
Seorang wanita duduk bertopang dagu, matanya yang terlihat sembab mengerjap beberapa kali. Pandangannya terlihat kosong dengan pikiran yang melayang-layang. Wanita itu Ailee, dia melamun memikirkan pertengkarannya dengan sang ayah. Rasanya Ailee merasa bersalah telah membentak pria itu, bagaimanapun ia juga telah merawat Ailee. Dibanding Astoria, Alfred meskipun hanya memikirkan pekerjaannya dia lebih mengerti Ailee.
Ailee berpikir keluarganya tak sempurna. Meskipun dia kaya namun lebih menyenangkan tak memiliki apapun dibanding memiliki orang tua yang gila kerja dan yang satu lagi bahkan tak pernah menganggap Ailee ada. Bagi Ailee Alfred itu adalah seorang penggila kerja, baginya kebahagiaan Ailee sanggup dibeli dengan uang. Ailee percaya suatu saat pasti ayah dan ibunya akan berubah namun ternyata kesabaran Ailee tidaklah sangat luas. Ia merasa semua dugaannya terhadap sang ayah terbukti benar, tepatnya saat Alferd meminta Ailee menerima Arslan sebagai suaminya. Menikah? Untuk apa Ailee tak akan pernah bahagia juga.
Sedangkan Astoria, Ibunya. Sama seperti namanya yang cantik Astoria juga sangat cantik, dibanding dijadikan ibu dia lebih terlihat seperti kakak. Wanita itu lebih buruk dari Alfred. Entahlah Ailee tak pernah mau mengenalnya lagi, karena ibunya itu sudah diusir sang ayah saat umur Ailee 14 tahun. Ailee tak tahu apa penyebabnya, mereka selalu bertengkar. Ayahnya penggila harta dan ibunya penggila uang. Namun Ailee tak bisa membenci mereka bagaimanapun meski Astoria tak pernah menyayangi Ailee, cukup dengan melahirkan Ailee itu sudah lebih dari segalanya.
“Bu.. ibu...”
Ailee kembali dari dunianya. Ira, salah satu pekerja di SA memukul-mukul bahunya beberapa kali. Terlihat Ira sudah memanggilnya sejak tadi namun Ailee malah sibuk dengan pemikirannya. Rasanya pusing sekali.
“Ahh.. ira ada apa?” tanya Ailee dengan cengiran rasa bersalah karena terlalu banyak melamun hari ini.
“Ini loh bu... tadi ada yang pesen kue ulang tahun. Kuenya mau diambil lusa bu.” Ira memberi tahu Ailee.
“Ya sudah kamu saja yang buat, aku percaya kinerja kamu ra.”
Ira cengengesan, “Kalo Ira yang bikin ngapain harus bilang ke ibu. Ini masalahnya orang yang pesennya kelihatan orang kaya bu, mending ibu aja yang buat. Ibukan juga anak orkay pasti seleranya pas, apalah Ira mah kalah.” Ailee terkekeh dibuatnya. Ira ini dibanding dengan pekerja lainnya Ira adalah yang paling dekat dengan Ailee. Tidak hanya sifatnya yang supel, tapi dia juga seperti anak-anak. Sampai Ailee merasa Ira adalah adiknya.
“Makanya kamu kalau disuruh les bikin kue jangan males ra, tiap hari kerjaannya cuma pacaran mulu.” Wajah Ira bersemu merah. Gadis itu terlihat malu karena majikannya tahu bahwa ia sedang masa puber.
“Ihh ibu...” Ira kabur. Sebelum Ailee menggodanya lebih parah lagi. Bisa dipastikan Ira akan sangat malu.
Ira sejujurnya sangatlah menganggumi sosok Ailee. Wanita itu terlihat begitu tangguh dengan status janda yang melekat selama 5 tahun terakhir ini. Bagaimanapun memiliki status itu, kadang memberi momok tak baik bagi Ailee. Bahkan meskipun Ira tak tahu apa yang membuat wanita cantik itu bisa bercerai dari suaminya, Arslan. Namun yang lebih membuatnya kagum adalah Arslan dan Ailee tetap menjalin hubungan pertemanan yang baik. Semoga Ailee segera mendapatkan tambatan hatinya, seperti Ira atau paling tidak kembali dengan Arslan. Tak ada salahnya, pria itu terlihat sangat mencintai Ailee, semua staf SA jelas melihat itu dari Ars.
[]
“Gamm... bagaimana pendapatmu tentang Ellish? keluarganya pernah bertetanggaan dengan kita.” Adam duduk santai didepan Gamma, putranya. Kaki kirinya ia tumpukan di atas kaki kanannya, wajahnya menunjukan bahwa ia menunggu jawaban yang keluar dari mulut Gamma. Dia terlihat sangat serius dalam melakukan pekerjaannya, semenjek Adam mengatakan ia akan pensiun dan menyerahkan segala urusan perusahaan pada Gamma.
Berbeda dengan Adam yang terlihat menunggu jawaban, Gamma sama sekali tak tertarik menjawab pertanyaan sang ayah. Mau Ellish, Ellish itu tetangganya lah atau apanyalah memang ada hubungan dengan Gamma.
Pria itu terus berfokus menatap layar besar yang terpampang didepan wajahnya. Tangannya begitu lincah menari-nari diatas keyboard laptop. Adam yang dianggap tak ada oleh Gamma terlihat kesal, dasar putra durhaka, “Kau ini tuli ya? Dad bertanya padamu Algamma. Apa sopan tak menganggap aku tak ada.”
__ADS_1
Huft
Algamma menarik nafasnya. Justru harusnya Gamma lah yang kesal dengan sang ayah yang seenaknya itu. Sudah memaksa Gamma untuk kembali ke Indonesia, tak memberinya waktu untuk menyiapkan keperluannya, dengan mudahnya mengatakan pensiun padahal masih terlihat segar dan bugar dan kini malah seenaknya menanyakan tentang pendapat Gamma soal gadis lain. Apa ayahnya itu tak bisa melihat bahwa Aily masihlah menjadi gadis terbaik dimata Gamma. Gadis bernama Ellisha itu tak ada apa-apanya dengan Aily. Dia hanya tahu pria tampan dan kaya saja, menyebalkan.
“Dad sikapmu itu sungguh sangat mengganggu. Aku sedang bekerja sekarang, kau bisa pulang dan temanimomy dia sudah menunggumu dirumah.” Tidak sepertiku.
“Kau mengusir Dad? Dasar anak durhaka, akukan hanya bertanya pendapatmu tentang Ellish. Bagaimanpun dia terlihat sangat menyukaimu Gamma. Setidaknya jadilah temannya,”
Gamma hanya menggeleng lelah. “Dad mau tahu pendapatku tentang gadis itu? yang baik atau buruknya?”
Adam menimbang, “Ahh bodoh terserah saja mau yang baik atau yang buruk kan tetap soal Ellish.”
“Yang baik. Dia seorang gadis, sangat sopan didepanmu, aku akui dia cantik...” Tapi tetap cantikkan Aily, “Yang buruknya. Dia sangat sangat menjengkelkan bagiku, pengusik, penganggu, kutebak dia suka uangku dia sangat senang sekali menjadi wanita penggoda.” Jawaban Gamma terdengar santai dan frontal. Telinga Adam yang mendengarnya sampai dibuat panas, seburuk itukah Ellish dimata Gamma.
“Jaga bicaramu Gamm!” Gamma melirik.
“Tadi minta pendapatku sekarang malah protes.” Pria itu mengendikan bahunya, tak mau peduli lagi dengan Adam yang sangat menjengkelkan. Seharusnya Adam lebih pantas memiliki anak seperti Aiden, sama-sama membuat orang mudah kesal.
[][]
“Ada apa? Kau terlihat tak baik.”
Setelah Ellen selesai melepas dasi Adam, pria itu duduk di ranjang, “Mana Alpha?” seperti biasa walau dengan kondisi kesal dan lelah, hal pertama yang Adam tanyakan adalah cucu semata wayangnya itu.
“Dia tidur. Kau ini kenapa?” Ellen bertanya sekali lagi.
“Putramu itu, Gamm—“
Ellen memotong pembicaraan Adam, “Dia sudah pulang? Kenapa dia tak kemari mengunjungi aku?” Wanita itu terlihat kecewa. Gamma sudah sampai di Indonesia tapi malah berkeliaran dan tak langsung menemuinya. Apa karena ada Alpha dirumah ini? Tapi biasanya Gamma tak peduli soal putranya, ia tetap kadang menginap dirumah Ellen.
“Aihs dia langsung bekerja dan lembur kemarin, sampai sekarang dia masih diperusahaan. Dia sangat suka sekali dengan kerja, tau begitu aku batal pensiun tapi nanti dia kabur-kaburan.”
__ADS_1
Ellen memijat bahu suaminya, “Ahh memang dasar anak itu, semenjak Aily meninggal sangat sulit sekali membuat Gamma mengikhlaskan kepergian Aily. Oh apa yang membuat kesal tadi sayang?”
“Aku berencana menjodohkan Gamma dengan Ellish. Dia dari keluarga yang baik menurutku. Alpha sangat membutuhkan sosok ibu, kita tak selalu bisa merawatnya. Tapi putramu itu sangat menyebalkan baru kukenalkan dia dengan Ellish, dia langsung tak menyukainya...”
“Ellish? Anak Hailen?” Adam menggangguk menjawab pertanyaa Ellen, “Begini saja lusa adalah hari ulang tahun Gamma, aku dan Alpha berencana membuat kejutan. Undanglah Ellisha, aku ingin lihat seperti apa gadis itu. jika dia baik untuk putra kita aku yakin Gamma pasti mau menerimanya...”
Adam terlihat ragu, “Tapi kau juga tahu. Gamma sangat mencintai Aily, tak akan mudah baginya menikah lagi sedangkan kita berdua sudah sangat tua. Ia masih saja benci Alpha, aku khawatir nasib cucu kita nanti...”
“Tenang saja. Dia pasti akan menemukan pengganti Aily... aku tak akan membiarkan Gamma terus membenci Alpha...”
“Bila dia tetap saja kekeh tak ingin merawat Alpha bahkan tak mau menikah lagi. Aku akan bertindak tegas nantinya. Sudah cukup dia tak boleh dibiarkan terus menyalahkan Alpha atas meninggalnya Aily.” Adam terlihat memandang istrinya, Ellen dengan begitu serius. Terdapat ketegasan dan raut khawatir akan nasib putra dan cucunya itu. Gamma dan Alpha harus memiliki seseorang yang menjadi jembatan untuk saling terhubung seperti ayah dan anak seumumnya.
[][][]
Jangan lupa jempolnya diteken teken ya
:)
hehe
Selamat menjalankan ibadah puasa. semangat ya
__ADS_1