
Ardy menjalani therapy selama 6 bulan lamanya. Lebih cepat 2 bulan dari perkiraan dokter.
Selama dia melakukan terapi, hanya bayangan Millie yang tersenyum jahil namun manis yang menjadi penyemangatnya.
Entah kenapa dia yakin suatu saat akan bertemu dengan wanita itu. Meski dia tak ingat siapa wanita yang kerap merasuki mimpi dan hari harinya itu.
"Ayolah bibi Maggie. Nikahkan kami. Setidaknya Archie punya ayah, iya kan?" rengek Mia di luar ruangan terapi.
Ardy sedikitnya jengah dengan sikap wanita manja itu yang tampaknya memiliki seorang anak dari hasil hubungan bebasnya.
"Hentikan, Mia. Kamu bisa menikahi lelaki yang kamu mau, tapi bukan anakku" tegas Maggie menolak rengekan Mia yang setiap hari datang hanya untuk memohon pada sang bibi.
"Kita tahu kalau dia bukan-"
"Hentikan" hardik Maggie kala Mia hendak membongkar semuanya.
"Sebaiknya kamu pulang. Atau aku akan memanggil sekuriti karena kamu membuat keributan" saran Maggie seraya memijat pangkal hidungnya.
"Bolehkah aku menemuinya. Sebentar saja" mohon Mia.
"Mia.." sentak Maggie yang merasa pusing dengan sifat keras kepala keponakannya ini.
Maggie lantas masuk kedalam ruang terapi dan dikejutkan dengan kondisi Ardy yang sudah bisa berdiri tegak dan berjalan dengan sangat baik.
"Ya Tuhan...." Maggie menangkupkan kedua tangannya menutup mulutnya sendiri.
Matanya berkaca kaca kala Ardy berjalan mendekat dengan mantap.
"Kamu sudah sembuh, nak. Syukurlah" tangis Maggie pecah kala Ardy memeluk tubuhnya.
__ADS_1
Selama 6 bulan ini, Maggie mulai menaruh rasa sayang pada Ardy.
Selain karena kesopanan dan keramahannya, Ardy sangat pandai dalam mempelajari tentang manajemen sebuah bisnis.
Tak salah dia dan sang suami mengangkatnya sebagai anak.
"Terima kasih, bu" ucap tulus Ardy seraya membelai punggung Maggie. Membuat Maggie semakin tergugu karena rasa haru.
Ardy memang mengetahui jika dia bukanlah anak mereka, namun dia memilih diam untuk menghargai mereka yang Ardy tebak tak memiliki anak.
Dia berniat membalas budi dengan menjadi anak yang berbakti pada mereka.
Waktu berlalu.
Sesuai firasat Michael, anak angkatnya itu sangat bisa diandalkan. Beberapa mall yang dia miliki yang tersebar dibeberapa negara Eropa dan Asia, dia serahkan pada Ardy.
Michael tak mau memaksakan perihal jodoh pada Ardy karena tak mau membuatnya merasa tak nyaman hingga mungkin membuatnya pergi.
"Kamu yakin akan menetap lama di Indonesia?" tanya Maggie yang tengah merapikan jas yang dikenakan Ardy.
"Hanya sampai kondisinya stabil saja, bu. Salahkan ayah yang salah mempercayai orang" tukas Ardy tanpa canggung. Dia memang sudah menganggapnya sebagai orang tua sendiri.
"Ibu akan kesepian kalau begitu" ucap sendu Maggie yang merasa berat ditinggalkan anak angkatnya.
"Bukankah Mia selalu berkunjung dengan anaknya?" hibur Ardy.
"Kamu itu. Mana bisa ibu berharap demikian. Mia itu rajin kesini cuma buat nyari perhatian kamu aja" sergah Maggie dengan kesal kala membahas tentang Mia.
"Carikanlah dia pasangan kalau begitu. Baiklah, aku berangkat. Ibu baik baik disini ya. Kapan kapan datanglah kesana, David sudah menemukan apartemen yang nyaman untuk ibu" bujuk Ardy membuat senyum mengembang di wajah Maggie.
__ADS_1
"Carilah yang nyaman untukmu, kenapa untuk ibu?" cebik Maggie namun terharu.
"Agar ibu bisa kapan saja datang dan merasa nyaman tinggal disana" jawab Ardy dengan tulus.
Mimpi apa Maggie bisa mengangkat seorang anak yang sangat baik dan perhatian kepadanya juga sang suami.
Mungkin dialah hadiah dari Tuhan karena terus bersabar dan berprasangka baik.
"Tuan, ini daftar perusahaan yang ingin mengadakan promo produk minggu depan, dan ini konsepnya" sekertaris menyodorkan beberapa map berisi profil perusahaan.
"Wijaya Corp?" Ardy mengerutkan kening.
Saat acara digelar, Ardy berjalan jalan untuk memantau keadaan.
Dia merasa tak asing dengan bahasa dan adab di negara ini.
"Perhatian perhatian, ditemukan seorang anak...." Ardy menghela nafas karena pengumuman melalui pengeras suara itu.
"Mia.. Mia.. kapan kamu gak berulah" gumam Ardy mengeluh lantas melangkah kearah bagian informasi.
Bocah itu sudah tampak mengantuk, jadi Ardy menggendongnya.
Tiba tiba Ardy menangkap pemandangan tak jauh darinya.
Pasangan muda dengan anak yang usianya sedikit lebih besar dari keponakannya ini, dan wajahnya sedikit mirip dengan si pria.
Namun saat Ardy menatap si wanita..
degg..
__ADS_1
"Dia.."