
“Al. Apakah kakimu masih mati rasa?”
Pemandangan sebuah taman yang dikerumini banyak bunga-bungaan segar dengan pohon yang rimbun sungguh menyejukan mata. Ailee mendudukan dirinya diatas kursi taman rumah sakit yang terbuat dari kayu jati. Ia tak berhenti melihat perawakan Gamma yang tengah menelanjangi sekelilingnya. Pria itu nampak menikmati semua yang tersaji didepan mata, mungkin setelah lama hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit Gamma merasa hanya keluar dari zona itu, ia seolah kembali mendapatkan kebebasannya.
“Tak perlu khawatir Ailee, setelah rutin terapi kakiku akan kembali seperti biasanya...”
Meski mendengar kalimat itu. Ailee sama sekali tak merasa tenang, untuk seseorang yang mengalami kecelakaan Gamma sama sekali terlihat biasa saja dan itulah yang membuat Ailee merasakan sesuatu yang janggal. Ia takut mungkin saja Gamma telah menyembunyikan sesuatu tanpa sepengetahuan Ailee.
“Kau sama sekali tak membohongiku atau sedang menyembunyikan sesuatu padaku kan Al?” Ailee memberanikan dirinya bertanya.
“Aku tak menyembunyikan apapun.”
Namun Ailee tetap tak percaya. Disamping itu Gamma yang merasa Ailee terlalu peka sama sekali tak ingin membahasnya, keputusan pria itu tetap bulat, Ailee tak boleh tahu kondisi kedua kaki Gamma yang sebenarnya. Wanita itu menyentuh lengan sang suami yang terbengkalai menumpang di atas peggangan kursi roda, “Tatap aku jika memang kau tak berbohong.”
Mati aku! Gamma menuruti Ailee memberanikan dirinya untuk memandang sang istri, “Sayang aku baik-baik saja, kau lihat sendirikan. Jangan mengkhawatirkan kakiku terus selama masih memiliki dua tangan aku bisa melakukan apapun,” sejujurnya ketenangan yang Gamma tunjukan hanyalah dipermukaan saja. Bohong jika ia bisa melakukan apapun hanya dengan kedua tangannya. Tanpa kaki mana mungkin ia bisa dianggap pria sempurna. Di palung hati terdalam Gamma takut suatu saat dimana Ailee membutuhkannya yang bisa Gamma lakukan hanyalah duduk diam ditempat.
“Apa yang salah dari mengkhawatirkan suami sendiri. Lagi pula semua terjadi karena kau terlalu fokus melindungku.”
Huft
Helaan napas panjang setidaknya membuat Gamma bisa memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk membalas pernyataan Ailee. Sudah begitu banyak kata-kata yang ia lontarkan agar Ailee tak lagi merasa bersalah atas semua yang terjadi tapi sepertinya dugaan Gamma bahwa Ailee masih sangat memikirkan hal itu, sangat tepat.
“Ailee. Aku tak suka melihatmu seperti ini, jangan terus merasa bersalah semua yang terjadi bukan sepenuhnya salahmu...”
Ailee menunjukan tatapan sedihnya, “Tapi Al... aku takut. Saat itu aku mengira kau tak akan pernah bangun lagi. aku akan menjadi orang yang paling bersalah jika kau sampai kehilangan sesuatu...”
Melihat hal itu Gamma membawa kepala Ailee, mendekatkan dahi wanita itu tepat dibibirnya lalu mengecupnya penuh kasih.
“Aku tau. Sudah kubilang dibanding aku harus kehilangan satu atau dua kakiku aku masih rela. Tapi dia Ailee...” Gamma mengusap lembut perut Ailee, berharap buah hatinya itu mampu merasakan sentuhan sang ayah, “Aku tak bisa kehilangan dia dan dirimu hanya demi keselamatanku sendiri, jadi kumohon jangan lagi merasa bersalah. Selama aku masih bisa melihat dirimu bahkan bila yang tersisa hanyalah kedua mataku saja. Aku rela...”
__ADS_1
Ailee tersipu, “Kau jangan menggombaliku,” telapak tangannya ia letakan diatas tangan besar sang suami seraya mengikuti usapan lembut Gamma.
“Walaupun hanya gombalan. Aku tetap tulus mengatakannya. Tapi Ailee...” Gamma menjeda ucapannya.
“Tapi?”
“Satu-satunya yang membuatku sedikit kecewa pada kondisi kakiku ini hanyalah fakta bahwa sebelum kakiku sembuh. Aku tak bisa menyentuhmu, padahal aku merindukan sesuatu didalam sana. Rasanya sudah lama aku tak mengunjungimu dan anak kita...”
“Sekali lagi kau mengatakan itu. Aku akan memukul keras lengan kananmu itu!”
[]
Malam yang seharusnya tenang dan sunyi berganti dipenuhi dengan hawa kecanggungan juga rasa panas yang menguar. Padahal Gamma sangat yakin bahwa AC dirumah sakit masih tetap menyala dan berfungsi dengan baik, tetapi entah mengapa saat melihat kepedulian dan kehangatan Ailee yang hanya untuk Alpha itu membuatnya sedikit kesal.
“Ailee... tidurlah disampingku, kau juga perlu istirahat,” alasan yang tepat untuk membuat Ailee mendekat. Gamma benar-benar muak melihat putra kecilnya bisa menikmati tidur dipangkuan sang istri, padahal disini Gamma-lah yang paling membutuhkan Ailee. Ia juga ingin dimanja oleh istrinya.
“Sstt, suaramu itu bisa dipelankan tidak? Alpha baru tertidur. Kau tak tau bahwa sejak beberapa hari yang lalu dia tak bisa tidur nyenyak karena mengkhawatirkanmu terus Al...” jelas Ailee dengan suara yang terdengar berbisik, untungnya telinga Gamma sama sekali tak bermasalah, “Dia ingin mengunjungimu tetapi aku tak memperbolehkannya...”
“Malah apa?”
“Malah menunda istirahatmu. Sudah letakan saja kepalanya dan tidurlah disini, kau pasti juga mengantukan kan?” Ayo katakan jika kau merindukan pelukan suamimu ini.
“Aku tidak mengantuk,” jawaban diluar ekspentasi yang sangat mengecewakan bagi seorang Algamma. Oh yaampun padahal dia sudah sangat senang satu rivalnya telah pergi menghilang keluar negeri namun sekarang ia memiliki rival baru yang lebih membahayakan. Alpha Xavier Canis, putranya sendiri.
Bocah dengan wajah tampan juga imut itu pasti bisa menang hanya dengan mengandalkan kepolosannya untuk merebut Ailee sedangkan Gamma. Untuk bergerak saja ia sangat sulit karena kakinya, mendadak ia jadi menyesal mengatakan bahwa ia sanggup menahan diri meski tanpa kaki sekalipun. Ia ingin berdiri dan membopong Ailee lalu memeluk dan menghirup wangi sang istri sepuasnya.
“Ailee... ayolah aku mohon. Tidur disini. Aku juga ingin dimanja seperti itu...” alhasil satu-satunya cara adalah menurunkan harga dirinya dengan berkata jujur pada Ailee tentang apa yang sedang ia rasakan.
Namun bukannya segara menghampiri sang suami Ailee malah terbahak pelan. Pantas saja ia merasakan hawa panas disekeliling ditambah wajah Gamma benar-benar terlihat muram sejak tadi ternyata pria itu sedang menunggunya dan berusaha menahan mati-matian rasa cemburu yang sudah membumbung tinggi, sungguh kekanakan untuk seorang ayah cemburu pada anaknya.
__ADS_1
Melihat hal itu Ailee mendadak sangat ingin menjahili sang suami, biarlah dia tersiksa sementara, bagaimanapun lebih sering Gamma yang menggoda Ailee sekali-kali biarlah dia yang membalasnya.
“Aku sebenarnya sedang ngidam Al?”
“Benarkah? kau ngidam apa? biarkan aku menyuruh Aiden sekarang untuk membelikan sesuatu yang kau inginkan...” mata Gamma yang semula terlihat momohon menjadi berbinar disertai keantusiasan. Ngidam, adalah hal yang paling ia tunggu, dulu jika Mikaily menginginkan sesuatu maka didetik itu juga Gamma akan langsung menyediakannya walaupun sesuatu yang diinginkan wanita itu selalu diluar nalar tetapi Gamma senang.
“Tidak tidak perlu, sesuatu yang kuiginkan ada disini.”
Gamma mengernyit heran disertai rasa penasaran yang amat dalam, “disini? apa itu?”
“Aku ngidam ingin tidur dengan Alpha. Jadi sementara aku akan tidur dengannya...”
Dimenit itu Gamma menarik keantusiasannya untuk menuruti keiinginan Ailee. Pria itu terlihat terkejut dengan ngidam aneh yang menurutnya sama sekali tak terlihat menyenangkan, itu malah ngidam yang paling tak disukai Gamma diantara ngidam ibu hamil yang selalu diluar nalar.
“Tidak boleh, kau harus tetap tidur disini denganku.”
Ailee tertawa didalam hatinya mendengar nada ketidaksetujuan pria itu, “Tapi kau bilang akan menuruti keinginan ngidamku ini... apa kau akan menarik kata-kata mu lagi Al?”
“Iya tapi jangan ngidam yang itu. Ganti dengan yang lain.”
Ailee terlihat berpikir, “Kalau begitu aku ingin bertemu Arslan, aku merindukannya...” ucapan itu seketika membuat Gamma setengah mati kesal. Mendengar nama rivalnya disebutkan membuat pria itu berang. Jenis ngidam apa ini? sungguh menguras emosinya.
“Tetap tidak boleh Ailee. Bisa tidak ngidammu itu masuk akal sedikit? misalnya seperti ngidam ingin memelukku 24 jam. Aku pasti akan langsung menurutinya...”
Ailee mengerucutkan bibirnya, “Aku yang hamil bukan kau, Al!!”
[][]
__ADS_1
Selamat malam.