My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Pengakuan Jordan


__ADS_3

"Kenapa seperti ini..." lirih Arsen dengan suara bergetar.


Foto yang menampilkan kebersamaan sang ibu yang dia puja karena kesabaran dan kebesaran hatinya bersama seorang pria blasteran dengan usia yang tampaknya terpaut jauh lebih muda darinya membuat Arsen frustasi.


"Jadi selama ini..."


"Ibumu bersandiwara" potong Jordan.


"Dari awal ibumu tahu kalau aku mencintai Ardina. Dia bahkan tak tahu asal usul Ardina, apakah berasal dari keluarga konglomerat, atau keluarga biasa.


Akupun tak tahu.


Yang aku tahu hanyalah mencintainya dalam diam" ucap Jordan berbaring berbantalkan paha Ardina sembari memainkan juntaian rambut panjangnya yang sebagian sudah memutih.


Matanya menatap lekat Ardina yang tengah salah tingkah.


"Kalau ada yang harus disalahkan, itu adalah ibumu, Arsen.


Dia mengambil pertama kalinya yang ingin aku persembahkan untuk wanita yang sangat aku cintai.


Aku bahkan menolak beberapa wanita yang ayah sodorkan untukku.


Semua demi Ardina-ku" ungkapnya penuh kelembutan.

__ADS_1


"Apa kalian tahu kenapa aku membawanya dan menikahinya secara paksa? itu karena ibumu mengincar akan mencelakainya. Selain itu aku berniat melakukan vasektomi setelah mendapat anak darinya. Aku ingin menghukum ibumu karena telah melakukan hal licik padaku.


"Sayang, apa kamu mengenalku dulu?" tanya Jordan membuat Ardina gelagapan dengan panggilan itu.


Ardina mengangguk canggung, membuat senyuman semringah terbit disudut bibir Jordan.


"Syukurlah" ucapnya.


"Bagaimana dengan jenazah ibu?" lanjut Arsen.


"Ayolah, apa kamu pikir mayat bisa sekaku itu? tangannya bahkan tak bisa dilipat ke perutnya. Tentu saja itu boneka lilin" tukas Jordan dengan enteng.


"Posisinya saat ditemukan gantung diri hingga dimasukkan kedalam peti, bukankah sama?" lanjutnya membuat Arsen tampak mem-flash back ingatannya.


Pun dengan Ardy yang saat itu masih duduk di bangku SMA.


"Lalu dengan mendiang istrimu" lanjut Jordan menjeda.


Arsen lantas menoleh padanya.


"Bukankah dia dekat dengan ibumu? asal kamu tahu, aku tak pernah menyentuhnya. Aku masuk ke kamar kalian saat kamu ada kunjungan kerja ke luar kota bukan? itu karena dia mengatakan telah menemukan Ardina yang kusembunyikan.


Dia yang mengunciku di dalam kamar itu lantas menggodaku" jelas Jordan berwajah sendu karena merasa bersalah pada Ardina. Menyesal karena membuatnya terseret menjadi incaran keluarganya.

__ADS_1


"Bullshit" desis Arsen.


"Hahaha.... aku tak perduli kamu percaya atau tidak. Yang pasti, dia bukanlah seleraku" timpal Jordan mencibir.


"Bagaimana dengan Millie?" sergah Ardy dengan nada tak suka. Ingatannya berputar kala memergokinya hendak menodai Millie. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.


"Well, dia pengecualian. Salahnya sendiri berparas dan berpostur seperti Ardina sewaktu SMA" aku Jordan. Dia lantas menangkup wajah Ardina dengan lembut seraya berkata "Maafkan aku, sayang. Aku menggila karena sangat mencintaimu. Aku tak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku padamu dahulu. Semua kegilaan yang aku lakukan karena bentuk pelampiasan kemarahanku karena telah menyakitimu" ucapnya tulus.


"Aku gak tahu keluargamu serumit itu. Seandainya kamu cerita meskipun dulu kita tak dekat, mungkin aku dengan senang hati membantumu" ujar Ardina yang akhirnya mau berbicara pada Jordan.


Sontak Jordan bangkit dari rebahannya dan menggenggam tangannya dengan ekspresi tak percaya.


"Apa kamu serius?" tanya Jordan meyakinkan.


"He em" Ardina mengangguk.


"Meskipun aku memintamu untuk menikah siri denganku?" tanya Jordan lagi.


Ardina kembali mengangguk "Jika memang alasannya seperti itu" balasnya.


"Kamu gak keberatan? bagaimana dengan keluargamu?" lanjut Jordan antusias.


"Kamu baru menanyakan keluargaku sekarang? aku bahkan seorang yatim piatu. Paman dan bibiku tak mampu mengurusku karena merekapun kekurangan. Hanya saja, saat kamu menculikku, aku akan diadopsi sepasang suami istri yang sudah sangat tua" jelas Ardina membuat Jordan terperangah.

__ADS_1


Millie yang menjadi salah satu penonton drama merasa gemas dan memilih sibuk memakan kacang yang Amir pesankan secara online.


"Ternyata gini rasanya jadi Amir" celetuk Millie berbisik pada Ardy.


__ADS_2