
"Saya senang kalian akhirnya bisa kembali berkumpul" ucap wanita yang bernama Sari dengan lelehan air mata.
Sari merupakan wanita yang mengurus Ardina sedari awal dinikahi Jordan dengan paksa.
Terutama saat Ardina koma setelah dipaksa melayani nafsu Jordan saat malam pertama.
Malam nahas yang seharusnya dinikmati sepasang pengantin baru, merenggut kesadaran Ardina karena Jordan melakukannya berkali kali seperti kesetanan.
Dalam keadaan koma setelah 1bulan, Ardina dinyatakan hamil.
Dia mengandung hingga melahirkan dalam keadaan koma.
Saat Ardy berusia 1 bulan, barulah Ardina bangun dari koma.
Satu tahun lamanya Ardina dalam perawatan pasca koma, dia tak mau menemui Jordan selama itu. Hingga akhirnya Jordan mengambil Ardy dari pangkuan Ardina lalu meminta Sheryl, ibu Arsen untuk mengurusnya.
"Jadi.. kita.."
"Saudara satu ayah" potong Arsen menegaskan.
"Kita masih sedarah, meski tak sekandung. Ayah dijodohkan dengan ibuku karena satu level. Sedangkan ibumu.. tak ada yang mengetahui tentang asal usul ibumu. Beliau.. wanita yang ayah cintai namun tak terbalas.
Ayah menikahinya dengan paksa secara siri saat aku baru lahir.
Ibuku baru mengetahui tentang hubungan ayah dengan ibumu saat membawamu ke rumah kami.
__ADS_1
Tapi sejak saat itu, ayah semakin menggila.
Dia sering membawa wanita yang berbeda hampir setiap malam.
Selama bertahun tahun.
Bahkan hingga aku menikah... ayah menginginkan istriku" ucap Arsen terjeda oleh kilatan masa lalunya.
"Lalu ibuku.." tanya Ardy mengalihkan pembicaraan.
"Ibu Ardina ditawan disini setelah kalian dipisahkan. Jiwanya sempat terguncang.. mungkin itu sebabnya ayah menggila. Ibu Ardina adalah kelemahannya" terang Arsen.
hik
srooot
"Maaf... silahkan teruskan.. aku hanya.. terharu.. sroot.." Millie meminta maaf karena telah mengganggu keharuan suasana.
"Non.. baju saya baru dikasih sama bos.." Amir meringis karena pakaiannya dijadikan sasaran ingus Millie.
"Ini juga tadinya milik calon saya. Jangan pelit" cebik Millie.
"Ya ampun.. simbok sampe gak sadar ada kalian. Sini sini.. silahkan duduk disini, non" tukas mbok Sari melangkah mendekati Millie lalu menarik tangannya untuk duduk di sofa bersama majikannya.
"Gak pa pa, mbok. Saya disini aja. Kelas ekonomi cukup nyaman kok" tolak Millie yang tak mau mengganggu keharuan suasana yang sebenarnya sudah terganggu.
__ADS_1
"Aduuh.. gak usah malu malu.. sini, duduknya deket calonnya ya" imbuh mbok Sari lantas membawa Millie duduk di sebelah Arsen.
Millie celingukan bingung.
Arsen hanya menatap langit langit saat Ardy menatapnya tajam.
"Itu calon saya, mbok" ujar Ardy datar dengan sebelah tangan ia rentangkan agar Millie mendekatinya.
"Oalaaah... maaf tho.. si mboknya keliru. Mbok pikir non cantik ini calonnya tuan Arsen, cocok gitu kan.." lanjut Sari dengan polos membuat Arsen dan Amir mengulum senyum.
Sedangkan Ardy tengah merengut kesal. Millie menenangkannya dengan mengusap lengan Ardy.
"Kamu.. siapa kamu.." tanya Ardina pada Millie. Ada nada tak suka dalam pertanyaan itu.
"Ah.. saya Millie, bu. Saya.."
"Kamu mau ambil Ardy-ku?" sergah Ardina possesif. Dia menarik dan memeluk tangan Ardy dengan erat. Ekspresinya berubah tampak marah.
"Hah.. ee.. gak sekarang sih, bu.. tapi, saya janji kok, pasti bakalan sering sering nengokin ibu" sanggah Millie.
"Gak bisa... Kamu gak bisa ambil Ardy-ku. Kamu gak boleh ambil Ardy-ku" Ardina kembali memeluk possesif Ardy.
"Ya gak bisa gitu dong, bu. Dia mungkin anak ibu, milik ibu. Tapi kalo udah nikah dia juga milik saya. Ibu harus mau berbagi dong" protes Millie yang lantas meraih sebelah tangan Ardy dan menariknya.
"Sayang, jangan gini dong. Aku kan baru ketemu ibu aku. Pelan pelan ya" bujuk Ardy pada Millie.
__ADS_1
"Ya udah. Aku sama Arsen aja. Muka sama somplaknya sama kok" ketus Millie melepas tangan Ardy dengan kesal.