My Crazy Roommate

My Crazy Roommate
Teman Sekamar


__ADS_3

"SAH"


Alhamdulillah, akhirnya kata itu menggema untuk pernikahanku. Akhirnya aku resmi menjadi suami Millie. Teman masa kecilku, teman sekamarku, dan akan tetap kembali menjadi teman sekamarku.


Kulihat sosok cantik nan anggun tengah tertegun memandangi prosesi ijab kabul yang baru saja kuucapkan.


Gaun itu memanglah sangat cocok untuknya.


Lihat, dia sampai menitikan air mata.


Mungkinkah itu air mata bahagia?


Aku menampilkan senyum padanya, bersiap menyambutnya.


Namun..


Dia memundurkan kakinya selangkah demi selangkah.


Betapa terkejutnya aku kala mendengar gumamannya.


"Sejak.. sejak kapan Depit punya kembaran.."


"Adduhh.. bener bener ya anak ini gak bisa diajak romantis" gumamku menepuk dahi.


Aku pikir dia akan terharu karena kejutan yang aku rancang untuknya.


Bener bener diluar nalar deh jalan pikirannya.


Tapi itulah dia

__ADS_1


Dengan segala keunikannya.


POV AUTHOR


"Mill.. Millie..." seru Ardy mengejar Millie yang berbalik pergi dengan keterkejutannya.


Tampak ia mengusap matanya membuat Ardy sedikit menyesal karena tak melamarnya dengan cara yang biasa.


"Millie.. dengerin aku.." sergah Ardy kala berhasil menangkap Millie yang kesulitan berlari karena gaun dan heels yang dikenakannya.


"Lepas.. aku mau nyari Depit.. aku mau nyari dia..." Millie meronta seraya menangis.


"Sayang.. ini aku.. aku Depit-mu" ucap Ardy menenangkan dan berhasil memeluknya.


Mereka bahkan tak menyadari tengah menjadi tontonan tamu yang hadir.


"Nama.. kamu.." lanjutnya bertanya terbata sambil sesenggukan.


"Ardy Wijaya. Depit-mu. Burung pipit kesayanganmu" jawab Ardy sambil tersenyum. Tangannya merapikan helaian rambut Millie yang sedikit berantakan.


Ardy lantas mengecup keningnya lembut.


"Dan aku sekarang sudah memenuhi janjiku untuk menikahimu. Kita sekarang bakalan sekamar lagi" lanjutnya lantas disambut riuhnya sorak sorai para tamu undangan.


"Harusnya kan kamu omongin dulu sama aku" protes Millie kala mereka berjalan menuju panggung pelaminan


"Namanya juga kejutan" timpal Ardy lantas mengecup punggung tangannya sebelum mempersilahkan ratu nya naik ke panggung.


"Serah ah, yang pasti kamu bakalan nyesel" tukas Millie merengut namun tak Ardy hiraukan. Justru dia semakin gemas dan tak sabar untuk meng-unyel unyelnya nanti malam.

__ADS_1


"Masa Millie gak tau nama Ardy, yang?" tanya Ardina berbisik pada Jordan dengan terheran.


Jordan hanya mengedikkan bahu tak perduli. Dia hanya memperdulikan bagaimana cara menyelamatkan diri dari tatapan lapar para mantan 'mainan' nya yang mana adalah anak kolega juga para simpanan mereka.


"Halo sayang, apa kamu merindukanku?" sapa salah satunya tiba tiba menggelayut manja pada lengan Jordan.


Ardina terkejut dengan kemunculan tiba tiba wanita yang usianya jauh lebih muda darinya. Terlebih wanita itu menempelkan bemper depannya yang terbuka pada lengan kekar sang suami yang terbebas dari rangkulannya.


"Kapan aku merindukanmu. Pergilah, goda eksekutif lainnya" ketus Jordan seraya melepas rangkulan manja wanita muda itu lalu menarik lembut tangan Ardina.


"Ayo sayang" ucapnya.


"Heh, tak kusangka sekarang seleramu seperti itu" cibir wanita itu mengejek Ardina yang mana usianya jauh lebih tua darinya.


Jordan menghentikan langkahnya seraya berbalik. Dia tak pernah terima jika seseorang merendahkan wanitanya.


"Seleraku bukanlah wanita murahan sepertimu. Aku bahkan tak pernah mau menyentuhmu" sarkas Jordan membuat wanita itu mengetatkan rahang karena kesal dengan ucapan Jordan yang lebih memilih berjalan bersama wanita tua, menurutnya.


Jordan lantas kembali berjalan menjauh menuntun sang istri mencari tempat yang nyaman untuk istrinya.


"Aku yakin dia tak bisa memuaskanmu" lanjut si wanita membuat langkah Jordan kembali terhenti.


"Kamu bahkan tak bisa membuatku bergairah" balas Jordan hanya sedikit memalingkan wajahnya lalu lanjut berjalan. Tak mau terpengaruh oleh rengekan murahan wanita itu.


Ardina mendongak untuk melihat ekspresi Jordan.


Namun Jordan tampak tenang seraya tersenyum manis dan hangat padanya, lalu mengecup punggung tangannya.


Ardina merasa lega. Setidaknya Jordan tak membiarkan sedikit celahpun untuk mereka bisa masuk.

__ADS_1


__ADS_2