MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Akan selalu memilih Dia


__ADS_3

“Al... ayo buka mulutmu...” Ailee duduk dihadapan Gamma dengan kedua tangan yang terangkat, satunya memeggang sebuah mangkuk berisi bubur dan satunya lagi memeggang sendok. Menyuapi Gamma sudah menjadi rutinitas utamanya semenjak sang suami kecelakaan. Pria itu tak mau menyentuh makanannya jika bukan Ailee yang melayani.


Hari ini nampaknya Gamma sedang dalam mood yang buruk. Pria itu terus menekuk wajahnya bahkan harus dipaksa membuka mulut baru mau memakan bubur rumah sakit, “Ayo... buka mulutmu Al, buburnya bisa dingin nanti...” tetapi Gamma tetap tak bergeming.


“Aku ingin masakanmu. Aku tak mau bubur rumah sakit, rasanya tak enak.” Ailee ingin sekali tertawa karena Gamma yang bertingkah seperti bocah kecil, tetapi ia harus menahannya. Akan bahaya menertawakan beruang kutub utara didepannya ini.


“Kau sedang sakit. Makan saja yang ada...”


“Kalau begitu aku ingin memakanmu boleh? sekarang hanya ada kau dan bubur ini. Aku hanya akan memilih kau saja sebagai makananku.”


“Sedang sakit pun kau tetap mesum. Aku tak mau tau kau harus menghabiskan bubur ini atau aku akan pulang sekarang!” Tak ada cara lain selain bertindak tegas pada Gamma. Pria itu benar-benar menjadikan ketidakberdayaannya sebagai kesempatan untuk bermanja pada Ailee. Padahal seharusnya Ailee-lah yang bermanja pada Gamma, namun malah kebalikannya.


“Baiklah. Tapi setelah aku menghabiskannya cium aku disini...” Gamma menunjuk bibirnya dengan tanpa malu. Sepertinya urat malu pria itu sudah terputus bila berhadapan dengan Ailee.


Plak


Ailee memukul pelan lengan kanan Gamma sengaja hingga membuat pria itu meringis. Mengapa orang hobi sekali menepuk lengannya yang terluka saat sedang kesal, ini benar-benar menyiksa Gamma. “Makan saja jangan terus beralasan...”


“Iya iya istri cantikku. Kau jadi galak semenjak hamil...”


Ailee tak menggubris ucapan Gamma. Ia terus menyuapi pria itu dengan kecepatan yang tak santai seolah menumpahkan rasa kesalnya. Tetapi Gamma hanya membiarkan hal itu. Terkadang ia menyukai momment momment ini, dimana Ailee menekuk wajah dengan bibirnya yang berkerucut. Itu merupakan pemandangan yang paling menggemaskan setelah pipi merona.


Tok tok tok


Sebuah ketukan pelan menarik perhatian dua pasangan suami istri itu. Ailee menunjukan wajah penuh tanya pada Gamma sedangkan Gamma memilih membuka suaranya, “Masuk...” Si empu yang mengetuk pintu ruang rawat inap Gamma itupun masuk. Dia adalah sosok Eizen dengan jas kebesarannya. Ia tersenyum menyapa Ailee lalu beralih ke arah Gamma.


“Kak Eizen... selamat datang...” Ailee menyambut kedatangan Eizen dengan sopan meskipun ia sendiri tak menyangka bahwa pria bermarga Mahony datang kemari untuk menjenguk Gamma bahkan tanpa Ellish disampingnya. Bukankah satu-satunya alasan keluarga Mahony mengunjungi sang suami hanyalah karena adiknya atau si Ellish itu menyukai Gamma.

__ADS_1


“Hi Ailee... bagaimana kabarmu?”


Ailee tersenyum manis menerima bingkisan yang diulurkan Eizen dengan senang hati, “Aku baik dan terima kasih  untuk bingkisannya...” Eizen mengangguk pelan. “Aku akan keluar sebentar. Kalian bisa saling mengobrol dulu...” Wanita itu mencoba memberi ruang untuk Eizen dan Gamma. Karena sepertinya kedatangan pria itu pasti bukan hanya sekedar ingin menjenguk suaminya semata.


“Kau mau kemana?”


Ailee memutar kepalanya memandang sang suami, “Mencari cemilan dikantin bawah juga udara segar. Supaya kesabaranku untuk menghadapi bayi besar disini bisa kembali lagi...” ia sengaja menyindir Gamma hingga membuat Eizen yang tak seharunya terlibat terlihat kebingungan.


“Baiklah. Hati-hati, jangan mencari brondong muda, bayi besar ini masih membutuhkan istrinya...” Gamma menanggapi sindiran Ailee sebelum sang istri benar-benar pergi dari ruang rawat inapnya.


“Duduklah Eizen...”


Eizen menarik sebuah bangku dan duduk tepat disamping Algamma, “Kau terlihat berbeda saat bersama Ailee.” Itulah yang Eizen simpulkan setelah melihat bagaiamana cara bercanda keduanya yang terdengar dekat. Seperti yang ia tahu dari Ellish, adiknya dulu pernah bilang bahwa Gamma sama sekali tak terlihat mencintai istrinya. Namun sekarang yang ia lihat justru kebalikannya.


“Apanya?” Gamma bertanya.


“Dia istriku Eizen. Jadi apakah aku harus tidak dekat dan tidak mencintainya?” Gamma sangat tahu betul jika Eizen memang terlihat heran dengan kedekatan Ailee dan dirinya. Karena bagaimanapun Gamma memang tak pernah menunjukan perkembangan hubungannya dengan sang istri didepan publik. Ia tak mau keluarganya menjadi konsumsi publik dan menjadi bahan pembicaraan yang belum tentu baik, “Aku sangat mencintainya melebihi diriku sendiri.”


Yang kini Eizen lihat adalah tatapan lembut dan penuh cinta dari mata Gamma. Pria itu benar-benar berubah sedemikian rupa bahkan saat berhadapan dengan Ellish sekalipun Gamma tak pernah menunjukan tatapan seperti itu, ia selalu bersikap dingin seolah hatinya tak bercelah untuk sang adik, “Ellish terbang ke London pagi tadi... Dia menitipkan maafnya untukmu juga Ailee...” ujarnya.


“Aku memaafkannya... katakan itu saat ia sudah tiba di London.”


“Semudah itu?”


Gamma melirik Eizen kini berganti dirinya yang terheran dengan pertanyaan Eizen yang terdengar aneh, “Memangnya aku harus melakukan apa? memasukannya ke penjara karena sudah berniat mencelakaiku dan istriku?”


“Kau sudah mengetahuinya?”

__ADS_1


Huft


Gamma menghela nafas, “Aku bahkan tau bahwa dialah yang telah memasukan obat perangsang untukku namun malah diminum oleh Ailee...” dan akibat dari itu Gamma mendapatkan keuntungan yang besar. Baru kali ini ia merasa berterima kasih atas perbuatan Ellisha, si gadis manja itu.


“Tolong maafkan semua kesalahan Ellisha. Aku bersedia menanggung ganti rugi atas semua yang ia perbuat padamu dan Ailee...” Eizen tiba-tiba berdiri tegak lalu menundukan dirinya dengan hormat kepada Gamma. Ia benar-benar tulus meminta maaf pada mantan sahabatnya itu demi sang adik.


Sungguh beruntung Ellish memiliki kakak seperti kau Eizen. “Aku tak lagi mempermasalahkannya Eizen. Aku banyak belajar dari Ailee...” Gamma menerawang jauh kedalam ingatan-ingatannya tentang Ailee. Ailee yang rapuh namun tetap tegar, Ailee yang memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya dengan gampang juga Ailee yang dicintainya, “Jika aku tak bertemu dengannya mungkin aku akan balas dendam pada adikmu itu... tapi kini aku memaafkannya. Bagaimanapun dia jatuh cinta padaku karena aku sendiri yang membuatnya merasakan hal seperti itu...”


Ya cinta tak akan pernah tumbuh bila tak ada pertemuan sekalipun itu hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan. Sedangkan obsesi tak akan tubuh jika Gamma belajar tegas pada Ellisha, selama ini demi tak mau terlibat dengan gadis itu ia selalu mengabaikan tingkahnya. Itupun karena Ellish menyandang sahabat karib almarhum Mikaily. “Aku harap dia bisa belajar dari pengalamannya dan menemukan cintanya yang baru...” harapan Gamma sama persis dengan harapan Eizen sebagai seorang kakak.


“Lalu bagaimana dengan Astoria Kanedy?”


“Aku tak tahu. Ini keputusan yang amat berat untuk dad, dia sangat mencintai dan menghargai wanita itu namun itu sama sekali tak dapat mengubah kejahatannya...” Gamma mengangguk pelan.


“Jika Ailee mendengar ini semua ulah ibunya, aku tak tau apakah dia akan memaafkan atau malah semakin membenci.”


“Oh ya... Ellish juga mengatakan ini padamu...” Gamma menunjukan wajah penuh tanya.


“Apa?”


“Dia bilang dia merelakanmu bersama dengan Ailee.”


Wajah Gamma berubah menjadi mendung, “Meski itu terdengar tulus. tapi entah mengapa aku merasa adikmu itu sedang mengejekku, bagaimanapun aku akan selalu memilih Ailee bahkan tanpa keikhlasan darinya...” Hal itu tentu membuat Eizen terbahak keras.


[]


Yuhuu sayang sayangku hehehe. Good Night. See You Next Time jangan lupa tinggalkan jejak oke. Aku selalu berterima kasih pada kalian semua...

__ADS_1


__ADS_2