
Ailee Kanedy. Wanita itu menyandarkan kepalanya dijendela mobil. Gamma yang terfokus pada jalanan yang membentang kini pandangannya teralihkan pada Ailee. Semenjak Ailee keluar dari ruangan sang ayah, Alferd, wanita itu tak lagi banyak bicara. Dia hanya menghabiskan waktunya dengan melamunkan sesuatu.
Dan entah mengapa hal itu membuat Gamma menebak-nebak akan penyebab wanita itu tiba-tiba menjadi pendiam. Ingin rasanya Gamma bertanya namun ia takut Ailee merasa dirinya menjadi peduli padanya. Pria itu takut Ailee salah mengartikan kepeduliannya.
"Ailee..." Suara Gamma tak bisa terkontrol. Ia memanggil pelan istri sementaranya itu.
Namun panggilan Gamma seolah terjawab oleh angin. Ailee tak terlihat menoleh membuat Gamma memajukan wajahnya ke arahnya untuk semakin melihat Ailee yang diam saja.
Kini wajah Gamma hanya berjarak beberapa centi dari pipi Ailee. Wanita itu tertidur dengan hembusan nafasnya yang begitu tenang dan lancar, "Rupanya tertidur..." Gumam Gamma.
Hingga tanpa sadar Ailee memindahkan posisi kepalanya. Wanita itu bersandar pada bahu Gamma dan terus mengusel pada baju suaminya. Ia terlihat mencari posisi ternyaman ditubuh Gamma. Sedangkan Gamma yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu malah merasa tak nyaman. Ia hampir menyingkirkan kepala dan tangan Ailee yang ada pada tubuhnya.
Tapi ia urungkan ketika melihat wajah polos Ailee yang tertidur sembari mendongak ke arah wajah Gamma. Wanita itu terlihat imut kini tak seperti tadi yang terus bermuka masam saat membuka mata. Dan entah mengapa Gamma lebih menyukai Ailee yang seperti ini.
"Baiklah aku akan meminjamkan bahuku hanya sekali ini Ailee..." Ya hanya sekali. Tak ada lain kali atau lain waktu. Atau Gamma bisa lupa bahwa dia berjanji tak akan lebih dekat dengan Ailee. Terus berbuat baik pada Ailee hanya membawa masalah dikemudian hari namun apa salahnya jika ini dilakukan Gamma hanya untuk sekarang.
Hanya untuk wanita yang dititipkan padanya untuk tak disakiti. Untuk dijaga dengan baik meskipun Gamma hanya bisa menepati amanah itu dalam kurun waktu setahun. Seperti kesepakatan pernikahan mereka berdua.
Gamma membenarkan posisi Ailee dan ikut menyandarkan kepalanya dikepala kursi mobil. Ia ikut memejamkan mata seperti Ailee, berharap semua yang ia lewati dan lalui hanyalah mimpi. Berharap rindu panjang yang ia pendam untuk kekasih hatinya tak pernah ada. Dan berharap yang ada disampingnya adalah Aily yang tertidur dibahu Gamma.
[]
"Eungh...."
Ailee membuka matanya perlahan. Ia merenggangkan semua tubuhnya yang terasa kaku dan terlihat bingung saat dirinya sudah terbaring dengan nyaman diatas ranjang. Wanita itu mengambil ponselnya dan mengecek waktu yang tertera disana.
Pukul 03.00
Waktu itu menunjukan bahwa Ailee tertidur hingga pagi menjelang. Ailee menepuk jidatnya menyesali bahwa bisa-bisanya dia tertidur begitu lama. Ia mengingat bagaimana dirinya bersandar dibahu Gamma dengan begitu nyaman lalu setelah itu Ailee tak mengingatnya lagi. Ia takut karena hal itu Gamma marah padanya.
Ia segera bangkit dan mengikat rambutnya yang tergerai dengan jepit rambut. Kakinya melangkah keluar dari kamar. Suasana rumah masih begitu sepi dan sunyi entah kemana perginya Gamma meninggalkan semua lampu menyala begitu terang.
__ADS_1
"Mungkinkah dia tidur dikamarnya?" Ailee bertanya pada dirinya sendiri. Karena mereka pisah kamar Ailee tak tahu menahu soal Gamma.
Ailee perlahan menuruni satu persatu anak tangga dan berjalan menuju ruang tengah dimana dapur ada disana. Tak lupa wanita itu tersenyum saat melihat foto pernikahan Aily dan Gamma yang masih terpajang sempurna. Ia seperti menyapa Aily dengan damai dipagi harinya.
"Hi Aily... aku izin tinggal dirumahmu ya. Hanya untuk setahun..." Ailee terkekeh menertawakan dirinya sendiri yang terlihat gila mengajak sebuah figura besar berbicara. Namun anggaplah hanya ini sarana antar dirinya dengan wanita yang begitu Gamma cintai. Ailee tak merasa iri lagi.
Bahkah meski figura pernikahannya dengan Gamma tak dipajang besar-besar seperti pernikahan Gamma dengan Aily. Ia tak masalah.
Ailee malah merasa sedih. Ia kembali mengingat perkataan ayahnya yang sejak kemarin terngiang-ngiang. Sebagiang besar permintaan Alferd hanya soal Gamma dan pernikahannya, pria itu meminta Ailee bahagia dengan Gamma, memintanya untuk berusaha mendapatkan hati Gamma.
Namun melihat wajah Aily difigura yang tersenyum begitu bahagia membuatnya merasa tak enak. Berusaha mendapatkan hati Gamma? bukankah itu artinya berusaha merebut Gamma dari Aily. Bagaimana mungkin Ailee sanggup melakukan itu.
Meskipun Aily sudah tak ada namun tetap saja cinta Gamma begitu tulus untuknya. Mereka seperti sepasang merpati dengan cinta sejatinya. Dan Ailee tak mungkin menghancurkan itu.
"Maaf ayah..."
"Apa yang kau lakukan?" Ailee menoleh ke arah suara yang ia yakini adalah suara suaminya. Gamma menuruni tangga dan menghampiri Ailee.
"Al kau sudah bangun?" Ailee menyambut Gamma dengan senyuman yang menghangatkan hati.
"Kau bisa lihat sendiri..."
"Apa semalam kau yang membawa ku kamar?"
"Bukan." Ailee menunjukan wajah bingungnya, "Supir taxi yang semalam mengantar kita yang membawamu kekamar. "
"Apa? Kau, aku kan istrimu Al. apa salahnya mem--"
"Kau percaya itu?" Gamma melangkah meninggalkan Ailee yang entah menunjukan ekspresi bagaimana. Pria itu hanya ingin segera membasahi kerongkongannya yang kering sehabis tidur.
Sedangkan Ailee menghentakan kedua kakinya dan meremas bajunya kesal karena Gamma. Niatnya baik tadi bermaksud ingin berterima kasih jika Gammalah yang membawanya ke kamarnya kemarin. Namun pria itu malah membercandainya.
__ADS_1
Dengan masih sedikit kesal dan muak melihat penampakan Gamma. Ailee memasuki dapur dan membuka kulkas. Kosong. Hanya ada 8 butir telur yang terjejer rapi dipenyimpanannya. Ia melirik Gamma yang sedang meneguk habis air minumnya.
"Al..."
"Hmm..."
"Mau sarapan apa?" tanya Ailee.
"Yang ada saja...."
Ailee memutar otaknya untuk berpikir. Karena yang ada hanyalah telur dan mungkin nasi membuat Ailee kepikiran satu hal yang bisa ia buat dengan bahan seadanya itu. "Jangan nasi goreng... aku tak suka itu..." Gamma berhasil menebak apa yang Ailee pikirkan.
"Lalu apa?" Rengek Ailee, "Kau lihat hanya telur saja yang ada dikulkas ini..."
"Terserahmu... lagipula aku bisa makan dikantor nanti..." Jawab Gamma sekenanya sedangkan Ailee yang mendengarnya merasa tak suka.
ih
"Bila ada istri dirumah kenapa harus makan dikantor..." Ailee bermaksud menyindir Gamma.
Gamma menatap Ailee dari sudut matanya. Ia lalu meletakan gelas bekas dia minum dan sepenuhnya menatap Ailee, "Apa iya kau seorang istri? seharusnya seorang istri menyediakan apa yang suaminya mau kan. Tapi kau sendiri tak bisa..."
"Memangnya apa yang kau mau...?"
"Anak...."
[][]
Hi im comeback sayang ku💕 semuanya. Ditunggu kelanjutannya dengan sabar ya terima kasih 😘💕😘💕😘💕
luv u
__ADS_1