
“Hiks... hiks... hiks...”
Drap drap drap
Suara derap langkah kaki yang bertabrakan dengan lantai marmer tak ubahnya hanya bagai angin lalu bagi sosok Ailee yang duduk menangis sendirian. Koridor rumah sakit yang dingin juga tak mampu menghentikan suara tangisnya yang dipenuhi rasa syok dan takut. Kedua tangan wanita itu menyatu berpadu merapalkan sebuah untaian doa hanya untuk sosok suaminya.
Puk
“Ailee... bagaimana keadaan Gamma?”
Ailee mendongak dan tangisannya semakin menderas melihat sosok Ellen yang kini ada dihadapannya. Wanita rapuh itu tanpa bisa menahannya lagi langsung memeluk Ellen tanpa menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu, “Mom... hiks....”
Ellen pun sama sekali tak menuntut jawaban dari Ailee yang kini tentu lebih lemah darinya. Ia memeluk istri putranya dan mengusap surai Ailee dengan lembut berharap bisa meringankan rasa syok Ailee. “Mom... aku takut, karenaku Al... sampai seperti ini...”
Ya semua yang terjadi hari ini, Ailee rasa adalah kesalahannya. Andai saat itu ia tak perlu memaksa Gamma untuk menemui Arslan sampai menimbulkan keributan kecil dalam rumah tangga mereka. Mungkin saat ini Gamma tak akan celaka. Mereka berdua hanya akan menikmati dan duduk bersantai dirumah.
“Ailee jangan salahkan dirimu... Gamma pasti akan baik-baik saja.” Meskipun Ellen sendiripun tak yakin, ia juga cemas setengah mati tetapi hanya bisa tertahan. Seorang ibu yang tangguh tak boleh sedikipun menunjukan kelemahannya didepan yang lebih rapuh—menurut Ellen. Ia melepas pelukannya dengan Ailee dan memandang dari atas hingga bawah seluruh tubuh Ailee, “Kau tidak terlukakan sayang?”
Ailee menggeleng pelan masih sembari menangis deras, “Gamma melindungiku dengan baik...” Ingatan bagaimana sang suami mengulurkan tangannya hanya demi melindungi Ailee masih begitu basah dalam pikiran dan membuat rasa bersalah Ailee semakin membesar.
“Syukurlah..”
Drap drap drap
“Bagaimana keadaan Gamma?” Adam yang terlambat datang tanpa basa-basi bertanya. Ellen pun menjawab dengan gelengan kepala menandakan bahwa dirinya sendiri pun belum tahu betul kondisi sang putra.
Kriet
Hingga suara pintu yang terbuka membuat pandangan 3 orang itu teralih. Sosok dokter wanita berjubah putih dengan peralatan dokternya membuat Adam tanpa aba-aba menghampiri dokter itu dan langsung membuka suara, “Maaf dokter bagaimana kondisi putra saya?”
Dokter itu terlebih dahulu membuka masker biru yang menutup setengah wajahnya, “Cedera dikepalanya tak begitu parah Tuan. Hanya geger otak ringan tetapi...” dokter itu menjeda ucapannya. Matanya terlihat memandang Ailee seolah tak tega mengucapkan kata selanjutnya didepan wanita yang ia ketahui sebagai istri dari pasien didalam.
“Tetapi apa dokter?” Ailee menuntut jawaban dengan harap-harap cemas.
“Begini... cedera dikepala dan tangan kirinya memang tak begitu parah hanya saja cedera dikedua kaki Tuan Gamma sangat parah hingga menyebabkan fungsi kerja kakinya menurun... untuk lebih jelasnya tolong Tuan Adam menemui saya diruangan saya...” ujar dokter itu lalu beranjak pergi. Sedangkan Adam mengekori dokter wanita itu, untuk mengetahui lebih detail kondisi putranya. Ia diam-diam sedikit berterima kasih pada sang dokter yang mengerti situasi dan memilih membicarakan hal itu ditempat lain. Jika itu kabar buruk kemungkinan Ailee sang menantu, hanya akan bersedih lagi.
“Jadi bagaimana dokter kondisi putra saya? Apakah cedera kakinya separah itu?” Adam langsung mengeluarkan deretan pertanyaanya setelah tiba diruangan sang dokter.
__ADS_1
“Mengenai itu. Begini Tuan... cedera dikaki putra anda sangatlah parah kemungkinan kedua kakinya terjepit diantara dashboard mobil yang mengakibatkan benturan keras. Kemungkinan paling fatal bukan hanya fungsi kaki yang menurun namun menyebabkan kelumpuhan.”
“Apakah bisa disembuhkan dokter...”
Dokter itu menggeleng entah menandakan apa, “Saya sendiri tak tahu apakah ini menjadi lumpuh sementara atau permanen... itu semua tergantung kemauan tuan Gamma. Kita hanya bisa menunggu sampai putra anda siuman...”
Pada akhirnya Adam hanya bisa menyimpan kabar buruk ini sendirian dan memilih menyembunyikannya dari Ailee. Ia sangat yakin Ailee pasti akan hancur mendengar kondisi Gamma. Mungkin bagi Algamma saat menyadari bahwa kakinya tak lagi bisa berjalan seperti sedia kala. Putranya itu pasti menerima namun tidak bagi Ailee.
“Dokter... saya mohon tolong rahasiakan hal ini dari menantu saya...” Dokter wanita itupun mengangguk mengerti.
[]
Plak
Bunyi tamparan tangan yang mengenai pipi membuat siapapun yang ada disana pasti merasa ngilu mendengarnya. Dengan lampu yang menyala terang benderang. Ellisha melampiaskan murkanya kepada seorang pria berbaju hitam yang terlihat pasrah. Pria itu mengusap pipi mulusnya berulang kali berharap kemerahan dan rasa perih akibat wanita ganas didepannya itu segera menghilang.
“Jangan berharap sakit itu akan menghilang,” Ellisha menebak pikiran pria dihadapannya dengan tatapan membunuh, “Aku akan membuatmu mengalami hal yang lebih parah dari ini!!”
“Maaf nona. Saya benar-benar tak tau jika didalam mobil itu juga ada seorang pria...”
Bukanya tenang menerima permintaan maaf, pria itu malah semakin mendapati kemarahan Ellisha melambung tinggi. Tatapannya semakin nyalang dan buas bagaikan macan yang siap menerkam siapapun musuhnya.
“Ta—tapi nona bayaran—“
“Pergi dari sini sebelum aku benar-benar membunuhmu!!”
Prank!! Prank !! Prank!!
Ellisha membanting semua benda yang ada dipandangan matanya dengan murka. Tak ada yang luput seolah semuanya harus hancur, hancur seperti dirinya. Ia tak peduli bila saat itu karena dirinya yang menimbulkan keributan besar akan membuat Eizen marah. Saat ini mata hati dan pikiran Ellish tertutup oleh amarah, ia tak menyangka rencana ketiganya yang sangat berbahaya bukan hanya gagal tetapi malah melukai Gamma.
“Kak... aku benar-benar tak bermaksud melukaimu...” Ia menangis. Tertatih lalu menjatuhkan dirinya sendiri diantara pecahan barang. Ia sudah tak lagi peduli apakah pecahan itu akan melukainya. Mendengar Gamma terluka membuat hati Ellisha sakit. Ini bukanlah bentuk obesesi yang seperti biasanya. Ia takut jika Gamma mengetahui semua ini, pria itu pasti semakin membenci Ellish.
Disaat gadis itu tengah hancur sebuah tangan terulur menyambut dirinya. Tangan itu tak nampak seperti tangan ibunya, Astoria. Tetapi tangan itu adalah tangan sang kakak, Eizen Mahony, yang berdiri menjulang dihadapannya, “Bangun. Dad ingin bertemu denganmu... dia sudah mengetahui semua kekacauan yang kau buat Ellish.”
Deg
Wajah Ellisha semakin muram. Ia bahkan tak kuasa untuk bangkit karena seluruh kakinya yang tergores pecahan beling baru terasa sakitnya. Hal itupun tak luput dari perhatian Eizen, Ia langsung membopong sang adik dengan lembutnya, “Kau benar-benar menjadi bodoh hanya karena cinta Ellish..” Ia pikir Eizen akan marah setelah mengatakan itu. Tetapi yang terlihat disana hanyalah jejak kekhawatiran yang entah untuk siapa.
__ADS_1
[][]
Puk
Seseorang menepuk bahu Ailee hingga membuatnya mengalihkan perhatian dari wajah damai yang sejak tadi tak luput dari mata Ailee. Ternyata Ellen. Wanita itu terlihat menenteng papper bag bermotif batik yang terlihat penuh, “Ini mom bawakan makan malam juga susu untukmu... cepat dimakan dan jangan lupa minum susunya.” Tetapi Ailee memilih menggeleng. Ia memperhatikan jam dinding yang terletak diruangan serba putih itu. Pukul 21.00 menandakan waktu semakin malam, Ailee bahkan tak sadar ia sanggup melewatinya tanpa makan apapun sejak tadi.
“Ailee. Jika Gamma bangun dan melihatmu telat makan, dia pasti akan marah sayang.. jadi makanlah untuk Gamma dan anakmu.”
“Tapi mom...” Ailee sedikit ragu. Ia memang memikirkan anaknya sekarang tetapi disisi lain ia juga memikirkan Gamma. Nafsu makannya sudah menghilang karena pria itu tak kunjung membuka mata.
“Ailee... makan.” Adam muncul diambang pintu dengan raut tegasnya. Melihat Adam seolah Ailee baru saja melihat sosok Gamma yang baik-baik saja disana. Ia pun memilih mengiyakan permintaan dua mertuanya itu.
Setelah selesai menghabiskan makanan bawaan Ellen. Ailee memohon kepada dua mertuanya itu untuk tetap bisa menemani Gamma. Awalnya begitu sulit bagi Ailee untuk meyakinkan keduanya karena mengingat kondisi Ailee yang tengah berbadan dua. Tetapi pada akhirnya Ailee berhasil membujuk Adam dan Ellen dengan alasan dia ingin saat Gamma bangun, orang yang pertama kali dilihatnya adalah Ailee.
Nit nit nit
Suara alat pendeteksi detak jantung menemani Ailee dalam kesunyian. Semua telah pergi menyisakan Ailee yang masih mau berada disamping sang suami dengan harapan yang masih sama. Harapan agar kedua kelopak mata yang tak ada tanda-tanda akan terbuka itu segera membuka matanya. Ailee ingin melihat Algamma menatapnya tajam, ia merindukan tatapan penuh kecemburuan yang selalu Gamma berikan padanya, dan ia juga merindukan sosok pria itu yang selalu memanjakannya.
Meski tubuhnya terasa penat karena seharian duduk juga kepala yang mulai terasa berat. Ailee menepis semua. Ia menggenggam tangan Gamma begitu erat, “Al, buka matamu...” Ailee menciumi telapak tangan Gamma, “kapan kau akan membuka matamu hmm? Bukankah lewat sedetik saja kau selalu merindukanku, lalu kenapa kau tak segera bangun... aku disini Al...”
Tanpa sadar kata-kata Ailee malah menjadi kegundahan dihatinya. Ia semakin menangis dalam diam. Ailee benar-benar tak bisa bila harus menunggu lagi, “Bangun hiks... Al... kumohon bangunlah...” dan berkat itu. Entah Gamma mendengar Ailee atau tidak tetapi pria itu benar-benar membuka matanya dengan perlahan.
Sembari memaksakan senyum, ia mengusap wajah Ailee yang dipenuhi tangis, “A—ailee....”
[][][]
See you next time All....
Night💛
__ADS_1