
Gamma Pov
Aku duduk dengan wajah tak bersahabat dengan mata menyipit menatap Aiden. Dia terlihat kebingungan seolah mencari letak kesalahannya karena aku tak kunjung melepas kekesalan yang disebabkan Ellisha. Ah mengingat gadis itu membuatku semakin bertambah geram, dia dengan lancangnya menabrak tubuhku dan terlihat sangat sengaja melakukannya. Tak cukup disitu Ellish juga memelukku seolah haus belaian. Aku adalah pria beruntung yang sampai sekarang tak pernah bisa menikah dengan Ellisha. Gadis manja itu terlahir dengan cara merebut milik seseorang, walau belakangan baru kuketahui bahwa Ellish adalah saudara sedarah dengan Ailee.
Ellisha Mahony, nama tak asing yang ingin ku lupakan sejak kepergian Aily, istriku. Dunia begitu sempit, aku yang bertetangga dengannya saat kecil dan saat besar Ellish malah menjadi sahabat Aily. Hal itulah yang menjadikan kami bertemu kembali setelah lama tak jumpa. Dia tumbuh menjadi amat menawan namun dibalik itu semua ada kelicikan yang sejak dulu membuatku tak menyukainya. Segala hal yang baginya menarik harus menjadi miliknya, termasuk diriku. Aku seorang Gamma hanya bisa pura-pura bersikap baik demi Aily, dia begitu menyukai sahabatnya itu padahal aku juga tau Aily hanya sedang buta kala itu. Dia tak bisa membaca niat Ellish yang bahkan rela mencelakai dirinya demi mendapatkan aku sebagai puncak obsesinya.
“Boss...”
Suara Aiden mengalihkan perhatianku yang saat itu tiba-tiba merenung. Aku menatapnya seolah berkata ‘ada apa?’
“Jika kau masih sempatnya duduk disini, apakah bisa sekarang kita pergi ke SA cafe... klien menunggu kita disana...” ujar Aiden terlihat takut padaku. Walau bersahabat, Aiden jelas tahu bagaimana marahku saat moodku berantakan.
“Siapa?”
“Dia adalah Eizen Mahony. Dia ingin membicarakan bisnis dengan kita tanpa sangkut paut dengan ayahnya...” Aku mengangguk pelan. Eizen, memang hariku tak pernah bisa lepas dari keluarga Mahony begitu pula dengan Ellisha, adiknya.
“Lalu kapan dia akan tiba disana?”
Aiden terlihat tersenyum tipis dengan paksaan, “Dia sudah disana sejak tadi...”
“Kau bodoh baru memberitahuku sekarang!” Aku bangkit dengan tergesa-gesa. Raut wajahku kembali kesal dan kali ini karena ulah Aiden.
Ia dengan santainya mengekoriku tanpa rasa bersalah sembari bergumam kecil yang padahal aku masih bisa mendengarnya, “Aku sudah bilang sejak tadi kita sibuk, dia malah memarahiku. Sial sekali aku harus bekerja tujuh turunan dengan pak tua dan keturunannya ini...” gumam pria itu. Aku langsung menghentikan langkah lebarku hingga membuat Aiden menabrakan tubuh kami.
Bugh
“Aduh!! Gamm... kau ini membuatku makin kesal saja...”
__ADS_1
Aku memberinya tatapan bagai belati, “Bonusmu bulan ini kupotong 50% !!”
“Apa!!”
[]
Setelah memarkirkan mobil. Aku dan Aiden langsung menuju tempat dimana Eizen, klien yang dimaksud asisten ku berada. Sebuah cafe yang lumayan besar dan terasa tak asing diingatan namun aku gagal mengingat kapan tepatnya aku mengunjungi cafe tersebut. Kami berdua tak mau berbasa-basi dan langsung melangkah masuk.
Aiden menunjuk-nunjuk keberadaan Eizen yang dimana aku langsung menghampiri pria itu. Eizen Mahony, pria itu tak jauh beda, kami seumuran dan saling kenal karena sempat bertentangga. Mungkin bisa dibilang sahabat lama. Namun karena kurangnya kontak antara kami aku jadi jarang berbincang dengannya, terlebih saat itu aku sibuk menghabiskan waktuku untuk kabur mengelilingi berbagai negara.
Aku duduk tak lupa memberinya salam sapa dengan senyum tipis andalanku. Eizen ikut membalas dan mengulurkan tangannya untuk berjabat, “Maaf Zen aku membuatmu menunggu lama...”
Eizen hanya mengangguk pelan dan memaklumi semua, “Tak masalah santai saja lagipula aku sudah sejak lama ingin bertemu denganmu...”
“Jadi apakah ini bukan sekedar bisnis saja?” Eizen tertawa jenaka menanggapi pertanyaan yang kulontarkan, baginya mungkin hal itu terlihat benar-benar lucu.
Aku langsung mengkode dan membisikan sesuatu pada Aiden yang berdiri tegap disampingku. Tanpa menunggu perintah lain, pria itu dengan gesit menuju kearah meja resepsionis dan meminta pesanan sesuai dengan yang aku pinta. Soal pekerjaan Aiden akan selalu serius bila dihadapan klien kami. Pria itu kembali membawa seorang pelayan yang diatas kedua tangannya terdapat nampan dengan dua latte pesananku. Pelayan itu meletakan masing-masing bagian lalu menunduk sopan.
“Silahkan dinikmati, ini adalah kopi spesial khusus buatan pemilik cafe sendiri.” ujarnya dengan nada promosi lalu pamit pergi karena aku sudah merespon tindakannya.
“Minumlah terlebih dahulu Gamm...” Aku dengan senang hati menuruti permintaan Eizen. Menyeruput latte dan menikmati rasanya yang pas dilidahku, entahlah kopi ini nampak tak asing seperti pernah aku nikmati berulang kali.
Setelah sama-sama membasahi kerongkongan kami, Eizen siap membuka suaranya, “Aku ingin mulai bekerja sama dengan salah satu perusahaan dibawah naunganmu.”
“Salah satu perusahaanku?” Aku mengernyitkan dahi bingung akan maksud ucapan pria dihadapanku itu. Pasalnya hanya keluarga saja yang mengetahui aku mengurus dua perusahaan sekaligus.
“Ya...” Eizen kembali mengangguk, “Hanya saja aku akan berinvestasi saham hanya diperusahaan In Kanedy Crop. Aku tak berminat menanam sahamku di perusahaan Canis Kingdom...”
__ADS_1
“Bagaimana—“
Eizen memotong ucapanku karena merasa pertanyaan yang akan aku lontarkan sudah sesuai prediksinya, “Aku tahu Gamm, aku tahu semuanya. Dan bisnis yang aku jalin bersamamu saat ini anggaplah bantuan untuk Ailee, istrimu. Bagaimanapun aku tak mau membiarkan Astoria Kanedy lagi-lagi merebut apa yang bukan miliknya...” Mata Eizen memancarkan rasa benci dan kecewa yang tercampur aduk, “Jadi aku akan membantu kalian sebisa mungkin, tak kan kubiarkan wanita rubah itu bertindak sesukanya...”
“Terima kasih Eizen, tapi kau tak perlu melakukan hal ini...”
“Ailee jugalah korban, mungkin jika kami dekat aku bisa menjadi kakaknya saat itu sama seperti aku menjalani peranku sebagai kakak Ellish... mereka berdua tak salah... hanya orang tua merekalah yang menyebabkan penderitaan ini...” Perkataan Eizen membuatku mau tak mau terhipnotis dan kagum akan kebaikannya. Padahal ia tahu betul ibu kandung Eizen juga Eizen sendiri lebih cukup terluka sama seperti keluarga Ailee.
“Baiklah... jika itu kemauanmu...”
Setelah perbincangan panjang antara aku dan Eizen, pria itu izin pamit karena ada beberapa urusan yang perlu diurusnya. Aku hanya bisa mengiyakan dengan rasa kagum dan terpukau yang belum hilang. Mungkin jika aku diposisinya aku tak akan berusaha setegar itu, bahkan sempat memikirkan soal Ellisha yang juga sebagai korban, mana mungkin kupikirkan. Bagiku kebahagiaan tak seharusnya direngut dari pemilik sah mereka.
Aku merenung dalam pikiran itu. Samar-sama kudengar dua suara tak asing, yang lagi-lagi menganggu telinga. Aku seperti selalu mendegarnya dan itu nampak seperti suara Ailee dengan Arslan. Mengingat hal itu, membuatku menoleh dan tak ku sangak tebakanku benar-benar tepat sasaran. Mereka berdua kembali terlihat bersama berbincang dicafe ini yang baru ku ingat bahwa ini adalah cafe milik Ailee. Hatiku memanas lagi setiap melihat mereka berdua, entahlah padahal aku tahu bahwa Ailee hanya sekedar menganggap pria bernama Arslan itu sebatas kakak lelakinya, dan berbagai alasan yang tak seharusnya membuatku memanas seperti cemburu seperti ini.
Ingin rasanya aku menghampiri mereka dan membawa Ailee pulang. Namun aku juga ingat bahwa aku sudah berjanji tak akan lagi terlibat dengan urusan wanita itu juga menjaga jarak. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah memasang telinga untuk mendengarkan percakapan mereka berdua. Sebelum itu aku meminta Aiden terlebih dahulu menungguku dimobil dan pria itu dengan senang hati menurutinya, mungkin terlalu lelah sejak tadi berdiri selayaknya asisten yang baik. Dan mulailah aku memata-matai istri kontrakku itu, entahlah mungkin ini sudah yang kedua kali di hari ini aku memata-matai Ailee.
Aku melihat Arslan, pria itu dengan wajah serius dan meyakinkan menatap Ailee. Tatapanya benar-benar terlihat masih menyimpan cinta tapi bodohnya Ailee tak pernah menyadari itu.
“Ailee... ” Arslan mulai menangkap tangan Ailee yang terabai diatas meja, dan hal itu tentu saja sukses memanasi hatiku, “Sekali lagi aku minta maaf, maaf pernah menyia-nyiakan kesempatan yang seharusnya kuambil, maaf tak seharusnya aku membiarkan kau bersama pria sebrengsek Algamma itu, dan maaf dulu aku menyia-nyiakan pernikahan kita, memilih abai lalu kini mengemis cinta lagi padamu...”
Jederr!!!
Mendadak hatiku seperti tersambar petir disiang bolong yang begitu amat cerah. Perkataan Ars membuka fakta baru yang mengejutkan yang bahkan belum aku terima dari Ailee saat kami menikah. Fakta bahwa wanita itu sudah pernah menikah sebelumnya. Ailee membohongiku dengan memasang wajah polos nan jujurnya dan tanpa sadar itu menguras segala emosiku. Entahlah seperti ada yang hancur disini... namun aku yang hanya mencintai Aily apa pantas hancur hanya demi seorang Ailee.
“Ailee... kau benar-benar wanita pembohong.”
[][]
__ADS_1
Oke siap beres juga hehe.. pai pai jangan lupa di tap lovenya ya...