MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Aku Tak Bisa


__ADS_3

Kriet...


Malam hari yang dingin bersamaan dengan datangnya hujan deras. Sejak siang hujan itu tak berhenti merintikan airnya, Ailee membuka pintu balkon kamar berharap dia bisa menghirup udara segar disana. Namun karena hujan yang terlalu deras Ailee malah mendapatkan hawa dingin menusuk yang menyentuh kulit. alhasil Ia membawa kain dan menyampirkannya dikedua bahu. Keiinginannya untuk menatap rembulan malam tak boleh sampai terlewati.


Wanita itu menatap langit malam yang begitu gelap seperti perasaannya saat ini. Lalu ia menjulurkan kedua tangan mengumpulkan genangan air dikedua telapak tangannya, setelah itu Ailee menumpahkannya seperti harapan. Harapannya benar-benar sudah habis dan tak bersisa, pernikahan yang harusnya berjalan setahun harus terpaksa diakhiri bagaimanapun caranya. Karena kedua mertuanya sesungguhnya mengetahui segala hal tentang pernikahan Ailee dan Gamma termasuk tujuan adanya pernikahan ini. Mereka kecewa dan memaksa Ailee untuk berpisah dengan Gamma.


Yang Ailee sendiripun tak sanggup membayangkannya. Kegagalan untuk kedua kalinya, bukan ini yang ayah Ailee inginkan sebagai akhir. Tetapi tetap saja tak pernah ada hal yang membahagiakan untuk Ailee, satu-satunya yang membuat wanita itu bertahan hanyalah karena kandungannya juga Alpha yang berharga.


Ailee memajukan langkahnya, lalu bersandar pada tiang penyangga. Pandangannya menatap kebawah seperti menemukan sesuatu. Disana dihalaman rumah keluarga Canis, Ailee melihat siluet Algamma yang berdiri diam seolah menunggu sesuatu. Kemeja yang ia kenakan terlihat basah kuyup bahkan wajah pria itu terlihat begitu pucat dan lusuh seolah sudah berada disana sangat lama.


“Apa yang Al lakukan disini?”


Ailee melangkah kembali memasuki kamarnya, lalu keluar hendak mencari Ellen. Ibu mertuanya itu pasti tau betul alasan Gamma ada disini sampai seperti itu. Pria itu sama sekali tak terlihat baik-baik saja, bagaimana bisa tidak segera masuk kerumah...


“Ailee, ada apa? Kau terlihat terburu-buru...” suara wanita paruh baya yang begitu kebetulan. Dia Ellen, ditangannya wanita itu membawa segelas susu coklat yang sepertinya disajikan untuk Ailee. Seluruh keluarga Canis tahu bahwa kini Ailee tengah mengandung, sifat mereka berbanding terbalik dengan Gamma yang sama sekali tak bahagia atas kehamilan Ailee. Ellen dan Adam malah terlihat begitu senang, mereka bahkan menyediakan berbagai kebutuhan untuk Ailee termasuk melarang wanita itu pergi.


Awalannya Ailee sama sekali tak berniat untuk kabur kerumah mertuanya. Ia hanya ingin sendiri tanpa ada lagi sangkut paut dengan Gamma sampai hatinya bisa berdamai, tetapi melihat sosok Alpha yang ia bawa. Akan sangat egois bila ia memisahkan Alpha dari oma dan opahnya tanpa izin, alhasil pilihannya hanyalah kerumah orang tua Gamma dan terjadilah semua ini.


“Mom...” Ailee memasang wajah penuh kekhawatiran, “Al kenapa ada disini...? kenapa mom tidak membiarkan dia masuk?”


Ellen mengusap lembut surai hitam panjang menantunya, ia tersenyum bagaikan seorang ibu, menenangkan, “Bagaimana bisa aku membiarkannya masuk setelah segala kesalahan yang ia lakukan padamu..” Ellen menyodorkan susu hamil untuk Ailee, dengan patuh Ailee menuruti sembari menutup kedua hidungnya. Ia benci minum susu karena baunya begitu menyengat dan membuatnya mual.


“Lagipula jika dia masuk dia akan mengetahui bahwa kau ada disini...”


Uhuk!! uhuk!!

__ADS_1


“Ap—apa Al kesini mencariku..?” tanya Ailee. Ellen menepuk-nepuk bahu wanita itu pelan.


“Jika bukan mencarimu apa lagi hmm...”


Mendengar kabar itu. Entahlah Ailee harus berprasangka seperti apa. Ia pikir amat tak mungkin alasan seorang Gamma sampai rela basah kuyup seperti itu hanya demi menemuinya. Mungkin Algamma memaksa bertemu dengan maksud lain, ya pasti pria itu juga sama inginnya mengakhiri pernikahan mereka sesegera mungkin setelah Ailee melahirkan. Ailee tak berani berpikir bahwa Gamma menyesal atas segala perbuatannya lalu bermaksud membawanya pulang, harapan seperti itu seharusnya sudah pupus sejak lama.


“Ma... kenapa tidak biarkan Al masuk, dia terlihat basah kuyup, Al bisa sakit kapanpun itu...” Ellen diam-diam terharu. Mendengar Ailee selama ini tak pernah bahagia bersama Gamma dari mulut suaminya, tentu jelas mengejutkan Ellen. Ternyata selama ini putra dan menantunya hanya berakting, Gamma menikahi Ailee karena keinginannya mengetahui keberadaan pusara Aily begitu besar. Ellen tak sadar bahwa putranya melukai Ailee sejauh ini. Ia tak menyangka Gamma benar-benar berubah, dulu pria itu akan selalu bertindak sesuai insting dan keadaan. Ellen tak pernah mengajari Gamma untuk melukai seorang wanita, tetapi kehilangan Aily membawa perubahan bagi Gamma. Keiinginan egoisnya untuk melihat Algamma bahagia malah berujung menyakiti hati menantunya bahkan Ailee masih bersedia mengkhawatirkan putranya setelah apa yang Gamma lakukan.


Tap


Ellen menggenggam kedua tangan menantunya, “Jangan seperti ini Ailee, kau berhak membenci Gamma dia keterlaluan, aku tak pernah mengajarkannya untuk menyakiti seorang wanita...”


“Aku tak bisa membencinya mom, dia suamiku...” Ya mau sebesar apapun hal yang dilakukan Gamma hanya untuk menyakiti Ailee. Ailee tak akan berubah dan berbalik membencinya, rasa cintanya tak akan pernah berkurang meski Gamma menyakitinya. Mencintai itu sangatlah mudah tetapi untuk membenci bagi Ailee begitu sulit untuk melakukannya.


“Tunggu Ailee...” Ellen menyodorkan sebuah payung yang entah sejak kapan tiba-tiba ada ditangannya, “hati-hati kau sedang hamil...” peringat Ellen, Ailee tersenyum karena Ellen ternyata mendukung keputusannya.


“Terima kasih, mom...”


Ailee membuka payungnya. Ia melangkah pelan menghampiri Gamma yang terlihat membelakanginya, “Al...” Ailee memanggil Gamma dengan suaranya yang terdengar lembut. Gamma yang samar mendengar suara Ailee perlahan berbalik.


Matanya yang sayu memandang Ailee. Wajah cantik yang terasa lama tak Gamma lihat, entahlah memandang wajah ayu Ailee membuat Gamma lega. Seolah rindunya menguap begitu saja, tangannya bergerak menyentuh pipi Ailee, “Ailee... syukurlah kau baik-baik saja.”


Brugh


Gamma roboh dipelukan Ailee setelah mengucapkan kata-kata itu. Kata yang terdengar lega ia ucapkan namun sangat mengejutkan bagi Ailee. Apa iya Gamma mengkhawatirkannya?

__ADS_1


“Al... bangun...”


[]


Gamma benar-benar terserang demam setelah seharian menunggu didepan rumah. Wajahnya yang biasanya memandang dingin pada Ailee, kini terlihat pucat pasi. Bibirnya yang selalu menyakiti hati Ailee, terlihat tak terbuka sedikitpun. Pria itu terbaring dengan kondisi lemah bahkan ada lingkar hitam dimatanya seperti tak pernah tertidur beberapa hari. Ailee kadang bertanya, apa benar kehilangan dirinya membuat Gamma setersiksa ini? tapi bukankah Gamma yang selalu bersikeras tak ingin bersamanya dan tak akan pernah mencintainya...


Ailee memandang wajah Gamma dengan tatapan intensnya. Keiinginannya menyentuh wajah pria itu tak bisa Ailee tahan. Rasanya tak tega melihat Gamma seperti ini, ingin sekali ia menghilangkan rasa sakit Gamma sekarang, “Al... jangan seperti ini padaku...” atau Ailee nanti tak akan sanggup pergi dari sisi Gamma bila pria itu terlihat sehancur ini.


Grep


Tiba-tiba Gamma menarik tubuh Ailee dan memeluk wanita itu. Ailee melihat wajah Gamma ingin memastikan apakah Gamma terbangun, tetapi dugaannya salah. Pria itu bernafas begitu tenang seolah nyaman menjadikan Ailee sebagai gulingnya.


“Ailee... aku mencintaimu...”


Deg


[][]


Hoam aku ngantuk All wkwkw 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2