
"Anak..."
Tatapan Ailee terpaku. Sorot matanya menunjukan keterkejutan akan permintaan Gamma yang melenceng dari pertanyaannya. Ia terus menatap Gamma tepat dimatanya dan berharap ia hanya salah dengar saja.
"Apa yang kau katakan?"
"Aku bicara soal anak..."
Dan rupanya Ailee memang tak salah dengar. Pria dihadapannya itu benar-benar memandangnya dengan serius tanpa ada bercandaan sedikit pun.
"Al... kau yakin bicara seperti itu? Bukankah kau yang selalu mengingatkanku soal pernikahan kita yang hanya bertahan setahun...." Ailee yang harus setiap hari mendengar segala peringatan Gamma, untuk tak berharap menjadikan pernikahan antara keduanya selayaknya suami istri. Tak berharap banyak pada pria itu. Dan bahkan tak boleh melibatkan perasaan sedikitpun. Merasa tak percaya apa yang barusan Gamma ucapkan. Ia tak percaya meski bisa saja Gamma mendapatkan pencerahan dalam sehari.
"Aku memang selalu mengingatkan itu..." suara Gamma membuyarkan Ailee dari perang batinnya, "Tak perlu ada cinta dalam pernikahan kontrak ini."
"Tapi..." Gamma sengaja memberi jeda pada ucapannya, ia sedikit ingin tahu respon Ailee yang ternyata terlihat menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya, "Apa salahnya punya anak."
"Apa salahnya kau bilang?" Ailee mengernyitkan dahinya, ia dibuat bingung dengan ucapan Gamma yang sama sekali tak masuk dalam jalan pikirnya. "Tanpa melibatkan perasaan, cinta atau menjadikan pernikahan ini seperti selayaknya bagaimana kau bisa meminta anak padaku dengan mudahnya Al..."
"Kau meminta seolah aku akan memberikannya begitu saja." Ailee menggelengkan kepalanya dan didetik itu ia memutuskan untuk mengambil dua butir telur untuk membuat omlete sebagai sarapan pagi mereka. Ia menyibukan diri dan tak mau peduli dengan Gamma yang entah sedang melakukan apa.
"Ini tak melibatkan perasaan Ailee... tak akan pernah..." Ailee tetap enggan menggubris Gamma. Ia mengenakan apronnya sebelum memasak.
"Kita bisa melakukan program bayi tabung..." Gamma memandang istrinya yang tengah sibuk melakukan sesuatu. Tangannya menggenggam teplon untuk memasak yang Gamma sendiri tak tau wanita itu mau memasak apa.
"Kau dengar akukan...?" Pertanyaan Gamma hanya dijawab oleh bunyi detingan yang dibuat Ailee.
Gamma menghebuskan nafasnya pelan. Butuh banyak keberanian mengatakan hal seperti ini pada Ailee, dan saat Gamma sudah berhasil mengatakannya Ailee malah acuh tak acuh. Gamma maju menghampiri Ailee dan Ailee tetap tak menggubrisnya, dia seperti sengaja menghindari Gamma.
__ADS_1
Alhasil karena Gamma terlalu geram, ia menarik tangan Ailee. Membalikan tubuhnya hingga sempurna memandang dirinya, Mata Ailee dan Gamma saling bertautan, "Aku paling tak suka ada yang mengacuhkanku..." Gamma memberikan pandangan tajam menusuk pada Ailee.
"Kita bisa melakukan program bayi tabung. Aku hanya ingin meminjam rahimmu..."
Ailee melepaskan tangannya secara paksa dari genggaman Gamma, "Al..." Ia memejamkan mata berusaha menahan emosi karena perlakuan dan ucapan Gamma yang membuat Ailee merasa tak nyaman.
"Tak ada perjanjian seperti itu dalam kontrak kita..."
"Memang tak ada tapi aku akan menambahkannya..." Karena jika Gamma selama 3 bulan tak memperlihatkan bukti bahwa Ailee hamil. Maka semua usaha dan pernikahan yang terpaksa ia lakukan semua menjadi sia-sia semata. Gamma tak akan pernah mendapatkan hal yang paling dia inginkan.
"Kau tak bisa seenaknya seperti itu Al... semua hal sudah aku lakukan untukmu, aku rela berjanji tak mendapatkan pernikahan yang utuh demi menuruti keiinginan egoismu itu..." protes Ailee. Acara memasaknya jadi terhenti karena Gamma yang berubah jadi aneh.
"Ini bukan keinginanku Ailee... tapi ini keiinginan dad dan mom... mana mungkin aku berharap memiliki anak denganmu..."
Telinga Ailee panas mendengar perkataan Gamma. Sedikit menyakitkan mendengar hal itu langsung dari mulut pria itu, seolah Ailee tak pantas untuk Gamma, "Tak perlu ada cinta kita hanya perlu menunjukan bahwa kau benar-benar hamil tanpa itu aku tak akan bisa menemui--"
"Aily? Apakah dipikiranmu itu hanya ada istri tercintamu itu Al... tidakkah kau memikirkan perasaanku juga, kau meminta hal itu seolah mudah saja bagiku untuk melakukannya..."
Tring Tring
Ailee menoleh kala suara telepon rumah berdering nyaring. Ia melepaskan apron dan melirik sinis Gamma, "Makanlah saja cintamu Al... aku tak bernafsu lagi untuk memasak..." Ia meninggalkan Gamma menuju ruang keluarga dan sesegera mungkin mengangkat telepon rumah yang masih berdering.
"Halo..."
"....."
"A--apa? tapi kemarin... Baiklah... saya akan segera kesana..."
__ADS_1
Gamma yang keluar dari dapur melihat Ailee berjalan menaiki satu persatu anak tangga dengan terburu-buru. Membuat dirinya menjadi penasaran. Ia segera mengekori Ailee tanpa mempedulikan fakta bahwa mereka baru saja bertengkar.
Gamma menarik tangan Ailee setelah berhasil menyusul wanita itu sebelum memasuki kamarnya, "Ada apa?" Dia dua kali membuat Ailee melotot terkejut.
"Tak ada Al... lepaskan aku!" Ailee berusaha melepaskan diri dari cengkraman Gamma namun Gamma malah semakin mengencangkan genggamannya.
"Aku sedang bertanya padamu Ailee." Gamma berkata dingin. Ia memaksa Ailee untuk menjelaskan apa yang baru saja dia terima ditelepon tadi.
"Aku sedang terburu-buru Al. Lepaskan aku!"
"Aku tak akan melepaskanmu jika kau tak memberitahuku!" Gamma menaikan suaranya satu oktaf. Ia memaksa Ailee untuk berbicara.
"Al..." Ailee melunakan suaranya. Ditatapan mata Ailee terdapat gejolak kepanikan yang mendalam yang terlihat jelas dan dapat dibaca oleh Gamma, "Ayah kritis... kumohon lepaskan aku..."
"Apa?"
"Aku ingin menemui ayah Al..." Mata Ailee tiba-tiba mengalirkan butiran air mata membuat Gamma tanpa sadar melepaskan genggamannya. Ia mengelus lembut puncak kepala Ailee.
"Ganti pakaianmu kita temui ayah bersama..." Gamma menatap teduh Ailee yang ada ditengah rasa panik. Ia berusaha menenangkan Ailee melalui tatapannya. Sedangkan Ailee mengangguk pelan.
Ada banyak hal yang ia takutkan saat mendengar bahwa sang ayah dalam kondisi kritis dari pihak rumah sakit. Ailee takut ditengah dirinya dan Alferd yang sudah berbaikkan pria itu malah meninggalkannya. Ia takut ucapan sang ayah yang mengatakan bahwa hidupnya tak akan lama menjadi kenyataan. Dan Ailee juga takut pelukan terhangat yang saat itu ia terima dirumah sakit adalah pelukan terakhir dari ayahnya.
Padahal Ailee berharap banyak dengan hubungannya yang sudah membaik dan Alferd sudah mengakui semua kesalahannya. Mereka sama-sama ingin mengulang kembali. Tapi mengapa disaat itu semua menjadi harapan Ailee untuk bahagia bersama satu-satunya ayah, Tuhan seperti tak pernah merestuinya. Ailee hanya ingin kembali memulai dan merasakan ulang kasih sayang ayahnya. Ailee tak meminta apapun dia hanya ingin ayahnya baik-baik saja sekarang.
"Aku takut... Apakah ayah akan baik-baik saja?" kemarahan Ailee pada Gamma terganti karena rasa takutnya yang begitu besar. Matanya terlihat sembab memandang suaminya.
"Dia akan baik-baik saja... Ailee..."
__ADS_1
[]
Aku up say ini mungkin part yang belum memuaskan buat kalian. Maaf ya biasa ide mentok lagi. Tapi jangan lupakan jempol supaya aku ada inspirasi baru hehehe