MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Obsesikah?


__ADS_3

“Aku benci! Aku benci! Aku benar-benar membenci ini... kenapa tuhan begitu tak adil padaku! aku hanya ingin mendapatkan Kak Gamma dan bahagia hiks... tapi kenapa malah wanita itu yang mendapatkannya hiks hiks...”


Dimalam yang seharusnya membahagiakan bagi Ailee dan Gamma tetapi malam ini pula yang bagi Ellisha begitu melukainya. Didepan matanya sendiri Gamma mencium Ailee dengan begitu mesra bahkan itu dihadapan umum. Bagi pria itu Ellisha hanyalah sekedar pelampiasan cemburunya pada tindakan yang Ailee lakukan dan itu benar-benar menyiksa batin Ellisha.


Ia merasa tak ada yang kurang dari dirinya. Ellish cantik, dia punya segalanya yang patut menyaingi Ailee, ia juga punya rasa cinta yang begitu besar dan sudah tertanam sejak  dulu pada Gamma. Seharusnya menjadi istri untuk pria itu bukanlah hal yang sulit untuk Ellish. Dia cukup mampu masuk dalam kategori pertimbangan. Namun Gamma sama sekali tak mempertimbangkannya, dia menolak Ellish dengan begitu mudah dan menganggap cintanya hanyalah sekedar obsesi semata. Menambah segala rasa bencinya kepada seseorang yang merebut Gamma darinya.


Ctik!


“Oh tuhan Ellish sayang... kenapa kau menangis ditengah gelap seperti ini?” Suara itu adalah milik Astoria yang penuh dengan nada kekhawatiran. Bagaimana tidak khawatir putri tersayangnya terlihat amat berantakan dengan wajah sembab ditambah ditengah-tengah kegelapan. Jika Astoria tak mendengar suara Ellish di ruang keluarga mungkin saja ia tak akan menyadari bahwa Ellish ada disana.


Astoria mendekati putrinya. Ia hendak duduk dihadapan Ellisha yang tengah menangis sesenggukan tetapi terhenti karena Ellisha menatapnya tajam, “Berhenti! jangan mendekat lagi!” bentak gadis itu kepada ibu yang tak ia anggap. Melihat Astoria sama sekali tak melegakan rasa sakit dan sedihnya.


“Ellish mom hanya ingin menenangkanmu... ada apa? kau bisa cerita padaku...” ujarnya penuh kelembutan. Tapi Ellisha sama sekali tak menggubrisnya, gadis itu jelas begitu kentara tak berniat menceritakan segala masalahnya kepada Astoria. Hal itu membuat Astoria hanya mendesah pelan dan bersabar ya dia harus bersabar.


Astoria tak habis akal. Ingatannya membawanya pada acara bisnis yang baru malam ini dihadiri Ellish dan suaminya, “Apakah karena pria bernama Gamma itu?” tanyanya pada sang putri.


“Apa urusanmu pergi! hiks...” Ellisha begitu malas menanggapi Astoria. Rasanya ia begitu lemah ditambah moodnya sangat buruk hari ini, mana mungkin ia sanggup berdebat dengan wanita itu. Astoria yang melihat hal itu mengambil kesempatan. Ia memeluk Ellish dan membawanya dalam dekapannya walau awal gadis itu memberontak lama-lama Ellisha hanya bisa menangis meratapi obsesinya mendapatkan Gamma yang sama sekali tak pernah berhasil.

__ADS_1


“Ellish... Jika Gamma memanglah pria yang bisa membuatmu bahagia... maka mom akan membantumu mendapatkannya...” ungkap Astoria disela-sela Ellisha yang tengah menangis itu. Perkataan wanita yang tak lain ibu yang dibencinya membuat Ellish tertarik dan mendongak menatap Astoria. Wanita itu tersenyum karena akhirnya dia berhasil menarik perhatian Ellish, “Mom akan lakukan segala cara untuk merebut Gamma yang kau inginkan... apa kau percaya itu?”


“Mana mungkin, bagaimana pun juga putrimu sendirilah yang merebut kak Gamma dariku...”


Astoria mendadak mengubah pandangannya menjadi pandangan tak suka. Wanita itu seperti tak suka ketika Ellisha menyebut-nyebut Ailee sebagai putrinya, “Dia bukan putriku Ellish, kaulah putriku..” ujarnya sembari mengelus lembut puncak kepala Ellisha.


Ellish melepaskan diri dari pelukan Astoria, “Kau pasti bercanda ya... jangan karena aku sedang patah hati dan kau malah berkesempatan ingin mengambil hatiku...”


Astoria tersenyum simpul. Ellisha benar-benar tak menyangka wanita itu mengubah raut wajahnya dengan begitu mudah tadi menatap penuh kebencian kini menatap lagi dengan kelembutan, “Aku akan buktikan itu... dan kau hanya tinggal membantu mom dan mengikuti apa yang mom minta. Merebut itu sangatlah mudah Ellish...” Ellisha merinding melihat raut wajah Astoria yang kembali menguarkan aura jahat yang begitu kentara. Entahlah namun apapun akan Ellisha lakukan bahkan meski harus bekerja sama dengan Astoria yang dibencinya.


Obsesi? maka biarlah Gamma memandang Ellisha seperti itu. Mungkin saja memang benar bahwa cinta yang Ellisha miliki hanyalah sekedar obsesi dan karena obsesi itu jugalah yang membuat Ellish tak akan mau menyerah bahkan meski harus menjadi orang terjahat sekalipun.


Eizen yang memang pada dasarnya memiliki jiwa pengintai mendadak penasaran. Karena tak biasanya ia mendapati ibu dan anak sedarah itu begitu akur hari ini. Biasanya Ellisha hanya terus mengeluarkan aura permusahannya pada sang ibu. Ia mengintip dibalik pintu penghubung antara ruang keluarga dengan kamarnya. Mencoba mendengar setiap percakapan antara Astoria dan Ellisha yang membuatnya menggelengkan kepala.


Tangan pria itu mengepal erat mendengar satu persatu rencana  mereka demi memenuhi  obsesi sang adik, “Astoria Kanedy...” ia menyebut nama itu penuh dengan rasa benci, “Ternyata kau sama sekali belum berubah dari sifat jalangmu...” gumamnya. Eizen bersyukur saat ini dia bisa mendengar rencana ibu tiri dan putrinya itu.


Ia menutup pintu perlahan dan kembali memainkan PC yang masih menyala-nyala dikamarnya, “Kita lihat saja... aku akan menjadi kartu AS yang akan menghancurkan kalian...”

__ADS_1


[]


Di tempat yang lain. Adam sedang dalam masa bahagianya, ia terus tersenyum senang mendapat kabar dari mantan asistennya yang kini merangkap sebagai asisten putranya juga sebagai mata-mata bagi Adam. Ia ingin Aiden mengawasi putra dan menantu barunya dengan segala aktivitas yang harus selalu disampaikan 24 jam kepada Adam. Tapi pengecualian ketika Gamma dan Ailee ada dirumah mereka.


Pria itu terkekeh sejak tadi mendengar keromantisan putranya didepan umum. Rasanya sudah lama Adam tak mendengar kabar sebagus ini semenjak Aily meninggal. Gamma selalu menutup dirinya dengan yang namanya wanita dan jelas Adam tak menyukai itu.


“Bagus Gamm hahaha... kau memang putraku...” Dia begitu bangga melihat Gamma yang sekarang. Begitulah seharusnya, Gamma harus bangkit dari keterpurukannya. Ia juga merasa tak salah merestui pernikahan antara Gamma dan Ailee. Wanita itu dalam beberapa minggu mampu merubah Gamma begitu cepat.


“Aku hanya tinggal menunggu kabar baik darimu... hahaha...”


Sembari terus tersenyum dengan jenaka. Ia mengambil ponsel didalam saku kaosnya. Ia mencari-cari nama Ellen, sang istri dan memencet tombol memanggil. Nada tunggu terdengar dari seberang sana hingga suara Ellen, istri tercintanya menyapa telinga Adam. Kekehan pria itu terganti dengan senyuman lembut, ada rasa damai mendengar Ellen yang selalu menyapanya dengan nada penuh cinta.


“Ma... sepertinya keinginan kita untuk punya cucu kedua akan segera terkabul...”


[][]


Aku bingung mau ngomong apa hari ini. Jadi silahkan nikmati dulu aja ya. sorry ini part yang sama sekali gak ada Gamma dan Ailee... hehe karena mereka udah kemarin.

__ADS_1


 


__ADS_2