia bilang Ailee tak perlu tau banyak hal tentangnya karena nantinya itu akan merepotkan.
Hari ini suhu tubuh Gamma sudah mulai membaik. Ia tengah duduk diatas balkon menghadap kearah matahari. Pria itu tak mau ketinggalan moment dimana sejak dulu menjadi rutinitasnya bersama Aily. Menikmati saat-saat matahari akan terbit dan sinarnya menyinari wajah mereka. Namun hanya satu yang kurang kini Aily tak ada lagi disini tak ada lagi disampingnya.
"Al..."
Gamma menoleh mendapati Ailee berdiri diambang pintu antara balkon dan kamar mereka. Ia berpakaian santai dengan jaket abu yang terbuka dipasangkan dengan celana jeans ketat selutut. Pria itu menatap heran kepada Ailee, karena pakaian wanita itu yang lebih terlihat ingin keluar.
"Kau mau kemana?" Tanya Gamma yang memang penasaran.
"Aku... " Ailee menyunggingkan senyumnya karena Gamma bertanya, biasanya Gamma tak pernah mau tau urusannya, "Mau keluar."
"Aku tau kau mau keluar, tapi kemana?" Baru sebentar Ailee dengan mudahnya membuat Gamma geram.
"Aku bosan mengurusimu terus jadi hari ini aku ingin ke pantai dan menikmati teriknya matahari disana. Itu lebih menyenangkan dari pada dibalkon rumah."
Gamma menusuk tajam Ailee dengan tatapannya, "Aku tak memintamu mengurusiku."
"Tapi aku kan Istrimu Al. Apa salahnya merawat suami yang sakit..."
"Ailee kau tau betul kita bukanlah suami istri pada umumnya. Jika kau ingin membuatku berutang budi katakan saja tak perlu membawa ebel-ebel status istri..." Sindir Gamma yang memang tepat mengena untuk Ailee. Niat wanita itu seolah mudah dibaca oleh Gamma namun tak semuanya benar, Ailee hanya ingin bisa lebih dekat dengan pria itu.
__ADS_1
Ailee memajukan langkahnya hingga benar-benar ada dibalkon. Ia duduk dihadapan Gamma yang juga memandangnya, "Al... kau tau jugakan dulu saat aku mencari calon suami aku benar-benar ingin menikah dengannya dalam artian selamanya. Harapanku sampai sekarang masih sama seperti yang dulu. Aku mencoba untuk merubah pikiranmu bagaimanapun akan ada banyak yang terluka saat kita berpisah..." Ailee beradu pandang dengan suaminya itu. Ia memberikan mimik sendu berharap Gamma mampu mengerti niat baiknya.
"Aku tak peduli. Yang paling sakit hati saat aku menikahimu adalah Aily."
Ailee menghembuskan nafasnya seolah membuang semua kemuakannya pada Gamma dan mencoba lebih bersabar. Cinta memang menyenangkan namun juga membutakan. Ailee tak menyalahkan pria dihadapannya ini yang terlalu mencintai istrinya bahkan mungkin Ailee yakin saat Gamma mati pun dipikirannya hanya ada Aily. Kenapa Gamma tak mencoba egois memilih hidupnya, menjalani masa depan yang memang sudah terlihat didepan matanya. Mengapa saat Ailee merasa Gamma beruntung bisa merasakan cinta seperti apa tapi disitu juga Ailee merasa Gamma adalah pria termalang.
"Ahh.. sudahlah aku akan ke pantai saja. Aku sudah membuatkan sarapan di pantry. Jangan lupa minum obatmu..." Ailee membuka jaketnya sepenuhnya hingga terlihat bra mini yang menutupi dadanya.
"Tunggu aku akan ikut." Ailee terbengong karena ucapan Gamma barusan, ia benar-benar tak salah dengar, "Ganti pakaianmu juga." Gamma melirik tubuh Ailee.
"Kenapa harus diganti.?"
"Ganti atau kau lebih memilih memakai lingeria dikopermu itu?"
Ailee akhirnya memutuskan berganti sambil mendumel. Disatu sisi ia kesal disatu sisi ia juga malu karena Gamma membahas soal pakaian itu. Ailee takut jika Gamma salah menduga, hingga mengira Ailee memang sengaja menggodanya dengan membawa tumpukan Lingeria dalam bulan madu mereka. Pria itu selalu lebih mudah salah paham padanya.
[]
Seharusnya saat ini Ailee tengah menikmati keindahan pantai dengan usahanya setelah berjogging disore hari. Namun dengan adanya Gamma disisinya membuat jiwa penantangnya keluar dan menantang pria itu. Ia memanasi Gamma agar mau lomba lari dengannya, karena Ailee kira stamina pria itu berkurang karena habis demam. Tapi dugaannya salah kini Ailee kalah telak dan malah membuang seluruh sisa tenaganya.
"Hosh... Al aku hosh... be--benar-benar lelah...." ujarnya dengan putus asa sembari masih berusaha berlari gontai menyusul Gamma yang bahkan tak menghentikan kecepatan larinya.
"Astaga dasar tak punya hati." Gumam Ailee dengan lirih. Ia menyesal menjahili pria yang lebih menyeramkan bila ditantang. Ailee lupa pada fakta bahwa Gamma juga bisa menjelma sebagai iblis serupa malaikat.
Dug! Brak!
__ADS_1
"Ahhh!!"
Saat Ailee sibuk mengumpati Gamma. Tanpa sadar pandangannya teralihkan hingga membuatnya tak fokus melihat jalan. Ia jatuh tersungkur karena pembatas pantai yang ada didepannya. Ailee meringis pelan dan memukul pembatas itu karena bersalah padanya. Namun tindakannya yang seperti itu membuat wanita itu menarik perhatian semua orang karena kecerobohannya. Ailee merona karena malu.
Ia mencoba bangkit dari posisi duduknya, "Ahh..." Ia meringis pelan dan menyadari bahwa satu kakinya terkilir ditambah kedua lutut Ailee terlihat memar dan berdarah.
Ailee kebingungan, ia mencari Gamma namun pria itu menghilang dari pandangannya. Saat ini Ailee ingin pulang tapi mengingat perjalanan apartnya yang lumayan membuat Ailee mengurungkan niat karena kondisi kakinya. Ia ingin menyalahkan Gamma tapi itu juga salahnya karena mencoba mencari masalah dengan pria tak punya hati itu.
Untungnya saat ini dihadapan Ailee sunguh-sungguh terbentang pantai yang indah dipandangan mata. Ia mencari dudukan dan menatap langit yang mulai terlihat terik. Ia berandai bahwa saat ini adalah sore dimana ia bisa memandang keindahan senja hingga sinarnya menerpa wajah.
Ailee jadi menyesal baru sekarang ia punya waktu untuk melakuakan refresing. Dulu Ailee hanya menyibukan diri agar melupakan hal-hal yang dia inginkan yang sudah dipastikan tak akan pernah terwujud. Dan hanya saat menikahi Gamma lah Ailee bisa menikmati waktu seperti ini.
"Jadi kau menyerah dan meninggalkanku untuk bersantai disini...." Tiba-tiba Ailee mendengar suara bariton Gamma. Tinggi pria itu menutupi sinar matahari yang mengenai wajah Ailee. Membuat Ailee mendongak hingga bertubrukan pandang dengan Gamma. Keduanya saling bertautan.
Ailee lebih dulu memutuskan kontak mata mereka, "Al... maaf, aku terjatuh saat mengejarmu tadi..." ujarnya sambil menunduk. Gamma melirik kedua kaki Ailee terlihat kedua lutut wanita itu mengeluarkan darah.
"Dasar wanita ceroboh..."
Ailee menatapnya garang, "Kau! Padahal kau sendiri yang tak punya hati meninggalkanku..." Ailee mengerucutkan bibirnya.
"Kau yang menentangku nona... " Gamma berjongkok memandang Ailee dengan senyuman meremahkan yang tersungging dibibirnya. Ia merasa menang.
"Al..." Ailee memajukan wajahnya jadi beberapa centi dari Gamma, "Tidak bisakah kita berdamai selayaknya suami istri, atau menjadi teman pun tak masalah...."
[][]
__ADS_1
Hi aku up. Maaf all aku lagi buntu ide jadi seadanya gini wkwkwk. kemarin satu hari aku pake mabar game sama adekku dan terlalu asik wkwkw sorry.