MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Janji


__ADS_3

“A—Ailee...” Suara serak yang membuat Ailee semakin menangis deras. Ia beranjak menekan bel untuk memanggil petugas rumah sakit agar segera memeriksa sang suami. Wajahnya yang terlihat panik dengan celah-celah bahagia yang terbit terlihat jelas. Mata Ailee tak pernah lepas mengawasi Gamma bahkan saat dokter itu mengatakan bahwa Gamma ‘Sudah baik-baik saja’.


Sepeninggalan para petugas medis. Ailee langsung memeluk Gamma dengan tangis yang melengking hebat. Ia bagaikan anak gadis yang baru saja hampir kehilangan mainan barunya. “Syukurlah... kau mau membuka matamu sayang...” kata penyambutan yang penuh kasih. Jika boleh jujur ini adalah kali pertama Ailee mamanggil Gamma dengan kata ‘sayang’. Meskipun menahan rasa sakit dikepalanya Gamma tetap bahagia mendengar itu seolah ia telah tertidur begitu lama.


Setelah pelukan yang begitu mengharukan. Gamma meminta Ailee mengambilkannya minum untuk membasahi kerongkongannya yang kering sejak tadi. Wanita itu dengan begitu telaten membantu Gamma.


“Terima kasih. Ailee...” Ailee tersenyum senang masih meninggalkan jejak buliran air mata yang dengan peka dihapus oleh Gamma. “Kau terlihat buruk hanya karena aku tidur sebentar. Apa kau terluka?”


Pertanyaan Gamma bukannya membuat Ailee senang dengan rasa khawatirnya malah membuat masam raut wajah Ailee, “Jangan terus mengkhawatirkanku dan mengorbankan nyawamu sendiri Al... padahal kau dulu sangat membenci perbuatan kak Aily yang mengorbankan segalanya untukmu. Tapi sekarang kau malah melakukan itu padaku...” Ailee menunduk dalam. Meski sekarang semua sudah didalam kendali. Tetap saja fakta bahwa Gamma lebih mementingkan nyawa Ailee dibanding nyawanya sendiri membuat kubangan rasa bersalah membesar dihati wanita itu.


Gamma yang mengerti raut wajah itu, memeggang pipi kanan Ailee dan mengelusnya penuh kelembutan, “Bagiku tak ada yang lebih penting asal kau baik-baik saja...”


“Kau tak paham Al...” Ailee menepis sentuhan Gamma. “Kau tak mengerti. Bahwa saat itu aku hampir kehilangan dirimu... Bagaiamana, bagaimana jika saat itu aku yang ada diposisimu... kau juga akan mengatakan hal yang sama kan?”


“Ailee aku tak apa. Aku lebih bersyukur jika kau dan anak kita baik-baik saja, aku tak mau gagal melindungi orang yang kucintai untuk kedua kalinya Ailee...” Suara Gamma keluar begitu lancar.


“Tapi kau hampir saja kehilangan nyawamu!! Dokter juga bilang cedera kakimu terlalu parah Al!! Hiks...”


Pria itu tersenyum simpul. Membiarkan Ailee mengeluarkan segala perasaannya yang tercampur aduk, ketakutan, kesedihan, kekhawatiran dan juga rasa syoknya. Ingin sekali Gamma memeluk bahu yang bergetar disampingnya dan menangkan sang istri. Tetapi ia tak bisa. Kepalanya terlalu berat untuk terangkat juga kedua kakinya yang mati rasa. Ia ingin mengatakannya namun melihat Ailee yang seperti ini hanya akan membuat wanita itu semakin bersedih karena Gamma. Berusaha tetap diam dan terlihat baik-baik saja didepan Ailee adalah pilihan yang baik.


“Sudah selesai menangisnya?” tanya Gamma yang tak berhenti memperhatikan Ailee. Ketika gadis itu mengusap air matanya baru Gamma mau mengeluarkan suara.


“Jika bukan karena kau yang sakit. Aku akan marah padamu dan membiarkan kau puasa Al...” Gamma terkekeh  dengan pelan mendengar ucapan Ailee.

__ADS_1


“Al...”


“Ada apa, sayang?”


Ailee merona hanya untuk panggilan jarang itu, “Berjanjilah padaku bahwa kita akan selalu bersama selamanya...” Ailee kembali menggenggam tangan Gamma, “Ayo berjanjilah...”


“Baiklah... asalkan. Asalkan kau juga menjanjikan aku hal yang sama Ailee. Kau tak diizinkan pergi tanpa izinku...”


“Baiklah, aku berjanji...” Ailee menjawab penuh keyakinan.


Dan Gamma baru mengingat suatu hal karena perjanjian itu. Semua yang terasa kurang saat bersama Mikaily. Aily tak pernah mengatakan bahwa ia akan selalu bersama Gamma seperti yang Ailee katakan saat ini. Padahal yang Gamma inginkan saat itu bukanlah pengorbanan tetapi kejujuran. Bahkan hingga akhir pun Aily tak pernah mengucapkan perpisahan dengan baik... ia tak pernah menjawab jika Gamma mengatakan untuk selalu bersamanya. Seolah tak ingin menyakiti Gamma. Namun saat itu tetap saja kenyataan bahwa Aily pergi tetap menghancurkan Gamma.


[]


Seorang pria paruh baya memunggungi putrinya dengan kedua tangan bersidekap. Pria paruh baya itu terlihat berwajah serius dengan kerutan-kerutan diwajahnya seolah menahan sesuatu. Amarah. Tak ada yang lebih mewakili perasaan seorang ayah ketika mendengar putrinya hampir membunuh seseorang demi cinta semata selain amarah. Terlebih lagi semua diakibatkan oleh hasutan sang istri.


“Ak-aku min—minta  maaf dad,” Ellish berkata dengan terbata-bata seolah keberaniannya yang selalu ada saat menghadapi sang ayah mendadak sirna, menghilang begitu saja.


“Apa dimatamu dad itu hanya lelucon Ellish? Apakah karena dad selalu menuruti keinginanmu, kamu menjadi sangat semena-mena bahkan tak memikirkan perasaan dadmu ini hah?! Katakan!”


“Bu—bukan begitu dad. Aku benar-benar menyesal melakukannya...”


Prak

__ADS_1


Elgard melempar kertas diatah mejanya dihadapan Ellish hingga membuatnya berhamburan. Ia kini berdiri tegak sempurna memandang nyalang sang putri. Tatapan yang sebeku kutub utara dan semenyeramkan singa yang siap memangsa itu membuat Ellisha bergidik ngeri. Tak pernah ia melihat raut seperti ini dari wajah Elgard sebelumnya.


“Melakukannya dua kali apa itu yang kau bilang menyesal...”


“Mak—maksud dad ap—apa?” Pria paruh baya itu terlihat penuh misteri. Ellish takut bahwa selama ini Elgard tau tentang segala perbuatan jahatnya bahkan sebelum Astoria mempengaruhi Ellish.  Ia takut.


“Sebelumnya kau pernah ingin mencelakai Mikaily, sahabatmu itukan? Jangan kira dad tak mengetahuinya Ellish. Dad memilih diam karena mungkin kau punya itikat baik untuk memperbaiki sikapmu itu,” Elgard benar-benar murka. Mendengar lagi dan lagi putri yang selalu disayanginya perlahan tenggelam dalam genangan obsesi. Masih begitu bersyukur ada Eizen yang mampu ia andalkan, anak yang ia kira tak mampu menerima Ellisha dan masih menyimpan dendam. Nyatanya dia hanya ingin memperbaiki semua tanpa menyalahkan seseorang, “Sudah berulang kali dad berikan kesempatan padamu untuk membuang kegilaanmu pada Algamma. Dad berikan kamu segalanya bahkan izin mengencani siapapun. Tapi ternyata dad salah besar! Kau sekali lagi ingin mencelakai orang yang tak bersalah dan orang itu saudaramu sendiri!”


“Hiks...” Ellisha yang mendengar bentakan Elgard perlahan mengeluarkan air matanya, ia terguncang karena sejak kecil Ellisha tak pernah sedikitpun menerima bentakan. Hidupnya sudah terbiasa dimanja. “Maaf dad... hiks... aku benar-benar minta maaf..”


“Lusa Eizen akan mengantar keberangkatanmu ke London. Jangan pernah pulang sebelum aku menyuruhmu pulang! Ingat itu Ellish...” Bagai disambar petir Ellisha yang mendengar hukuman itu benar-benar merasa kacau. Ia tak siap. Tak siap terusir seperti ini, tetapi apa yang bisa ia lakukan membantah pun Ellish tak berani lagi. “Pergilah kekamarmu.” Ellish hanya bisa pasrah. Semua telah hancur hanya karena satu obsesinya dan Ellish baru menyesalinya kini. Tetapi yang lebih menghancurkannya adalah kepergiannya ke London tanpa membawa keberhasilan apapun.  Selamanya pun Ellish tak pernah bisa mendapatkan Gamma.


Sedangkan Elgard kini berwajah sedih memandang dirinya dipantulan kaca besar, “Maaf Ellish.. semua demi kebaikanmu.. ini semua terjadi karena kesalahan dad...”


[][]


Anyeong yuhu hehehe. Apa kabar nih?


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2