
Trang
“Aku sudah selesai.” Untuk kedua kalinya seorang Gamma membanting pelan alat makannya. Menandakan bahwa saat ini pria berwajah tampan dengan kemasaman itu begitu muak ikut serta dalam acara makan malam keluarga yang tak seperti biasanya. Ia mengelap mulutnya dengan perlahan sembari menatap dingin seorang wanita yang tak bisa Gamma terima kehadirannya. Ailee. Mungkin itulah nama wanita yang duduk disamping Alpha, Gamma tahu karena ia mengingat ukiran di sapu tangan yang sempat wanita itu berikan di bar kala itu.
Tangan Gamma meletakan kain pengelap mulut di dekat piring bekas makannya. Ia mengundurkan kursi dan hendak berdiri menandakan bahwa pria itu akan segera pergi, “Duduk Gamma.” Namun suara penuh ketegasan yang kini dilontarkan sang ayah membuat Gamma tak bergeming, “Jangan pernah mencoba berdiri sebelum aku memintanya.” Gamma kembali duduk sembari menahan rasa jengkel dalam hatinya.
Selama 15 menit, makan malam tetap berlangsung. Ellen tersenyum kepada Ailee, dia membuka suara lembutnya beralih pandang ke arah Valery, “Valery... bawa Alpha kekamarnya,” lalu ia memandang Ailee dengan penuh arti, “Ailee ikutlah dengan Valery, mungkin kau bisa membuat Alpha tidur dengan nyenyak.” Pintanya dengan penuh makna seolah mengusir Ailee secara halus karena ada urusan keluarga yang perlu diperbincangkan.
Sedangkan Aiden cukup tau diri, dia juga ijin pamit setelah Ailee dan Valery menghilang. Gamma menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak ramah, firasatnya menjadi buruk dalam sekejap melihat kedua mimik sepasang suami istri itu terlihat serius.
“Gamm—“
“Tidak usah basa-basi dad... katakan apa yang ingin kau katakan.” Pria itu memotong ucapan dad-nya. Ia berbalik melirik dengan serius, netra yang persis dengan warna netra Gamma saling bertumbukan.
Huft
Adam menghela nafas karena sebelumnya bahunya yang turun kini berangsur naik. Berhadapan dengan seorang Gamma bagaikan berhadapan dengan dirinya sendiri yang suka berlaku seenaknya dan keras kepala. Tentu saja Adam harus menjaga wibawanya sebagai seorang kepala keluarga, kini tak akan ia biarkan Gamma dengan seenaknya mencela dan membantah ucapan Adam. Pria itu sudah terlalu tua, hidupnya tak harus dipusingkan dengan masa depan Gamma yang masih ditangguhkan.
“Ehem...” Adam melirik Ellen, istrinya mengangguk seolah meyakinkannya, “Baiklah tak perlu berbasa-basi lagi. Dadtak akan menerima penolakanmu untuk menikah dengan Ellish. Keputusan kami sudah bul—“
Kembali Gamma memotong ucapan Adam untuk kedua kalinya, “Aku tidak akan pernah MENIKAH dengan gadis itu.” sautnya dengan menekan kata ‘menikah’, ia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Ia mengira bahwa gadis asing yang kini bersama dengan Valery dan dengan seenaknya diundang dalam makan malam adalah gadis kedua pengganti si Ellish itu.
“Sudahku kukatakan dad tak menerima penolakan...”
“Namun aku juga mengatakan aku tak akan bersedia menikah dengan gadis yang tak lebih baik dari istriku...”
Ellen menatap putranya yang tetap keras kepala, “Gamm ini demi masa depanmu dan Alpha. Jika suatu saat mom dan dad tak ada kau pasti akan membiarkan anak itu tumbuh tanpa kasih sayang. Tolong jangan lagi egois untuk kali ini.” Kali ini Ellen bicara begitu lembut dengan tatapan penuh permohonan pada Gamma, tak lagi seperti malam ulang tahunnya, Ellen kehilangan kendali dan berakhir memarahi Gamma.
“Sudahlah mom, aku tak akan mungkin membuatmu memohon pada anak durhaka kita...” sudut mata Adam melirik putranya yang hanya diam, “Tapi ingatlah Gamma, dad bisa saja merengut semua yang kau punya saat ini dan memberikannya pada putra malangmu itu...” suara Adam berubah menjadi dingin, “Aku juga tak akan pernah pernah memberitahumu tempat peristirahatan terakhir istri tercintamu itu.”
Gamma membelalak, saat ia mendengar perkataan Adam yang terdengar seperti ancaman menakutkan itu sesaat membuat emosinya memuncak. ‘Tempat Peristirahatan terakhir Aily’ tempat yang sejak ia tiba di Indonesia selalu ia cari kemanapun, tempat dimana Gamma ingin memeluk Aily mengatakan maaf karena meninggalkannya sendirian, marah pada wanita yang ia cintai karena begitu memilih mengorbankan nyawanya dibanding memilih hidup bersama Gamma.
__ADS_1
Berulang kali Gamma mencari dengan bantuan koneksi keluarga Canis, namun tetap saja, pusara Aily seolah tidak ada. Sudahkan ia bertanya pada orang tua, Aiden, atau bahkan Valery dan keluarganya? Tentu sudah namun berulang kali juga Gamma berakhir menemui pusara asing yang jelas bukan tempat istrinya tidur begitu panjang. Gamma marah namun ia rasa percuma, ia memutuskan lupa karena permasalahan perjodohannya dengan Ellish lebih memusingkan pria itu.
“Jadi dad-lah yang meminta semua orang menyembunyikan pusara istriku...?” Adam tersenyum skartik menjawab pertanyaan sang anak.
“Tentu saja... hanya mengancammu dengan harta? Dad tak bodoh Gamma, kau yang begitu tergila-gila dengan cinta mana mungkin mau menikah dengan Ellish hanya karena warisan...”
“Aku sudah bilang aku tak akan menikah dengan Ellish!” Suara Gamma mulai terdengar tak sabar.
Ellen hanya bisa menyaksikan perdebatan yang kembali terlulang antara dua prianya itu, “dan Dad sudah bilang tak akan menerima penolakanmu.”
Gamma yang frustasi hanya karena pusara Aily, mencoba mengendalikan dirinya lagi. Ia akan melakukan apapun untuk bertemu dengan Aily tapi tidak dengan menikahi gadis yang jelas tak baik untuk Gamma, ia mencoba memutar otak, “Keputusanku tetap bulat... aku tak akan menikah” Adam melirik Gamma, kilatan kesal terlihat jelas di matanya, “Tapi.. pengecualian bila aku menikah dengan gadis selain Ellish...”
“Maksudmu apa sayang?” Timpal Ellen.
Gamma memijit pangkal hidungnya, “Aku akan menikah bila bukan Ellish yang jadi mempelainya...” ya hanya itulah yang Gamma pikirkan saat ini. Tadinya Gamma bahkan tak akan pernah mau menikah dan bersumpah setia sampai mati meski Aily sudah pergi, tentu saja itu karena cintanya untuk Aily adalah klaim yang begitu permanen, “Aku yang akan menentukan dengan siapa aku akan menikah...”
“Tap—“
Huft
Sekali lagi Adam menghela, ia sendiri membenarkan ucapan putranya. Sebenarnya dengan siapapun putranya menikah Adam akan menerima asal wanita yang baik dan Alpha memiliki pengganti ibunya tak masalah. Jika bukan karena permintaan rekan bisnis sekaligus mantan tetangganya yang mengatakan bahwa putrinya Ellish sangat menyukai Gamma, putranya. Adam tak akan sememaksa itu.
“Baiklah. Dad akan memberimu waktu mencari mempelaimu itu.”
Gamma bangkit dari duduknya, “Tenang saja... aku akan mencarikan ibu yang baik untuk cucu tersayang kalian. Asal dad juga mom memberitahuku dimana pusara Aily... hanya itu yang kuinginkan.”
“Tunggu Gamm..”
[]
Gamma tak percaya Ellen menghentikannya untuk pergi dari rumah yang jadi memuakan itu hanya demi mengantar Ailee. Wanita itu kini duduk disamping Gamma, menyandarkan kepalanya dengan canggung di kaca mobil yang tertutup. Matanya terlihat enggan melirik Gamma, dia mengalihkannya menatap jalanan malam. Sedangkan Gamma sejak tadi sesekali melirik wanita pendiam itu.
__ADS_1
Ia sesungguhnya enggan mengantar seorang asing. Seharusnya bukan tanggung jawab Gamma mengantar Ailee pulang karena Ellen-lah yang mengundangnya. Gamma sendiri bahkan tak tau alasan apa yang membuat sang ibu begitu baik pada Ailee. Jelas sekali wanita itu tak baik karena malam itu dia jelas wanita bar yang menumpahkan minuman Gamma. Membuat moodnya yang saat itu sudah hancur semakin hancur lagi ya walaupun Ailee sempat meminta maaf.
Gamma menghentikan laju mobilnya ketika Ailee mengkodenya bahwa mereka telah sampai. Sebuah gedung Apartemen. Ailee memutuskan tak lagi ceroboh memberikan alamat rumah ayahnya dan berakhir ada disana. Walaupun malam itu ayahnya begitu baik, satu-satunya yang bisa Ailee jadikan sandaran. Tetap saja kemudian hari pria gila itu hanya akan memintanya rujuk dan rujuk dengan Arslan.
Ailee membuka pintu mobil Gamma, ia memaksakan senyum lembut pada Gamma yang terlihat tak bersahabat dengannya, “Tuan Gamma terima kasih atas tumpangannya dan juga aku meminta maaf untuk malam di bar itu...” Ailee berbalik akan melangkah memasuki Apartnya. Ia berpikir sangat susah sekali mengambil hati Gamma mungkin, padahal ia hanya ingin berteman baik dengan ayah dari Alpha itu.
“Tunggu!” suara bariton Gamma menghentikan Ailee, ia memutar tubuhnya dan melihat pria itu keluar dari kemudi mobilnya. Gamma menghampiri Ailee. Tangannya merogoh sesuatu di saku celananya. Sebuah sapu tangan putih yang bisa Ailee kenali itu miliknya.
“Ahh anda tak perlu repot-repot mengembalikannya...”
Netra Gamma memandang Ailee penuh dengan intimidasi dan dingin, “Aku tak mau repot menyimpan barang orang lain...” Ada jeda dalam ucapan Gamma selanjutnya, “Nona Ailee... itukah namamu?” Pria itu menarik tangan kanan Ailee dan meletakan sapu tangan itu ditelapak tangannya, “Sungguh tak cocok sekali dengan dirimu...”
[][]
Kata apa yang paling tepat untuk Gamma?
Menyebalkan wkwkw
Hi Author mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri ya semua. Tetap bahagia walaupun hanya sebatas merayakan dirumah saja, asal sehat dan keluarga tetap baik-baik saja.
Juga terima kasih untuk yang setia sekali menunggu Author yang pemales update ini dengan setia. Terima kasih untuk yang tetap memberikan jempolnya juga.
Author makin bahagia deh kalo kalian juga kasih Jempol terus. hehe maunya thor? mau lah wkwkw. Dapet pahala loh kalo berbagi jempol saat mau idul fitri hehehe.
__ADS_1