
"Ailee..." Dia adalah Arslan Sirius. Pria itu memandang wanita yang tak lain Ailee Kanedy yang kini berada dihadapannya. Tatapan intens Ars menyiratkan berbagai perasaan yang tercampur aduk menjadi satu. Salah satunya ada kecewa disana.
Suaranya yang lirih memanggil nama Ailee begitu pula dengan tangannya yang menggenggam telapak tangan Ailee dengan lembut. Seolah tak mau menyakiti kulit berharga Ailee.
"Ars ada apa?" Ailee bertanya dengan raut khawatir melihat pria dihadapannya ini seperti tak sehat. Wajah Ars seperti kurang tidur.
Arslan menjawab pertanyaan Ailee dengan gelengan pelan, "Kau baik-baik saja?" lagi Arslan menjawab dengan gelengan pelan.
"Aku tak baik-baik saja Ailee..." ungkapnya dengan suara lirih lagi.
"Kau sakit?"
"Kau tau betul apa yang bisa membuatku sakit..." Arslan menggenggam tangan Ailee semakin erat seolah tak ingin kehilangan.
Saat ini mereka berdua sedang ada disebuah cafe dalam mall. Ailee menepati janjinya untuk bertemu dengan Ars siang ini. Dan disinilah dia sekarang.
"Mengapa kau menikah Ailee? mengapa?"
Ailee membeku, ia terdiam atas pertanyaan Ars. Ailee tidak punya jawaban, jikalau ia punya pasti jawaban itu hanya akan menyakiti hati pria didepannya ini.
Ars melepas tangan Ailee, "Aku yakin. Kau hanya main-main saja kan. kemarin kau ingin menipuku. Pria itu juga tak terlihat mau menikah denganmu. yakan Ailee?" wanita dihadapan Ars itu menggeleng pelan.
"Tidak Ars kemarin memanglah pernikahanku. Maaf aku tak mengatakannya padamu. Ini mendadak."
"Tapi kau tau betul bahwa aku mencintaimu Ailee. Aku serius saat aku bilang mencintaimu waktu itu..."
Ailee mencoba menjelaskan, "Tapi aku tidak mencintaimu Ars..."
Arslan menggeleng tak percaya, "Itu tak mungkin. Dulu kau jelas mencintaiku... dulu kau bahkan berjuang untung membuatku mencintaimu Ailee. Lalu kemana hilangnya cinta itu...?" Pria itu terlihat putus asa, namun disisi lain Ars mencoba meyakinkan Ailee, "Tolong Ai. Cerailah dengan dia, aku bisa menunggu dan kita bisa memulai semuanya kembali..."
Ailee mencoba untuk meyakinkan Ars bahwa itu tak akan mungkin, "Ars... dengarlah aku..." Arslan memandang Ailee, "Aku sama sekali tak ingat jika aku pernah mencintaimu dulu, yang bisa aku ingat pernikahan kita seharusnya tak pernah ada." pernyataan santai Ailee menghujam jatung Arslan, diam-diam hati Ars tersayat akan kata-kata Ailee, "Aku tak ingin memulainya kembali aku hanya ingin kita tetap seperti ini... Ailee yang menyayangi Ars seperti kakaknya, sejak awal seharusnya kau tak jatuh hati padaku Ars..."
Ya jika sejak awal Ailee tak menikah dengan Arslan, ia tak akan bercerai dengan pria itu. Dia juga tak akan pernah dalam kondisi terpojok menikah dengan pria tak berperasaan seperti Algamma.
"Jadi seperti ini rasanya penyesalan..." Ars tertawa menyedihkan, Ailee sendiri bingung maksud dari perkataan pria itu, "Aku menyesal Ailee, aku menyesal melepaskanmu seperti ini..." ungkapnya. Arslan dihadapannya kini hanyalah pria patah hati. Ailee juga tak tega menolak namun juga tak sanggup menerima, ada berbagai perasaan yang bergejolak dalam diri Ailee dimana dirinya tak sanggup menerima Arslan lagi. Sesuatu yang sudah ia lupakan.
"Tapi aku tak akan menyerah.." Arslan memandang Ailee, menangkap tangan wanita itu sekali lagi lalu tersenyum dengan binar perjuangan yang masih berpendar disana, "Kali ini aku yang akan mengejarmu Ailee..."
[]
__ADS_1
Terkadang ada berbagai hal yang membuatmu muak untuk pulang kerumah. Seperti sekarang, Ailee dihadapkan pada Algamma yang memandangnya dari jauh sembari bersidekap. Ia nampak tak suka melihat kedatangan Ailee.
"Dari mana saja kau?"
"Aku?" Ailee menunjuk dirinya, "Aku dari cafeku..."
"Benarkah begitu?" Gamma terlihat tak percaya.
"Kenapa kau jadi sekepo itu dengan urusanku."
"Aku tak peduli kau mau apa. Tapi aku sudah menghubungimu dari tadi. Malam ini kita akan pindah dan kau baru datang sekarang?" Ailee bingung melihat Gamma yang marah padanya. Ia merogoh tasnya dan mengecek ponsel miliknya sembari sesekali melirik Gamma. Beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya menghiasi layar ponsel Ailee.
"Maaf. Aku tak tau."
"Ah sudahlah. Masuk dan segera siapkan barang-barangmu..."
Ailee melangkah masuk lalu ia teringat akan sesuatu yang membuatnya berbalik menghentikan langkahnya, "Al apa kita pindah bersama Alpha?"
"Menurutmu?" Algamma berjalan mendahului Ailee tanpa menjawab pertanyaannya. Ia terus memberikan tatapan sinis setiap hari membuat Ailee geleng-geleng kepala. Ia tak mengerti dengan pria itu tak bisakah sedikit bersahabat padanya. Padahal dia yang selalu memperlakukan Ailee dengan semena.
Ailee masuk kedalam rumah. Ia disambut pelukan dari Alpha yang terlihat senang akan kedatangannya, "Mommy..." Anak itu benar-benar berubah saat ada didepan Ailee. Dia menjadi lebih Happy dan Ailee senang jika kehadirannya berguna untuk Alpha.
Cup
Ailee mengecup lembut pipi tembam milik Alpha, dan anak itu menutup matanya seolah menikmati ciuman kasih sayang dari ibu barunya itu. "Iya Mom... aku sangat senang bisa tinggal bersama mommy Ailee."
"Kau tak senang tinggal bersama Dad?" Dalam hati Ailee mencemoh Gamma bila Alpha sangat wajar tak menyukai ayah sepertinya. Gamma bukan bentukan manusia yang mampu jadi ayah yang baik. Lihatlah karena kekanakan ia mengabaikan anaknya yang begitu lucu ini.
"Aku senang tapi apakah dad akan menyukaiku juga?" Ailee memandang Alpha iba. Ia mencium kedua mata putranya berharap bisa meredakan kesedihan dan kekhawatiran akan tak mendapatkan hati ayahnya.
"Tenang saja say--"
"Sedang apa kau disini aku menyuruhmu bersiap tadi... kau tau aku tak suka membuang waktuku Ailee..." Gamma datang dan langsung memotong ucapan Ailee untuk Alpha. Ia hadir diantara ibu dan anak yang saling melepas rindu itu.
"Dasar tak sabaran..." Gumam Ailee yang masih mampu didengar Gamma.
"Kau bilang apa?"
"Aku bilang kau sangat tampan..." Ailee tersenyum lima jari lalu melangkahkan kakinya dengan lebar, ia berbisik pelan, "Ayo tinggalkan dadmu yang menyebalkan itu." Alpha terkikik geli digendongan Ailee.
__ADS_1
[][]
"Tinggalah bersama Ailee dirumahmu yang dulu Gam..."
Adam duduk dikursi kebesarannya dengan membelakangi Gamma, putranya. Saat ini mereka tengah bicara empat mata diruang kerja Adam.
"Berhentilah meminta hal yang tak bisa kuwujudkan dad." ucap Gamma skartik.
"Aku memang minta berapa banyak? tak sebanyak dirimukan.."
Gamma menghela nafas yang bisa didengar Adam, "Aku kesini tak ingin berdebat. Dad harus menepati janji... aku sudah menikah dan kau harus memberi tahuku dimana pusara istriku..." ucap Gamma yang membuat Adam memutar kursinya dan berbalik menatap Gamma sembari bertopang dagu.
"Kukira kau sudah melupakannya. Atau jangan-jangan kau menikah dengan Ailee hanya demi pusara istri pertamamu?" Adam menatap penuh curiga.
Gamma frustasi ia khawatir pria keras kepala didepannya tak akan menepati janjinya, "Tolong dad jangan bertele-tele aku sudah menuruti dengan menikah lagi. Dad harus menepati janji sebelumnya..."
Adam menyunggingkan bibirnya, "Aku tak akan ingkar Gamma, tapi kau ingat bukan syarat aku merestuimu menikah dengan Ailee kanedy..." Gamma memutar balik otaknya.
"Dalam 3 bulan... Ailee harus mengandung anakmu..."
"Itu mustahil!!" Gamma berteriak dengan spontan.
"Apanya yang mustahil? Kalian jugasaling mencintai bukan jadi tak akan susah membuat anak..."
Gamma memandang Adam dengan tatapan nyalang. Sungguh Gamma benar-benar menyesal terjebak dengan tipu daya pria tua dihadapannya itu, "Dad sudah bilang jika aku menikah kau akan memberi tahu aku dimana pusara Ailee!"
"Tapi aku ingin punya cucu kedua. Sebelum kau menuruti kemauanku aku tak akan memberitahu..."
"Ahh...." Gamma mengacak rambutnya, "Mengapa dad tak mengerti aku hanya ingin Aily."
"Terserah padamu Gamm. Kau bisa mencari pusara istri tersayangmu itu dengan berbagai bantuan, tapi aku pastikan kau tak akan menemukannya bahkan hingga ke ujung dunia. 3 bulan..." Jari Adam menujukkan angka 3, "Jika Ailee tak hamil juga. Kau bahkan tak akan pernah bisa mengunjungi pusaranya..."
"Oh iya... bulan madumu ke Maldive."
[][][]
Halo hola halo!! Aku up sayang sayangku. Jangan lupa klik jempol biar aku makin semangat. Terima kasih terutama untuk kalian yang mau membaca karyaku apalagi meninggalkan jejak :*
Luv U. I Purple U. 💜
__ADS_1