
Ailee kini saling duduk berhadapan dengan Algamma. Sang suami memandangnya dengan tatapan yang begitu intens, dibawah kedua telapak tangan Gamma diletakannya sebuah surat yang ditutupi amplop coklat dengan tali-tali pengikat.
Ailee mengintip surah itu hingga Gamma memberikannya pada Ailee dengan begitu sukarela. Pria itu menyodorkat amplop coklat berukuran A4 ke arah Ailee, "Surat perjanjian atau kontrak antara kita berdua."
Ailee membuka surat itu. Kini dikedua tangannya terdapat dua lembar kertas putih dengan banyak tulisan. Ia memandang Gamma tak mengerti namun pria itu mengkode agar Ailee membaca kertas itu.
"Pernikahan ini hanya berjalan satu tahun?" tanya Ailee pada Gamma dan pria itu mengangguk pelan sembari bertopang dagu.
"Satu tahun cukup bagi kita untuk menyudahi dengan baik..." Gumam Gamma sambil berpikir bahwa semuanya akan mudah dilakukan.
Sedangkan Ailee sedikit tak setuju dengan keputusan sepihak Gamma. Sejak awal Ailee hanya ingin menikah, tidak dengan bercerai. Dia ingin walaupun antara suami dan istri tak terdapat perasaan yang memungkinkan bagi mereka untuk bertahan, tapi perasaan bisa kapanpun tumbuh asal mereka mampu hidup bersama tanpa jangka waktu apapun. Ailee hanya ingin begitu namun sepertinya Gamma tidak begitu.
Apalagi ada Alpha yang menjadi alasan kuat bagi Ailee. Jika mereka berdua berpisah nanti entah kapan Ailee bisa bersama Alpha lagi.
"Disana juga tertulis kau tak perlu melayaniku sebagai istri sesungguhnya, kau hanya perlu mengurus Alpha..."
Ailee memutar bola matanya, "lagipula siapa yang mau mengurusimu Al..." Gumamnya tanpa sadar membuat Algamma memandangnya tak suka.
"Satu lagi..." Gamma mengetuk meja dengan jari tangannya, "Perasaan. Tak diperbolehkan diantara kita... aku yakin bahkan akupun tak akan jatuh cinta padamu."
Ailee menyela, "Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanyanya pada Gamma. Pada dasarnya jatuh cinta itu mudah bagi siapapun, tak ada yang bisa menebaknya. Sekarang Gamma bisa mengatakan hal seperti itu namun siapa yang tahu bila nantinya justru pria itulah yang termakan kata-katanya sendiri. Terlebih hidup selama satu tahu itu lama.
"Kau pun tau hatiku untuk siapa." Gamma menjawab sekenanya dan menjelaskan bahwa selamanya cinta hanya milik Aily yang tak ada lagi.
Ailee hanya bisa menghela nafas panjang. Gamma memang pria seperti itu seharusnya dia sendiri pun sudah tau jawaban apa yang akan dia terima, "Tapi bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?" Ailee memberanikan diri bertanya. Algamma memandangnya dengan tatapan tajam menusuk.
"Buanglah perasaanmu. Aku tak berniat membalasnya..." jawaban yang begitu angkuh yang membuat siapapun yang mendengarnya akan kesal bahkan terluka.
"Tugasmu hanyalah menjaga Alpha tidak mengurusiku jadi kau tak akan mungkin jatuh cinta padaku Ailee."
"Itu mungkin saja tak akan terjadi. Tapi hidup tanpa cinta itu membosankan." Walau Ailee sendiri tak pernah merasakan rasanya mencintai, "Jika aku tak boleh mencintaimu maka aku akan mencintai pria lain saja."
__ADS_1
"Silahkan jika kau berani... ingat Ailee aku hanya memintamu untuk bersabar satu tahun saja. Setelah itu kau bisa bebas mau jatuh cinta pada siapapun tapi tidak untuk sekarang."
"Baiklah..." Gamma menjeda ucapannya, "Kau bisa menambahkan poin penting lain disini..."
"Kalau begitu, biarkan aku tinggal bersama Alpha setelah kita bercerai..." Gamma menggeleng. "Kenapa lagi, aku hanya meminta itu saja. sejak tadi kau yang melarangku ini dan itu." protes Ailee.
"Aku hanya tak ingin ada hubungan denganmu lagi setelah kita berpisah."
"Kita tak akan bertemu Al... aku yakin kau juga tak mau merawat Alpha. Kau menganggapnya putra saja tak sudi." Ailee menyindir Gamma.
"Aku tak peduli intinya saat kita berpisah nanti kita benar-benar sudah tak ada hubungan, kau tak boleh berhubungan dengan keluargaku juga..."
Ailee berdiri hendak pergi karena terlalu jengah, "Ah terserahmu sajalah. Semua pendapatku pasti selalu salah nantinya."
"Tunggu..."
Ailee berbalik kesal, "Apa lagi?"
"Tanda tangani ini."
[]
Seorang pemuda berkemaja biru navy berulang kali mengetuk pintu dengan warna baby pink didepannya. Dia adalah Eizen. Pria itu terus mengetuk pintu Ellisha sang adik yang sejak kemarin mengurung dirinya dikamar. Bahkan Gadis manja itu sudah berani tak menyentuh sarapan dan makan siangnya.
"Ellish!! Kakak bilang buka pintunya!" Eizen memanggil Ellish. Ia menaikan suaranya karena terpancing emosi dengan kekeras kepalaan adiknya itu.
"Buka pintunya Ellisha! Kau jangan terus membuat dad khawatir karena dirimu!" Hening. Sekali lagi Ellisha tak menggubrisnya. Eizen benar-benar muak harus tak beruntung memiliki adik seperti Ellish yang sama sekali tak ada dewasanya. Dia bahkan sama sekali belum cukup umur menjadi seorang istri.
"Buka atau ku dobrak!"
Cklek
__ADS_1
"Ada apa sih kak? Kenapa kau tak bisa membiarkanku tenang sebentar saja."
Ellish Mahony. Dia berdiri didepan Eizen dengan rambut acak-acaknya. Mata gadis itu benar-benar sembab dan gelap karena menangis juga kurang tidur. Terlihat bahwa adiknya itu memang patah hati karena ditinggal menikah.
"Turun dan makan. Jangan membuat dad khawatir Ellish."
"Biarkan saja. Toh Dad tak benar-benar memperdulikanku. Lihatlah pasti sekarang dia sedang bersenang-senang dengan wanita simpanannya itu..."
"Wanita simpanan itu bukankah ibumu?" Eizen seperti memandang adiknya geli bercampur muak. Ellisha yang ditatap seperti itu terlihat kesal, ia melemparkan bantal yang ada digenggamannya pada tubuh Eizen. Gadis itu hendak menutup pintunya kembali namun sayangnya gerakannya kalah cepat dengan gerakan Eizen yang menahan pintu kamar Ellish.
"Jangan membuatku semakin marah Ellish. Ingatlah kau bukan siapa-siapa jika Ibuku dan dad tak memungutmu. Bahkan Ibuku harus kehilangan nyawa karena ibumu yang kau anggap murahan itu.."
Eizen berubah menjadi dingin seolah menyebarkan seluruh suhunya mencapai Ellisha, membuat gadis itu takut hingga bulu diseluruh kulitnya meremang. Kakaknya terlihat menyeramkan kini.
"Turun dan Makan!"
[][]
Ellisha mengunyah sarapannya dengan tak rela. Bunyi dentingan piring sebagai pelampiasan kemarahannya berbunyi dengan begitu nyaring. Matanya berbinar karena air matanya hendak keluar saking kesalnya pada Eizen juga seluruh kesialan yang menimpanya sejak kemarin.
Gadis itu mengingat dengan betul bagaimana kemarin ia membuat keributan di acara resepsi pria yang begitu amat Ellish cintai itu. Pada akhirnya Gamma bahkan tak menatapnya meskipun Ellish senang pria itu terlihat tak mencintai wanita yang waktu itu ia nikahi. Terbukti dari tingkahnya yang tak berniat membela istrinya saat akan ditampar Ellish.
Namun Ellish juga kecewa pada pria itu. Sebegitunya kah pria itu tak mau menikah dengan Ellish. Padahal dia sangat mencintai Gamma sejak dulu. Dia rela menunggu hingga kesempatan datang padanya karena Aily, istri Gamma meninggal. Ellish yakin dengan begitu Gamma akan menjadi miliknya. Bahkan meskipun ia harus mencoba mendekati Alpha. Anak itu hanyalah batu loncatan baginya. Tetapi sayangnya Gamma malah memilih menikah dengan wanita selain Ellish.
Ting! Ting!
Ellish menusuk-nusuk sosis goreng dihadapannya dengan garpu. Ia membayangkan bahwa itu adalah Gamma, "Aku tak akan menyerah padamu kak. Aku sudah cukup bersabar, bahkan bila aku harus menyingkirkan gadis itu aku akan menyingkirkannya asal bisa mendapatkanmu.."
Saat itulah segala pemikiran jahat Ellisha memenuhi pikiran gadis itu. Dia tak menyadari bahwa cintanya pada Gamma selama ini hanyalah obsesi tak nyata yang mungkin akan menghancurkannya.
[][][]
__ADS_1
Hi say. Ketemu lagi sama author. Ayo pencet jempol dan sering sering tinggalkan jejak. Dukung aku juga ya :)
🙏💕