
Srak
Sebuah amplop coklat besar menyambut mata Astoria saat pertama kali wanita itu terbangun. Ia mengalihkan pandangan kepada sosok pria yang tengah sibuk dengan kancing-kancing dikemejanya. Mata pria itu terus menatap mata Astoria dengan pandangan yang tak terbaca. Entahlah semua tercampur aduk di netra kelamnya, marah, emosi, kecewa, dan rasa muak yang terpancar disana.
Astoria menarik selimut agar membalut tubuhnya yang tanpa sehelai pakaian apapun, lalu sesekali melihat amplop dipangkuan dengan penasaran “Apa ini mas?” ia bertanya pada pria itu.
“Buka.” Jawaban singkat yang terdengar tak biasa. Dingin dan syarat akan kediktaktoran. Di satu sisi itu adalah jawaban namun disisi lain Astoria tau bahwa itu adalah perintah yang tak bisa dibantah. Akhirnya ia membuka amplop itu dengan hati-hati dan mengeluarkan satu lembar kertas yang ada didalamnya.
‘Cerai’ kata itu menghiasi lembaran kertas putih yang ada digenggaman. Menjadi penyebab keterkejutan seorang Astoria Kanedy ralat dirinya bukan lagi Kanedy sekarang tapi seorang Mahony, namun entahlah sepertinya marga keluarga itu akan segera menghilang dari nama belakangnya.
“Ini maksudnya apa? Surat cerai? Mas gak bermaksud untu—“
Elgar, suami Astoria yang baru menikahi wanita itu belum genap setahun. Menemukan wanita yang dengan baik hati mau menerima kedua putra dan putrinya itu adalah sebuah keberuntungan bagi Elgar, terlebih sosok Astoria juga selama ini sangat penting baginya yang juga merupakan ibu kandung dari sang putri, Ellisha Mahony.
Namun siapa sangka dibalik sosok yang ia kira mampu mengubah dan membawa dunia baru bagi Ellisha, rupanya hanyalah bunglon yang mengubah warnanya. Elgar jatuh cinta tetapi ia tak mengenal dengan baik wanita seperti apa yang dia cintai. Untungnya ada Eizen, putra yang hingga detik ini selalu menjadi kebanggaan. Pria itu begitu dewasa menghadapi setiap masalah, ia tegar dan pemaaf. Tak seperti Elgar yang hanya bisa menyakiti orang-orang terdekatnya.
Ia memtong ucapan Astoria sembari berjalan pelan menggapai jas kebesarannya, “Aku akan menceraikanmu.”
3 kata yang menghempas Astoria didetik itu juga. Ia terenyuh seolah nyawanya menghilang. Padahal pikirannya sedang berkelana, alasan apa yang membuat Elgar yang begitu mencintai dirinya mau menceraikannya? apakah ada kesalahan besar yang telah Astoria lakukan? atau apa pria itu tau seberapa banyak kejahatan yang telah istrinya lakukan? tapi bagaimana bisa? berbagai pertanyaan meghantui pikirannya.
“Ta—tapi apa alasannya? Mas gak sedang bercandakan?”
Pria berkepala 4 itu tersenyum, entah karena apa, “Hmm, apa aku seperti sedang membuat lelucon bagimu?” ia melepas dasi hitam yang terikat di pergelangan tangan Astoria.
“Kita baru menikah, bagaimana bisa kau menceraikanku tanpa alasan?! Bukannya kau berjanji untuk mencintai dan hidup bersama selamanya?” Astoria terlihat geram terlebih saat ia melihat sang suami mencetak senyum dibibirnya. Senyum yang tak ia mengerti, terlihat seram dan menyiratkan sesuatu. Wanita itu bingung, kemanakah hilangnya Elgar yang selalu menatapnya lembut dan penuh cinta?
“Itu dulu. Sekarang aku tidak mau melakukan itu. Cepat tanda tangani suratnya, aku menunggumu... disini...” Elgar duduk diatas sofa panjang yang tersedia dikamar utama, ia terus mengintimadasi Astoria agar segera menandatangani surat perceraian mereka tanpa bermaksud menjelaskan penyebab perpisahan itu.
Srek srek
Astoria yang marah karena Elgar sama sekali tak mau menjawab kebingungannya menyobek lembaran surat itu menjadi potongan-potongan kecil hingga tak bersisa. Ia sama sekali tak mengindahkan kalimat pria itu yang terdengar serius dan lebih memilih meminta kejelasan meski memancing sosok Elgar yang lain.
“Sobeklah hingga 1000 kali maka aku akan memberikanmu 1000 kertas yang sama sampai kau mau menandatangani itu.”
“Aku tidak mau!! Aku tidak akan bercerai darimu!!” Astoria berteriak lantang.
“Astoria aku memang mencintaimu, tapi mengertilah rasa sabar dan rasa cintaku itu berbeda. Kau sudah membuang waktuku menjadi sia-sia dan aku bisa menjadi tak sabar karena itu....” ancaman yang membuat nyali Astoria langsung menciut. Seketika ia terdiam sambil menatap sang suami, “Mau tau alasanku menceraikanmu? itu karena kau tak pernah pantas menjadi seorang ibu bagi dua anak-anakku. tolong tanda tangani ini... mumpung masih ada sisa kebaikan yang aku punya sebagai suamimu...”
__ADS_1
Astoria menerima dengan gemetar amplop coklat yang kembali utuh, berapa banyak Elgar menyiapkan surat cerai ini. Ia menanda tangani sesuai dengan permintaan sang suami yang kini telah resmi menjadi mantan suaminya. Pria itu terlihat senang, padahal dulu saat Astoria meninggalkannya dia bahkan tak mampu bangkit dari keterpurukan. Namun siapa sangka dengan mudahnya Elgar melepaskannya setelah dengan susah payah ia dapatkan.
“Apa alasanmu melakukan ini semua? Mas Elgar, kau dulu tak seperti ini... sebenarnya apa salahku? padahal aku sedang berjuang membuat keluarga kita menjadi lebih harmonis.”
“Aku sadar sudah terlalu tua bagiku untuk memiliki istri baru,” Elgar tertawa keras, “namun bukan itu alasan terbesarnya.”
”Lalu apa?”
“Kau itu jahat Astoria. Aku salah menikah dengan wanita yang tak berperasaan sepertimu. Aku tau kau mau memonopoli Ellisha agar mencelakai Ailee, sekali dayung dua pulau terlampaui heh...” dua netra Elgar yang tadinya humoris nampak menajam, “tapi ingatlah aku bukan lagi Elgar yang bodoh. Siapapun yang berani menyentuh kedua anakku dan menghancurkan keluarga Mahony, aku tak akan membiarkannya hidup dengan tenang, aku berbaik hati karena bagaimanapun kau masih memiliki hatiku...”
“Selama ini aku-lah yang bodoh, karenamu aku harus kehilangan Maira...”
[]
“Mau kemana Ailee?”
Pagi ini Gamma terbangun karena menyadari Ailee hendak pergi dari ruang rawat inapnya. Istrinya itu terlihat berjalan pelan seolah enggan menganggu tidur Gamma yang nyenyak.
Ia melihat sang suami yang terlihat bangkit dari posisi berbaringnya, ia menghampiri sang suami, “Al... kau, kau terbangun? maaf jika aku menganggu tidurmu...” Gamma menggeleng. Pria itu langsung menggapai telapak tangan Ailee dan mengecupnya pelan.
Bibir tipis Ailee menyunggingkan senyum bahagia. Gamma tak bisa menebak apa alasan wanitanya pagi ini tersenyum begitu menawan dengan ekspresi yang ceria, “Emm hari ini sebenarnya aku akan memeriksa kandunganku...”
Gamma menunduk, ia mengelus dengan sayang calon anaknya. Mimik wajah pria itu terlihat sendu, “Maaf aku tak pernah menemanimu dalam pemeriksaan dia...” Ailee yang melihat kesedihan diwajahnya menangkup wajah sang suami. Mereka berdua saling bertatapan menenggelamkan pandangan mereka. Tatapan Ailee yang meneduhkan membuat Gamma tenggelam.
“Ikutlah hari ini denganku... kita bisa mengetahui jenis kelamin bayinya hari ini. Aku sangat bahagia karena hal itu...”
“Baiklah. Sebenarnya apapun jenis kelamin anak kita aku akan tetap bahagia dan menjaganya..”
“Tentu saja kau sudah berjanji menjadi ayah yang baik,” Ailee menekan tombol bantuan untuk memanggil suster dan membantu Gamma agar bisa duduk dengan tenang di kursi rodanya.
“Terima kasih, sus.”
Baru setelah itu Ailee dan Gamma langsung melangkah menuju ruang pemeriksaan dimana dokter Obygn telah menunggunya. Mereka sama-sama masuk kedalam ruang yang dipenuhi peratalan medis juga beberapa foto bayi kecil yang terpajang. Disana dokter dengan name tag bertuliskan ‘Alfina Fajri’ menyambut kedua pasangan itu dengan hangat.
“Jadi ini suami dari ibu Ailee...” Ailee tersenyum mengiyakan. Dokter itu sudah sangat dekat dengan Ailee semenjak ia rutin memeriksa sang anak. Jadi Ailee maklum bila Dokter Alfina begitu ingin tahu seputar Gamma.
“Ibu Ailee silahkan berbaring dulu...” Wanita itu dengan patuh mengikuti instruksi Dokter Alfina. Ia tak pernah melepas senyuman sedikitpun terlebih kini Gamma ada disampingnya, pria itu menggenggam tangannya dengan erat seolah menahan rasa gugup yang dalam. Ailee sungguh ingin tertawa, Gamma seperti sedang menunggu hasil nilai ujian yang akan segera keluar. Padahal tadi dengan begitu lantang pria itu mengatakan tak mempersalahkan jenis kelamin.
__ADS_1
Sang dokter mengoles Gel diperut Ailee dengan telaten lalu menempelkan sebuah alat pendeteksi janin dengan layar USG yang menampilkan calon anak mereka. Gamma mengerutkan kening ketika melihat layar hitam yang terlihat ada dua bulatan kecil disana, itu adalah perut Ailee tapi apa maksudnya. Ia sama sekali tak bisa melihat bahwa anaknya bisa dilihat jenis kelaminnya.
“Ini maksudnya apa ya dok?” Gamma yang tak sabar langsung bertanya tanpa basa-basi. Dokter itu cukup senang mendengar keinisiatifan Gamma.
“Ini adalah gambaran dari janin yang ada dikandungan Ibu Ailee...”
“Emm... tapi kenapa ada dua ya?”
Dokter itu sekali lagi tersenyum namun kali ini penuh dengan sorot bahagia, ia memandang Ailee pasiennya juga sang suami, “Selamat untuk kalian. Bayinya bukan hanya 1 tapi kembar, disini terdapat dua kantung bayi....” mendengar kabar itu membuat degup jantung di hati Ailee terpacu kencang. Ini adalah degupan kebahagiaan, ia bahagia bahkan sampai tak bisa menahan jatuhnya air mata.
Ia berulang kali memandang Gamma yang juga sama bahagianya. Pria itu terus mengecupi tangan kanannya beberapa kali. Jika bukan karena kakinya yang tak bisa berdiri tegak mungkin Gamma akan dengan sangat tak tahu malu ******* bibir Ailee dan menyalurkan perasaan bahagia dan senangnya yang tak terhingga.
“La—lalu jenis kelaminnya apa ya dok?” tanya Ailee.
“Sepertinya yang satu ini laki-laki bu, lihat sudah terbentuk kantung testis disana....” Ailee mengangguk mendengar dengan seksama informasi yang diberikan sang dokter, “Sedangkan yang satu ini mungkin perempuan, saya tak bisa memprediksinya karena dia terlihat menutupi bagian kelaminnya, tapi sepertinya perempuan dilihat dari bagaimana ia bersikap malu-malu pada orang tuanya...” Gamma dan Ailee tertawa pelan. Kebahagiaan berlimpah yang diberikan tuhan pada mereka membuat Gamma benar-benar senang. Ia beruntung mendapatkan Ailee dan cintanya. Semoga istrinya dan kedua anak mereka baik-baik saja sampai melahirkan.
“Dokter bisakah mencetak beberapa foto hasil USG ini?” Dokter Alfina mengangguk menjawab pertanyaan Gamma.
Selanjutnya selesai memeriksa jenis kelamin, dokter Alfina sedikit memberikan beberapa saran terlebih Ailee bukan hanya membawa satu nyawa namun dua. “Tolong lebih diperhatikan lagi nutrisi dan pola makannya, jika bisa ditingkatkan agar keduanya tak kekurangan asupan makanan...”
“Baik dokter, terima kasih.”
Keduanya keluar dengan perasaan bahagia, Gamma tak berhenti mengusap-usap tangan Ailee bahkan ketika mereka sudah sampai di ruangannya. Pria itu terus memandang teduh sang istri, “Ailee....” tanpa sadar Gamma mengeluarkan setetes air matanya, “Terima kasih.... aku bahagia, aku sangat bahagia kini dengan hadirnya dirimu...”
“Entahlah mungkin aku akan semakin mencintamu, sayang.”
[][]
Halooooo
Yuhuuuu i comeback All huhu. I miss you All, akhirnya aku bisa lanjutin ceritanya. Makasih banyak ya yang mau menunggu dengan sabar Author ini. Hehehe semoga kalian sehat selalu di bulan September ini. Jangan lupa kasih selamat dan hadiah untuk Gamma dan Ailee ya. Gamma topcer wkwk bisa langsung kembar hehehe
__ADS_1