
Tiba tiba anak buahnya berlari kearah Jordan dan membisikkan sesuatu di telinga. Membuat tatapan liar Jordan seketika berubah masam.
Tubuh Jordan yang tadinya tegang hendak menerkam Millie, kini menjadi lebih tenang. Mengibaskan jas nya lalu mengancingkannya dan menyisir rambut dengan tenang seraya berkata "Kamu beruntung, kucing kecil. Kali ini aku melepaskanmu karena suasana hatiku lebih baik. Tapi jangan khawatir, tunggu bagianmu, sayang" ucapnya mengerucutkan bibir sambil menjapit dagu Millie.
Millie menarik dagunya agar lepas dari cengkraman Jordan seraya meludah kesamping.
Jordan tertawa nyaring karena kelakuan Millie yang jual mahal. Dia yakin suatu saat bisa mendapatkannya.
Selama sang anak patuh padanya.
Dibalik jendela satu arah, Ardy menangis tergugu, sesekali meraung dan mengumpat.
"Dasar bejat... aku benci kamu.. pergi kalian..." Ardy meneriaki orang orang ayahnya yang tengah menahan tubuhnya yang penuh dengan perban.
Kecelakaan yang dia alami, orang suruhan ayahnya lah pelakunya atas perintah sang ayah untuk menaklukkan sang anak agar menjadi penerusnya.
Ardy tak mengerti kenapa sang ayah begitu jahat pada darah dagingnya sendiri.
Tak cukupkah membuat ibunya menderita?
Millie dilepaskan ditengah kota pada malam hari dengan tubuh yang lemah.
Ardy melihatnya dari dalam mobil dikejauhan. Menangis tergugu sambil menempelkan tangannya pada kaca jendela seolah bisa meraihnya dan memapahnya kembali ke asrama mereka. Tempat ternyaman bagi mereka dalam berbagi suka.
Kilatan ingatannya berputar kembali saat melihat tubuh lemah itu mencoba bangkit dan berjalan terseok kearah asrama.
"Pit.. punya lo gede gak?"
"Pit.. beliin pembalut lah"
"Pit.. jokiin tugas gue, gue mesti gentiin temen shift malem nih"
"Pit.. kira kira ada yang mau jadiin gue istri gak ya di masa depan"
"Pit.. kalo gue gak laku, lo aja jadi laki gue ya"
Kilatan memori tentang mereka terpatri jelas diingatan Ardy seiring menjauhnya tubuh lemah Millie hingga bayangannya menghilang ditelan gelapnya malam.
Meski tak rela, dia harus melakukannya. Dia harus menjauh dari Millie, demi keselamatannya.
__ADS_1
"Tunggu gue, Mil. Gue yang bakalan jadi satu satunya lelaki elo" lirihnya berjanji.
Biarlah saat ini dia mengalah untuk menang.
Waktu berlalu.
Semenjak hari itu Ardy dipindahkan kuliahnya ke luar negri. Bukan mengambil jurusan yang sama yaitu kedokteran, namun ayahnya mendaftarkannya di jurusan manajemen bisnis.
Ardy tak banyak protes, dia mengikuti apapun yang ayahnya rencanakan untuknya. Setidaknya kepatuhannya bisa dia jadikan boomerang untuk sang ayah suatu saat nanti.
Tanpa Jordan ketahui, Ardy mendaftar di jurusan lain, yaitu manajemen rumah sakit.
Berhubung dia tak harus melakukan kerja sampingan, banyak waktu baginya untuk mengambil jurusan lain demi tujuannya.
Fokusnya hanya belajar
Dan rindu...
Satu hal yang baru Ardy ketahui adalah, Jordan sang ayah merupakan ketua jaringan bawah tanah dimana jasa komplotannya selalu disewa para pejabat tinggi untuk melancarkan aksinya dalam mengeksekusi lawan politiknya.
Jordan membutuhkan penerus agar dia bisa pensiun dan menikmati masa tuanya bersenang senang.
Jordan memilih Ardy karena diyakini jiwanya masih labil dan akan mudah dikendalikan dibanding kakak kakak Ardy yang kini tak diketahui keberadaannya.
"Biarkan saja dulu. Tetap awasi, jangan sampai ketahuan kalau kalian menguntitnya" ucap Ardy dengan pandangan menerawang.
"Baik bos"
Ardy menautkan kesepuluh jari didepan wajahnya.
"Akhirnya aku menemukanmu, kak. Entah kenapa laki laki tua itu tak bisa menemukanmu" gumam Ardy bermonolog.
Ada secercah harapan bersinar dimatanya kala mengetahui lokasi sang kakak.
Kakak pertamanya yang dengan terang terangan menolak dan melawan sang ayah. Dia bahkan mengorbankan rumah tangganya agar tidak terjebak dengan tipu muslihat sang ayah dan memilih menghilang dari radar keluarga.
Berbeda dengan Ardy yang memilih melawan secara perlahan dari dalam. Niatnya adalah menghancurkan sang ayah bersama organisasinya hingga tak bersisa.
"Bos, waktunya hampir tiba. Pesawat sudah siap" seruan Amir sang ajudan membuyarkan lamunan Ardy.
__ADS_1
"Apa semua sudah diatur?" tanya Ardy seraya bangkit dan mengancingkan jas nya lantas melangkah kearah lift menuju rooftop dimana helipad berada.
"Sudah, tuan. Mereka akan menyambut kedatangan tuan sebagai Direktur yang baru" jawab Amir mengikuti langkah lebar Ardy dibelakangnya.
Dalam waktu 10 menit mereka tiba di kota tujuan menggunakan helikopter pribadi.
Ardy membeli rumah sakit dengan kondisi manajemen yang buruk sehingga seringkali obat obatan tidak bisa disediakan karena uang pemasukan entah menguap kemana sehingga meninggalkan utang yang cukup besar pada perusahaan pemasok obat obatan dan akhirnya mereka menghentikan pasokan mereka karena utang yang terus membengkak.
Belum gaji karyawan dan tenaga medis yang tak terbayar selama beberapa bulan terakhir.
Tentu saja ada peran Ardy didalamnya agar sang Direktur dipecat secara tidak hormat, lalu para komisaris memutuskan untuk menjual murah rumah sakit swasta itu.
"Eh.. kabar bagus nih.. rumah sakit ini gak jadi ditutup. Katanya dibeli sama seseorang dengan harga murah"
"Terus gaji kita yang belum dibayar gimana?"
"Ya katanya sih bakal dibayar full gitu"
"Bagus lah, jadi gak usah pusing ngelamar lagi ke rumah sakit lain"
"Tapi tau nggak, direktur yang baru itu masih muda banget, cakep lagi"
"Wah masa, kok kamu tau?"
"Suami aku yang bilang. Aku juga udah liat fotonya. O em jiii.. kek artis korea gitu"
"Inget dah punya gandengan, neng. Buat kita kita aja yang masih solo"
"Tapi katanya biar ganteng gitu ternyata dia gay loh"
"Boong ah kamu, biar bebas caper kan?"
"Dasar modus"
"Enggak ih beneran. Lagian ya, direktur baru itu udah ganteng, kaya gak ketulungan, tapi masih single, minimal dijodohin gitu sama cewek yang selevel kan banyak tuh. Tapi cewek cewek itu kek yang trauma gitu sama direktur baru kita itu. Katanya orangnya kasar"
"Ghibah terooos.. pasien pada sekarat tuh" Millie menginterupsi para perawat yang sibuk menggosip.
"Eh.. bu dokter.. mau ikutan? kita sambil ngerujak yuk" ucap salah satu perawat yang hafal dengan karakter Millie yang sok galak dan sok tegas, padahal aslinya tidak tegaan. Hanya gebrakan pertama saja yang membuat orang orang awalnya antipati terhadapnya. Namun jika sudah kenal dengan sifat aslinya, mereka selalu mencari Millie untuk mewarnai hari mereka yang penat dengan pekerjaan, dengan candaan nyeleneh Millie.
__ADS_1
"Ngerujak kepalamu.. itu pasien parkinson di kamar 401 udah di cek belum?" balas Millie sambil mencomot buah potong yang dicocol bumbu gula asem dengan cabai super pedas.
"Ya ampun dokter Millie sok negur tapi nyomot juga" celetuk salah satu perawat.