MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Datangnya Pengusik


__ADS_3

Algamma Epsilon Canis. Pria itu berdiri diam menatap birunya langit Indonesia yang mengelilingi pandangan mata. Kakinya berpijak tepat diatas Helipad, tempat mendaratnya Helikopter pribadi milik keluarga Canis. Helipad ini tepat berada di gedung besar, Canis Kingdom. Sedikit membuat Gamma menurunkan rasa kesalnya yang belum hilang sejak 4 jam yang lalu, dengan sang ayah mengirim Helikopter pribadi untuknya tentu saja itu akan menghemat tenaga pria itu. Akan sangat anjlok mood Gamma bila harus disuruh menaiki pesawat kelas ekonomi dan harus naik kendaraan lagi untuk ke Canis Kingdom.


Gamma menyisir rambutnya yang terlihat acak-acakan karena angin yang dihasilkan baling-baling Helikopter disampingnya itu. Tangan kanannya ia angkat mengkode sang kopilot yang masih ada didalam cockpit segera mematikan mesin helikopter disampingnya. Sang kopilot segera menuruti perintah Gamma.


Drap drap drap


Netra Gamma yang terlihat bersinar karena pantulan cahaya matahari memandang seorang pria berjas formal yang berlari ke arahnya. Dia Aiden, pria blasteran korea-indo yang menjadi Asisten sang ayah beberapa tahun terakhir. Umurnya hanya lebih satu tahun dari Gamma dan kebetulan Aiden juga sahabat pria bermarga Canis itu. Aiden terlihat tergopoh-gopoh menghampiri Gamma.


“Hosh... untung saja kau cepat datang Gam hosh...” pria itu terlihat kesusahan berbicara, “Jika telat sedikit lagi... semua akan kacau.”


Gamma terlihat menyatukan kedua alis tebalnya, menunjukan wajah bertanya-tanya pada Aiden, “Ada apa?”


Aiden terlihat berdiri tegak dengan tangan kiri mengusap peluh keringat yang bercucuran didahinya. Hari ini matahari begitu terik dan menyengat. “Ayahmu itu... selalu seenaknya, didepan para pemegang saham dia mengatakan hari ini akan pensiun. Jantungku sampai akan copot mendengar si paman tua itu bicara dengan begitu santai.” Protes Aiden yang dimengerti Gamma.


Bukan hanya Aiden yang asisten pribadi sang ayah yang kesal, Gamma pun dibuat uring-uringan dengan tindakan gegabah Adam—sang ayah—pria itu bahkan tanpa persiapan dipaksa untuk pulang ke Indonesia. Mau tak mau Gamma harus siap.


“Ayo turun...” Gamma berjalan untuk segera menuju tangga dan menghampiri sang ayah, pria itu pasti sedang bermanja di ruangan direktur utama.


“Tunggu dulu!” Aiden menghentikan langkah Gamma, “Kau yakin mau kesana?” pria itu kini terlihat amat menjengkelkan dimata Gamma. Senyuman jahil Aiden tersungging begitu saja.


“Jangan basa-basi padaku, Aiden.”


Sebelum Gamma kembali menggerakan kakinya, lagi-lagi Aiden menahan, “Ada apa lagi sih!!” Gamma membentak. Ia mulai kesal lagi sekarang.


“Yasudah turun saja sana.” Melihat nada dan wajah Aiden yang terlihat mengejeknya membuat Gamma geram, namun saat ini bukan waktunya untuk meladeni bocah itu. Gamma dengan kesal meninggalkan Aiden sebelum kakinya berhenti lagi karena teriakan Aiden yang menggema dan meluncur di pendengarannya.

__ADS_1


“Dibawah selain drama pensiun ayahmu itu juga membawa Ellisha loh!! Kandidat calon mantu kedua!!”


“Shit!!” Pengusiknya datang.


[]


Rumah besar dengan nuansa classic dan terlihat begitu megah itu nampak sepi. Ailee membuka gerbang rumah itu dan melangkahkan kaki jenjangnya ke depan dua pintu besar dengan corak naga terukir. Wanita itu mengusap-usap kedua bahunya yang tersentuh udara malam. Dengan wajah terlihat ragu ia membuka kedua pintu itu.


Krek


Bunyi berderit sedikit membuat Ailee ketakutan. Ia takut orang didalam rumah ini mengetahui dirinya. Ia berjalan dengan langkah pelan bahkan tak meninggalkan bunyi kaki, tangannya yang tiba-tiba berkeringat dingin mengenggam dress ungu  seletut yang ia pakai.


“Masih ingat pulang kamu!” nafas Ailee mendadak seperti berhenti. Suara bariton yang begitu menyeramkan membuat rasa takutnya semakin dalam dan mendadak membuatnya tercengang.


“A—ayah.” Suaranya bahkan terdengar seperti tikus terjepit. Ailee Kanedy, seperti baru ditangkap basah menjadi maling dirumahnya sendiri.


“Ayah kira anak ayah sudah mati diluaran sana...” Alfred terlihat menyuarakan suaranya dengan begitu dingin. Ailee yang mendengar kata seperti itu terlontar dari mulut sang ayah semakin takut. Sejak Ailee kecil baginya Alfred hanyalah sosok ayah yang suka memerintah. Ailee menganggap Alfred adalah dewa penentu hidup dan dewa kematian, membuat wanita itu merasa hubungannya dengan Alfred tak seperti ayah anak biasanya.


Ailee memberanikan diri mendongak menatap muka ayahnya yang walau tampan tapi sangat sangat menyeramkan. Ailee benci mengapa dia harus memiliki ayah seperti Alfred, niatnya mengambil beberapa barang dan mengunjungi ayahnya diam-diam harus gagal karena ayahnya sendiri. “Ma—maaf ayah...”


“Maaf? Kamu sudah mengecewakan ayah dan hanya maaf yang ayah terima!” bahu Ailee bergetar takut ketika suara bariton ayahnya menggelegar, “Pertama, kamu cerai sama Arslan tanpa minta persetujuan ayah! 5 tahun menghilang dan gak pernah mau ketemu ayah! Sekarang kamu kembali hah...!” Alfred benar-benar tak tanggung memarahi Ailee seolah semua permasalahan yang timbul adalah karena putrinya itu, “Kalo kamu mau dapet maaf ayah... rujuk dengan Arslan!”


Perkataan yang terdengar seperti ancaman itu membuat Ailee kaget. Rujuk? Dengan Arslan? Itu adalah mimpi terburuk untuk Ailee. Walaupun bersama dengan Ars itu memang aman karena pria itu juga mengatakan dia mencintai Ailee, namun ada hal yang mengganjal yang sampai sekarang pun masih menjadi tanda tanya besar bagi Ailee. Apakah penyebab mereka berdua bisa bercerai? Dan mengapa Ailee sangat tak ingin kembali memulai semua dengan Ars. Semua begitu buram dalam ingatannya.


“Gak.. Ailee gak akan pernah mau rujuk dengan Ars!” Ailee berkata tegas, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Menolak mentah-mentah persyaratan ayahnya.

__ADS_1


“Kalau begitu jangan harap ayah menganggap  kamu sebagai anak ayah lagi!!” Alfred hendak meninggalkan Ailee, ia bahkan tak peduli bagaimana perasaan Ailee dan tak mau lagi mendengar penolakan putrinya itu. Ailee begitu berubah di mata Alfred, kemanakah hilangnya putri yang penurut itu, kemana hilangnya Ailee yang selalu mengatakan ‘iya’ untuk menyenangkan Alfred.


Air mata Ailee lolos begitu saja, rasanya kemarahan Alferd juga tertular kepadanya. Dikepalnya kedua tangan Ailee begitu kencang menunjukan betapa Ailee sangat muak dengan ayahnya. Alferd egois, “Ailee benci ayah!!!” suara Ailee melengking cukup membuat Alferd terdiam menghentikan langkahnya, “Ayah egois!! Dimata ayah aku cuma alat kebahagiaan yang bisa ayah pakai dan buang kapan saja kan? Makanya ayah dengan mudah minta Ailee rujuk dengan Arslan. Ailee berharap apasih...” senyuman penuh kesedihan terukir dibibir Ailee, “Seorang ayah yang hanya peduli harta harta harta mana mungkin bisa ngerti perasaan anaknya!!”


Plak


Suara tamparan yang begitu keras hinga membuat siapapun meringis mendengarnya langsung mengenai pipi putih Ailee. Ailee semakin menangis perih dipipinya tak pernah sebanding dengan perih dihatinya. Lihatlah betapa tak menyenangkannya keluarga Ailee. Lahir dengan bergelimang harta tak menjamin bahagia untuk Ailee, memiliki ayah dan ibu yang tak pernah peduli dengan dirinya..


“Tampar terus yah!!” Ailee semakin brutal, ia menunjuk pipi kanannya yang masih mulus tak seperti pipi kirinya yang sudah memerah, “Ayo tampar Ailee!! Seperti apa yang ayah lakuin ke mama!! Dengan begitu Ailee juga bisa pergi dari belenggu ayah!!” Ailee membentak Alferd. Namun nampaknya pria itu lebih terkejut atas perbuatannya sendiri.


Menampar Ailee. Tak pernah Alferd menginginkannya. Hal itu hanya akan membuatnya kembali mengingat bagaimana seluruh hidupnya hancur begitu saja. Bagaimana Ailee sendiri tak pernah lagi merasakan kasih sayang dari ibunya sendiri, karena Alferd lah yang mengusir sang istri. Astoria Kanedy. Seharusnya Ailee tak pernah lahir dari rahim wanita itu...


 [][]


Hi hi. Gimana? gimana? lanjut gak nih?


Jangan lupa tombol jempol di klik ya biar makin ambyar


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2