MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Aku tak akan minta maaf


__ADS_3

“Al...”


Genggaman tangan Ailee yang mengerat memberikan Gamma kesimpulan bahwa wanita itu masih menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Astoria, bundanya itu. Wanita yang meskipun tahu bahwa Ailee adalah putrinya namun tetap berbuat jahat hanya demi keiinginannya sendiri. Wanita yang dengan tega melukai hati sang ayah hanya karena tak mencintainya. Juga tega membuat hati putrinya yang tak pernah sedikitpun ia pedulikan terluka.


“Sayang, jika kau memang tak ingin menemuinya tak masalah. Kita bisa melakukannya kapan saja...” namun Ailee menggelang pelan. Ia tetap ingin bertemu dengan Astoria. Ia ingin sekali saja melihat wanita itu, apakah pernah sedikit saja Astoria menyesal akan segala perbuatannya yang lalu? pernahkan dia memikirkan bagaimana terlukanya hati sang ayah bila mengetahui segala niatnya bahkan sampai mampu melukai Ailee? pernahkah itu terjadi?


“Baiklah, tenang saja. Aku ada bersamamu,” senyuman lembut terbit dari wajah suami Ailee yang dibalas balik dengan anggukan sekaligus senyuman. Hanya dengan senyum itulah Ailee merasa bisa tenang.


Mereka pun masuk bersama-sama ke kantor polisi. Tangan Gamma yang saat itu terbengkalai meraih pinggang Ailee secara tiba-tiba. Entah mengapa ketika masuk kedalam kantor Gamma mendadak tak suka karena disana banyak sekali pria yang melihat sang istri dengan tatapan yang terlihat tertarik. Dan ia mengakui saat melihat wajah istrinya, meski tak memakai make up dan hanya mengoleskan liptint tipis tetap saja Ailee tetap cantik dan menawan. Karena hal itulah  keposesifannya kembali menguar.


“Al, ada apa?”


“Tidak ada, aku hanya ingin menunjukan pada para polisi itu bahwa kau milikku...” ujarnya dengan nada kecemburuan.


“Untuk apa seperti itu. Kau jauh lebih tampan dari mereka,” puji Ailee spontan membuat Gamma melayang didetik itu juga.


[]


Drap drap drap


“Mommy!!!”


“Hup...” dengan satu kali tangkapan Ailee menangkap putra kecilnya, siapa lagi jika bukan si tampan Alpha. Dia terlihat begitu senang mendapati kedatangan ibu kesayangannya dan begitu saja langsung berlari memeluknya.


“Ada apa sayang...?”

__ADS_1


Alpha nampak menunjuk-nunjuk kamar sikembar, “Mommy sepertinya adik bayi rindu mommy juga, hari ini mereka terus menangis...” ujar Alpha kecil.


“Benarkah?” Ailee yang khawatir pun langsung membawa dirinya ke arah kamar twin dan benar saja Alias yang biasanya hampir tak pernah menangis dibanding Alora, bayi itu kini terlihat menangis dengan kedua tangan dan kaki yang bergerak gelisah tidak nyaman, “Alpha turun sebentar ya... mommy mau lihat adik bayi...” Alpha mengangguk dan begitu saja menuruti. Ia terus mengamati Ailee yang terlihat menggendong Alias dan sesekali memeriksa dahinya. Entah mau memastikan apa.


“Ada apa Ailee...?” suara Gamma terdengar di ambang pintu, ditangannya ia membawa beberapa barang belanjaan yang sempat mereka beli setelah pulang menemui ibu kandung istrinya. Pria itu melangkah menghampiri Ailee yang terlihat tengah sibuk memeriksa Alias.


Dengan wajah panik ia berbalik memandang suaminya, “Al... Alias demam...” ia terus berusaha mencoba menenangkan anak keduanya yang terus menangis histeris. Sepertinya bayi itu tak nyaman dengan suhu tubuhnya. Sedangkan diranjang lain, Alora juga ikut menangis, seolah tau bahwa kakak kembarnya sedang sakit ia pun ikut tak tenang. Membuat Gamma langsung bergerak menggendong putri kecilnya.


“Dimana sebenarnya pengasuh mereka?” Gamma terlihat menahan amarah, bagaimana bisa hanya ada Alpha disamping dua bayi mungil ini.


“Dad...” Alpha menari-narik kaos santai sang ayah. Ia sepertinya peka bahwa sebentar lagi pria itu akan meledakan amarahnya, “Tadi bibi bilang sudah menelpon tapi sepertinya tak diangkat, dia bilang pada Alpha akan memesan angkutan untuk bawa adik ke rumah sakit...” ucap Alpha.


“Al... kita harus ke rumah sakit, demam Alias tinggi...” ujar Ailee masih dengan sisa kepanikan.


Gamma pun mengangguk kuat, “Ya, tapi kita harus mengabari Bi Mina terlebih dahulu.”


Drap drap drap


“Bi tolong jaga rumah sebentar, saya dan istri saya akan pergi ke rumah sakit. Titip juga Alora dan Alpha...” Pamit Gamma, pria itu langsung melangkah tanpa mendengar jawaban pengasuh si kembar. Ia mengajak Ailee untuk segera menuju mobil yang terparkir rapi didepan garasi.


“Al... aku takut, biasanya Alias tak pernah menangis sehisteris ini...” perasaan kehilangan ivory membayangi dan menghantui benak seorang Ailee. Sebagai seorang ibu kehilangan anak merupakan trauma sendiri bagi Ailee. Rasa bersalah menyeruak masuk, apakah Ailee kurang dalam menjaga putra dan putrinya?


Tap


Gamma menyentuh puncak kepala Alias yang ada digendongan Ailee lalu mengusap lembut, “Dia akan baik-baik saja,” pria itu sesekali memandang hangat bola mata Alias. Meski menangis dan tersiksa karena tak nyaman, ia yakin putranya kuat seperti kakaknya, Alpha, juga seperti ibunya, Ailee. Bahkan setelah Ailee bertemu sang ibu yang terlihat masih amat membencinnya, wanita itu tetap berusaha memaafkan Astoria.

__ADS_1


“Bunda...” sebuah ruang kaca dengan lubang yang membatasi kedua ibu dan anak itu tak mengurangi kecanggungan yang terjalin diantara mereka. Meski awalnya Ailee terlihat gugup tadi saat dihadapan Gamma. Namun kini yang terlihat dihadapan sang ibu, wanita itu malah nampak tegar dan kuat. Kesan buruknya soal Astoria, tak lagi mebeban. Yang tersisa hanyalah berbagai pertanyaan mengapa ibu kandungnya sampai sebenci itu padanya? benarkah bagi Astoria, Ailee hanyalah penghancur kehidupannya. Setidaknya sekali ini saja Ailee ingin meyakinkan dirinya, sekalipun ia harus hancur lagi dengan jawaban Astoria.


“Jika kau kesini untuk mendengar kata maaf dariku...” Astoria memandang wajah putrinya, ia sedikit sedih memandang wajah itu, wajah yang setengah mirip dengan dirinya, “Maka jangan harap aku akan mengatakannya...”


Ailee menggeleng, “Aku tak mengharapkan itu... aku hanya ingin memastikan, apakah sebenci itu Bunda pada ayah? apakah pernah sedikit saja Bunda memikirkan aku dan ayah? pernahkah??” tanya Ailee dengan wajah sendu.


Astoria menunduk, “Kau pun tau jawabannya Ailee..” untuk pertama kalinya ia menyebut nama sang putri kandung. Sesekali ia memandang sang menantu yang berdiri dibelakang istrinya. Wajahnya terlihat tampan namum begitu dingin dengan tatapan yang penuh aura tak suka. Kelihatannya sang menantu begitu membenci dirinya.


“Jika aku memikirkan kalian, maka saat ayahmu menceraikanku sekalipun, aku tetap akan kembali dan menengokmu...”


Ailee tersenyum masam, “Tapi bunda tidak pernah menengokku... Baiklah itu sudah cukup. Setidaknya harapanku untuk memperbaiki hubungan kita sudah tak seharusnya ada... aku akan menuruti kemauan Bunda, aku tak akan pernah lagi menganggu kehidupan Bunda atau sekedar muncul menunjukan wajahku... tapi...” tangan Ailee menyodorkan sebuah amplop putih bersih yang terlihat disimpan dengan baik, “baca ini setelah aku pulang, ini satu-satunya surat dari ayah untuk Bunda, dia bilang aku harus memaafkan Bunda meski bunda tak akan pernah kembali... lagi.”


Setelah mengucapkan untaian kalimat yang terdengar seperti perpisahan. Ailee bangkit dan menghampiri suaminya, “Al... aku minta tolong jangan penjarakan Bunda ya... bebaskan dia...” ujarnya yang masih sempat didengar Astoria.


Gamma pun mengiyakan permintaan Ailee meski hatinya sendiri sedikit tak menyutujui keputusan istrinya yang ternyata  benar, bahwa dia akan memaafkan ibunya. Ia sedikit melirik untuk sekedar melihat ekspresi Astoria setelah mendengar keputusan Ailee dan ia bisa membaca bahwa mertuannya itu sedikit menyimpan ekspresi menyesal. Baru setelahnya mereka pun benar-benar pergi.


Membiarkan Astoria membaca surat mendiang mantan suaminya itu. Disana ia menangis, mengalirkan air mata penyesalan atas segala yang ia lakukan selama ini. Ia menyesal tak pernah menyadari jika setidaknya ia membalas cinta Alferd yang begitu tulus pasti saat ini mereka akan bahagia.


[][]


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2