
"Val...?"
Seorang gadis yang tengah menikmati salad buahnya dengan santai menoleh. Telinganya menangkap panggilan dari seorang wanita paruh baya, dia adalah Ellen─ibu mertua dari Almarhumah sang kakak.
"Iya mam?" ia meletakan mangkuk saladnya. Berdiri hendak menutut Ellen agar ikut duduk dengannya. Valery, dia memandang Ellen dengan penuh penghormatan. Bagi Valery, beliau merupakan sosok ibu kedua setelah wanita yang benar-benar melahirkannya, bahkan bisa dibilang Valery lebih dekat dengan Ellen.
"Mau menginap lagi disini?" tanya Ellen pada adik dari wanita yang sangat dicintai putranya itu.
Valery mengangguk, "Iya mam... Aku pengen ketemu Aiden dulu..." jawabnya yang membuat satu alis Ellen terangkat begitu jelas, terlihat heran dengan pernyataan Valery yang ditangkap telinganya.
Dia memandang curiga gadis itu, "Kamu gak lagi suka... Dengan Aiden kan?"
"Hah.. Hahaha..." tawa kecil Valery tak menjelaskan apapun justru semakin membuat Ellen heran dibuatnya, "Apasih mam... Masa aku cuma mau ada yang dibicarain aja... Mana mungkin aku naksir sama Aiden..."
"Ohh... Gitu, padahal gapapa loh, kapan lagi val kamu punya cowo... Bunda kamu loh protes terus karna kamu gak bawa pacar kamu ke rumah..."
Wajah Valery menjadi masam. Ketika membahas sang bunda, ibu yang melahirkannya itu membuat dirinya kesal sendiri, inilah alasan mengapa Valery lebih betah tinggal dirumah orang tua Gamma. Saat dirumah keluarganya sendiri Valery hanya akan menjadi bahan olokan karena belum menikah. Sangat menyebalkan, "Ahh itu Bunda aja nyebelin. Aku masih kecil masih aja maksa nikah-nikah..."
Ellen hanya bisa menggeleng mendengar protes dari Valery, "Apa salahnya sayang..." wanita itu menyentuh dengan lembut kedua tangan Valery, yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri, "Ailee udah nggak ada. Cuma kamu harapan terakhir keluarga..."
Valery menyentuh balik kedua tangan Ellen, "Harapan keluarga masih banyak mam... Ada Alpha sebagai cucu keluarga Canis dan Leviathan juga ada kak Gamma, Valery hanya ingin menikmati masa depan Valery sendiri." jangan lupakan marga Aily dan Valery adalah Leviathan.
"Val... Bukan harapan seperti itu sayang. Mom tau betul kedua orang tuamu pasti sangat mengkhawatirkanmu Val, mereka ingin kamu juga mendapatkan cinta seperti Aily... Selama ini kamu hidup dalam belenggunya kan?" Valery tersenyum manis sebagai jawaban.
"Tak ada belenggu. Oh ayolah mam jangan seperti bundaku... Sudah ahh aku akan mencari Aiden dulu... Oh iya mam ngomong-ngomong Aiden apakah sudah punya calon?" pertanyaan Valery terlihat membuat Ellen kembali salah paham, wanita paruh baya itu malah memberinya senyum menggoda, "Jangan salah paham lagi... Aku hanya mencari jodoh untuk temenku saja..." Valery langsung beranjak pergi meninggalkan Ellen yang hanya bisa menggeleng berkali-kali.
"Jodoh untuk teman? Aihs jodohmu sendiri saja belum ditemukan vale..." gumam wanita itu sebelum akhirnya mengambil mangkuk salad bekas Valery dan menghabiskan sisanya.
__ADS_1
"Mam!!! Aiden dimana sebenarnya??!!!" Teriakan itu milik Valery.
Dengan mulut penuh buah Ellen membuka suaranya, "Dia ada diruang kerja bersama Dad!!!" teriaknya yang entah terdengar oleh Valery atau tidak. Namun sepertinya terdengar terbukti dari heningnya sekitar yang tak lagi dipenuhi dengan teriakan Valery.
[]
"Aiden... Kau mau menikah tidak?"
Pria yang kini berhadapan langsung dengan si pelontar pertanyaan bergidik ngeri terlihat salah paham dalam menangkap maksud pertanyaan Valery, gadis yang kini berkacak pinggang didepannya.
"Kau... Maaf vale aku tak berminat denganmu... Terlebih bukankan ini terlalu mendadak? Kau bahkan tak pernah bilang kalau kau menyukai aku..." ucapan Aiden terdengar begitu polos tanpa dosa.
Bugh
Suara pukulan tangan Valery yang mendarat langsung ke kepala Aiden begitu terdengar mengerikan. Aiden terlihat mendesis nyeri karenanya, ia terus mengusap lembut kepalanya yang perih akibat pukulan semena gadis bar-bar ini, "Ahs ada apa denganmu? Kau jadi bar-bar begini, aku salah apa?" biasanya Aiden hanya akan melakukan kesalahan pada bosnya, Adam atau pada anak bosnya, Gamma. Dimata mereka Aiden selalu serba salah.
Tapi entah mengapa Valery yang biasanya acuh tak acuh padanya itu kini malah mencari dirinya sendiri. Gadis itu mendadak memanggilnya langsung didepan ruang kerja Adam, membuat Aiden terpaksa meninggalkan pekerjaan yang sudah diberikan Adam padanya yaitu mencari wanita yang cocok untuk putra si paman tua itu. Siapa lagi bila bukan Gamma.
"Lalu apa maksudmu dengan mengajakku menikah? Aku tak mungkin tuli..." pria itu terlihat menjadi kesal karena terpancing sikap Valery dan juga tangan gadis itu yang seenaknya mendarat dikepalanya.
"Memangnya aku bilang ingin mengajakmu menikah?" Aiden terlihat berpikir. Dia kembali memutar ulang adegan sebelum kepalanya dipukul oleh gadis dihadapannya itu.
"Ya kau memang tak mengajakku, tapikan kau yang mengatakan 'Aiden kau mau menikah tidak?' begitu." bibir tebal Aiden berkomat-kamit menirukan cara bicara Valery saat mengatakan hal itu. Valery yang melihatnya dibuat mual.
Ia mengurut keningnya, "Hais... Sebenarnya temanku sedang mencari calon suami, jika kau belum punya calon dan berminat. Bisakah kau membantunya, dia sangat ingin menikah..." Valery berpura-pura. Jelas dia lebih tau seberapa inginkah temannya itu menikah.
"Kau gila ya? Pernikahan mana mungkin dibicarakan semudah itu," Aiden memandang Valery, gadis yang tingginya bahkan tak lebih jauh dari bahunya berani sekali gadis itu memintanya menikahi temannya, "Harus ada proses... Mana mau aku menikah tanpa cinta terlebih aku tak kenal temanmu. Apa temanmu semenyedihkan itu sampai memintamu mencarikan mempelai pria untu─"
__ADS_1
"Bicaralah sekali lagi," Valery mengepalkan tangannya mengarahkan pada Aiden seolah bersiap ingin memukul pria itu lagi, "aku akan memukulmu dengan ini."
"Lagi pula temanmu aneh sekali jika belum punya mempelai kenapa ingin sekali menik─" Lagi dan lagi omongan Aiden terpotong oleh orang.
Sosok siluet Gamma muncul menengahi perbincangan mereka berdua. Dia terlihat berwibawa dengan jas kerjanya, "Siapa yang ingin menikah...?" Suara Bariton Gamma bertanya pada Valery. Pria itu setengah mendengar perdebatan Valery dan Aiden, sedikit membangkitkan minatnya ketika membahas soal teman Valery yang mencari seorang mempelai pria.
"Temanku kak..." jawabnya memandang Gamma.
"Dia belum punya calon prianya?" tanya Gamma lagi, Valery mengangguk pelan.
"Valery ayo ikut aku, aku ingin bicara denganmu..."
Sedangkan disisi lain Aiden yang memandang Gamma membawa Valery pergi memandang penuh keheranan, dia terlihat memikirkan sesuatu lalu menggeleng pelan, "Aihs tak mungkin Gamma berminat menjadi mempelai pria untuk temannya Valery itukan?" ia bertanya pada dirinya sendiri sembari melangkah kembali memasuki ruangan sang majikan lama dan kembali menenggelamkan dirinya memandang habis foto-foto wanita cantik didepannya.
Namun sepertinya dugaan Aiden salah. Kini terlihat dari Gamma yang duduk berhadapan dengan Valery, adik dari istrinya yang juga ia anggap sebagai adik sendiri. Dia menatap intens Valery.
"Emmh... jadi apakah temanmu itu sedang mencari suami kontrak?" tanyanya pada gadis berambut sebahu itu.
"Suami kontrak?" Valery terlihat berpikir, "Aku tak tau apakah itu kontrak atau tidak, tapi kenapa kakak bertanya?"
"Aku ingin bertemu dengan temanmu itu Vale..."
Terkejut, tentu saja perkataan Gamma terdengar mengejutkan baginya, "Jangan bilang kakak tertarik?" tanyanya penuh curiga.
"Memangnya kenapa jika aku tertarik?"
Valery menggeleng sembari tersenyum penuh kegirangan didalamnya. Dalam hati ia begitu menyetujui bila Gamma menikah lagi dan mencarikan Alpha ibu baru, terlebih itu temannya yang tak diketahui Gamma. Pasti akan sangat cocok, diam-diam Valery memberikan restunya. Dia tentu saja berharap Gamma bahagia.
__ADS_1
[][]
Jangan Lupa kasih jempol tanda sayangnya ya hehehe