
Ailee membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ia terbangun sembari menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa tersengat, sangat pusing dan membuat dahinya berkerut. Retinanya berusaha membiasakan menerima cahaya matahari, perlahan ia bisa melihat penampakan seseorang yang tengah menatap wajahnya. Dia adalah mom Ellen.
Ibu mertuanya itu memandang Ailee dengan binar bercampur rasa khawatir yang masih tersisa diwajahnya, “Ailee... sayang, syukurlah kamu sadar...” Ailee berusaha bangkit menyandarkan dirinya pada kepala ranjang, Ellen dengan inisiatif membantu Ailee dengan merangkul bahunya.
“Mom... apa yang terjadi?”
“Gamma bilang kamu pingsan sayang...” Jawaban Ellen mengembalikan masing-masing ingatan Ailee. Dimana awal mula ia bisa terbangun diatas ranjang dengan keadaan kepalanya yang terasa begitu berat untuk terangkat, bahkan hingga kini masih terasa amat nyeri dan berdenyut.
“Lalu dimana Al, mom?” tanya Ailee lagi. Ia mencari sosok suaminya yang sudah bisa ditebak bahwa Gamma lah yang menggendong Ailee saat pingsan tadi. Ditambah lagi Ailee baru menyadari bahwa kini ia ada dikamar seorang Gamma yang seharusnya tak pernah terbuka untuknya dalam keadaan apapun. Mereka pernah sama-sama berjanji menjaga privasi masing-masing selain berjanji tak tidur bersama, kecuali dalam keadaan mendesak.
“Dia sedang mengantar dokter yang memeriksamu tadi...”
“Dokter?”
Ellen menyentuh bahu Ailee dan mengelusnya, “Kau anemia sayang, dokter bilang kau juga kelelahan makanya kau bisa pingsan seperti ini...”
“Itu bukan karena kelelahan saja mom, tapi itu juga karena dia yang selalu ingin berpura-pura tegar didepan kita padahal tubuhnya sendiri menolak begitu.” Yang baru ditanyakan kini muncul didepan Ailee dengan wajah sinisnya. Gamma melipat kedua tangannya didepan dada, menguarkan rasa tak sukanya pada sesuatu yang begitu kentara terlihat dimata Ailee ditambah lagi perkataan pria itu yang jelas tengah menyindirnya.
Ellen hanya bisa tersenyum, “Sudahlah, kau juga tadi yang begitu mengkhawatirkan istrimu,” Gamma mendelik tajam pada ibunya itu, “Mom tinggal turun kebawah sebentar, Ailee kau istirahat saja ya urusan dibawah biar kami yang menyelesaikannya...”
Ailee mengangguk pelan dengan sisa tenaganya, “Terima kasih mom...”
Kini hanya tersisa dua pasangan suami istri itu. Gamma berjalan menghampiri Ailee, ia duduk disisa ranjang di sebelah wanita itu dengan kedua mata yang senantiasa memandang Ailee penuh kelegaan. Meski terlihat memandang dingin namun entah mengapa Ailee merasakan ada titik dimana Gamma melihatnya penuh kekhawatiran kala itu. Dan itu entah mengapa membuat Ailee merasakan perasaan yang begitu menyenangkan.
“Al... terima kasih sudah menolongku...”
“Kau tau diri juga, aku berbuat seperti ini juga karena kau sempat merawatku waktu itu jadi jangan geer,” Gamma tetap pada kebiasaannya, ia tetap tak mau dan takut membuat Ailee memikirkan hal yang lebih. Gamma mewanti-wanti dirinya untuk lebih mementingkan gengsi dan berbohong dibanding harus jujur bahwa dia mengkhawatirkan Ailee. “Lain kali jangan jadi merepotkan. Kau tak perlu berlaga sok kuat padahal kenyataannya kau sangat ingin menangis kehilangan ayahmu...”
__ADS_1
“Aku tidak berpura-pura tegar Al...” Ailee menundukan pandangannya, ia seperti tengah merenungkan sesuatu, “Tapi keadaanlah yang menuntut aku untuk seperti ini. Jika aku tak tegar maka aku tak akan sanggup berdiri sendiri, lagipula aku sudah dilatih hidup mandiri tanpa ayah dan bundaku...”
Gamma mengernyit tak suka. Pria itu jadi mendadak teringat wanita yang terlihat muda yang sempat menghampiri Ailee tadi, "Soal bundamu itu, kau ingin hadir ke pernikahannya?” tanya Gamma. Ia sedikit berharap bahwa Ailee tak akan pernah mau lagi berurusan dengan wanita tak baik itu.
Ailee menatap Gamma, ia terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan pria dihadapannya itu, “Kita akan pergi. Dia kan sudah mengundang kita...”
“Kita? Maksudmu kau dan aku?” Ailee mengangguk pelan, “Aku tak mau, jika kau mau pergi kesana pergilah sendiri...”
Ailee memasang wajah kecewa diantara kulit putih pucatnya, “Al... kumohon.” Ailee tak akan kuat bila harus pergi ke tempat pernikahan Astoria sendiri. Ia tak akan sanggup melihat kebahagian yang tersirat di wajah ibundanya dan itu bukan karena dia bersama dengan Ailee dan Alm Ayahnya. Ibunya menemukan bahagia yang lain sedangkan Ailee hanya bisa tersiksa melihatnya. Namun sekali saja dia ingin melihat agar Ailee bisa ikhlas dan lebih lapang dada menerima.
Meskipun Astoria tak pernah menunjukan sosoknya sebagai ibu yang baik dimata Ailee tapi sejahat apapun ia, dia tetaplah yang mengandung Ailee hingga bisa menghirup udara sebebas ini. Ailee kadang berfikir dan bertanya jika Astoria tak menyukainya mengapa wanita itu masih mau mempertahankan Ailee juga melahirkannya. Perjuangan seorang ibu yang selalu akan abadi adalah perjuangan mereka dalam mempertahankan buah hatinya. Itulah yang tak membuat Ailee membenci sang bunda meski sejahat apapun ia.
Disisi lain Gamma tengah berperang batin. Mengapa melihat wajah Ailee yang kecewa karena penolakannya membuat ada sisi tak nyaman di hati Gamma. Rasanya Gamma seperti tak tega menghilangkan sosok yang selalu bahagia dengan ketegarannya yang begitu besar seperti Ailee, hingga akhirnya pikiran itu membuat Gamma menghela nafas berat, apakah ia mulai mengagumi Ailee? “Baiklah. Tapi ingatlah ini bukan demi dirimu...” Gamma menggeleng. Mana mungkin ia kagum akan sikap wanita didepannya ini. Anggaplah ini karena amanat ayah mertuanya yang meminta Gamma menjauhkan Ailee dari ibunya.
Namun lagi-lagi Gamma terlalu menganggap semuanya sepele. Ia tak sadar bahwa perlahan Ailee menyelinap masuk kedalam relung hatinya dan melalui awal mula seperti itulah yang akan membahayakan keyakinan cinta Gamma. Pria itu selalu gengsi dan menolak menurunkan ego, ia tak segera menyadari bahwa kehilangan Aily bertahun-tahun bisa menyebabkan kosongnya tempat dihatinya yang lain. Dia tak menyadari bahwa dia juga membutuhkan cinta yang baru serupa dengan Alpha yang juga membutuhkan sosok ibu yang baru.
“Tak usah manja, aku hanya ingin kau makan. Jangan merepotkan aku lagi Ailee...” Ailee mengernyitkan dahinya bingung dan menunjukan raut protesnya akan ucapan Gamma.
“Aku kan hanya bertanya bukan ingin bermanja.” Mengatakan Ailee tak boleh geer hanya karena sifat baik Gamma tapi pria itu sendiri Geer karena Ailee. Pikirnya.
[]
Ditempat lainnya. Ada Ellisha yang begitu geram dengan keputusan dadnya yang begitu tiba-tiba. Pria itu meminta Ellish agar merestui pernikahannya lagi dengan ibu kandung Ellish yang bahkan tak diakui anak itu. Gadis itu berulang kali memutar otak untuk tak merestui bahkan berpikir untuk menggagalkan pernikahan sang ayah namun ia tak mungkin melakukan hal itu.
“Jangan berpikiran macam-macam Ellish.”
Ellisha mendelik. Bisa ia tebak orang yang akan merusuh dan sok menasehatinya hanyalah Keisai Eizen Mahony, sang kakak. Pria itu selalu bisa menebak pikiran jahat Ellisha dan paling bisa mewejanginya. Membuat Ellisha muak melihat penampakan Eizen.
__ADS_1
“Diamlah dan biarkan Dad memilih kebahagiaannya dibanding memilih menuruti keegoisanmu itu.” Eizen bersandar dipinggiran meja pantry, ia mengambil gelas mengisinya dengan air minum dan meneguknya. Sesekali ia melirik Ellish yang memandangnya penuh dengan kekesalan.
“Aku tak akan setuju dia jadi ibuku!”
Prank
Eizen meletakan gelasnya dengan tak santai hingga membuat bunyi diantara gesekannya. Dia melirik adiknya itu, “Jangan lupakan bahwa dia adalah ibumu, dialah yang melahirkanmu hingga bisa menikmati kekayaan yang dad punya.”
“Aku tak akan peduli... wanita murahan tetaplah murahan tak akan pantas jadi ibuku!” Ellish membentak kakaknya dengan sekuat tenaga. Gadis itu kini terlihat bagai anak kecil yang tetap kekeh pada pendiriannya.
Eizen yang mendengar itu menghampiri Ellisha. Dia menggenggam erat pergelangan tangan adiknya, “Jangan kira Dad bisa membelamu terus Ellish.” Netra hitamnya menatap penuh ancaman pada sang adik “Aku sudah muak melihat perangai manjamu itu.” Eizen tak peduli meski didepannya Ellish meringis karena menahan sakit.
“Jangan banyak bertingkah Ellish. Bukan hanya dirimu yang tak menyukai ibumu itu, tapi aku juga begitu namun aku lebih memilih membahagiakan ayahku dibanding egois sepertimu...”
Ellish kesakitakan karena pegangan Gamma yang terlalu erat dilengannya, ia meringis pelan, “Sakit kak.” Ia yakin setelah ini akan muncul bekas kemerahan ditangannya. Namun Eizen benar-benar terlihat marah padanya.
“Ingatlah berawal dari ibumu dan dirimulah ibu kandungku meninggal...” Eizen bicara penuh penekanan disertai peringatan. Ia membuang kasar tangan Ellisha, “Ibumu adalah itik hitam yang hatinya begitu gelap begitu pula dengan putrinya yang bermimpi menjadi angsa...
Aku senang jika kau benci ibumu karena statusnya sebagai wanita bar karena dia memang menjijikan, tapi kau lebih menjijikan darinya...”
[][]
Oke End wkwkwk lanjut esok lagi hehehe jangan lupa jempolnya ya... much
__ADS_1