MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Aku ada untukmu Ailee


__ADS_3

Ailee menanggkupkan wajahnya pada kedua tangan. Dalam hati ia berharap-harap cemas karena ruangan ayahnya yang tak kunjung terbuka dan Dokter tak kunjung keluar dari sana.


Saat ini Ailee yang juga bersama Gamma tepat berada didepan ruangan sang ayah. Mereka tiba dari rumah sakit lebih cepat dari biasanya. Itupun karena rasa iba Gamma yang melihat Ailee terlihat begitu diliputi kepanikan bahkan meski wanita itu ia tenangkan tak akan cukup jika tak bertemu dengan sang ayah yang menjadi pusat segala kekhawatirannya.


Gamma diam-diam memandang pintu ruang inap ayah mertuanya lalu beralih ke arah Ailee. Sejak sampai tadi dia terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan mendesah pelan.


"Tenang saja ayahmu pasti baik-baik saja." Hanya itulah yang mampu keluar dari bibirnya. Membuat Ailee tenang berdasarkan kata-kata saja. Meski dirinya sendiri tak yakin akan itu. Namun melihat Ailee yang kini membuka kedua tangannya dan mengangguk pelan membuat Gamma sedikit lega.


Ya Setidaknya Ailee harus yakin bahwa ayahnya memang baik-baik saja. Dia memang tengah berjuang disana yang bahkan Ailee sendiri tak tahu apa yang membuat pria itu terbaring dirumah sakit hingga sekarang. Alferd seperti enggan membahasnya sedangkan Ailee yang merasa ayahnya terlihat masih baik ia menunda bertanya pada dokter sang ayah.


Ia kira Alferd pingsan hanya karena kelelahan bekerja namun kini pria itu benar-benar dalam kondisi kritis dan bodohnya Ailee masih terlihat santai.


Cklek


Bunyi pintu yang terbuka menjadi pertanda untuk Ailee segera bangun dan bangkit. Seorang dokter pria yang ditunggunya keluar dari ruangan sang ayah. Ailee sudah hampir tersenyum dan merasa lega karena mungkin ayahnya seperti kata Gamma, 'Beliau baik-baik saja'


"Dok.... ayah saya?"


"Maaf Nona Ailee...." Namun senyuman itu dibuat memudar hanya karena ucapan patah dokter pria dihadapan Ailee. Raut wajah dokter itu seolah membuat Ailee mengetahui semua, membuat dia menggeleng kencang karenanya.


"Dia menyerah untuk bertahan.... dan meninggalkan surat ini untuk anda...." Dokter itu mengulurkan sebuah amplop putih yang tak sanggup diterima Ailee. Tangannya bergetar memandang amplop itu dan Gamma langsung menyambar amplop itu atas inisiatifnya.

__ADS_1


"Ja--jadi dok ayah saya bagaimana??" Ailee masih bertanya. Gamma menoleh ke arah istrinya itu, terlihat dia masih seperti orang yang begitu syok dan paling terguncang. Gamma sendiri tak menyangka Alferd, sang ayah mertua yang baru dikenalnya sangat cepar meninggalkan dunia dikala perceraian antara dirinya dan Ailee belum terjadi.


Ailee ikut menoleh ke arah Gamma, matanya menunjukan sorot kebingungan, "Al... ayah bagaimana kondisinya Al...?"


"Ailee..." Gamma tak sanggup mengatakannya, hal itu seolah akan membuat wanita yang katanya sudah rapuh itu semakin terlihat rapuh lagi dihadapannya, "Ayah sudah tenang Ailee...." tapi pada akhirnya dia sanggup mengatakannya dan reaksi Ailee begitu mengejutkannya.


Wanita itu menitikan air mata yang memilukan sembari menggeleng keras. Ia segera berlari memasuki ruang inap dimana sanga ayah kemarin terbaring dan sudah siuman. Ailee kira Alferd akan baik-baik saja, Ailee kira setelah pria itu meminta maaf padanya mereka akan menjadi ayah dan anak selayaknya. Namun kembali Ailee menggeleng, Alferd tak pernah menjadi ayah yang baik sekalipun dia sudah meminta maaf pria itu tetap meninggalkannya.


Ailee menghampiri ayahnya. Kini selang-selang yang mengitari tubuhnya saat kemarin sudah dilepas. Ia menatap suster yang hendak menutup wajah nyaman sang ayah dengan kain dan dengan segera menghentikan tangan itu. Membiarkan suster wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua.


Ailee menangis sejadi-jadinya. Ayahnya benar-benar pergi, matanya yang biasanya terbuka menatapnya tajam kini sama sekali tak ada tanda akan terbuka. Wajahnya yang biasanya selalu dingin pada Ailee kini berwajah damai dan tenang seperti tak ada beban disana.


Sedangkan Ailee. Ada yang menghilang dari dirinya. Tak banyak kenangan yang ia buat dengan ayahnya namun entah mengapa melihat pria itu terbujur kaku didepannya membuat jiwa Ailee begitu sedih dan sakit.


Ternyata tak pernah ada bahagia untuk Ailee. Bohong, untuk apa dia berusaha mencintai Algamma seperti kata ayahnya jika hal yang Ailee harapkan tak pernah dikabulkan tuhan. Semua merengut harapan cinta Ailee.


"Bangun Ayah.... hiks..." Dada Ailee terasa sesak. Ia menggoyangkan bahu ayahnya berharap mungkin sebentar lagi dia akan bangun dan tidurnya hanyalah bualan semata.


"Ayah.... Ailee sudah memaafkan ayah... tapi kenapa? kenapa ayah meninggalkan Ailee sendiri..."


Algamma. Pria itu mengintip Ailee yang memeluk jasad ayahnya. Dia baru saja bertanya pada dokter yang selama ini menangani ayah mertuanya soal penyakit yang diderita. Namun dokter itu seolah enggan memberi tahunya. Dan membuat Gamma hanya bisa melihat Ailee menangis.

__ADS_1


Rasanya begitu Dejavu. Dirinya pernah maraung-raung seperti itu, pernah sesedih itu saat ia benar-benar kehilangan Aily. Ia berharap istrinya bangun saat itu namun wanita itu enggan membuka matanya sama seperti Ailee sekarang. Benar-benar memilukan dan tak ingin lagi Gamma rasakan.


Ada rasa sedih yang juga ikut Gamma rasakan melihat Ailee seperti itu. Kali ini Ailee benar-benar sendiri ternyata pesan Alferd pada Gamma adalah ucapan yang sesungguhnya.


"Ailee..." Gamma menghampiri Ailee dan berjongkong memeggang kedua pundak wanita itu.


Ailee mendongak hingga Gamma mampu melihat kelopak mata dan seluruh wajahnya yang basah. Ailee hanya terdiam kaku, ada luka dan kehilangan yang begitu mendalam.


Tanpa sadar Gamma memeluk wanita bernama lengkap Ailee Kanedy itu. Merengkuhnya dalam pelukannya dan mengelus lembut puncak kepalanya seakan menguatkan. Gamma merasa dirinya tak rela melihat Ailee yang biasanya selalu ceria dan tersenyum kini hanya ada kesedihan dimatanya. Gamma tak bisa membiarkan wanita itu merasakan sedihnya sendirian seperti dirinya saat kehilangan istri tercintanya.


Sedangkan Ailee yang semula tak merespond Gamma. Kini ia mampu menumpahkan semua rasa sedihnya dipundak pria itu. Tangisnya begitu deras dan berderai. Bahkan suara tangis pilu itu terdengar memenuhi sudut ruangan tempat terakhir ayahnya tertidur selamanya.


"Kau bohong.... padaku Al... hiks...." Ia memukul pinggang Gamma, mengeluarkan segala emosinya. Gamma hanya bisa terdiam dia hanya bertugas menenangkan Wanita rapuh dipelukannya ini, "Kau bilang ayah akan baik-baik saja hiks.... tapi dia tidur begitu lama al... kau bohong padaku."


Gamma semakin mengusap lembut rambut Ailee. Seolah tak berniat melukai wanita dipelukannya. "Dia baik-baik saja Ailee.... dia baik-baik saja disana...."


"Tapi aku sendirian Al... aku tak punya siapa siapa lagi hiks... aku hanya sendiri hiks..."


"Aku ada untukmu Ailee.... aku selalu disini..."


[]

__ADS_1


Baru 3 hari dan terasa kaya telat banyak banget aku. Emang author jahad diulur ulur wkwkw. Maaf ya maaf semuanya. aku bilang maaf mulu tapi diulangin terus wkwkw.


__ADS_2