MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Pertemuan yang Tak Seharusnya


__ADS_3

Lampu berkelap-kelip memenuhi ruangan remang yang terisi oleh banyak orang. Mereka terlihat ada yang meliuk-liukan tubuhnya kesana-kemari mengikuti alunan musik dj yang terputar besar-besar saling menempelkan tubuh mereka, atau sekedar bercumbu ditempat gelap bersama wanita penghibur yang tak mereka kenal. Bau Alkohol menyengat menjadi saksi bahwa tempat ini merupakan bagian dari kehidupan dunia malam. Tempat para manusia untuk menghibur diri mereka.


Malam ini Gamma ada ditempat itu. Ia duduk didepan seorang bertender pria, ditangan kanannya ia mengangkat cawan kaca dengan cairan bewarna merah pekat terlihat seperti darah bila dilihat dengan cahaya yang remang-remang. Gamma terlihat menikmati tegukan demi tegukan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Gamma kembali ketempat ini, dulu saat remaja katakan bahwa pria itu terlalu bandel namun semenjak menikah Gamma sadar bahwa dia harus berpikir sebagai seorang suami yang baik, jangan menyulut api dalam rumah tangganya yang hanya membawa kehancuran nanti.


Pria itu terlihat frustasi berharap dengan meminum beberapa gelas saja ia sudah bisa melupakan kejadian tadi yang begitu menguras emosinya. Tetapi kelihatannya kerja otak Gamma tak mau diajak kerja sama, perkataan Ellen—momnya—terus berulang kali mengusik.


“Kau yang keterlaluan Gamma!! Kau berubah mom tak tahu perginya Algamma yang dulu... Seharusnya otakmu itu kau gunakan dengan baik.. jangan sibuk menyalahkan cucuku... pikirkan dengan baik mengapa Ailymu itu mau mengorbankan semuanya untuk Alpha!! Pikirkan ia melakukannya juga demi siapa!”


Kalimat demi kalimat yang Ellen sampaikan terdengar dengan alunan nada kecewa akan putranya. Gamma membenarkan kalimat itu, ia akui ia berubah setelah Aily pergi. Terbukti dari seberapa frustasinya dia hingga membuatnya berkunjung lagi ke bar ini. Namun bukan hal itu yang mengganggunya, Gamma merasa itu adalah sindiran untuknya karena terus merasa bahwa kesialan hidupnya dimulai dari kelahiran Alpha. Gamma tak terima. Hingga sebuah pertanyaan terngiang dibenaknya, pertanyaan yang serupa dengan kalimat Ellen, mengapakah Aily mau mengorbankan segalanya untuk Alpha?


Iya, mengapa? Tidakkah Aily mencintainya, jika mencintai untuk apa wanita itu pergi meninggalkannya padahal berulang kali Gamma bilang ia tak akan masalah bila tak punya keturunan asal dia tetap bersama dengan Aily. Berulang kali ia mengatakan.


Brak! Prank!


Pikiran Gamma buyar begitu saja. Ia menatap garang seorang wanita muda yang menabraknya dengan keras hingga menimbulkan gelas yang Gamma pegang jatuh berserakan bersama dengan isinya.


“Hei!!” Ia bangun dari duduknya dengan kesal, “Kau tak bisa pakai matamu itu ya...” kedua tangannya diibas-ibaskan seraya membersihkan jasnya yang tak sengaja ikut ketumpahan air merah pekat itu. Hari ini benar-benar sial untuknya.


Ia kembali menatap wanita dengan dress merah darah yang terbuka. Wanita itu menunduk takut sembari jari-jemarinya memilin dress itu lalu menurunkannya agar lebih kebawah, terlihat sekali sangat tak nyaman dipakai. Namun Gamma tak peduli ia sudah terlanjur kesal ditambah wanita itu hanya diam saja kadang menoleh kebelakang seperti ada yang ia takutkan, “Kau bisu ya?!!”


“Ma—maaf tuan... aku su—sungguh minta maaf...”


“Makanya gunakan matamu itu dengan baik!” Gamma marah-marah, “Bagaimana bisa kau menabrak orang yang bahkan sedang duduk dikursinya...”


Wanita itu mengaduk-ngaduk sesuatu didalam tas selempangnya. Sebuah sapu tangan putih bersih ia genggam, “Maaf maaf aku benar-benar tak sengaja menabrakmu..” ia menyodorkan sapu tangan itu kepada Gamma, namun pria itu terlihat enggan menirimanya hingga akhirnya ia membawa tangan pria itu untuk menerima sapu tangannya, “Tolong gunakan ini untuk membersihkannya, aku sedang terburu-buru sekarang.. aku tak ingin ada ditempat ini...”


Gamma mengernyit, dahinya yang lapang itu mengerut seketika, “Wanita penghi—“


Belum sempat Gamma menyelesaikan pertanyaan yang hendak ia lontarkan, wanita berdress terbuka itu segera berlari dari hadapannya dengan wajah ketakutan tanpa mengatakan sepatah katapun. Pada akhirnya wanita penghibur itu benar-benar membuat Gamma jengkel.


“Ck.”

__ADS_1


Ia menggunakan sapu tangan putih bersih yang diberikan wanita menyebalkan itu dengan terpaksa. Melangkahkan kakinya pergi meninggalkan bar ramai. Mood Gamma anjlok hanya karena wanita penghibur yang tak becus melakukan pekerjaannya bahkan pakai acara kabur juga.


Ia hendak membuang sapu tangan yang sudah ia gunakan itu kedalam tong sampah. Namun kelihatannya ia urungkan, matanya tak sengaja melihat ukiran dari benang jahit yang terukir sempurna di sapu tangan bersih itu,Ailee. Benar-benar nama yang amat persis dengan nama istrinya, wanita yang sejak 5 tahun terakhir Gamma rindukan dan kerena kepergiannya membuat hidup Gamma hancur berantakan.


“Sungguh tak pantas wanita itu menggunakan nama yang persis dengan Aily...” gumamnya. Namun pada akhirnya meski kesal ia tetap menyimpan sapu tangan itu.


[]


Drap drap drap


Suara langkah kaki yang bertabrakan dengan aspal terdengar begitu membisingkan dikala jalanan yang sepi. Mata Ailee buru-buru mencari kendaraan Taxi yang tadi sempat mengantarkannya ke tempat laknat yang seharusnya tak pernah ia kunjungi. Wajahnya memancarkan ketakutan dan kepanikan. Ailee belum bisa tenang bila ia tak menemukan apa yang dicarinya.


Huft


Wanita itu bernafas lega saat terlihat Taxi, ia segera melambaikan tangannya secepat mungkin. Ailee berulang kali menoleh ke arah belakang seperti takut seseorang akan mengejarnya, dan hal itu terbukti benar dua orang pria memakai jas hitam-hitam terlihat berlari cepat ke arahnya.


Ailee langsung menaiki Taxi yang berhenti tepat didepannya, “Pak cepet jalan pak!!” ia setengah berteriak. Dua pria itu hampir menangkapnya. Namun gagal karena Taxi abu itu segera melesat membelah jalanan yang sepi dan lagi-lagi membuat Ailee bernafas lega.


Rencana Ailee yang ingin menyusul Astoria, karena takut wanita itu melakukan sesuatu ditempat yang tak seharusnya malah membawanya kedalam jebakan. Ailee hampir kehilangan segalanya didalam jebakan itu dan justru tak menemukan Astoria dimanapun.


“Nona... anda mau diantar kemana?” Tanpa sadar Ailee memberikan alamat rumah ayahnya kepada sopir itu masih dengan suara yang gemetar ketakutan.


Setengah jam Ailee berada didalam Taxi itu dalam diam. Taxi itu tepat menurunkannya dirumah yang seharusnya tak ia kunjungi. Sudah sejak berapa lama Ailee tak mau kerumah ini karena bertengkar dengan Alfred, ayahnya. Ia ingin kembali ke apartnya namun ia terlalu lemah dan juga sisa ketakutannya masih saja bersisa.


Dengan berani Ailee membuka pintu rumah megah itu dengan satu tangan yang terlihat gemetaran. Ia berharap Alfred sudah tidur dikamarnya, ia tak punya tenaga bertemu lalu di ajak berdebat oleh ayahnya yang ia inginkan hanyalah melepas baju sialan yang membalut tubuhnya.


“Ailee...” sayangnya Alferd tak tidur. Ia malah mendapati kondisi kacau putrinya. Wajahnya sembab terlihat takut akan sesuatu.


“A-a-ayah...”


Alferd menghampiri Ailee, “Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau pakai baju kurang bahan begitu hah?!” bukannya memberi jawaban Ailee malah menangis dengan deras. Pertahanannya mendadak runtuh mendengar amarah Alferd padanya. Membuat sang ayah bingung dibuatnya.

__ADS_1


“Kenapa kau menangis? Jawab pertanyaan ayah Ailee...” Alferd mencoba melunakan nada bicaranya. Karena yang ia lihat sekarang, Ailee terlihat benar-benar syok.


“A-ayah... ta—tadi..” Ailee bicara terpatah-patah karena tangisnya, “Ailee berte—temu bunda...”


“Astoria...” Alferd diam-diam terkejut namun ia menetralkan ekspresinya, ia ingin mendengarkan Ailee. Bagaimana putrinya itu kembali bertemu dengan Astoria, istrinya.


“Bu—bunda jahat yah...” Ailee semakin menangis, “Hiks... Bunda me—menjual Ailee pada pria bejat itu yah hiks...” karena syok Ailee tak memperdulikan ucapannya. Ia tetap menangis. Rasa bencinya kepada Alferd mendadak lunak dan tak ia pedulikan, hanya ayahnya yang disini. Ailee tak sanggup menahannya.


Tep


Alferd menarik tangan Ailee untuk jatuh kedalam pelukannya. Ia berusaha memberikan ketenangan pada Ailee sembari mengelus pelan puncak kepala Ailee dengan lembut. Putrinya masih tetap menangis, bahunya terlihat gemetar dalam dekapannya. Tangan Alferd mengepal, rahangnya mengeras karena penuturan Ailee tentang Astoria.


“Astoria... tega-teganya kau melakukan ini pada putrimu...”


‘Sebencinya seorang anak pada orang tuanya dia tetaplah seorang anak yang suatu saat juga akan jatuh kembali kepada pelukan ayahnya.’


[][]


Monggo di klik jempole


:)


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2