
"Waktu yang kupunya tak banyak..."
Algamma, pria itu saling menautkan kedua tangannya. Ia menunggu tanpa berniat memotong ucapan sang ayah mertua yang kini terbaring lemah dihadapannya.
Walau banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Alferd. Tentang bagaimana pria sehat yang waktu itu dijumpainya kini terlihat pucat dan lemah, tentang ucapannya barusan yang seolah sang mertua tak akan hidup lebih lama lagi.
"Sebenarnya banyak hal yang ingin kusampaikan padamu..." Alferd bicara dengan pelan sembari mengatur nafasnya yang terlihat kesusahan. "Tentang aku dan putriku... yang sebenarnya tak memiliki hubungan yang baik..."
"Ailee mungkin membenci diriku juga ibunya..." Alferd tersenyum dengan tatapan yang menyedihkan. Gamma yakin itu. "Kami tak pernah ada untuk Ailee. Aku tak pernah melihat perkembangannya hingga aku tak menyangka dia sudah sebesar itu. Tapi aku tetap menyayanginya, aku melakukan semua hal hanya untuk putriku meskipun dia tak pernah menyadarinya..."
Alferd menerawang sisa-sisa hidupnya yang lalu. Netranya beralih pada Algamma, suami dari putri tercintanya, "Aku hanya tak ingin Ailee sendirian karena aku akan segera pergi. Makanya aku menuntut gadis itu agar segera menikah..." Gamma tetap menjadi pendengar yang baik, "Tapi aku tak menyangka dia malah memilih menikah denganmu tanpa cinta..."
"Gamma..." Gamma menoleh. "Aku tak tahu apa alasanmu menikahi putriku tanpa saling mencinta, tapi hanya kaulah yang tersisa disamping Ailee. Aku hanya ingin kau menjaganya, jangan menyakiti Ailee... dia sudah banyak menderita karena diriku..."
Gamma hanya bisa terdiam mendengar satu persatu ucapan Alferd yang lirih. Ada sedikit perkataan ayah mertuanya yang membuat Gamma heran, Ailee menderita? Wanita itu sama sekali tak terlihat nelangsa sama sekali. Ailee bahkan terlihat seperti hidup dengan baik.
"Juga Astoria, dia adalah ibu kandung Ailee... Gamma jagalah Ailee dari Astoria... jangan biarkan Astoria menyentuh sejengkalpun helai rambut putriku..."
"Selama Astoria hidup... dia tak akan pernah membiarkan Ailee bahagia..."
"Ini hanyalah permohonan seorang ayah kepada menantunya. Aku harap kau tak pernah mengecewakanku nak..."
[]
Ailee melihat Gamma keluar dari ruangan sang ayah. Mata mereka saling bertabrakan. Ailee yang memandang Gamma penasaran sedangkan Gamma yang memandangnya penuh dengan berbagai pertanyaan. Pria itu bingung, satu-persatu ingatan tentang ucapan Alferd terus menggema ditelinga.
"Mom..." Gamma terlebih dahulu menghampiri Ellen. Pria itu seolah menghindar dari Ailee karena pasti wanita itu akan bertanya dikala pikiran Gamma sibuk mencerna ucapan Alferd yang terngiang, "Sebenarnya bagaimana ayah bisa masuk rumah sakit?"
"Gamma. Mom dan Dad cuma diberi tahu oleh pembantu dirumah tuan Alferd beliau pingsan dan segera dilarikan ke UGD..." Gamma mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Al..." Gamma menoleh dan ternyata Ailee lah yang memanggilnya, "Al... apa yang--"
"Masuklah dulu Ailee, temui ayahmu... ada yang ingin dia bicarakan denganmu..." Pria itu menyentuh bahu Ailee dengan lembut. Tatapan Gamma yang seolah menuntut Ailee agar segera menemui ayahnya membuat Ailee mengikuti apa yang diucapkan suaminya itu.
Ailee masuk kedalam ruang inap Alferd tanpa tahu apa-apa. Ia tak tahu harus khawatir, bersedih atau tidak. Ailee bingung. Namun kakinya tetap melangkah dan melihat diranjang bersandar seorang pria yang tak lain sang ayah.
Ailee melihat ayahnya tersenyum menyambutnya. Pria itu tersenyum lembut dengan wajahnya yang terlihat putih pucat namun senyuman Alferd terlihat tulus untuk Ailee. Wanita itu menghampiri Alferd.
"Ayah..."
"Ailee..."
"Syukurlah kamu masih mau menemui ayah sayang...."
Ailee tersenyum tipis. Ia mengangguk pelan. Sebenci apapun dia pada sikap ayah dan ibunya, Ailee tetap tak bisa jauh dari mereka. Sekalipun wanita yang melahirkannya sekalipun adalah wanita jahat, namun wanita itu jugalah yang membiarkan Ailee hidup dirahimnya. Begitupun dengan Alferd, tanpa pria itu Ailee hanya menjalani hidupnya sebatang kara mungkin.
"Ayah... apa yang sebenarnya terjadi? apa ayah sakit?"
Alferd menggenggam tangan Ailee ia bisa membaca raut wajah masam putrinya yang terlihat memikirkan sesuatu, "Ayah sakit karena tak pernah memperhatikan tumbuh kembang putri ayah..." Ailee menoleh tak mengerti maksud sang ayah.
"Maafkan ayah Ailee...."
"Untuk apa ayah meminta maaf?"
"Untuk dirimu, untuk segalanya. Ayah tau kau hanya ingin mendapatkan cinta kami berdua, tapi kami berdua lebih memilih egois..."
Ailee meraba tangan ayahnya dengan lembut. Dibibirnya terpatri senyuman tulus dengan hati yang begitu lega. Pada akhirnya yang Ailee harapkan adalah penyesalan dari kedua orang tuanya karena tak pernah melihat dirinya, tak pernah memandangnya. Ailee hanya berharap suatu saat sedikit saja ada kata maaf dari mereka berdua, dan kini Alferd telah mewujudkannya. "Ailee sudah memaafkan ayah..." ucapnya begitu tulus. Alferd dibuat menangis karena perkataan Ailee yang memaafkannya dengan begitu mudah.
"Waktu itu... ayah sangat tak berdaya Ailee... aku sangat mencintai ibumu, Astoria... tapi dia tak pernah ingin bersamaku... dia begitu bahagia saat aku menyuruhnya pergi..." Raut wajah Alferd menunjukan kesedihan mendalam. Ada banyak luka ditatapan dan isakannya. Walau Ailee tak mengerti cerita tentang ibu dan ayahnya namun Ailee kini tahu bahwa Alferd benar-benar sangat mencintai Astoria.
__ADS_1
"Aku buta karena cinta. Hingga memilih menyembuhkan rasa sakitku dengan menyibukkan diri. Aku tak sadar bahwa kau juga putriku... kau adalah harta berharga bagiku..."
Ailee memeluk ayahnya yang terisak. Ini adalah pelukan kedua yang diberikan Alferd padanya. Pelukannya masihlah sangat hangat dan ternyata Ailee juga merindukannya. Ia ikut terisak pelan bersama Alferd. Seandainya keluarganya adalah keluarga yang utuh dan bahagia mungkin sekarang Alferd bisa menjadi ayah yang baik begitupula Ailee. Namun sayangnya waktu tak pernah bisa diputar kembali.
"Maafkan Ailee juga ayah... Ailee tak pernah ada untuk ayah..." Alferd menggeleng pelan dalam pelukan putrinya.
"Kau tak salah sayang..." Mereka saling melepaskan pelukan. Alferd masih terisak, tangan pria itu terulur menyibak rambut Ailee dan menyelipkannya ditelinga.
"Ailee ada permintaan yang ayah harap kau bisa mengabulkannya..." Ailee mengangguk, menunggu ucapan Alferd selanjutnya.
"Ayah tau kau menikah tanpa dasar cinta. Ayah tau kau menikah dengan Gamma demi menghindari rujuk kembali dengan Ars... maaf ayah tak pernah tau jika pernikahanmu yang dulu membuatmu menderita..."
"Aku tak menderita ayah..." Meski sebenarnya Ailee ingin mengatakan bahwa dirinya tak pernah ingat, apakah dia menderita atau tidak saat menikah dengan Ars. Ia juga sedikit terkejut karena Alferd ternyata mengetahui segalanya termasuk alasan ia menikah dengan Gamma.
"Tak masalah jika kau tak mau jujur..." Alferd hanya bisa tersenyum, ia kembali membawa tangan Ailee ke pangkuannya, "Tetaplah bersama Algamma..."
"Apa maksud ayah?" Ailee menatap sang ayah penuh tanya.
"Berusahalah sekali lagi Ailee... buat pernikahanmu dengannya selayaknya pernikahan sesungguhnya..."
"Aku tak mengerti."
"Ayah hanya memintamu agar tak membiarkan suamimu menyesal seperti ayah... jangan biarkan dia membuang segala hal yang ada dihadapan mata demi sesuatu yang sudah hilang..."
"Masih belum terlambat untuk kalian berdua... Kalian harus sama-sama bahagia...."
Ya harapan Alferd juga agar Ailee kembali menulis ulang kebahagiaannya. Ailee yang tak pernah menemukan cinta sedangkan Gamma yang masih tetap pada cinta lamanya. Bersama dengan Ailee akan membuat pria itu mendapatkan cinta yang baru dan bahagia yang baru.
[][]
__ADS_1
Aku Up lagi. Maaf telat 2 hari, ngaret abis wkwkw. Jangan lupa jempol dan tinggalkan jejak ya.