MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Singkirkan Saja


__ADS_3

Brakk


Suara pintu yang terpelanting terdengar mengagetkan siapapun yang ada didalam ruangan kala itu. Ellish dengan mata nyalangnya menatap sang ibu yang begitu santai duduk dihadapannya. Ia menghampiri Astoria dengan langkah lebar, dan wajah penuh amarah.


“Ohh lebih cepat dari dugaan...” disela itu Astoria masih menyempatkan menggumam sesuatu sambil tersenyum. Wanita angkuh itu seolah tau bahwa putrinya akan datang padanya dengan wajah semuram itu.


“Saranmu benar-benar bodoh!” Ellisha tak peduli bagaimana seharusnya seorang putri bersikap pada ibu kandungnya. Cukup baginya Astoria hanyalah sebagai rekan kerja sama untuk mendapatkan seorang Gamma, ia masihlah membenci sang ibu. Ditambah semua rencana yang wanita rubah itu buat sama sekali gagal, Ailee tak terusik dengan gambar-gambar tak berkesan yang tak meyakinkan. Mengetahui hal itu membuat Ellisha semakin muak dengan ibunya.


Namun ditengah rasa kesalnya Astoria malah tersenyum tipis, “Itu hanyalah awalan...”


“Cih... awalan saja sudah gagal bagaimana dengan rencana yang lain. Aku bodoh mempercayai rencana murahanmu itu...”


Astoria tak ambil hati akan perkataan putrinya. Ellisha memakinya lebih dari ini dan itu perlahan melatih rasa sabarnya, dalam hidup untuk meraih puncak kau harus berusaha sebaik mungkin meski harus diinjak untuk sementara. Itulah yang sedang Astoria lakukan demi mendapatkan segalanya, “Kau harus mengikutiku jika ingin mendapatkan Algamma, dengarkan mom...”


“Pernikahan mereka tidaklah sebaik yang kau duga. Kau hanya perlu membuat sedikit percikan api kecil untuk membakarnya..”


Ellisha mengeryitkan dahi tak mengerti, “Buatlah Gamma semakin membenci Ailee... karena sepertinya pria itu hanya berakting membuat keluarga bahagia...” Astoria itu tersenyum licik seperti ular. Ellisha merasa merinding melihat senyum itu, seolah menandakan bahwa ibu kandungnya sungguh tak biasa. Dia penuh misteri namun pikirannya terlihat begitu jahat.


“Lalu bagaimana jika tebakanmu salah dan gagal lagi?”


Astoria terkekeh menatap putri polosnya. Ellish memang sangat berambisi, namun sayang ambisinya digunakan hanya untuk hal yang kecil seperti cinta, “Jika gagal, bukankah ada cara yang lebih mudah...” Ellsih terlihat tak mengerti maksud ibunya, “Singkirkan saja orang yang menghalangimu..”


“Maksudmu kau menyuruhku membunuh Ailee? Bukankah dia putrimu?”


“Menyingkirkan satu putri tidak akan merugikan mom Ellish... lagipula bukankah kau juga pernah berusaha menyingkirkan seseorang...” Saat itulah Ellish sadar. Rupanya seperti inilah sosok ibunya. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan apapun yang ia mau sama seperti dirinya.


[]


Terkadang belajar memaafkan dan berjuang beberapa kali itu sungguh melelahkan. Butuh waktu untuk berdiri sedangkan dibelakang kita banyak panah yang menusuk dan melukai. Rasanya begitu sakit seolah membuat kita didetik itu seperti mati. Sama seperti Ailee, wanita itu merasakan dirinya bisa mati kapanpun dengan cinta. Banyak pengorbanan dan tangis yang membuat Ailee semakin lelah dan menyadari bahwa tak seharusnya ia begitu terobsesi mendapatkan cinta dalam hidupnya.

__ADS_1


Namun tetap saja wanita itu terus melangkah maju meski jiwanya begitu tertatih melakukannya. Ia membuka pintu dimana putranya, Alpha berada. Pria kecilnya itu begitu rapi dengan seragam playgroupnya sambil tersenyum bahagia ketika melihat Ailee, seolah seperti melihat bidadari menghampirinya. Berjuang itu memang melelahkan tapi hasil yang ia dapatkan karena itu semua bisa lebih besar dari perjuangannya. Ailee tak lagi berusaha untuk mendapatkan cinta Gamma tapi ia juga tak ingin membiarkan Gamma terus bertahan dengan cinta lamanya. Pria itu harus memulai hidup yang baru.


“Alpha mommy hari ini sangat-sangat tampan...” ucapan Ailee membuat Alpha terkekeh kecil. Rasanya senyuman Alpha kecil selama Ailee ada tak pernah absen dari bibirnya. Alpha terlalu bahagia memiliki ibu terbaik seperti Ailee. Tuhan memanglah adil ketika seorang anak seperti Alpha yang begitu kecil mulai belajar merelakan meninggalnya ibu kandungnya, ia juga harus merelakan tak mendapat kasih sayang Gamma tetapi sebagai pengganti itu semua tuhan kirimkan ibu sambung yang begitu menyayangi Alpha.


“Mom... apa yang Alpha dapatkan disekolah...?”


Ailee tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir kecil Alpha, “Teman, sama seperti Alpha mendapatkan mommy, disana akan banyak yang menyangi Alpha...”


“Benarkah? apa teman itu tak akan menjauhi Alpha karena Alpha tak pernah berlibur bersama orang tua? apa teman itu juga tak mengejek Alpha karena Dad tak pernah sayang Alpha?” Alpha menunduk dalam. Di ingatan kecilnya ia pernah memiliki seorang teman, tetapi semua itu menghilang seiring tak sempurnanya keluarga Alpha.


Ailee membawa wajah Alpha menatapnya, “Sekarang Alpha punya mommy, kalau ada yang mengejek sayangnya mommy katakan saja kalau Alpha punya mommy...”


Alpha mengangguk, “Emm mommy terbaik sedunia...” Ailee tersenyum senang. Namun senyuman itu luntur ketika perutnya berputar, gejolak rasa mual semenjak kehamilan mulai menghampirinnya pagi ini. Morning Sickness, Ailee bukannya merasa lelah dengan itu semua, ia bahagia karena ada bahagia yang lain yang tuhan berikan padanya. Alpha juga calon anaknya. Tak ada yang lebih penting dari itu.


“Mommy ada apa?” tanya Alpha melihat wajah Ailee begitu pucat.


Namun Ailee tak langsung menjawab, ia langsung berlari kearah kamar mandi kamar Alpha berada. Ia memuntahkan cairan bening yang seperti biasanya. Dan setelah itu Ailee sedikit merasa lemah. Ia menghampiri Alpha, “Ayo Alpha sekarang kita berangkat...” ia masih tersenyum tipis meski bibirnya rasanya begitu berat untuk sekedar tersenyum.


Brak


Suara pintu rumah yang terbuka membatalkan niat Ailee dan Alpha untuk melangkah. Dibalik pintu yang terbuka sosok tinggi menjulang Gamma muncul dihadapan Ailee. Semenjak Gamma mengetahui segala yang Ailee sembunyikan, termasuk menuduh hubungan dirinya dengan Ars masih berlanjut. Pria itu sama sekali tak pernah pulang kerumah, sangat jarang Ailee melihat Gamma. Tapi kali ini pria itu dengan tanpa dosa merangkul seorang gadis asing yang tak Ailee kenal.


“Al siapa dia...?” tanya Ailee. Gamma menanggapinya dengan senyuman, “Dia? mainanku...” jawab Gamma begitu santai. Gamma membawa wanita itu mendekatinya, merangkul pinggangnya dengan mesra sembari pandangannya masih menatap Ailee. “Ada apa? Bukankah kau mau pergi...”


Ailee mengalihkan pandangannya menatap Alpha, “Alpha... bisakah kau ke mobil terlebih dahulu, nanti mom akan menyusul...” Alpha mengangguk pelan dengan senyum kecilnya. Keputusan Ailee membuat Alpha pergi adalah pilihan yang tepat,  ia tak mau membuat Alpha melihat hal yang tak sepantasnya ia lihat.


“Kau seenaknya membawa wanita asing bagaimana aku bisa pergi...” terlebih Gamma terlihat begitu mesra dihadapan Ailee. Pria itu seperti sengaja mempertontonkan semua dihadapan Ailee.


“Bukankah kau juga seperti itu? Bahkan kau mengandung anak pria lain dan masih dengan bebas berkeliaran dirumah ini... kau pikir aku tak muak melihatnya.”

__ADS_1


Ailee memberikan pandangan kecewa pada Gamma, pria itu benar-benar melupakan luka sebesar apa yang ia torehkan di hati Ailee, “Aku sudah bilang dia anakmu...”


“Terserah saja. Lagipula dengan kau hamil tujuanku akan segera terpenuhi dengan begitu kita bisa cepat menyelesaikan pernikahan busuk ini.” ujar Gamma dengan santainya, ia terus menyakiti hati Ailee dengan perkataannya itu. Disaat Ailee begitu ingin mempertahankan pernikahan seperti yang diinginkan ayahnya, Gamma malah menganggap bahwa ini hanyalah sebuah pernikahan busuk?


Pria itu melangkah hendak memasuki area dalam rumah, “Kau tak malu dengan mbak Aily!!” Ailee menghentikan langkah Gamma, “Bukankah kau sangat membenci orang asing masuk kedalam rumah ini? lalu kenapa kau dengan mudahnya membawa wanita asing itu memasukinya Al...”


“Jangan membawa-bawa Aily diantara kita, kaulah yang memulai melanggar semuanya... sudah kubilangkan cukup setahun! setahun jangan pernah mendekati pria lain tapi kau begitu tak tahan! Kau bahkan berani menipuku,” Gamma mencengkram erat lengan Ailee, “Lalu kau melarangku untuk melakukan hal ini... Aku seperti menemukan wanita ular sekarang...” Ailee melepaskan lengannya dari cengkaraman Gamma dengan paksa lalu...


Tep


Ia memeggang kedua rahang kokoh suaminya itu. Ia ingin Gamma memandangnya, “Lihat... lihat aku Al... aku tak menganggap pernikahan kita hanyalah sekedar perjanjian semata... aku tak peduli dengan tujuanmu itu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu...” Gamma tenggelam dalam tatapan itu, mata Ailee benar memancarkan cinta dan ketulusan dalam dasar hatinya dan membuat jantung Gamma berdebar sesaat, “Apakah ini tak cukup untuk menjelaskan semua hah?”


Set


Gamma melepaskan kedua tangan Ailee, “Cinta?? kau tau betul hatiku untuk siapa...”


“Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Kau memang tak pernah bisa mempercayaiku, bagimu diriku hanyalah perantara atas segala yang kau lakukan demi Aily. Jika memang kau tetap memaksa membawa mainanmu itu masuk...” Ailee menunjuk gadis asing itu, “Aku lebih memilih pergi... aku menyerah Al... aku menyerah padamu...” setetes air mata mengalir dari kedua kelopak mata Ailee. Membuat Gamma terdiam sesaat.


“Aku sangat berharap kau menghentikanku... tapi sepertinya itu mustahil...” Ailee berbalik hingga benar-benar pergi.


Deg


Dan entah mengapa melihat punggung kecil itu dengan rapuhnya meninggalkan Gamma. Ia merasakan perih. Hatinya ikut tertusuk ribuan jarum dengan kebingungan yang mendera. Gamma pernah merasakan mencintai Ailee walau sesaat dan semua itu menghilang ketika ia mengingat Aily. Ia sadar tak seharusnya ia melanggar sumpahnya untuk mencintai Aily selamanya. Namun mengapa rasa itu semakin menguat, seolah cinta Gamma untuk Ailee memanglah sudah ada dan hanya terpendam sementara.  Rasanya sakit sekali melihat seorang Ailee Kanedy menangis seperti itu. Wanita itu seolah mengatakan ucapan perpisahan pada Gamma. Mengapa seperti ini?


“Gamm... apakah kita jadi bersenang-senang...?” wanita yang dibawa Gamma itu merangkuli Gamma. Namun dengan mudahnya Gamma mendorong wanita itu hingga membuat tubuhnya terpelanting dilantai.


Brugh


“Bersenang-senang apanya! Pergi kau dari sini!! Dasar ******* menjijikan!!”

__ADS_1


[][][]


 🤗🤗🤗


__ADS_2